
Setelah Bimo dan Seno benar-benat menghilang dari pandangan,Lea benar-benar tidak berani untuk mengangkat wajahnya untuk menatap Galang. Sekarang pipinya sudah seperti tomat matang,karena terlalu malu akan ucapan Bimo Ayahnya.
"Hmm, kayanya kami harus pulang sekarang! terimakasih ya Pak, buat kemejanya! kami akan usahakan buat ngembalikan secepatnya." Shakira memecah keheningan dan kecanggungan yang sedang terjadi.
"Oh iya, silahkan! kalian hati-hatilah di jalan!" sahut Dion yang paling bersikap biasa di antara mereka.
"Shakila ayo kita pulang! kamu jadi ikut aku kan?" wajah Rendra ditekuk dan sepertinya kurang iklas kalau harus pulang sekarang. Rencananya yang mau menonton film action, yang baru tayang di bioskop dipastikan gagal, karena pesan Seno yang harus mengantarkan Shakila pulang.
"Iya Ka! tuh muka kayanya gak ikhlas deh!" Shakila mengerucutkan bibirnya dengan ekor mata menatap curiga.
Ck....
Rendra berdecak dan menghela nafasnya dengan sekali hentakan. "Shakilaaaa, aku ikhlas kok! yuk kita pulang Kila!" Rendra berbicara sangat lembut, selembut kain sutra,karena kalau tidak begitu, bisa-bisa mereka tidak akan jadi-jadi pulang.
"Nah, Gitu dong! yuk kita pulang!" ucap Shakila tersenyum. Sebelum melangkah pergi,Shakila menatap ke arah ke empat dosen khususnya pada Dewa. "Pak kami pulang dulu ya? seperti kata Kira, terimakasih buat kemejanya. Nanti diusahakan dikembalikan secepatnya,kalau aku gak lupa! Pak Dewa punya nomorku kan? kalau aku lupa, ingatin aja!" ucapan Shakila terasa ambigu, bagi Dewa, karena dia sama sekali tidak memiliki nomor ponsel Shakila.
"Tapi aku gak punya nomormu." Dewa mengrenyitkan keningnya.
"Oh gak punya ya? ya udah kalau gitu, nomor Bapak mana? biar aku simpan di ponselku!" Shakila meraih ponselnya dan bersiap untuk mengetik nomor ponsel Dewa.
"Cih, pinter banget modusnya biar dapat nomer Pak Dewa." decih Shakira dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak usah! kamu bisa lihat nomorku di sini!" Dewa memberikan kartu namanya ke tangan Shakila.
"Oh,ya udah kalau begitu! aku simpan ya Pak!" Shakila memasukkan kartu nama Dewa ke dalam tasnya.
"Yang lainnya gak mau ngasih kartu namakah?" celetuk Shakila sembari menatap ketiga dosen-dosen itu bergantian.
__ADS_1
"Lo ngumpulin kartu nama buat apa Kila?" celetuk Shakira yang mulai jengah dengan tingkah Shakila yang menurutnya malu-maluin.
"Buat nambahin daftar kontak di ponselku aja Kira, biar kelihatan rame." tangan Rendra langsung melayang, mendarat di kepala Shakila mendengar ucapan Shakila yang benar-benar absurd.
"Maaf Pak! Shakila jangan ditanggapin, nanti ketularan gila.Kami pamit dulu!" Rendra menarik tangan Shakila yang bibirnya kini sudah seperti mulut ikan.
"Kami berdua juga pamit Pak!" kata pertama yang keluar dari mulut Lea, setelah cukup lama diam semenjak kepergian Bimo tadi.
Shakira dan Lea mengayunkan langkah, beranjak meninggalkan tempat, setelah ke empat dosen muda itu mengiyakan.
********
"Lang, lo suka sama Lea ya?" tanya Dewa setelah Lea, Shakira dan Shakila hilang dari pandangan mereka.
"Nggak! gue biasa saja!" Galang terlihat menyunggingkan senyum di bibirnya, menyangkal perasaannya.
"Ah, itu menurut loe saja! kadang yang dilihat itu belum tentu benar." Galang masih berusaha untuk menyangkal perasaannya.
"Lang, sekeras apapun lo menyangkal, gue tetap tahu kalau loe menyukainya!" Dewa bersikeras dengan pendapatnya.
"Dewa, gue udah bilang, Nggak ya nggak! gue udah bilang itu hanya perasaan loe aja." Galang mulai terlihat kesal.
"Oh, ya udah kalau begitu! gue cuma mau memastikan aja kok Lang. kalau lo beneran gak suka, berarti gue ada kesempatan buat deketin dia! sepertinya dia sangat cantik dan menarik!" tukas Dewa sengaja memancing reaksi Galang.
"Coba aja kalau berani! gue akan nge blacklist nama loe dari daftar sahabat gue!" tanpa sadar Galang menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Melihat reaksi Galang yang berlebihan, membuat tawa Dewa, Dion dan Rendi pecah seketika.
__ADS_1
"Nah,tuh, cuma digertak gitu aja loe udah kepanasan.Masih mau ngeles lagi. Munafik banget sih loe Lang?" ucap Dewa di sela-sela tawanya.
"Haish! jadi loe cuma gertak gue? sialan loe!" Galang tersenyum kecut merasa dijebak.
"Makanya gak usah munafik! kenapa sih loe gak ngungkapin perasaan loe aja langsung? sepertinya dia juga ada rasa sama loe!" ucap Dewa yakin.
Galang membuang nafasnya ke udara dengan keras. "Gue punya banyak pertimbangan Wa, buat berterus terang padanya. Loe tahu sendiri, kalau dia anak siapa? dia putri pemilik Aryaguna Coorporation, dan keluarga gue tidak ada apa-apannya dibandingkan keluarganya." lirih Galang.
"Kayanya, Om Bimo bukan tipe orang yang memandang orang lain rendah, kalau tidak selevel dengan mereka! Kakak gue aja waktu masih jadi pembantu,mereka tetap terima jadi menantu. Padahal saat itu, mereka belum tahu kalau Kak Laura itu anak dari pemilik Hartono group." Dion menimpali ucapan Galang.
"Kalau itu gue tahu Yon! cuma aku gak mau dicap orang-orang ngedekatin Lea,karena dia anak Om Bimo. Gue mau bekerja keras agar sukses dulu, mempunyai usaha sendiri, baru aku akan percaya diri buat ngungkapin perasaan gue padanya."
"Setahu gue, bokap loe juga punya usaha mabel dan restoran yang udah maju. Kenapa loe gak nerusin itu saja?" Rendi buka suara.
"Yang ngelola sekarang, Ka Ganesha! Kalau restoran,itu bukan punya bokap gue, tapi itu punya Tante Sinta yang sekarang dikelola sama kaka ipar gue."
"Tapi selain Kakak lo, lo juga kan punya bagian di perusahaan bokap lo!" Dewa menimpali ucapan Galang.
"Iya sih! tapi dari dulu aku memang gak terlalu berharap untuk berkecimpung di dunia mebel! dan memang dari dulu pengen buat usaha sendiri. Udah ah!kenapa jadi bahas gue sih?! ujar Galang sedikit keki.
"Bukan gitu Lang, takutnya lo udah berjuang buat mantasin diri buat bisa bersanding dengan Lea, eh dia udah keburu dilamar orang.Karena setahu gue, perempuan itu butuh kepastian.Mengungkapkan perasaan gak harus langsung menikah kan? setidaknya lo punya status jelas dulu, setelah itu lo ngasih pengertian ke dia kalau lo akan berjuang untuk sukses, baru akan melamar dia! kalau dia benar-benar sayang sama lo dia pasti mau mengerti dan akan menunggu loe."tutur Dewa panjang lebar, berharap Galang bisa mengubah mindsetnya. Dan sepertinya cukup bekerja, karena Galang terlihat diam seperti memikirkan sesuatu.
"Nah masalahnya, si Lea udah mau dan mengerti, eh si Galang gak sukses-sukses gimana tuh?" celetuk Rendi spontan, yang sontak mendapat tatapan horor dari Galang dan yang lainya.
"Eh, gue salah ngomong ya? kok pada melotot ke gue?" ucap Rendi, tidak merasa bersalah sama sekali.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa buat like,vote dan komen ya gais.Thank you.