Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Lamaran tiba-tiba.


__ADS_3

"Kevin dimana Lisa adikmu? dari tadi dia tidak ada terlihat sama sekali. Dia bahkan tidak ikut ke rumah sakit," mamah Mutia terlihat panik keluar dari kamar Lisa dan dia tidak melihat Lisa ada di dalam kamarnya.


"Oh, itu Mah. Kak Iqbal akan mengantarkannya pulang." sahut Kevin sambil menyenderkan tubuh lelahnya di sandaran sofa, sedangkan Gendis sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.


"Iqbal? apa yang kamu maksud, Iqbal kakak tingkatmu di kampus yang sering main ke rumah dulu?" Kevin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tapi, bagaimana bisa dia mengenal Lisa?" alis Mutia bertaut,penasaran.


Kevin tersenyum misterius sambil mengendikkan bahunya. "Udah ya Mah, Mamah tenang saja. Yang jelas Lisa tidak akan kenapa-kenapa.Jadi Mamah sekarang istirahat aja, karena mamah terlihat sangat lelah."


"Bagaimana mungkin mamah bisa tidur, sedangkan adikmu belum pulang? mamah tahu Iqbal anaknya baik, tapi tetap saja mamah khawatir," Kevin tersenyum melihat kepedulian mamahnya. Walaupun Lisa bukan putri kandungnya, bahkan Lisa adalah putri dari wanita yang telah merusak rumah tangganya.


"Mah, percaya deh, sebentar lagi juga mereka pasti sampai. Tuh benarkan apa yang aku bilang?tuh mereka sudah sampai." ujar Kevin begitu mendengar suara mobil yang berhenti di pekarangan rumahnya.


Sementara itu di luar rumah, Lisa masih tetap dengan wajah kecutnya. Dia kesal karena sepanjang perjalanan, Iqbal tidak pernah membalas makiannya. Padahal Lisa ingin sekali melihat Iqbal marah dan membatalkan perjanjian mereka untuk menikah,karena tidak tahan dengan sikap kasarnya. Akan tetapi apa yang dilihatnya? Lisa melihat Iqbal yang selalu tersenyum menanggapi makiannya.


"Lisa apa kamu tidak menawarkan calon suamimu ini untuk masuk ke dalam?"


Lisa memutar matanya jengah, dan melengos pergi meninggalkan Iqbal tanpa menyahut.


"Tunggu Lisa!" Iqbal sedikit berlari dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah kecil Lisa. "Kenapa kamu mengikuti'ku?" Lisa berhenti dan menatap tajam ke arah Iqbal.


"Aku mau izin dulu sama calon kakak ipar dan ibu mertua."Iqbal masih terlihat santai saat mengucapkan kalimat itu, sedangkan Lisa ingin sekali mencekik Iqbal. Lisa akhirnya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan keras ,lalu menyusul Iqbal yang sudah mendahuluinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu dari mana saja, Nak? mamah khawatir banget," Mutia langsung menghambur dan meraih tangan Lisa. Hal itu membuat kedua manik matanya berembun,merasa terharu dengan perhatian Mutia, hal yang tidak pernah dia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.


"Tadi aku ____


"Tadi Lisa dan aku jalan-jalan sebentar,Tante" Iqbal langsung menyambar, sebelum Lisa selesai bicara.Bukannya apa, takutnya Lisa malah ngomong tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan sekarang dia tidak perduli, melihat Lisa yang mendelik padanya.


"Benar begitu, Sayang?"

__ADS_1


"I-iya benar, Mah! oh ya Mah, kenalkan ini ___"


"Oh, dia sudah mamah kenal. Dia itu Iqbal, dan dulu waktu kuliah sering main ke rumah mamah yang dulu." sahut Mutia, menyela ucapan Lisa, sehingga membuat.mulut Lisa terbuka, karena kaget dan tidak pernah menyangka.


"Kirain, kami bakal ngantar adikku, besok pagi Kak," Kevin buka suara, membuat Lisa semakin kaget.


"Ada apa ini sebenarnya? apa mereka memang sudah sedekat ini sebelumnya?" Lisa membatin sambil mengerjab-erjapkan matanya.


"Belum sah, Vin. Jadi belum bisa." Iqbal tersenyum lebar.


"Kalau udah sah juga, gak bakal Kakak antar balik ke sini," seloroh Kevin menanggapi.


"Iya, ya. Hahahaha!" Iqbal tertawa lebar, hal yang sangat langka terlihat.


"Apa ini maksudnya, 'Sah' dan 'belum sah'?" Mutia menimpali pembicaraan Iqbal dan Kevin dengan alis yang bertaut.


"Oh iya, Tan, aku ke sini mau sekalian melamar Lisa. Dan aku berencana mau menikahinya minggu depan."


"Sejak kapan___"


"Bukannya kita sudah membicarakannya tadi, Sayang," Iqbal dengan cepat menyela sebelum Lisa menyangkal.Mata Iqbal menatap Lisa dengan tatapan mengintimidasi.


"I-iya, Mah!" ucap Lisa pasrah.


"Tapi, kenapa kamu tidak terlihat bahagia, dan kaget juga?" ekor mata Mutia sedikit tertarik ke atas, merasa curiga dengan reaksi Lisa.


"Hmmm, a-aku cuma gak menyangka aja kalau Kak Iqbal, melamar aku malam ini juga,tanpa bawa apa-apa." Lisa mencoba mencari alibi yang masuk akal, dan berharap alibinya kali ini berhasil mematahkan kecurigaan mamah Mutia.


Lisa menghembuskan nafas lega, melihat Mutia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tapi kenapa kesannya jadi terburu-buru gini ya? kalian tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan? dan sejak kapan kalian berdua saling mengenal dan memiliki hubungan? bukannya kemarin-kemarin Lisa masih belum punya pacar?" cecar Mutia beruntun,membuat tenggorokan Lisa tercekat, susah untuk menelan salivanya sendiri.


"Hmmm, kami kemarin ada masalah sedikit Tan, dan sekarang kami sudah berbaikan. Sebenarnya kami sudah saling mengenal 10 tahun yang lalu," Iqbal melirik ke arah Lisa, berharap Lisa bisa mengingatnya dengan, mengucapkan kalimat '10 tahun yang lalu'.

__ADS_1


"10 tahun dari Hongkong!" pintar banget bersandiwara nih orang," Lisa mengerucutkan bibirnya, balik melirik Iqbal dengan tatapan tidak senang.


"Oh begitu?" Mutia mengangguk-anggukan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kak, kamu benar-benar sudah memberitahu Lisa, siapa kakak sebenarnya?" tanya Kevin, antusias setelah Lisa dan Mutia masuk ke kamarnya.


Iqbal menggeleng-gelengkan kepalanya. " Belum! aku ingin dia mengingatnya sendiri, dan tolong jangan bilang apa- apa padanya dulu," sahut Iqbal sambil memejamkan matanya.


"Tapi aku masih susah untuk percaya Kak, kalau perempuan yang selalu kamu ceritain dulu, itu Lisa adikku.Tapi ... sepertinya Lisa belum menyukaimu, tapi bagaimana bisa dia menyetujui untuk menikah dengan mu?"


"Aku terpaksa membawa-bawa mamanya dalam hal ini, Vin! apa itu kejam menurutmu?" tanya Iqbal. Karena sejujurnya, dia merasa dirinya sangat licik, agar bisa memaksa Lisa menikah dengannya.


"Sebenarnya sih, 'iya'. Tapi, karena itu kamu, aku menganggapnya tidak kejam. Karena aku yakin dengan rasa cintamu untuk Lisa." Kevin menepuk pundak Iqbal.


"Oh ya Kak, terima kasih ya, udah menolong Lisa dari orang yang berniat mencelakainya tadi!" sambung Kevin kembali. Ya, sewaktu Iqbal membawa Lisa tadi ke kediamannya, Iqbal sudah menginformasikan apa yang sudah menimpa Lisa pada Kevin.


"Gak usah berterima karena, karena mulai dulu, aku sudah menganggap, melindungi Lisa itu, 'kewajibanku'." sahut Iqbal lugas.


"Oh ya, apa Kakak butuh bantuan, mempersiapkan pernikahan?"


"Tidak perlu! aku punya asisten untuk itu.___oh ya, tolong kamu cari tahu, bagaimana pernikahan impian Lisa ya," mohon Iqbal dengan wajah yang memelas.


"Siap Kak!" Kevin menyahut dengan mantap.


"Oh ya, Vin, mulai sekarang kamu jangan panggil aku Kakak lagi, karena sebentar lagi, aku kan jadi kakak ipar mu,"


"Nanti kalau sudah ada kata 'sah' baru aku ganti panggilanku," pungkas Kevin, tersenyum.


"Baiklah! kalau begitu aku pamit dulu, karena sudah sangat larut. Oh ya, tolong kamu bawa istrimu, ke dokter! aku lihat wajahnya sangat pucat tadi di pesta, sepertinya dia kurang sehat." pungkas Iqbal sambil meninggalkan Kevin yang mematung.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2