Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Belajar masak.


__ADS_3

Kevin menghentikan motornya di sebuah rumah mewah. Ya, setelah berpikir lama, akhirnya Gendis memutuskan untuk pulang ke rumah Dimas suami Sinta tantenya.


Di teras rumah terlihat dua orang yang wajahnya terlihat sedang khawatir, dan dapat dipastikan kalau mereka sedang mengkhawatirkan Gendis yang tak kunjung pulang.Mereka berdua langsung menghambur menghampiri Gendis, setelah melihat gadis itu turun dari atas motor.


"Malam,Om, Tan! romantis banget berduaan di teras rumah." Sapa Gendis,seperti tidak merasa bersalah sama sekali.


Pletak .... Sinta memberikan jitakan di kepala Gendis.


"Romatis apa-an? kami khawatir nungguin kamu. Tadi siang, kamu bilang mau nginap di rumah Vina, tapi Vina telpon, bilang kamu gak pulang ke rumahnya. Kami kira kamu ke apartemen Galang, tapi dia bilang kamu juga gak ada di sana. Ponselmu juga tidak bisa dihubungi, gimana kami gak khawatir coba! kamu kemana aja? hah?! dan mana motor kamu?" cerocos Sinta tanpa henti. Tapi jelas terlihat, kalau Sinta terlihat lega melihat ponakan perempuan satu-satunya itu baik-baik saja.


"Maaf Tan, handphone Gendis habis batrai, gak sempat nge caharge. Tadi aku, jatuh dan kakiku terkilir. Dia membawaku untuk dipijat sama Mamahnya yang kebetulan tukang urut." papar Gendis sambil menunjuk ke arah Kevin, yang mendelik tidak terima mamahnya disebut tukang urut.


"Motorku ditinggal dirumah dia, karena sudah sangat malam, Jadi besok saja aku akan mengambilnya Tan." sambungnya kembali tanpa memperdulikan sorotan tajam dari manik mata Kevin.


Kevin, yang sebenarnya ingin langsung pulang, begitu Gendis turun dari atas motornya, langsung mengurungkan niatnya,begitu melihat Dimas yang sudah sering dia lihat datang ke perusahaan tempat dia bekerja sekarang.


"Ternyata dia keponakan Pak Dimas," batin Kevin sembari turun dari atas motor. Dia memutuskan untuk menyapa Dimas terlebih dulu sebelum dia pulang.


"Malam Pak Dimas, Bu! aku Kevin." Kevin mengulurkan tangannya ke arah Dimas dan Sinta, dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.


Dimas menyiptkan kedua matanya,berusaha mengingat siapa pemuda yang ada di depannya sekarang.


"Hmmm kalau aku gak salah, kamu bekerja di wijaya group kan?" tanya Dimas menyelidik.


"Benar Pak!" sahut Kevin tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.


"Lho, kamu kok bisa sama keponakan saya? apa kalian berdua punya hubungan?" Dimas kembali bertanya dengan tatapan menyelidik. Bagaimanapun, Gendis merupakan tanggung jawabnya sekarang, selama dia ada di Jakarta.


"Bukan Pak! tadi aku hampir saja menabrak dia,karena dia tiba-tiba berlari buat nyelamatin seekor kucing.Kakinya terkilir dan aku bawa ke rumah buat dipijat mamah saya.Tapi aku mau meralat ucapan Gendis tadi Pak, mamah saya bukan tukang pijat, mamah saya kebetulan tahu mijat aja." Kevin menggerakkan ekor matanya,melirik sinis ke arah Gendis,


"Oh begitu?" Dimas menganggukkan kepalanya.


"Kalu begitu, terima kasih ya Nak Kevin,sudah mau mengantarkan keponakan saya pulang! Oh ya jangan panggil saya Pak, ini bukan kantor. Panggil saja saya Om dan istri saya tante." sambung Dimas kembali sembari menepuk pundak Kevin dengan lembut.


"Sama-sama Pak eh Om! kalau begitu aku pamit pulang dulu ya Om, Tante." Kevin menundukkan sedikit badannya dan berbalik beranjak naik ke atas motornya,setelah Dimas dan Sinta mengiyakan.


"Kamu tidak pamit juga padaku Kak Kevin?" Celetuk Gendis yang merasa diabaikan oleh Kevin.


Kevin menghela nafasnya dengan sekali hentakan. Sebenarnya dia malas untuk berpamitan pada Gendis, tapi demi menghargai Dimas dan Sinta,terpaksa dia tersenyum dan kembali menatap Gendis yang sedang nyengir kuda ke arahnya.


"Aku pamit pulang ya Gendis!" ucapnya dengan berat hati.

__ADS_1


"Iya, Ka Kevin! hati-hati di jalan ya! kalau jatuh bangun yaaa, jatuh lagi,bangun lagi. Jatuh bangun aku mencintaimu, namun dirimu tak mau mengerti ...." Gendis tiba-tiba bernyanyi danggut.


Plak ....


"Udah Nak Kevin, kamu pergi saja, gak usah kamu perdulikan si gila ini." ucap Sinta, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya yang absurd.


Kevin melajukan motornya, setelah mendengar ucapan Sinta. Samar-samar dia masih bisa mendengar teriakan gadis berisik yang berteriak, "Bye ... bye Ka Kevin!"


Kevin melirik ke arah kaca spion dan melihat gadis berisik itu, masih heboh melambaikan tangannya, dan berhenti ketika dia mendapat jeweran di telinganya dari sang tante. Tanpa dia sadari, Kevin tersenyum simpul di balik helmnya, melihat semua kejadian itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi sudah datang kembali menyapa. Akan tetapi,mentari sepertinya masih malu-malu untuk menampakkan wujudnya,mengingat jarum jam di jam weker milik Shakila masih menunjukkan pukul 5 lewat 40 menit. Ya, tadi malam Shakila menyetel alarm di jam wekkernya pukul 5 lewat 30 menit. Lalu dia mencuci muka dan menggosok giginya sebelum dia beranjak keluar dari kamarnya.


Shakila terlihat sedikit terburu-terburu turun dari kamarnya.Tujuannya cuma satu, yaitu dapur tempat dimana asisten rumah tangga, yang sering dipanggil Bik Nani, sedang memasak sarapan pagi.


"Bi, Killa boleh bantu?" celetuk Shakila yang langsung mengangetkan sang asisten rumah tangga itu, karena kebetulan posisinya tengah membelakangi Shakila.


"Astaga Non Kila, ngagetin bibi saja! gak usah Non, biar bibi saja yang ngelakuin sendiri. Non Killa kembali saja ke kamar, Karena ini masih terlalu pagi Non!" ucap bik Nani, menolak bantuan Shakila.


"Nggak mau Bi! Shakila mau belajar masak. Killa udah bela-belain nyetel jam alarm buat bisa bangun jam segini.Jadi Killa gak mau menyia-nyiakan waktu."


"Tapi Non, kalau mau belajar sekarang butuh waktu lama. Nanti kalau ada waktu luang baru bibi ajarin ya!" ucap bik Nani, sembari melirik ke arah jam di dinding.


"Tapi, Non ini sudah___"


"Gak mau tahu! bibi tenang saja, Killa pasti cepat belajarnya. Bukannya harusnya bibi senang ya, dapat bantuan dari Killa? Bibi bisa cepat selesai memasaknya." ujar Shakila berusaha meyakinkan bik Nani.


"Bukannya jadi cepat Non, yang ada akan makin lama!" ucap bik Nani,yang tentu saja hanya berani diucapkan dalam hati saja.


"Mana Bi? apa yang harus Killa lakukan sekarang?" Killa memegang semua bahan makanan yang sudah dikeluarkan oleh bibi Nani dari kulkas.


"Ya udah deh Non. Non Killa iris bawang merah aja dulu, caranya seperti ini." Bik Nani mencontohkan pada Shakila.


"Hanya seperti itu Bi? gampang ini mah!" Shakila tersenyum dan meraih pisau dari tangan bi Nani.


"Hati-hati ya Non, pisaunya sangat tajam!" bibi Nani memperingatkan, karena sedikit merasa ngeri melihat cara Shakila yang terlihat masih kaku, memegang pisau.


"Iya, Bi! Bibi tenang saja!" Shakila menerbitkan senyuman di bibirnya.


Bik Nani beranjak meninggalkan Shakila,menuju wastafel untuk mencuci sayuran dan daging ayam yang hendak digoreng. Tapi, sesekali dia tetap melirik ke arah Shakila, berjaga-jaga kalau-kalau jari Shakila terluka.

__ADS_1


Airmata sudah mulai menetes keluar dari mata Shakila, karena terasa pedih akibat dari aroma bawang merah yang sedang dia iris. Karena air matanya tak kunjung berhenti, tiba-tiba jari telunjuknya teriris pisau dan langsung mengeluarkan banyak darah.


Shakila, menjerit menangis histeris melihat darah yang keluar dari jari telunjuknya. Bi Nani dengan sigap langsung meninggalkan kegiatannya dan menghampiri Shakila.


Tangisan Shakila sontak membangunkan penghuni rumah, Seno, Amira dan Shailendra. Mereka semua dengan panik berlari menuju dapur,untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa ini?" tanya Seno, langsung menghampiri putrinya yang tengah menangis sambil memegangi jarinya yang terluka.


"Maaf Tuan! tadi Non Shakila katanya mau belajar masak, aku udah bilang kapan-kapan saja, tapi Non Shakila tetap memaksa.Jadi, tadi dia mengiris bawang, dan jarinya terkena pisau Tuan!" bibi Nani menundukkan kepalanya,merasa takut mendapat amukan dari Seno.


"Ya udah Bi, gak pa-pa! bibi lanjut saja memasak, biar Shakila kami yang urus." ucap Seno.


"Waduh, bahaya ini, kayanya jari telunjukmu ini harus diamputasi biar gak busuk." ujar Seno dengan raut wajah yang serius, menakut-nakuti Shakila, yang lansung menangis histeris kembali, ketika dia membayangkan kehilangan jari telunjuknya.


"Iya seperinya Pi! ayo Pi, kita harus bawa dia ke rumah sakit, biar jarinya langsung diamputasi.Kalau dibiarkan lama-lama bisa makin parah nanti. Bisa-bisa menjalar ke semua jari, dan mau tidak mau semua jarinya harus diamputasi." Shailendra menimpali ucapan papinya dan semakin memperparah keadaan.


Shakila semakin menangis histeris, mendengar ucapan Shailendra. " Papi, Shakila gak mau diamputasi Pi! Shakila nanti gak punya jari-jari lagi." tangis Shakila.


Amira mengayunkan tangannya menjewer telinga Seno dan Rendra, karena sudah membuat Shakila ketakutan.


"Kalian berdua ya, bukannya langsung mengobati, malah menakut-nakuti. Rendra ... sana kamu ambil kotak obat!" titah Amira, sang ratu di rumah itu.Sedangkan Seno dan Rendra meringis kesakitan sembari mengusap-usap telinga masing-masing.


5 menit kemudian Rendra sudah datang dengan membawa kotak obat di tangannya. Amira dengan telaten langsung mengobati jari Telunjuk Shakila dan membungkusnya dengan kain kasa.


"Makanya,jangan sok-sokan mau belajar masak. Lagian kenapa kamu tiba-tiba mau belajar memasak?" tanya Amira dengan kening yang berkrenyit.


Shakila hanya bergeming tidak mau menjawab sama sekali, karena merasa malu dengan alasanya belajar masak, biar Dewa tidak meninggalkannya.


"Ya udah,kalau tidak mau jawab! Sekarang kamu kembali ke kamarmu! Lain kali kamu bisa belajar memasak lagi." ucap Amira, yang tidak mau memaksa Shakila menjawab pertanyaannya.


"Oh ya Bi, nanti pakaiannya tidak usah dijemur diluar ya! soalnya nanti pasti turun hujan." titah Amira yang membuat semua yang ada di dapur mengrenyitkan keningnya,karena merasa ambigu dengan ucapan amira.


"Kok,kamu bisa tahu sayang,kalau nanti akan datang hujan? ini kan bukan lagi musim hujan?" tanya Seno.


"Soalnya, ada tuan putri tidur, yang tiba-tiba mau bangun pagi-pagi dan mau belajar masak. Kan Aneh!" sahut Amira santai, yang disambut dengan tawa yang menggelegar dari Seno,Rendra dan bibi Nani.


"Mamiiiii!"pekik Shakila dengan bibir yang sudah mengerucut ke depan


Tbc


Maaf kalau part ini sedikit garing.Aku lagi kurang enak badan.Dari tadi malam muntah2 terus karena asam lambungku kambuh.

__ADS_1


Please untuk tetap meninggalkan jejaknya ya gais. Like, rate, vote dan komen. Thank you😁🙏🤗


__ADS_2