Dua Lelaki

Dua Lelaki
Menangis.


__ADS_3

Dua pasang mata itu saling bertemu setelah tahu kabar berdekatan, tetapi tak bertemu dan tak menyapa. Kania berada di depan Radit, wajah penuh kekhwatiran itu masih mengukir jelas.


"Wa'alaikum salam." Semua orang menjawab cepat.


Radit diam.


"Kamu datang sendirian, Nak?" Bu Lala menyapa lebih dulu. Kania mendekat, mencium telapak tangan sang Ibu. "Suamimu tidak ikut?"


Kania berdiri tegak lagi. "Iya, Bu. Maaf, Mas Rangga katanya badannya remuk. Mungkin karena terlalu padat bekerja."


Bu Lala paham. "Nggak apa-apa, Nak. Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini. Suamimu tau, kan?"


Adit yang berdiri di belakang Kania hanya mengamati punggung kakak perempuannya tersebut.


"Alhamdulillah, tau, Tan." Kalau bukan karena Rangga yang mengizinkan, jelas ia tak akan ada di sini. Khawatir jelas pasti, tetapi Rangga yang mengendarai perahu.


"Syukurlah." Bu Lala dan Bu Irma saling berpandangan.


Kania sesekali melirik Radit, lelaki itu sedari tadi hanya diam.


"Kamu kecelakaan sendirian di dalam mobil, Dit?" Kania memberanikan diri bertanya, bagaimanapun mereka adalah teman masa kecil. Yang sudah lama menjadi bagian hidup dan sudah seperti keluarga.


"Iya, kebetulan aku belum sampai jemput Gendis," jawab Radit cepat.


Kania tertegun.


"Nak Gendis itu katanya mau lihat rumah yang disewakan, milik Pak Ilham. Nah, karena Nak Gendis belum tahu jalan dan daerah sini. Jadinya Radit mau jemput." Bu Irma menjelaskan lebih detail kronologi dari ucapan anaknya.


Adit memperhatikan wajah Radit lekat. Anak lelaki itu lalu pergi keluar setelah merasa cukup, duduk di samping ayahnya tanpa sepatah kata pun.


Sementara itu Bu Lala terus menceritakan bagaimana kondisi Radit setelah ditemukan kecelakaan satu jam lalu. Kania cukup mendengarkan dengan baik.


"Ibu, ke toilet sebentar, ya." Bu Lala pamit pada anaknya. Hanya tinggal Bu Irma, Radit dan Kania.


"Tante, hampir mau pingsan pas dengar kabar buruk ini. Untung saja Radit nggak bawa nyawa lain." Itulah yang disyukuri Bu Irma, setidaknya tidak ada orang lain di mobil anaknya.


Kania pun mensyukuri hal yang sama. Beberapa detik kemudian tinggallah Kania dan Radit saja dengan posisi pintu terbuka lebar. Mereka terdiam, ada kecanggungan yang terjadi.

__ADS_1


"Rangga, nggak marah kamu datang?" Radit masih saja penasaran. Kalau dia ada di posisi Rangga, jelas tidak terlalu suka.


Kania memberanikan diri menatap mata Radit seraya berkata, "Mas Rangga yang menyuruhku menemuimu. Katanya, ini penting."


Radit tak mengerti dengan pola pikir Direktur utama di perusahannya. Seperti tak ada kata cemburu ataupun curiga. Mungkinkah lelaki itu mencintai Kania?


"Aku bersyukur kamu cuma luka ringan, setidaknya aku bisa lega." Kania beberapa kali mensyukuri itu.


Suasana di ruangan berubah hening. Tak ada lagi percakapan di antara mereka untuk beberapa menit ke depan, hanya atmosfer di sana terasa lebih berbeda. Lebih menyesakan untuk keduanya.


Radit berpikir lebih dalam, suasananya dirasa pas. Namun, otaknya memikirkan dampak dari itu. Kania sendiri memilih diam, sampai akhirnya Radit kembali mengajukan pertanyaan.


"Setelah semua yang terjadi, ada hal yang ingin aku tanyakan dan pastikan ke kamu. Tapi, aku harap ini nggak buat pertemanan kita jadi renggang. Selama ini kita terus bersama, pastinya paham bagaimana menjalin teman yang baik," imbuh Radit.


Kania tertegun.


Radit mengatur napas sebaik mungkin sebelum mengatakan hal ini. Berpikir ulang, dan akhirnya tetap sama. Harus segera didiskusikan. "Sebelumnya aku di sini bukan mau merebutmu dari Rangga. Kalian sudah terikat janji suci, jelas lebih kuat daripada teman masa kecil."


Kania menunduk, bersiap untuk mendengarkan apa pun yang dikeluarkan mulut Radit. Bersiap dengan hal apa pun, jangan sampai tumbang. "Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan. Maaf, karena aku belum menemuimu seminggu ini."


Radit mengerti itu. Jarak mereka memang dekat, tetapi tembok itu semakin tinggi. Jelas saja tidak akan cukup hanya sekadar dilompati, harus adanya pengorbanan seperti meruntuhkan paksa. Nyatanya jelas sulit.


Jantung Kania berdetak lebih kencang. Tentang apa itu?


Radit memantapkan hati. "Sebenarnya apa alasanmu menerima Rangga dan menolakku? Aku ingin dengar secara langsung selain memang mungkin karena takdir juga."


Kania terkejut. Tak adakah pertanyaan lain selain itu. Rasanya akan sulit dijawab.


"Jawablah, kita mungkin bakal sering bertemu di kantor. Bahkan, sekali pun kita saling menghindar. Kenyatannya kita tetap rekan kerja di satu perusahaan. Dan, mungkin ada fase di mana kita akan saling membutuhkan satu sama lain, entah itu dalam konteks yang bukan tentang perasaan," lanjut Radit. Sepanjang apa pun jawaban Kania, jelas saja Radit harus mendengarkan dengan seksama. Ini yang menghalangi jalannya untuk bergerak maju, masih ada rasa penasaran.


Kania bimbang, menggigit bibir bawah sebentar. Dan, melepaskannya.


Radit paham dengan reaksi Kania. Saat inilah jiwa perempuan itu sedang bertarung dengan suara hatinya. Selalu saja seperti ini.


"Pembicaraan ini cuma ada di antara kita. Aku harap kamu tidak membocorkannya ke Rangga, ini bisa menyakiti hatinya lebih dalam." Radit duduk dengan tenang, menunggu jawaban Kania yang masih belum ada.


Inilah waktu yang sulit bagi Kania, ia tak menemukan jawaban apa pun selain terpaksa. Ada hal yang bahkan sukar diucapkan, tetapi nyata terasa di jiwa.

__ADS_1


Pak Kemal berdiri, hendak menemui anaknya dengan Radit. Namun, pria paruh baya itu cukup terdiam di ambang pintu. Bukan tidak berani menghampiri, tetapi seolah ikut menunggu, sekali pun tidak tahu sebelumnya.


Kania menghela napas kasar. Sepintar apa pun ia bersembunyi, akan tetap ketahuan. Buronan licik pun, akan tertangkap juga. Karena, di dunia ini tidak ada yang abadi. Kania mengangkat kepala, menatap dalam-dalam kedua bola mata Radit. Ini mungkin terkahir, saling berpandangan memang salah. "Mungkin kamu adalah salah satu orang yang merasakan janggal dari pernikahanku dengan Rangga. Kenapa aku bisa menerima lelaki itu dibanding kamu yang sebenarnya sudah aku kenal lama? Baiklah, aku katakan sejujurnya."


Radit akhirnya bisa menjawab rasa penasaran sebentar lagi. Semoga tak akan ada lagi bayangan masa lalu setelah ini, dan bisa bergerak maju. Berharap itu pun yang dilakukan Kania, karena bahasa tubuh wanita itu tidak bisa berbohong.


"Aku menerimanya karena terpaksa demi keluarga. Demi perusaahan Ayah yang terancam bangkrut, karena orang tua Ranggalah yang bisa memberikan suntikan dana besar untuk perusahan Ayah." Kania menjelaskan dari awal.


Kedua bola mata Pak Kemal membulat sempurna. Jelas sekali Kania mengatakannya sampai kedua telinga itu bisa mendengarkan tanpa jeda.


Radit diam. Sudah diduga.


Kania mengendalikan diri sebaik mungkin. Jangan sampai meneteskan air mata, tetapi nihil. Cairan bening itu saling dorong mendorong sampai akhirnya keluar juga membanjiri kedua pipi.


Tangan Radit tertahan, tak bisa berbuat apa pun. Ingin rasanya bergerak, tetapi ingat di mana posisinya sekarang.


Kania mengusap pelan kedua pipi. Rasanya sesak jika diingat, tetapi keputusan sudah diambil. Tentunya risiko pun harus dihadapi. "Mas Rangga pernah bertanya beberapa kali soal ini, tapi aku tetap menerimanya. Padahal saat itu aku menyadari kalau perasaanku ada untuk kamu, Dit. Dan, parahnya lagi adalah Mas Rangga tahu soal itu."


Radit diam. Skenario itu rupanya sudah terbaca Rangga. "Lalu, apa Rangga benar-benar mencintaimu? Maksudku, dia menikah bukan karena terpaksa juga."


Kania menggeleng cepat. "Dia jatuh cinta pandangan pertama dan menerimaku dengan keadaan menyukaimu." Sesak dalam dada Kania kian bertambah, ia tak mampu lagi membendung segalanya. "Aku menyukaimu, aku sampai mau gila rasanya mencari cara untuk bisa bersamamu. Tapi, keadaan yang memaksaku menerima Mas Rangga."


Pak Kemal terdiam. Tak menyangka akan seperti ini jadinya.


Radit cukup lega, walaupun beberapa bisikan gila memenuhi gendang telinga.


*Jangan sia-siakan kesempatan ini.


Dia juga mencintaimu. Ayo, rengkuh dia.


Hatinya untuk kamu saja*.


Radit sekuat tenaga untuk menahan godaan. Mengusir semua bisikan gila dan tetap berpikir jernih.


Radit mengukir senyum kecil. "Kania, aku tetap mencintaimu sampai kapan pun. Sudah aku duga pernikahan kalian dimulai dari rasa terpaksa, tapi nasi sudah jadi bubur. Kita saling mencintai, tapi semesta punya rencana lain. Aku juga belum bisa mengikhlaskanmu sepenuhnya. Sejatinya kamu adalah sosok wanita yang selalu hidup di jiwaku."


Kania menangis tersedu-sedu. Andaikan posisinya bukan seperti ini, ingin rasanya lebih dalam mengutarakan isi hati. Namun, ini cukup melegakan.

__ADS_1


"Pulanglah dan temui Rangga. Dia mungkin menunggumu di rumah." Senyum Radit semakin mekar di bibir, sekali pun hatinya terluka. Di kejadian ini, baik dirinya, Kania ataupun Rangga sama-sama terluka. Namun, mereka perlu mendewasakan diri lebih baik lagi. Sejatinya manusia memang tak akan ada yang sempurna. "Aku menyadari kita sama-sama terluka, tapi takdir itu sudah terjadi. Kamu milik Rangga dan aku tidak berhak merebutmu. Apalagi yang aku hadapi bukan Rangga saja, tapi juga Yang Maha Kuasa. Berat sekali."


__ADS_2