Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Penyelamatan Lea.


__ADS_3

"Auhhh, Panaas ... panas ...! " suara teriakan menggema di ruangan itu, setelah Dina sudah menyiramkan air keras yang ada di tangannya.


Rosa berteriak histeris sambil memegang wajahnya. Wajahnya memerah seketika, dan lambat laun mulai melepuh. Sedangkan Lea juga ikut berteriak panas, karena percikan air kerasnya terkena sedikit ke kakinya.


Ya, karena Lea tidak berhenti meronta, Rosa yang sedang berusaha menahan tubuh Lea, hilang keseimbangan, karena kaki Rosa tersandung ke kaki kursi tempat Lea didudukkan. Tubuh Rosa terjengkang ke depan Lea, bersamaan dengan Dina yang menyiramkan air keras.


"BODOH! kenapa loe mengahalanginya, GOBLOK?!! bentak Dina sembari menyingkirkan tubuh Rosa dari hadapannya.


"Tolong gue ... tolong gue Dinnn!" Rosa masih berteriak kesakitan.


"Siapa yang mau menolong loe? Sana menyingkir loe! " Dina mengayunkan kakinya, menendang tubuh Rosa,hingga terpental ke lantai.


"Hei, dia itu teman kamu, tolongin diaaa! kalau tidak dia bisa mati di sini!" pekik Lea, yang merasa kasihan melihat Rosa yang meraung kesakitan.


"Dia bukan teman gue! dia itu cuma budak gue! Gue gak sudi punya teman dari kaum rendahan seperti dia. Lagian, sekarang gue punya tontonan gratis yang sangat menyenangkan, Hahahaha!" Dina melompat-lompat kegirangan, sambil bertepuk tangan diiringi suara suara tawa, serasa penderitaan Rosa, merupakan hal yang sangat menyenangkan buatnya.


"KAMU GILA!!! PSIKOPAT!!!" pekik Lea sembari tetap berusaha untuk melepaskan diri.


Tubuh Rosa, yang tadi masih bergerak, lambat laun mulai melemah dan tidak bergerak sama sekali.Wajahnya yang cantik, sekarang hanya tinggal kenangan, berganti dengan wajah yang sangat mengerikan.


Tawa Dina berhenti seiring dengan berhenti bergeraknya tubuh Rosa. Dina mengalihkan tatapannya dari Rosa kembali ke arah Lea. Sorot mata Dina seperti orang yang haus akan darah, membuat tubuh Lea bergetar ketakutan. Dia bisa jelas melihat, aura membunuh dari sorot mata yang menatapnya dengan bengis.


"Ka-kamu mau apa?" suara Lea bergetar karena ketakutan,melihat Dina yang berjalan menghampirinya.


"Loe jangan senang dulu,Lea. Walaupun air kerasnya gagal mengenai wajah loe, tapi gue masih punya ini!" Dina mengeluarkan pisau kecil yang sangat tajam dari dalam tasnya.


"Sepertinya akan semakin seru dan menyenangkan,kalau gue menyayat wajah loe dengan ini, Hahahaha!" Lea bergidik ngeri dan semakin ketakutan, melihat tajamnya pisau yang ada di tangan Dina.


"Kamu benar-benar psikopat Dina!!" pekik Lea, di sela-sela rasa takutnya.


Plak ....


Dina kembali mendaratkan tamparannya ke pipi Lea dengan sangat keras. Dia lalu mencengkam pipi Lea dan menatapnya dengan seringaian bengis di sudut bibirnya.


"Tau apa loe tentang gue, Hah?! kalau gue psikopat, apa urusan loe, brengsek?!" Dina menyentak pipi Lea dengan sangat kuat,hingga membuat Lea meringis kesakitan.


"Sekarang, loe diam saja, dan terima penyiksaan dari gue!" desis Dina persis di telinga Lea sambil menempelkan ujung pisau di pipi Lea yang sudah memar karena terkena pukulan berkali-kali.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apakah aku harus mati dengan cara begini? jikalau boleh aku meminta, tolong kirimkan orang yang bisa menyelamatkanku Tuhan. Maafin Lea, yang keras kepala Yah!" bisik Lea pada dirinya sendiri seraya memejamkan matanya,pasrah menerima apapun yang akan terjadi padanya.


"Dinaaa hentikan!" baik Lea maupun Dina refleks menoleh ke arah pintu, karena mendengar suara laki-laki yang sama-sama mereka cintai.


"K-ka Galang!" desis Lea, merasa sedikit senang karena merasa sedikit mendapat harapan. Apalagi ketika melihat kemunculan Bimo ayahnya, Aarash dan Aariz kakaknya, serta Seno, Rendi, Dion dan Dewa.


"B-bagaimana kalian bisa tahu tempat ini?" tanya Dina, terkesiap dan merasa bingung melihat kehadiran Bimo di tempat itu.


"Lepaskan putriku! sekali kamu melukainya, aku akan mematahkan tanganmu!" bentak Bimo sembari mendekat ke arah Dina.


"Jangan mendekat! kalau anda mendekat, aku tidak akan segan-segan membunuh putri anda ini." ancam Dina sembari mengarahkan pisau yang ada di tangannya ke leher Lea.


"Sial ternyata dia putrinya Tuan Bimo. Kenapa Rosa tidak memberitahukan aku soal ini? Brengsek loe Rosa!!" umpat Dina di dalam hati.


"Tapi udah terlanjur, gue tidak bisa mundur lagi." Batin Dina.


"Jatuhkan pisaumu ke lantai, jangan macam-macam! pinta Aarash dengan sangat hati-hati.


"Cih, tidak akan! Hei kalian semua masuk kedalam,kenapa kalian diam saja di luar sana?! apa kalian tidak mau kehilangan uang?!!!" teriak Dina, berusaha memanggil para orang suruhannya.


"Mereka tidak akan ada yang datang, Din! mereka sudah dilumpuhkan anak buahku dan Dion." celetuk Rendi.


Ya, setelah Dion mendapat kabar dari Galang,kau Lea diculik, dia langsung menghubungi Rendi dan Dewa. Rendi segera mengerahkan anak buahnya, demikian juga dengan Dion.


"BANGSAT! kenapa kalian mencampuri urusanku, HAH?! kalian ini kan juga teman aku?" umpat Dina,dengan wajah yang memerah karena amarah. Dia merasa terkepung sekarang.


"Kamu sudah terkepung sekarang, jadi sekarang lepaskan adikku! kalau tidak aku tidak akan segan-segan mencabik-cabik tubuhmu!" ancam Aariz yang sudah sangat marah, begitu melihat wajah Lea yang memar.


"Jangan mimpi! walaupun aku akan mati di sini oleh kalian semua, aku akan membawa Lea mati bersamaku. Hahahahaha! lagian aku akan puas, dengan kematiannya, dendam aku pada anda tuan Bimo bisa tercapai. Gara-gara anda, aku tidak pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari mamaku.


"Apa maksud kamu?" Bimo mengrenyitkan keningnya, menatap intens wajah Dina. Dia seperti pernah melihat wajah Dina pada wajah seseorang.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, Tuan Bimo. Anda pasti ingat wanita yang bernama Jesika, ya aku putrinya! putri yang tidak pernah disayang karena bukan benih darimu.Dia membenci papahku dan melampiaskannya padaku.Setiap aku bertanya kenapa dia memukuliku, dia selalu menjawab,karena aku bukan dari pria yang dia cintai, yaitu KAMUUU!" pekik Dina dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya. "Aku membenci wanita itu. Aku begitu bahagia ketika anda menjebloskannya ke dalam penjara, sehingga tidak ada lagi yang menyiksaku. Tapi, aku belum puas bila dia belum mati,karena dia, aku kehilangan papah,satu-satunya orang yang menyayangiku. Aku hampir bunuh diri, karena kehilangan papahku, tapi Galang datang merangkul dan menasehatiku, supaya aku tidak gegabah. Mulai dari hari itu, aku memiliki semangat hidup lagi, karena Galang. Aku merasa kalau masih ada orang yang menginginkanku hidup di dunia ini. Tapi ternyata semuanya PALSU!! " Dina mulai menangis sesunggukan.


Galang terkesiap kaget, dia tidak menyangka,perbuatan baiknya membuat perempuan yang menangis sekarang ini,terobsesi padanya.


Bukan hanya Galang, kedua netra Bimo juga terbeliak kaget mendengar pemaparan Dina.

__ADS_1


"Jangan bilang,kamu lah penyebab kematian Jesica di penjara?" tukas Bimo.


Dina mendengus dan tersenyum miring.


"Ya, anda benar! aku meminumkan racun ke mulutnya. Tapi, sebelumnya, aku sudah menuliskan surat wasiat seolah-olah dia bunuh diri. Sebenarnya aku kurang puas,melihat kematiannya,karena aku belum sempat menyiksanya seperti dia menyiksaku." ucap Dina dengan seringaian sinis yang masih melekat di sudut bibirnya.


"Sekarang, aku akan membalaskan dendamku padamu lewat putrimu ini." Dina mengayunkan tangannyahendak menusukkan pisau ke leher Lea.


"Dina, hentikan! kamu mau hidup bersamaku kan, sayang? kalau kamu membunuhnya, kamu juga pasti akan dihabisi oleh Pak Bimo. Itu berarti kita tidak akan bisa bersama. Jadi, kamu lepaskan Lea, dan kita akan hidup bahagia bersama." ucapan Galang, membuat ayunan tangan Dina berhenti di udara.


"Ka Galang!" pekik Lea tidak percaya dengan apa yang baru diucapkan oleh Galang. Sedangkan Bimo dan yang lainnya tidak bereaksi apa-apa, karena mereka mengerti apa maksud tindakan Galang hingga berkata seperi itu.


"Maaf Lea, aku tidak pernah mencintaimu,yang aku cintai itu Dina!" ucap Galang dengan hati yang perih bagaikan teriris pisau dan terkena air asam.


"Apa yang kamu ucapkan itu benar Lang?" Ucap Dina,perlahan-lahan menurunkan tangannya.


"Iya, sayang! aku mencintaimu!" Galang perlahan-lahan menghampiri Dina yang terlihat sudah mulai tenang.


"SEKARANG!" teriak Galang tiba-tiba, sambil menarik Dina menjauh dari Lea,sehingga pisau di tangannya terjatuh ke lantai.


Aarash dan Aariz bergerak cepat untuk membuka ikatan di tangan dan kaki Lea.Lalu mereka menarik tubuh Lea menjauh.


"Brengsek! kamu membohongiku Lang!" teriak Dina sembari meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Galang.


Rendi, Dion dan Dewa yang melihat Galang kesulitan untuk menahan tubuh Dina, segera menghampiri Galang dan mambantu menahan tubuh Dina.


Lea berlari ke arah Galang, dan memeluk Galang denga erat Tadinya dia merasa kalau Galang benar-benar tidak mencintainya.


Melihat Galang dan Lea yang berpelukan,membuat Dina semakin menggila. Dengan sekuat tenaga, dia berhasil melepaskan diri, dan dengan sigap mengambil pisau dari lantai. Lalu berlari hendak menusuk punggung Lea yang membelakanginya. Galang yang melihat hal itu, memutar tubuh Lea, sehingga pisau yang diayunkan Dina tertancap di punggungnya.


"K-ka Galanggg!" teriak Lea, berusaha menahan tubuh Galang yang jatuh tersungkur.


Mengetahui kalau dia salah sasaran, Dina tersungkur berlutut di lantai dan menangis histeris.


Tbc


Kenapa bisa tiba-tiba Galang dan yang lainnya menemukan tempat penyekapan Lea ya?🤔🤔

__ADS_1


Nanti ada flashbacknya.


Kasih dukungan dulu dong gais.Like, vote, rate dan komen. Thank you.


__ADS_2