
Radit sendiri sedang mengenalkan banyak ruangan pada Gendis sebelum menghadap ke Rangga. Direktur utama yang juga sekaligus pemenang akan hatinya Kania. Sejujurnya lelaki itu kurang minat, tetapi ini adalah pekerjaan yang harus bisa dibedakan dengan urusan pribadi.
"Ruangan kamu ada di lantai empat, tapi kita ke ruangan atas dulu menemui Direktur utama baru," kata Radit sambil terus berjalan ke arah lift.
Gendis mengamati sekitar. Ditarik dirinya ke kantor pusat masih menjadi misteri. Entah karena alasan apa, tetapi berharap saja itu karena kemampuan Gendis yang memang berkualitas. Wanita itu mengedarkan pandangan ke berbagai arah dan terkejut ketika melihat punggung seseorang yang kini sudah pergi dari pintu utama. Punggung yang sama dilihatnya saat membuka pintu utama juga. "Dia lihat."
Radit mendengar, menoleh sebentar dan berkata, "Kamu bicara apa?" Lelaki itu penasaran. Mereka berhenti di depan lift, menunggu giliran untuk bisa diangkut ke atas. "Sedikit jelas kalau berbicara, saya kurang mendengarnya."
Otomatis Gendis terdiam. Tak mungkin juga jujur. "Tidak bicara apa-apa, Pak. Saya cuma mengagumi keadaan kantor pusat. Yang kerja di sini pasti sangat betah. Lebih besar dan banyak fasilitasnya." Pada akhirnya Gendis pun harus berbohong. Jangan sampai Radit tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Radit tak ingin ambil pusing. Biarlah itu yang menjadi rahasia Gendis, jika bukan kenyatannya. Lift terbuka, beberapa orang turun. Mereka tersenyum dan menyapa Radit yang memang dulunya adalah satu tim. Sekarang Radit adalah kepala tim, itu artinya lebih tinggi dari mereka. Akan tetapi, lelaki itu tetaplah rendah hati.
__ADS_1
"Kita makan siang bersama nanti."
"Kamu jangan galak-galak."
Beberapa pesan yang dikeluarkan mantan rekan Radit yang membuat Gendis terheran-heran. Pantas saja Radit bisa disukai oleh banyak orang, karena memang lelaki itu memiliki daya tarik tersendiri. Baik itu untuk lelaki atau wanita. Iri sekali melihatnya.
Gendis dan Radit masuk lift. Hanya berdua saja, tak ada orang lain. Keduanya hendak menemui Rangga yang mungkin saja sedang menunggu mereka. Tak ada percakapan lagi. Setiap kali lift itu berjalan, jantung Gendis berdetak lebih kencang. Pikiran perempuan itu melayang terbang ke angkasa, menarik ke banyak potongan masa lalu yang sukar sekali untuk dilupakan. Ingin berteriak, tetapi tak mungkin. Cukup diam dan menikmati setiap kali kecepatan lift membawa mereka.
Radit merasakan kejanggalan. Ketika keduanya berada di luar lift, lelaki itu berhenti dan berkata, "Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu sekarang?" Rasanya sebuah rahasia besar sedang bersembunyi di balik jiwa Gendis. "Saya merasa kamu kurang nyaman di sini."
Gendis menelan ludah. Berusaha tenang dan berujar, "Maaf, maksud Pak Radit ini apa, ya? Saya baik-baik saja, kok." Sebuah lengkungan senyum yang sulit diartikan pun diberikan Gendis pada atasannya.
__ADS_1
Radit sejenak diam. "Saya merasakan kamu kurang nyaman saja. Apa kamu keberatan bekerja di dekat Kania?" Entah mengapa pikiran Radit mengarah ke sana, berharap saja itu tak benar.
"Tidak, Pak. Saya justru senang." Gendis sama sekali tidak keberatan. Sebab, bisa dekat dengan wanita pujaan lelaki yang dicintainya menjadi sebuah anugrah. Barangkali ada penemuan menakjubkan yang bisa memberikan jawaban pasti atas alasan Radit begitu mengagungkan Kania. "Mari, kita masuk ke ruangan, Pak. Takutnya Pak Direktur sudah menunggu."
Radit tak lagi berbicara. Semua yang keluar dari mulut Gendis seperti sebuah pengalihan topik. Akan tetapi, lelaki itu tidak mempermasalahkan terlalu besar. Bisa saja Gendis memang memiliki alasan untuk itu. "Kamu benar. Jangan sampai Beliau menunggu." Suka atau tidak, Radit perlu menghormati Rangga sebagai Direktur. singkirkan sejenak soal masalah pribadi mereka.
Radit dan Gendis berjalan terus ke depan dan menemukan sekretaris Direktur Utama. Mereka disambut baik dan dipersilakan masuk. Ekor mata Gendis melirik sekilas pada perempuan yang memakai blazer merah dengan rok hitam spam itu. Begitu berada di depan pintu masuk, Gendis sempat ragu. Ingin mundur, tak mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan profesional kerja itu harus dilakukan.
Gendis masuk setelan Radit. Berdiri di dekat pintu dan bertemu pandangan dengan Rangga. Terdiam menatap dua bola mata yang hampir sama. Ah, ini menjengkelkan. Ia bisa larut kembali. Batin Gendis menjerit keras, tak mungkin juga ada yang mendengar.
Dengan senyuman lebar juga sedikit membungkuk, Gendis menyapa Rangga "Selamat pagi, Pak Rangga. Saya Gendis dari tim keuangan."
__ADS_1