Dua Lelaki

Dua Lelaki
Rangga


__ADS_3

Kania menarik diri dari dekat Rangga. Ia salah tingkah.


"Terima kasih," kata Kania.


Rangga diam.


Kania bimbang antara berjalan kembali atau diam lebih dahulu.


"Saya duluan. Waktu makan siangnya sebentar lagi habis," imbuh Rangga di tengah kecanggungan.


Kania mengangguk pelan. "Ah, iya, Mas. Silakan." Tangannya mengulur menandakan Rangga untuk pergi lebih dahulu.


Rangga berjalan ke depan dengan tenang, sedangkan Kania sendiri masih menenangkan jantungnya yang berdetak lebih kencang. Kejadian memalukan terjadi dua kali. Ia perlu meningkatkan kewaspadaan dirinya.


"Malu banget," gumam Kania. Setelah itu Kania pergi ke arah kantin. Desi menunggu di sana.


"Aku malah jadi lapar," kata Kania kembali sambil berjalan.


Tidak berapa lama Kania sampai di kantin. Ada banyak menu yang bisa dicoba, tentu gratis karena sudah terpotong gaji mereka.


Menu siang ini adalah gulai ikan, sambal terasi, capcay, dan kerupuk udang. Cukup menggiurkan bagi pecinta kuliner Nusantara.  Hanya saja, bagi orang yang bosan dengan menunya, tentu mereka memilih membeli makan di luar. Sah-sah saja.


Kania mengantri seperti yang lainnya. Mengambil jatah makan, lalu pergi ke meja Desi. Gadis manis itu sudah lebih dahulu menghabiskan setengah makanannya.


"Kok, lama banget?" tanya Desi ketika melihat Kania duduk di kursi depannya. "Aku pikir kamu makan di luar."


Kania duduk. Menyimpan nampan yang terdapat piring di meja. Ia mengela napas lebih dahulu. "Maaf, tadi ada kesalahan teknis."


Desi yang tengah mengunyah kerupuk pun dibuat kaget. "Kesalahan teknis?" Ia mengulang perkataan Kania.


Kania mengangguk cepat. "Ya." Tangannya di satukan, lalu berdoa, dan mulai makan.


"Emangnya apaan?" Desi penasaran. Kerupuk udang yang tinggal separuh itu masih di tangan kanannya. 


Kania lebih dahulu mengunyah makannya. "Rasanya enak," komentarnya. Ia terus saja mengunyah sampai habis. 


"Jadi, kesalahan teknisnya apa?" Desi tidak sabaran.


Kania mengangkat kepala. Menatap Desi lekat. "Aku ditolongin lagi sama Rangga."


Desi tersedak. Ia mengambil teh manis di gelas. Meneguk sampai seperempat gelas habis. "Ditolongin karyawan baru itu?" Gelas disimpan.


"Ya."

__ADS_1


"Gila, aku iri banget."


Kening Kania mengerut. "Irinya di mana? Itu, kan, cuma rasa tolong ke sesama manusia aja." Kania heran. Ia menyuap makanan lagi. Rasanya semakin nikmat.


Desi menelan ludah. Andaikan posisinya berada di Kania, sudah dipastikan ia akan kejang-kejang.


"Kamu emang nggak gugup pas ditolongin dia?" tanya Desi serius.


Mulut Kania mengunyah, menelan, lalu berkata, "Nggak. Biasa aja."


"Astagfirullah, sama sekali?" Kali ini Desi meninggikan suaranya. 


"Iya!" Kania tegas.


"Bisa-bisanya." Desi melamun. Berkhayal bisa ada di posisi Kania saat ini.


Kania santai. Toh, semua yang dilakukan Rangga adalah hal wajar. Ia pun akan melakukan demikian saat seseorang butuh pertolongan.


Kania memperhatikan Desi, aneh. "Kamu kenapa lagi?"


Desi tersadar. Menyimpan kerupuk dan meneruskan makan lagi. Dua kali mengunyah, barulah Desi menjawab. "Aku kalau jadi kamu, pasti udah histeris. Secara Rangga itu kemungkinan besar bakal jadi pewaris tunggal perusahaan ini. Udah ganteng, tinggi, murah senyum, ramah. Duh, nggak ada celanya, deh. Perfect!"


Mata Kania terbelalak. Telinganya tidak percaya dengan yang didengar barusan. Benarkah itu dari mulut Desi?


Desi termenung mencerna kalimat Kania. Benar juga. Hakikatnya manusia hanya memandang yang lain sebatas pandangan mata saja.


"Udah cepat makan. Nanti keburu habis jam makan siang," kata Kania yang kembali melahap jatah makan hari ini. Gulai ikan buatan Ibu Kantin tidak ada duanya. Ia harus mencari resep dan mencoba membuatnya di rumah.


Desi pun melakukan hal yang sama. Fokus pada makanan. Terlalu banyak berkhayal memang tidak baik untuk kesehatan. Ya, kesehatan jiwa utamanya.


Jam makan siang berakhir. Semua karyawan kembali ke peraduannya. Bergelut dengan berbagai pekerjaan. Ada yang sibuk menulis, menghitung, adapula yang sedang melakukan meeting.


Rangga begitu fokus. Untuk ukuran karyawan baru, ia patut diacungi jempol dengan kepintarannya dalam beradaptasi. Ya … walaupun lelaki itu tidak banyak berinteraksi dengan yang lain.


"Kania, tolong hitung budget untuk proyek baru kita," kata Pak Ganjar sengaja datang ke tempat Kania Bekerja.


Kania berdiri, mengambil sebuah dokumen dengan maps biru di tangan Pak Ganjar. "Baik, Pak."


"Oh, ya, tolong juga ajari Rangga jika ia tidak tau."


Kania tertegun. Desi memperhatikan.


"Kania," panggil Pak Ganjar.

__ADS_1


Kania sadar. "Baik, Pak." Gadis itu mengukir senyum di bibir manisnya. 


"Baiklah. Saya serahkan tugas ini ke kamu." Pak Ganjar bergerak menjauh dari hadapan Kania.


Rangga mendengar. Akan tetapi, lelaki itu tidak banyak berkomentar. Jari jemarinya sibuk mengetik di layar laptop.


Kania duduk kembali. Menyimpan dokumen di meja sambil melirik ke meja Rangga. Lelaki itu memiliki daya konsentrasi yang cukup tinggi. Lihat saja sekarang! Rangga bahkan tidak terusik kericuhan yang terjadi karena salah satu karyawan ada salah dalam menghitung pengeluaran.


Desi mendekatkan kursinya ke meja Kania, lalu berbisik, "Dia sepertinya tipe orang yang serius dalam bekerja. Liat aja! Wajahnya tegang banget."


Kania diam. Matanya lagu-lagi memperhatikan Rangga. Benar yang dikatakan Desi. Rangga memang terlihat tegang seperti dikejar target.


"Aku yakin dia juga tegas soal pasangan," bisik Desi kembali.


"Kamu sok tau!" tegur Kania.


"Lihat aja cara dia bekerja. Biasanya, lelaki bakal saja dalam memperlakuakan pekerjaan dan pasangan."


Kania diam.


Desi kembali ke tempat kerjanya. Ia sedang mengecek laporan keuangan yang masuk beberapa hari ini.


Kania masih terpaku di tempat. Rangga mulai risih..


"Jangan tatap saya begitu. Sebaiknya kamu kembali kerja," imbuh Raga yang berhasil membuat Kania malu.


"Maaf, Mas," kata Kania.


Rangga menoleh. Ia terganggu dengan panggilan Kania padanya. "Kamu bisa panggil saya dengan nama. Rangga."


Kania bergeming.


"Kita sepertinya cuma beda setahun. Jadi, lebih santai saja," sambung Rangga. Senyuman manis lagi-lagi diberikan Rangga pada Kania. Ia seperti sedang menebar pesona pada setiap wanita.


"Ah, baiklah," jawab Kania.


Rangga kembali fokus bekerja, begitupun dengan Kania. Keduanya berusaha seprofesional mungkin dalam hal apa pun.


***


Di kota lain Radit sedang diam di ruangannya. Ia kini di angkat menjadi ketua divisi. Cukup menggiurkan.


Tangannya masih memegang ponsel. Percakapan dengan Kania melalui pesan online memang menyenangkan, walaupun begitu. Ia tetap harus menjaga jarak. Hanya mengirim pesan tentang hal penting saja.

__ADS_1


"Semoga kita cepat bertemu. Aku rindu," ujar Radit pelan. Ia menyandarkan punggung di sandaran kursi. Perpisahan sementara ini baru saja dimulai.


__ADS_2