
Waktu berlalu begitu cepat. Jadwal Shakila melahirkan tinggal menunggu hari saja. Wajah Shakila yang dulu tirus kini sudah semakin chubby. Bukan hanya pipi, tubuhnya pun semakin padat berisi, tapi anehnya makin terlihat seksi di mata Dewa.
Sudah beberapa hari ini, Dewa mengambil cuti jadi dosen dan mengurus perusahaan papahnya dari rumah, karena dia takut kalau tiba-tiba Shakila akan melahirkan.
Pagi ini, seperti biasa Dewa mengajak sang istri Shakila jalan-jalan pagi di area sekitar komplek perumahan mereka, dan seperti biasa juga, banyak gadis dan bahkan ibu-ibu yang memandang kagum pada Dewa sekaligus iri pada Shakila.
"Sayang, kamu lapar gak? kita cari sarapan ya?" tanya Dewa sembari menggenggam tangan Shakila, tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan memuja dari para kaum hawa di sekitarnya.
"Boleh! tapi aku gak mau di tempat beli nasi uduk kemarin. Ibu penjualnya punya anak yang genit sama kamu." Shakila mengerucutkan bibirnya hingga makin terlihat menggemaskan di mata Dewa.
"Jadi kita mau beli sarapan dimana?"
"Beli bubur ayam, Kang Tarjo aja!" manik mata Shakila berbinar-binar sambil menelan air liurnya mengingat asap yang ngebul dari mangkok bubur ayam langganan mereka.
"Aku gak mau!" cetus Dewa menolak dengan tegas.
"Kenapa?" Killa mengernyitkan keningnya.
"Si Tarjo - Tarjo itu, suka ngelirik-ngelirik kamu, dan aku tidak menyukainya."
"Kan yang penting aku gak melirik dia," suara Shakila terdengar memprotes alasan Dewa yang menurutnya tidak masuk akal itu.
"Aku juga tidak melirik anak tukang nasi uduk itu, tapi kenapa kamu gak mau kita makan di sana?"
"Itu jelas berbeda. Dia itu jelas-jelas terlihat ingin menggodamu, kalau Kang Tarjo kan nggak!
"Apanya yang berbeda? sama saja, si Tarjan itu __"
__ADS_1
"Tarjo ,Sayang!" Shakila menyela, membenarkan nama Tarjo yang salah disebutkan oleh Dewa.
"Aku mau panggil dia Tarzan! soalnya dia kan suka teriak-teriak seperti Tarzan," Dewa tidak mau kalah.
"Pokoknya beda.Kalau aku jelas-jelas tengah hamil, dan gak mungkin Kang Tarjo berselera sama badan yang bentukannya kaya aku, dan yang jelas-jelas sedang jalan sama suami yang tampannya seperti kamu." Jelas Shakila.
"Apa bedanya? kalau kita ke tukang nasi uduk itu juga kan, aku jalan sama kamu yang jelas-jelas sedang mengandung anakku. Gak mungkin dia suka sama aku." bantah Dewa, sambil berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya.
Shakila memutar bola matanya, jengah menatap Dewa suaminya. "Sayang ... kamu pernah baca berita gak? Zaman sekarang pelakor bertebaran dimana-mana. Mereka itu tidak perduli, kalau laki-laki itu sudah beristri atau tidak. Dan asal kamu tahu, zaman sekarang bahaya pelakor lebih besar dari bahaya kolektor nagih hutang. Para pelakor biasanya sudah kehilangan urat malu. Apalagi sekarang aku tengah hamil, dia pasti merasa kalau dia lebih cantik dan lebih seksi dari aku."
"Tapi bagiku kamu tetap lebih cantik kok, Yang!" ucap Dewa dengan yakin.
"Itu'kan menurutmu! menurut dia mah nggak. Kita jadi cari sarapan nggak nih? mau berapa lama lagi kita berdebat, cuma cari tempat makan saja?!" suara Shakila mulai meninggi, kesal.
"Kan kamu yang du__luan," Dewa mengurungkan ucapannya, dan lebih memilih melanjutkannya dalam hati saja, begitu melihat lirikan tajam dari Shakila.
"Itu ada somay! kita makan somai aja yuk!" Dewa tersenyum dan meraih tangan istrinya yang sedang cemberut itu, kemudian melangkah menghampiri tukang somay, yang sedang membelakangi mereka.
"Gak jadi deh Bang! kita cari yang lain saja," ucap Dewa, hendak meraih tangan Shakila. Akan tetapi, tenggorokan Dewa serasa tercekat begitu dia melihat sorot mata Shakila yang sangat tajam.
"Kita gak akan kemana-mana! kalau kamu tidak mau makan di sini, kamu pergi saja sendiri." ancaman yang tentu saja membuat Dewa tidak berkutik. Dia akhirnya memutuskan untuk duduk di samping sang istri dengan mata yang tetap waspada, menatap si tukang somay seakan-akan takut kecolongan, kalau-kalau tukang somay itu,melirik pada istrinya.
"Aduh perutku sakit, Sayang!" rintih Shakila tiba-tiba, sambil memegang bagian bawah perutnya yang sepertinya mengalami kontraksi. Memang beberapa hari ini, Shakila sudah mulai merasakan kontraksi, tapi karena hilang timbul, Shakila tidak memberitahukannya pada Dewa,yang memiliki tingkat kepanikan level akut.Akan tetapi, rasa sakit yang dia rasakan kali ini, dua kali lebih sakit dari rasa kontraksi sebelum-sebelumnya.
"Ini semua salah kamu!" umpat Dewa pada si tukang somay, yang terlihat kebingungan."
"Mas, itu bukan salahku. Itu salah ular anda. Anda yang buat kok aku yang disalahkan?" si tukang somay balik mengomel, tidak terima disalahkan.
__ADS_1
"Aahh, udah ... udah, nih aku bayar!" Dewa meletakkan uang untuk membayar somay pesanannya,walaupun belum dimakan sama sekali.
"Mas, aku bungkusin aja ya? istri anda belum makan, dia butuh tenaga buat lahirin anak kalian berdua!" seru si tukang somay sebelum Dewa beranjak pergi, sambil menggendong Shakira yang masih merintih kesakitan.
"Sok tahu kamu!" ketus Dewa.
"Aku tahu, Mas! istri saya juga baru melahirkan soalnya." sahut si tukang somay yang tidak terpancing emosinya. "Nih, somaynya. Nanti kasih dimakan diperjalanan menuju rumah sakit saja!" imbuhnya lagi sambil mengaitkan somay itu di celah jari-jari Dewa.
"Mas, kayanya taksi lama lagi datangnya, sedangkan istri anda, sudah sangat kesakitan. nih kalau mau, bawa mobil pick up ku saja, itu pun kalau anda mau." si tukang somay menawarkan bantuan dengan memberikan kunci mobil pick up nya. yang bisa dia gunakan untuk, membawa gerobak somainya.
"Kamu percaya padaku?" kening Dewa berkrenyit.
"Untuk menolong orang itu, tidak perlu memikirkan percaya atau tidaknya. Yang penting Istri dan anak,Mas selamat. Saya percaya setiap perbuatan baik, akan dibalas baik juga.Sekarang tidak usah banyak mikir, bawa istrimu sekarang!" Dewa menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil pick up si tukang somay.
Sebelum Dewa menjalankan mobil pick up itu, kepalanya melongok sedikit keluar.
"Bagaimana nanti anda bisa pulang?! serunya dari dalam mobil.
"Itu mah gampang! anda tenang saja! sekarang bawa istri anda, buruan!" Dewa pun melesatkan mobil pick up nya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, menuju rumah sakit tempat mereka bisa untuk memeriksa kehamilan Shakila.
15 menit kemudian, Dewa sudah tiba di rumah sakit yang dituju. Dan selama di perjalanan, walaupun Shakila merintih kesakitan, entah kenapa dia tetap memasukan suapan demi suapan somay ke dalam mulutnya di sela-sela rintihannya.
"Lho kenapa loe ada di sini?" tanya Dewa kaget begitu melihat ada Dion di sana.
"Kirana mau melahirkan. Gue berada di luar sini, karena baru dari toilet. Loe sendiri ngapain di sini?"
"Sama! Shakila juga mau melahirkan!"
__ADS_1
Author: Kok bisa samaan gitu ya? tanggal pernikahan juga sama, masa melahirkan juga harus sama?" Author berdecak sambil geleng-geleng kepala.
Tbc