Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Berusahalah untuk mengingatnya.


__ADS_3

Sinar mentari menerobos paksa masuk melalui celah-celah jendela kaca yang dilapisi yang tertutup dengan gorden tipis berwarna putih. Membias ke seluruh ruangan kamar dimana ada dua insan yang masih setia dengan mata yang terpejam.


Lisa mengerjab-erjapkan matanya, begitu kelopak matanya terpisah dan Pupil matanya menangkap cahaya silau yang masuk ke dalam kamar.


Setelah matanya berhasil beradaptasi dengan cahaya,Kedua mata itu membesar dengan sempurna begitu melihat makhluk tampan yang masih setia dengan mata terpejam. Lisa, mengagumi pahatan yang sangat indah di depan matanya. Hidung Iqbal yang mancung, bulu matanya yang lentik,bibir merah yang tidak pernah tersentuh nikotin sama sekali.


"Kalau lagi tertidur seperti ini, kamu terlihat seperti malaikat tak berdosa, tapi kalau sudah bangun, kamu berubah ... emm, tetap tampan sih," Lisa hendak mengumpat tapi tidak jadi. Dia justru kembali memuji.


"Tunggu dulu! tadi malam dia gak ambil kesempatan pas aku tidur kan?" Lisa menyingkap selimutnya untuk melihat apakah dia masih berpakaian lengkap atau tidak. Dia menghembuskan nafas lega, begitu yang dia takutkan tidak terjadi.


"Ternyata dia memenuhi janjinya yang tidak akan menyentuhku, bila aku belum mengizinkan," gumam Lisa. "Ternyata dia gak seburuk yang aku kira," imbuhnya lagi sambil kembali menatap ke arah Iqbal.


Lisa menerawang,menatap langit-langit kamar, mengingat bagaimana tadi malam dia mengusir Iqbal, dan menyuruhnya untuk tidur di atas sofa. Iqbal dengan pasrah, menurut saja dan membaringkan tubuhnya di sofa. Karena tidak tega, melihat Sofa yang tidak sanggup menampung tubuh jangkung Iqbal, Lisa akhirnya membangunkan Iqbal dan menyuruhnya tidur di atas ranjang, tapi dengan syarat, Iqbal tidak boleh menyentuhnya karena dia belum siap.


Masih teringat jelas, ucapan Iqbal Yang mengatakan, "Aku menikahimu, bukan menjadikanmu sebagai budak nafsuku, walaupun keinginan untuk menyentuhmu sangat kuat. Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan, dan aku tidak mau memaksa kamu untuk melayaniku, kalau kamu belum memberikannya sendiri dengan ikhlas. Aku akan sabar menunggu. Dengan kamu sudah ada di sisiku saja, aku sudah cukup bahagia." ujar Iqbal dengan lugas, tadi malam.


"Apa aku terlalu kejam padanya?" batin Lisa. "Tapi, sepertinya dia tidak keberatan dengan penolakan ku. Tentu saja dia tidak keberatan, dia kan sudah biasa melakukanya dengan kekasih-kekasihnya dulu," Lisa bergidik jijik mengingat hal itu.


"Tapi, kata Kak Kevin, sebenarnya dia tidak pernah sama sekali bermain-main dengan wanita. Itu hanya alibinya saja, untuk menghindari tuduhan kalau dia penyuka sesama jenis. Masa iya sih begitu? Tapi yang bilang Kak Kevin kan? gak mungkin Kak Kevin bohong." terjadi perang antara hati dan pikiran Lisa. "Arghhhh, pusing ... pusing!" Lisa mengetuk-ngetuk keningnya, pertanda dia cukup pusing memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kamu pusing kenapa? mana yang sakit? kamu tunggu di sini, aku beli obat buatmu!" Ternyata Iqbal sudah bangun, mendengar keluhan Lis dia sontak menyentuh kepala Lisa, serta beranjak ingin keluar dari kamar, untuk membelikan obat. Karena panik, ditambah dengan baru bangun tidur membuat logika berpikir Iqbal tidak berjalan dengan semestinya. Seandainya Lisa benaran sakit kepala, kan dia bisa menelepon ke meja resepsionis untuk menyuruh orang,membawakan obat sakit kepala ke dalam kamarnya. Tapi karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, ya, dia jadi bertindak konyol. Hal itu, membuat Lisa ingin tertawa, tapi berusaha dia tahan.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" panggil Lisa, sebelum Iqbal benar-benar keluar dari kamar.


"Aku mau belikan kamu obat sakit kepala. Bukannya tadi kamu pusing?" Iqbal menatap Lisa dengan alis yang bertaut.


"Apa kamu lupa kita ada dimana sekarang?" Lisa berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya, kita ada di ho ... ah iya, kita di hotel ya?" Iqbal memukul jidatnya dan kembali melangkah menghampiri Lisa.


Iqbal meraih telepon yang terletak di atas balas, hendak menghubungi resepsionis. Akan tetapi, tangan kecil Lisa, menahan tangannya. "Kamu mau apa?"


"Mau, meminta, seseorang buat antar obat pusing ke kamar ini"


"Tidak usah!" sahut Lisa, menatap ke arah lain tidak berani membalas tatapan Iqbal.


"Aku bilang tidak usah,ya tidak usah, kamu dengar ga sih?!" cetus Lisa, kesal.


"Baiklah! kalau begitu, sini aku pijitin kepala kamu, biar pusingnya berkurang." ucap Iqbal lembut.


Lisa menatap intens ke arah Iqbal. "Tau tidak hal yang paling ingin aku lakukan sekarang?" tanya Lisa dengan ekspresi wajah yang datar sedatar talenan yang sering dipakai mamah Mutia, bila sedang mengiris bawang.


"Apa?" Iqbal bertanya sambil berharap Lisa menjawab 'aku mau melakukannya dengan mu sekarang'.

__ADS_1


"Seandainya aku mampu, aku ingin sekali membelah dadamu, untuk melihat apa yang membuat mu tidak pernah membalas kasar ucapanku,padahal aku sudah sangat kasar padamu." jawaban Lisa membuat Iqbal mengehela nafasnya dengan keras.


"Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya.Kenapa kamu harus menanyakannya kembali." desis Iqbal lirih.


"Kalau aku masih bertanya, itu berarti karena aku sama sekali tidak tahu," raut wajah Lisa masih datar


"Itu karena aku mencintaimu!" tegas Iqbal.


Lisa menatap dalam-dalam manik mata Iqbal untuk mencari apakah ada kebohongan di dalam mata itu. Akan tetapi, Lisa tidak menemukan apa yang dia cari. Dia justru melihat kejujuran dan ketulusan di dalam manik mata itu.


"Kenapa kamu bisa mencintaiku? kapan sebenarnya kita pernah bertemu?" Lisa tidak bisa menahan lagi, apa yang mengganjal di pikirannya. Karena, jujur, dia benar-benar tidak ingat sama sekali pada Iqbal dan dimana mereka pernah bertemu.


"Hmmm, apa kamu benar-benar tidak mengingatku?" tanya Iqbal kembali, yang ditanggapi dengan gelengan kepala dari Lisa.


Iqbal kembali menghembuskan nafasnya ke udara, dan menatap ke arah Lisa.


"Kalau begitu, biarlah kamu tidak usah mengingatnya." pasrah Iqbal. Bukannya tidak mau memberitahukan pada Lisa, tapi menurutnya sia-sia saja. Menurut Iqbal, diingatkan pun, Lisa pasti tidak akan mengingatnya, karena pada saat itu, yang antusias ingin berkenalan adalah dirinya, sedangkan Lisa hari itu terlihat tampak biasa saja.


Raut wajah Lisa terlihat kecewa mendengar jawaban Iqbal. "Kenapa kamu tidak mau menjelaskan padaku? kalau kamu ingatkan,mungkin aku bisa saja mengingatmu. Karena jujur, sebenarnya aku merasa seperti pernah melihat wajahmu, tapi entah dimana. Selama ini aku berpikir, tentu saja aku pernah melihatmu ada di TV dan berita-berita yang aku baca di media sosial, tapi entah kenapa, pikiranku berkata, kalau aku pernah melihatmu di dunia nyata sebelumnya." terang Lisa panjang lebar, membuat senyuman di bibir Iqbal terbit seketika.


"Kalau begitu, berusahalah untuk mengingatnya terus!" ujar Iqbal, sambil beranjak meninggalkan Lisa,masuk ke dalam kamar mandi. Senyuman yang tersemat di bibirnya tidak tanggal sama sekali, bahkan ketika dia menutup pintu kamar mandi sekalipun.

__ADS_1


Lisa menatap ke arah jejak bayangan Iqbal yang sudah menghilang di balik pintu dengan bibir yang mengerucut, kesal.


TBC


__ADS_2