Dua Lelaki

Dua Lelaki
Jangan resah soal jodoh


__ADS_3

Lima hari berlalu. Weekend pun tiba. Kania dan Desi berencana pergi menonton film terbaru. Menurut kabar yang beredar, film ini sangat bagus dari sisi alur juga penokohan. Tentu Desi antuasias.


"Jangan lupa jemput aku di sana."


Sebuah pesan yang ditulis Desi untuk Kania setengah jam yang lalu. Saat ini Kania baru saja mandi. Rasanya malas sekali. Namun, sudah lama juga tak pergi keluar. 


Adit mengetuk pintu pelan. Kania bergegas membukanya. Barangkali ada kepentingan darurat.


Dengan memperlihatkan deretan gigi putih dan bersih. Anak remaja itu menyambut Kania.


"Ada apa, Dek?" tanya Kania heran.


"Kakak, mau pergi, ya?" Adit mencoba lembut.


"Iya."


Adit diam sejenak, hingga membuat Kamila bingung.


"Kamu kenapa, sih, Dek?" Kania kembali mengajukan pertanyaan. "Butuh sesuatu?"


"Gini, Kak. Aku butuh kuota." Akhirnya anak lelaki itu mengatakan isi kepalanya. "Tapi, jatahnya kemarin kepake buat nonton film sama teman. Boleh nggak?"


Kania menarik napas. Mengembuskannya perlahan. Ia paham. "Berapa?" Sekali pun sering diberi. Kania tetap tidak terlalu memanjakan. Tak semua keinginan adiknya dipenuhi.


"Seratus ribu aja, Kak."


"Kenapa banyak banget?" Kania tersentak. Bukan begitu, di rumah sudah ada WiFi. Tentu pemakaian kuota hanya saat mereka pergi keluar saja. "Kamu, kan, kebanyakan di rumah, Dek! Uangnya bukan buat beli kuota aja, kan?"


Adit tertangkap basah. Tak ada jalan lain selain mengaku. "Ya, Kak." Wajahnya tertunduk lemas. "Aku pengen beli sesuatu. Tapi, uangnya kurang. Nggak enak minta Bunda lagi. Dikasih, sih. Cuma ngerasa nggak enak aja karena nggak bisa jaga amanah Bunda."


Kania mendengarkan. Hatinya sedikit bangga. Setidaknya, Adit sudah berusaha agar tidak terlalu merepotkan orang tuanya. Ya, walaupun dengan cara meminta pada Kania.


Kania pergi ke arah kasur. Merogoh tas kecil dan mengeluarkan dompet. Dari sana sebuah lembar uang seratus ribu pun keluar. Ia balik pada Adit. Memberikan uang itu seraya berkata, "Dek, kamu udah besar. Mulailah mengatur keuangan dengan bijak. Kakak, bukan pelit. Tapi, ini juga buat kebaikan kamu di masa depan."

__ADS_1


Adit mengambil uang tersebut. Mengangguk cepat. Nasihat sang Kakak memang baik. Jelas, ia yang salah karena terlalu banyak keinginan Minggu ini. Setiap Minggu Adit mendapatkan uang jajan dari bundanya. Jadi, cukup tidak cukup. Tentu amanah tersebut harus dilakukan.


"Ya, Kak. In syaa Allah." Adit mengangkat lembaran uang itu ke atas. Mengamati dengan teliti. Bisa saja palsu. "Bentar. Aku mau cek dulu."


Kania terkekeh geli melihat tingkah lucu adik lelakinya. "Itu asli, Dek. Kakak, baru tarik uang tunai di bank kemarin."


"Kan, takut aja, Kak. Kalau palsu, malu Adit."


"Ya, ya. Jadi, gimana uangnya Profesor Adit?"


Adit masih mengamati. Sebuah keputusan pun didapati. "Aman, Kak." Lelaki itu mengacungkan jempol. "Makasih, Kakakku tersayang. Semoga Kak Radit cepat pulang biar Kakak bisa semangat lagi."


Adit cepat berlari ke arah tangga. Sudah pasti Kania akan mengomel tidak jelas.


Benar saja. Kania ingin berteriak, tetapi ditahan. "Sabar." Perempuan tersebut mengelus dada dua kali. Memiliki seorang Adik yang jahil memang tidak mudah. Sebuah tantangan yang harus ditaklukan sebaik mungkin. "Jangan terpancing. Dia emang kayak gitu."


Kania kembali menutup pintu. Ia perlu bersiap-siap karena film akan dimulai pukul sembilan pagi. Sebenarnya ini bisa dikatakan terlalu pagi. Namun, ia dan Desi memiliki rencana lain setelah menonton.


Kania memilih memakai gamis biru muda dengan hijab hitam. Tak lupa tas hitam kecil yang selalu setia menemani ke mana pun. Tak banyak barang yang dimilikinya. Sebab, Kania bukanlah wanita pengoleksi barang.


"Assalamualaikum," kata Kania.


"Wa'alaikum salam. Na, kamu di mana?" Suara Desi bercampur dengan bisingnya jalan. "Aku udah siap, nih."


Kania menghela napas. Netra cantiknya melirik arloji di tangan kanan. Baru pukul delapan lewat dua puluh menit. "Aku baru selesai dandan."


"Hah!" Desi terdengar terkejut. Kania bahkan harus menjauhkan telepon dari telinganya, karena suara Desi begitu kencang. "Jangan lama. Nanti kita ketinggalan film."


"Iya, ya. Ini udah mau berangkat, kok."


Desi sama saja dengan Adit. Terkadang sifat mereka sama, ingin cepat.


"Ya udah, kamu langsung berangkat, ya. Aku tutup dulu. Assalamu'alaikum." 

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." Kania mendengar suara bunyi kecil yang menandakan sambungan telpon itu berakhir.


Ponsel itu disimpan kembali di tas. Melihat pantulan diri di depan cermin. Sempurna. Tiba-tiba momentum saat di lift melompat-lompat di mata. Dadanya kembali bergetar. Apakah ini? 


Setelah kejadian itu. Rangga memang bersikap biasa. Hanya saja, Kania merasa canggung. Terlebih, perlakuan Rangga sama dengan Radit. Lembut dan selalu mendengarkan lebih dahulu sebelum akhirnya lelaki itu berbicara. 


Kania berdiri mematung. Sampai usianya sematang ini, ia belum bisa menentukan mana yang terbaik. Ia bahkan belum terpikirkan menikah seperti teman lainnya.


Contohnya Desi, gadis itu ingin sekali menikah dengan lelaki bisa memberikannya semangat. Yang mengizinkannya bekerja dan menggapai karir juga cita-cita.


Berbeda dengan Kania. Ia belum terpikir sejauh itu. Selama ini perasannya hanya terpaku pada Radit, walaupun tidak tersampaikan. Lebih tepatnya belum terungkap. Entah takdir seperti apa yang akan terjadi di antara mereka. Jelas itu rahasia Ilahi Rabbi.


Kania bergegas keluar kamar. Bisa-bisa telepon dari Desi kembali datang. Ketika turun ke lantai bawah, ia secara tidak sengaja mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.


"Yah, apa tidak sebaiknya kita carikan jodoh untuk Kania?" tanya Bu Lala.


Kedua orang tua itu sedang duduk di ruangan keluarga dan membelakangi Kania. 


Kania berhenti. Mendengarkan dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Pak Kemal menyimpan koran. Sebagai Bapak-bapak yang hidup sudah lama, tentu koran itu adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan untuk dibaca. Setiap hari ada saja koran yang diantar.


"Kenapa memangnya, Bun?" tanya Pak Kemal balik.


Bu Lala terlihat lesu. "Bukannya Ibu takut. Tapi, ada anak teman Ibu yang nggak mau menikah sampai usia tiga puluh tahun. Ibu, cuma takut aja, Yah."


Pak Kemal paham atas kekhawatiran sang Istri. 


"Memang benar kita tidak mengizinkan Kania berhubungan sebelum sah. Tapi, sejauh ini juga belum ada yang datang ke rumah. Apa tidak sebaiknya kita carikan Kania jodoh saja," ujar Bu Lala.


"Untuk apa? Semua orang pasti bakal ketemu jodohnya. Mungkin anak kita belum waktunya."


"Itu memang benar, tapi …." Bu Lala menelan ludah. Rasanya berat mengatakan ini.

__ADS_1


Pak Kemal merangkul pundak Bu Lala seraya berkata, "Jangan khawatirkan soal jodoh. Lambat atau cepat, pasti bakal datang. Yang kita perlu khawatirkan itu apa kita sudah bekali anak-anak kesiapan mental sebelum menikah? Itu saja."


__ADS_2