Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Gendis hamil


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istriku,Dok? Dia tidak apa-apa kan?" tanya Kevin dengan wajah panik.


"Hmmm, sepertinya istri anda memerlukan dokter kandungan. Jadi saran saya, Bapak boleh membawa istri anda ke sana sekarang." sang dokter tersenyum,menjelaskan.


Kening Kevin berkerut, merasa bingung dengan maksud ucapan dokter.


"Ke dokter kandungan? buat apa?" ucap Kevin lirih, bahkan hampir mirip gumaman.


"Buat joged-joged! ya buat periksa kandungan lah," ucap dokter itu, yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.


"Dari semua keluhan yang istri anda terangkan tadi, dan istri anda juga sudah telat datang bulan selama 2 bulan.Itu merupakan ciri-ciri awal mula kehamilan Pak! Aku ini dokter umum, jadi bukan ranah saya untuk memeriksanya. Jadi supaya lebih jelas, ada baiknya langsung ke dokter 'obgyn' saja." lembut, dokter itu menjelaskan dengan sabar.


"Tapi, Dok, datang bulanku selama ini memang tidak teratur, Dok. Apa iya aku hamil? Dokter salah kali!" Gendis buka suara,merasa kurang percaya. Bukannya karena tidak ingin, Gendis hanya takut hasilnya nanti mengecewakan.


"Untuk hal itu ,agar lebih jelas, baiknya kalian periksa ke dokter kandungan saja," ucap dokter itu berusaha sabar menghadapi dua orang yang ada di hadapannya itu.


"Tadi Dokter bilang periksa ke dokter 'obgyn' sekarang ke dokter kandungan, yang benar itu kemana si Dok?" suara Kevin terdengar memprotes, yang diangguki kepala oleh Gendis,membenarkan ucapan suaminya.


Dokter itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, membuang nafasnya ke udara, setelah bersusah payah menghirupnya tadi.( udara berkata" udah susah-susah loe hirup gue, ujung-ujungnya loe buang juga. Gue juga punya harga diri tahu. Gue gak mau loe hirup lagi,baru tahu rasa loe, modar!")


"Pak, dokter Obgyn itu bahasa medisnya dokter kandungan. Jadi itu 'sama'." jelas dokter itu dengan lembut tapi penuh penekanan.Bibirnya memang tersenyum,tapi tidak dengan matanya. Mata dokter itu menampilkan kekesalan yang tidak kasat mata.


"Ohh," kedua suami -istri itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.Tapi mereka berdua tetap, duduk tidak beranjak sama sekali dari depan dokter itu, sehingga menimbulkan kerutan di kening sang dokter.


"Kenapa masih di sini, Pak, Bu?"


"Oh, Jadi kami udah boleh pergi, Dok? soalnya, Dokter belum mempersilahkan kami pergi. Dari tadi Dokter asik menulis di kertas itu. Jadi kami kirain, kami harus bawa kertas yang anda tulis-tulis itu ke dokter goblin."


"Obgyn,Pak bukan goblin." dokter itu membenarkan, berusaha menahan tawa.

__ADS_1


"Ha,iya itu lah itu. Obgyn." sahut Kevin sambil menjentikkan jarinya.


"Jadi kami boleh pergi nih, Dok?" tanya Kevin, meminta kepastian.


"Iya,Pak silahkan!" dokter yang berprofesi sebagai dokter umum itu mempersilahkan.


Sang dokter kembali duduk di kursinya, setelah Kevin dan Gendis menutup pintu. Akan tetapi, dia terjengkit kaget sambil memegang dadanya. Bagaimana tidak, kepala Kevin kembali muncul sambil berucap "Dokter Obgyn kan, Dok?"


"Iya, Pak! biar lebih gampang, bilang dokter kandungan saja!" sahut dokter , berusaha menahan rasa kesalnya.


"Oh iya, Dok! dokter kandungan. Permisi!" Kevin kembali menutup pintu.


"Astaga!" dokter itu kembali terkejut, bahkan hampir jatuh dari kursinya, begitu kepala Kevin kembali muncul. "Dok, kalau kesal jangan ditahan-tahan! kalau sesuatu itu ditahan-tahan rasanya gak enak," ujar Kevin tersenyum meledek. Entah kenapa, semenjak nikah dengan Gendis, kekonyolan istrinya benar-benar menular padanya.


Kedua mata dokter itu mengawasi pintu, berjaga-jaga munculnya Kevin kembali. Setelah dirasa Kevin tidak muncul lagi, dia pun kembali duduk.


"Astaga!" dokter itu kembali kaget dan kali ini benar-benar terjatuh dari kursi. Bukan karena kemunculan Kevin, tapi pasien baru,yang ingin periksa.


Setelah menunggu agak lama, akhirnya nama Gendis pun dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.


Gendis dan Kevin duduk di depan dokter itu, setelah dipersilahkan untuk duduk. Sang dokter pun bertanya apa saja keluhan-keluhan Gendis, dan wanita itupun menjelaskan secara detail apa yang dia rasakan.


"Baiklah! sepertinya, Ibu benaran hamil. Tapi untuk hasil yang lebih akurat, kita langsung USG saja. Gak usah pakai tes alat kehamilan lagi. Ibu berbaring dulu di sana!" dokter berjenis kelamin perempuan itu menunjuk ke arah brankar.


Dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, Gendis berbaring dibantu oleh Kevin. Jauh di lubuk hatinya, dia merasa khawatir kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga menimbulkan kekecewaan pada suaminya.


"Kamu tenang saja,apa pun nanti hasilnya, aku gak akan kecewa!" bisik Kevin menenangkan, seperti bisa membaca isi hati Gendis.


baju Gendis disingkap ke atas sampai perut Gendis yang terlihat sedikit membuncit. Kemudian sang dokter mengoleskan cream di bawah perut Gendis dan meletakkan probe di atasnya. Dokter itu mengerakkan probenya, dengan mata yang fokus menatap layar monitor. " Wah, seperti dugaan, Ibu benar-benar hamil dan usia kandungan sudah 8 minggu. perkembangannya juga baik. Selamat ya! Jadi harap dijaga baik-baik, jangan sampai kecapean, karena usia kandungannya masih sangat muda." terang dokter itu, dengan tangan yang tidak berhenti menggerakkan probe di perut Gendis.

__ADS_1


"Benaran, Dok?!" seru Gendis, sambil membuka matanya, yang sebelumnya dia pejamkan karena masih ragu dengan hasilnya.


"Iya benar, Bu! coba Ibu lihat ke layar! ini ada satu kantung yang sudah berisi janin." Gendis tersenyum dengan manik mata yang sudah berembun, ketika melihat janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.


"Jadi istri saya benaran hamil, Dok?" dokter itu mengangguk membenarkan.


"Ini bukan prank kan?" sambungnya lagi, memastikan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bukan, Pak! ini benaran. Bapak kan sudah lihat sendiri di layar?" dokter itu tersenyum.


"Soalnya istri saya ini, suka nge prank saya, Dok! takutnya dia lagi nge prank sekarang. Siapa tahu kan, Dok! Dulu aja, dia pernah membelai-belai saya, mengelus-elus adik saya, sampai-sampai dia bangun tegak berdiri, ternyata dia lagi datang bulan, Dok," Kevin mulai sesi curhat, membuat pipi Gendis berubah merah, karena malu.


Dokter itu berusaha menahan tawa. Ekor matanya sedikit tertarik ke atas, melirik ke arah Gendis,yang dia yakini tengah malu saat ini.


"Tapi ini benaran, Pak! sudah ada bukti di depan mata." dokter berusaha bersabar, menjelaskan.


"Syukur deh kalau begitu! Dok, coba Dokter reka ulang memeriksanya. Dan bilang begini 'ibu Gendis, selamat ya, anda telah hamil, dan usia kandungan anda sudah 8 minggu'."


"Buat apa Pak?" dokter itu mengernyitkan keningnya bingung.


"Buat aku videoin, Dok dan aku mau kirim sama kakak sepupunya dia, Galang. Aku mau buktiin kalau ular saya juga berbisa. Soalnya dia suka ngejek-ngejek saya, Dok. Katanya 'ular saya kurang berbisa, sudah empat bulan menikah, Gendis belum hamil juga,' " Kevin kembali membuka sesi curhat kedua.


"Tidak perlu Pak! nanti kan bisa dicetak hasil USGnya. Jadi anda bisa kirimkan itu saja nanti pada ipar anda itu."


"Oh gitu ya? Baiklah kalau begitu!" pungkas Kevin sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kenapa sayang?" Kevin mendekatkan telinganya, karena Gendis dari tadi menarik-narik kemejanya.


"Kamu kok berubah malu-maluin begini sih, Mas?" bisik Gendis.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa buat ninggalin jejaknya ya gais. Please like, vote dan komen. thank you


__ADS_2