
Kania turun dari mobil setelah dirasa cukup mendengar jawaban dari Rangga. Sedikit tidak percaya, tetapi nyata. Perempuan itu pun langsung masuk gedung perusahaan dan absen seperti mana seharusnya.
Beberapa karyawan mengangguk hormat, menyambut Kania hampir sama dengan Rangga. Perempuan itu berpisah dengan suaminya karena Rangga ternyata harus pulang lagi membawa ponsel. "Ini seperti cerita sinetron." Kania terus berbicara sendiri tanpa peduli penilaian orang lain.
Tak berapa lama dua suara yang tak asing pun terdengar jelas. Radit dan Gendis yang juga datang ke dekat lift dan menunggu di belakang Kania dan beberapa orang.
"Seharusnya Pak Radit jangan dulu bekerja. Istirahat saja di rumah. Saya jadi merasa bersalah," kata Gendis. Wanita berdiri di samping Radit. Tak sengaja bertemu di parkiran.
Radit merasa sudah sehat, hanya luka ringan biasa. Tak perlu khawatir terlalu berlebihan. "Saya sudah sehat. Lagian itu cuma luka ringan, saya juga bosan harus tinggal di rumah saja."
Gendis hanya bisa tersenyum kecil. Menatap Radit dari samping, semakin mempesona saja lelaki itu. "Saya sepertinya akan mencari tempat tinggal lain saja. Kemarin saya ditawari rumah kost di dekat kantor, lumayan menghemat uang untuk ongkos, Pak."
Radit tak masalah. Itu hak Gendis. "Selama kamu merasa nyaman dan cocok, saya tidak ada masalah. Yang akan menempati rumah itu kamu, saya cuma mencarikan saja."
Inilah yang disukai Gendis dari Radit. Tak pernah memaksa. "Iya, Pak."
Lift terbuka. Semua orang masuk. Mungkin ada sekitar sepuluh orang dan Kania berusaha untuk bersembunyi di antara pada karyawan agar tidak terlihat oleh Radit dan Gendis. Untung saja, tepat di depannya seorang lelaki paruh baya yang memiliki tinggi badan melampaui tinggi Kania. Aman.
Gendis dan Radit masih terlibat percakapan, terlihat dari tangan Gendis yang bergerak seolah sedang menjelaskan sesuatu. Lift bergerak, membawa semua penumpangnya menuju lantai tujuan.
Radit turun di lantai tiga, entah ada perlu apa. Setelah itu, Kania dan Gendis juga beberapa karyawan lainnya pun turun di lantai berikutnya. Gendis sempat terkejut tatkala melihat Kania ada di belakangnya saat menoleh. "Selamat pagi." Menyapa dengan ramah.
Kania mengukir senyum. "Selamat pagi juga." Berjalan santai, mensejajarkan langkah dengan Gendis. "Kamu datang sedikit siang, ya? Biasanya paling pagi."
Arloji di tangan Kania memang sudah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit.
Gendis membalas senyum kecil. "Iya, maaf." Mengangguk penuh penyesalan.
Kania tertawa kecil sambil berjalan dengan Gendis. "Jangan takut, aku juga agak siang. Selama belum waktunya masuk, nggak masalah. Cuma anehnya, kamu yang biasanya paling awal. Sekarang paling belakang."
__ADS_1
Ruangan bagian tim keuangan sudah penuh oleh semua karyawan. Desi menyapa Kania juga. "Hei, cantik." Gadis itu langsung memeluk Kania, melirik Gendis sebentar.
Kania menyambut pelukan Desi. "Assalamualaikum." Suaranya lantang, hendak menyapa semua orang.
"Wa'alaikum salam." Semua yang di sana langsung menjawab. Sekali pun Kania adalah istri dari Rangga, tetapi perempuan itu sudah membuat pengumuman untuk temannya agar tidak canggung.
Desi melepaskan pelukan. "Kamu berangkat sama Gendis?" Masih melirik Gendis sebentar.
Kania menggelengkan kepala. "Nggak, aku cuma ketemu pas keluar lift aja."
"Benar. Saya ketemu Kania di lift." Gendis membenarkan. Terbiasa dengan kalimat formal sampai susah diubah. Gendis memilih menarik kursi dan duduk di tempatnya.
Kania diam, mengamati Gendis yang dilihat dari segi apa pun tampak cantik. Memang tidak memakai banyak make up, tetapi perempuan itu punya daya tarik tersendiri untuk seorang lawan jenis.
Desi mengamati sikap aneh Kania. Mendekatinya lebih erat dan berbisik, "Kamu kenapa, sih? Liat Gendis sampai segitunya." Kania yang jarang sekali menatap orang sampai demikian, jelas menarik perhatian Desi. "Kamu ada dendam sama dia, ya?"
Waktu terus berjalan sampai menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kania mulai merasakan kantuk yang sulit ditahan, kebiasaan. Dengan sangat terpaksa, ia pun akhirnya memutuskan untuk membeli secangkir kopi ke bawah. Desi jelas saja ikut menitip. "Aku lagi malas banget turun," katanya dengan wajah memelas. Tentunya Kania tidak tega. Akhirnya menerima titipan Desi.
Bersamaan dengan Kania, rupanya Gendis pun ikut turun ke lantai bawah. Dengan alasan juga perlu kopi, tetapi tidak berani menitip pada Kania. Malu juga. Pada akhirnya keduanya pun berjalan bersama, berbincang beberapa topik layaknya dua teman semana mestinya.
Ketika menginjak lantai bawah, Gendis bercerita tentang pertemuannya dengan Radit. Kania sendiri sudah berusaha untuk tetap menyambut baik. Tak peduli perasaannya seperti apa, ia hanya perlu fokus untuk menggantinya dengan nama-nama Rangga.
"Saya berterima kasih sekali karena Pak Radit banyak membantu. Terutama soal saya yang jarang sekali berkomunikasi dengan orang lain," tutur Gendis.
Mereka berjalan mendekati pintu utama.
"Radit itu orangnya baik, kok. Dia sering menolong orang, apa lagi sama orang yang memang sangat membutuhkan. Nggak peduli seberapa sulit, dia pasti bantu." Kania menjelaskan bagaimana sosok Radit itu pada Gendis agar semakin yakin tentang kebaikan lelaki itu. "Jadi, kalau ada orang yang menceritakan kalau Radit itu baik. Aku setuju sekali."
Gendis mulai merasa nyaman dengan sosok Kania. Bukan hanya bisa diajak berdiskusi, tetapi perempuan itu pun memiliki banyak pemikiran yang dirasa sangat baik. "Kalian sudah bersama dari kecil, ya? Maaf, saya taunya dari Pak Radit juga."
__ADS_1
Kania bersikap tenang. Tak masalah. "Semua orang sudah tau, tenang saja." Tidak ada yang perlu ditutupi. "Kami ini bukan cuma sudah bersama dari kecil, tapi lahir di jam yang sama dan juga hari yang sama. Jadi, kalau ada yang bilang kami ini sudah seperti saudara, itu benar sekali."
Hal ini sering terjadi ketika Radit dan Kania berada di sekolah dasar sampai kuliah. Selain mereka memiliki kemiripan dalam tanggal lahir, beberapa ciri fisik pun ada. Ya, walaupun tidak semua. Namun, orang awam akan mengira mereka tetap anak kembar.
"Tapi, kalau dilihat dari segi mana pun. Aku dan Radit ini bukanlah kembar. Aku yang keras kepala, berbanding terbalik dengan Radit yang punya sikap bijaksana dan lembut. Dia itu nurut juga sama orang tua, pokoknya kamu bakal lebih mengagumi kalau tau banyak hal tentang dia," lanjut Kania.
Mereka melewati pintu utama. Gendis tampak lebih antusias dengan perkataan Kania. Terasa lebih banyak semangat untuk ingin tahu. "Sepertinya saya tidak salah orang kalau ingin tahu lebih banyak tentang Pak Radit. Kamu lebih bisa dipercaya."
"Tentu benar, aku bahkan tau kebiasaan buruk cowok itu." Kania terkekeh geli. Sengaja membuat Gendis penasaran. Biasanya orang akan terus terlibat percakapan jika dibuat lebih banyak penasaran.
"Apa kebiasaan buruknya itu?" Benar saja, Gendis tampak sangat penasaran.
Belum sempat Kania menjawab, seorang wanita muda menghampiri mereka. Terpaksa keduanya pun menghentikan laju kendaraan.
"Maaf, saya mau tanya, di mana ya ruangan interview?" tanya wanita itu yang memakai baju rapi dengan kemeja putih dan rok hitam melebihi betis. Manis sekali.
"Oh, itu ada di koridor sebelah kanan. Mbak, bisa lurus ke kanan, lalu belok ke kiri. Di sana ada," jawab Gendis cepat.
"Terima kasih." Wanita tersebut merasa terbantu.
"Sama-sama." Gendis senang membantu.
Kania diam. Setelan wanita yang sepertinya akan melamar kerja itu pergi, dan Gendis terlihat mengambil langkah dua kali. Barulah Kania membuka suara. "Ada yang aneh di sini." Kening itu berkerut kencang. "Aku rasa kamu baru seminggu ada di sini, tapi dengan mudahnya hafal beberapa ruangan yang bisa dikatakan cukup tersembunyi. Mungkin memang kita akan dikenalkan beberapa ruangan saat masuk kerja, tapi biasanya cuma ruangan penting saja."
Langkah Gendis terhenti.
Kania mengambil dua langkah ke depan. Berdiri di samping perempuan yang berkacamata itu segera, lalu berkata, "Aku jadi bertanya-tanya, apa mungkin sebelumnya kamu nggak asing dengan tempat ini? Tapi, kembali menampar diri kalau nggak boleh suudzon ke orang lain."
Kania menoleh ke samping, bersamaan dengan Gendis pula. Perempuan itu melempar senyum kecil. "Maaf, aku banyak bicara. Kita langsung ke cafe-nya aja, takut Desi lama menunggu."
__ADS_1