
"Aku anak pungut Om." cetus Rendi,tersenyum kecut.
suara tawa, pecah menanggapi ucapan Rendi, kecuali Lisa Cs dan Satria papahnya yang masih malu, dan deg-degan memikirkan apa tujuan Seno menyuruhnya ke ruangannya nanti.
"Jadi,pak Seno, Pak Bimo, bagaimana keputusan anda? sanksi apa yang akan pihak kampus berikan pada mereka?" Pak Jaya menunjuk ke arah Lisa dan teman-temannya, yang tidak berani untuk mengangkat wajah mereka.
"Maaf Pak Jaya, untuk memberikan hukuman pada mereka,bukan wewenang saya maupun Bimo. Itu mutlak wewenang kampus untuk memberikan hukuman. Jadi terserah Bapak mau memberikan mereka hukuman apa pun.Bahkan jika anda ingin memberikan sanksi juga buat putri kami,itu hak bapak dan kami gak bakal ikut mengintervensi wewenang pihak kampus." sahut Seno tegas.
Mendengar ucapan Seno yang bijaksana, membuat hati Satria, papahnya Lisa tersentil. Dia merasa sangat malu, Seno dan Bimo yang notabene orang-orang besar saja,tidak menggunakan jabatan dan kekayaan mereka untuk membela putri mereka. Sedangkan dirinya yang masih jauh, bukan jauh, tapi sangat- sangat jauh di bawah kedua orang itu, sudah sombong dan bahkan bersikap semena-mena demi menyenangkan Lisa putrinya.
"Terima kasih Pak Seno, Pak Bimo, anda berdua sangat bijaksana.Tapi kami pihak kampus pun cukup tahu pada siapa kami akan memberikan hukuman.__ Maaf Pak Satria, ibu dan bapak yang hadir di sini, dengan sangat berat hati kami akan menskors putri anda semua selama 1 minggu. Sedangkan untuk putri Pak Seno dan Pak Bimo kami akan skors selama 2 hari saja.Saya rasa itu sudah cukup adil." ucap Pak Jaya tegas dan diplomatis.
Semua menganggukkan kepalanya, tidak ada yang berani membantah lagi.
"Hai, Pi! kenapa panggil Rendra?" Tiba-tiba Syailendra datang dan mencium punggung tangan Seno dan Bimo.
"What? Rendra anaknya Pak Seno? berarti Rendra kakaknya Shakila dan Shakira dong? Sial! kok gue bisa gak tahu sih? kalau gue tahu dari awal kan gue bisa baik-baikin mereka." umpat Lisa dalam hati, menyesal sekaligus malu.
"Pak Satria, apakah anda masih di sini atau aku, yang harus pergi duluan dari tempat ini?" sindir Seno, yang membuat wajah Satria memerah menahan malu.
"Maaf, Pak Seno! kalau begitu saya pamit dulu!" Satria mengayunkan langkahnya sembari menarik kasar tangan Lisa yang masih tetap menunduk. " Ayo pergi! kamu bikin malu Papah aja!"
"Rendra, kamu kok gak bisa sih,ngawasin dua kurcaci itu?" Seno kembali menatap Rendra.
"Pi, aku ini bukan bodyguard mereka yang selalu siap untuk jagain mereka.Bahkan body guard aja gak bisa ngawasin mereka 24 jam." sergah Rendra yang tidak terima disalahkan.
__ADS_1
" Hmm, iya deh iya! Ya udah papi mau balik ke kantor lagi.Kalian berdua langsung pulang saja! Dan Kamu Killa kamu ikut Rendra,motor kamu biar papah suruh orang nanti buat ambil!"
"Gau usah Pi! biar Shakila naik motor saja." tolak Shakila.
"Kali ini kamu nurut sama Papi.pakaian kamu basahkan di dalam? nanti kalau kamu naik motor,yang ada kamu tambah masuk angin.Papi gak mau, nanti di rumah ada yang buang angin terus.Yang ada pewangi ruangan gak bakal cukup ampuh untuk mengusir rasa bau dari angin yang kamu keluarkan!"
"Papiii!" Shakila mencebikkan bibirnya sekaligus malu atas ucapan papinya. Sedangkan Dewa tersenyum-senyum, pikirannya langsung membayangkan Shakila yang terkentut-kentut.
"Oh ya Bim, sepertinya aku mau menyumbangkan semua gaun-gaun kepunyaan Shakira dan Shakila. Kira-kira lo tau gak tempat penampungannya?" tanya Seno, yang terasa ambigu buat Shakira dan Shakila.
"Gue juga punya rencana seperti itu Sen. Kita cari sama-sama yuk!" Sekarang Lea yang bingung maksud ayahnya.
"Pi, emang kenapa dengan pakaian-pakain kami? kok mau disumbangkan?" tanya Shakira.
"Iya,Yah, pakaian Lea juga kenapa mau disumbangkan?"Lea mengrenyitkan keningnya ke arah Bimo.
"Idem!" celetuk Bimo.
"Ah lo gak kreatif amat sih Bim! cari kata-kata yang lain napa?"
"Lah kan memang sama Sen! ngapain capek-capek nyari kata-kata lain? buang-buang energi tahu gak! Lagian lo kan lihat tadi bagaimana jagonya putri-putri kita, bagaimana mereka menendang, menonjok, pokoknya laki mah kalah." sindir Bimo dengan ekor mata melirik ke arah Lea, yang wajahnya sudah sangat memerah. Apalagi ketika dia melihat Galang yang berusaha menahan tawanya. Harga dirinya seakan jatuh di depan Galang sekarang.
"Eh, jangan lupa Bim, putri kita juga kayanya calon pegulat handal.Lo gak liat bagaimana mereka menjepit dan membanting tubuh lawan!pokoknya ga ada tandingan. Sepertinya mereka perlu kita daftarkan untuk ikut mengharumkan nama bangsa di kancah internasional di bidang gulat, pada perhelatan Asian games nanti. Kan lumayan Bim bonusnya." Seno juga tidak mau ketinggalan menyindir kedua putri kembarnya
"Papiii ( Ayaahh)!" pekik Shakira, Shakila dan Lea bersamaan dengan air muka kesal. Sedangkan yang lain, tidak bisa lagi menahan tawa mereka. Akhirnya tawa mereka pun pecah.
__ADS_1
"Oh, ya untuk kalian semua, terima kasih ya sudah minjamin kemeja kalian buat mereka." ucap Seno tulus, dan ketiga orang yang dimaksud menganggukkan kepalanya sembari menyematkan seulas senyuman di bibir masing-masing.
"Setidaknya kami jadi tahu, kalau ternyata mereka lebih cocok jadi laki-laki dari pada seorang perempuan." celetuk Bimo kembali meledek. Gelak tawapun kembali tak terhindarkan, hanya tiga orang yang cemberut sekarang.
"Pi, gak jadi balik ke kantornya? pamitnya udah dari tadi kayanya,tapi kok belum pergi-pergi ya?" sekarang giliran Shakila yang menyindir.
"Oh iya, Papi lupa. Keasyikan, berasa muda lagi.Hehehehe!" kekeh Seno.
"Balik yuk Bim! lama -lama di sini, nanti kita berubah jadi muda lagi, kasihan bini kita jadi minder nanti sama kita."
"Ya, udah yuk!" Bimo dan Seno nyaris melangkah, tapi seketika Bimo berbalik lagi, dan menatap Lea yang juga menatap ayahnya dengan alis yang bertaut.
"Oh ya, Lea nanti kemeja yang kamu pakai, langsung kamu cuci, jangan pula kamu jadikan bantal dan kamu simpan berhari-hari. Dan ingat sampai rumah mandi!" tukas Bimo dengan santai, tapi terselip ledekan di dalam ucapannya.
"Kenapa harus mandi Bim?"
"Ya iyalah, takutnya dia gak mandi Sen, supaya aroma tubuh pemilik kemeja itu, gak hilang dari badannya!" ucap Bimo santai.
"Lo kok gak kabur Bim? biasanya kalau habis ngeledek begitu, lo langsung kabur dari pada kena cubit sama Lea." Seno mengerutkan keningnya.
"Kali ini aman Sen, ada pawangnya!"
"Ayaaaah!" teriak Lea kesal.
"Astaga Sen, buruan! sepertinya dia gak perduli sama pawangnya kali ini!
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like, vote dan komen ya gais. Thank you