
Sepulangnya dari makan bersama. Tim keuangan kembali bekerja seperti biasa. Kania meneruskan mengecek laporan untuk pabrik yang berada di bawah naungannya.
"Nia, aku ke toilet sebentar, ya," kata Desi sambil berdiri.
Kania mengangguk paham.
Desi pergi.
Radit sesekali melirik Kania, memperhatikan keadaan sekitar yang memang sedang dalam masa sibuk. Lelaki itu menggeser bangku ke dekat Kania. Tetap memberi jarak dan berbisik, "Apa kita bisa bicara berdua lagi?"
Kania tertegun. Dua bola matanya membesar.
"Aku cuma mau bahas sesuatu," lanjut Rangga.
Kania diam. Berpikir lebih baik lagi agar bisa memberikan jawaban.
"Kalau kamu nggak mau juga nggak masalah," sambung Rangga kembali.
Kania merasa tak enak hati. Barangkali memang lelaki itu memiliki pembahasan yang sangat mendesak. "Habis pulang kerja, ya."
Wajah Rangga cerah. "Baik." Ia kembali menggeser ke samping kanan. Melanjutkan lagi pekerjaan yang perlu disetorkan sore ini pada Pak Ganjar.
Laporan Kania selesai ditinjau. Sejauh ini keuangan pabrik tersebut aman. Tak ada yang janggal. Ia bisa bebas. Wanita itu meregangkan kedua tangan ke samping. Pegal sekali mengetik sepanjang hari.
"Alhamdulillah," kata Kania.
Desi yang sudah kembali ke tempatnya pun tersenyum melihat Kania seperti itu. "Sudah selesai?" tanyanya sambil menoleh.
Kania menoleh juga. "Iya, Des. Akhirnya."
"Syukurlah. Cepat laporkan ke Pak Ganjar."
"Sebentar. Aku mau diam dulu. Tangannya pegel."
Desi terkekeh geli. "Biasanya kalau mau mendekati akhir bulan, kamu yang paling rajin kerja. Minggu ini kelihatannya lebih lesu. Kenapa?"
Rangga mendengar jelas. Hanya saja diam.
Kania bimbang. Susah menjelaskan alasan pokoknya. Namun, ia mungkin bisa menjawab asal saja. "Biasa, Des. Aku kalau lagi mau dapat bawaannya diam aja. Pengennya marah, kesal, sama makan. Kamu tau sendiri, kan?" Ia rasa Desi akan paham kebiasaan yang satu itu.
Desi tertawa lagi. "Kamu ini ada aja alasannya, tapi apa pun itu. Harus tetap semangat. Kita ini para pekerja."
"Semangat!" Kania mengepalkan tangan kanan dan mengangkatnya ke atas.
Heri memperhatikan mereka. Termasuk Desi. "Jangan berisik! Orang lagi fokus!"
Desi sontak menoleh ke arah lelaki itu. Mejanya memang tepat ada di depan Desi. "Yang nggak diajak bercanda, diem aja!"
Heri berdecak kesal. Mereka masih saja bersikap seperti itu.
Hanya berselang dua menit Kania pun berdiri. Membawa maps berwarna hijau dan berjalan ke arah ruangan Pak Ganjar. Biasanya laporan yang sudah matang akan dicek kembali lagi oleh kepala divisi..
Kania masuk setelah ayah tiga anak itu mempersilakan. Rupanya Pak Ganjar sedang menerima telepon dari seseorang. Entah siapa.
"Baik, Pak. Sebentar," katanya.
Beberapa detik kemudian langsung menutup telepon. Mengangkat kepala dan tersenyum melihat kedatangan Kania. "Pas sekali kamu datang ke ruangan saya."
Hati Kania kurang enak. Sepertinya ada yang hal yang kurang menyenangkan. Mungkinkah?
"Ada apa, ya, Pak? Saya mau memberikan laporan ini," tanya Kania seraya menyodorkan maps ke meja Pak Ganjar
"Pak Gani menyuruhmu ke ruangannya sekarang," jawab Pak Ganjar.
Jantung Kania berdentam. Apalagi yang akan terjadi?
"Katanya ada hal penting yang perlu dilakukan," lanjut Pak Ganjar.
__ADS_1
Kania berdiam diri dalam beberapa detik, selanjutnya berkata, "Memangnya ada perlu apa, ya, Pak?"
Pak Ganjar menggeleng cepat. "Saya juga tidak tau. Barangkali beliau mau memperpanjang masa kontrakmu."
Memang di sini Kania bukan karyawan tetap. Di mana kontraknya akan habis per satu tahun sekali. Hanya saja cara kerjanya yang baik dan cepat membuat Kania sudah dua kali menekan kontrak.
"Baik, Pak," sahut Kania. Tak peduli apa yang dilakukan Direktur dari perusahaan ini. Ia akan tetap menghadap sesuai keinginannya. "Saya permisi," ujarnya lagi..
Kania keluar ruangan dengan wajah tegang. Ke mejanya lebih dulu dan merenung.
Rangga peka, memperhatikan Kania dan merasa ada yang aneh. "Kamu sakit?" tanyanya cepat.
Kania diam.
Desi tak ada di meja. Entah ke mana perginya wanita itu.
"Kania," panggil Rangga lembut, tetapi sedikit menekan kalimatnya.
Kania sontak mengarahkan pandangan pada Rangga. "Iya."
Sorot mata Kania berkata penuh ketegangan. Mungkin terjadi sesuatu di ruangan Pak Ganjar Barusan. "Kamu kenapa?"
Kania tersadar. "Ah, nggak."
"Kok, melamun?" Rangga terus saja mendesak.
Kania berdiri. Tak ingin membuat Pak Gani menunggu lama. "Aku ke ruangan Direktur dulu." Tanpa ada yang harus ditutupi. Kania melangkah pergi.
Dari sana perasaan Rangga mulai gelisah. Untuk apa Kania pergi ke sana? Memang terkadang tim mereka melakukan laporan langsung ke Direktur perusahan. Akan tetapi, melihat wajah Kania yang pucat dan seakan tertekan membuat Rangga bertanya-tanya. Semoga saja bukan hal yang buruk.
Kania masuk lift. Memencet tombol delapan dan meluncur bebas ke atas. Selama di sana mulut perempuan itu terus mengucapkan kalimat dzikir. Meyakini bahwa Tuhan itu memberikan ujian tidak pernah melampaui batas. Tentu ini yang menjadi patokan bagi Kania.
Kania sampai di tujuan. Bergerak keluar dan terus berjalan ke koridor kanan. Di dekat ruangan masuk. Ada meja sekretaris yang diisi oleh perempuan cantik. Wanita yang digadang-gadang menjadi rebutan para karyawan lelaki di gedung ini.
Bisa dikatakan menjadi incaran Heri dan katanya sudah ditaklukan. Itulah Kinan.
Kinan yang sedang fokus di layar laptop pun menoleh ke depan. Menatap tajam dan berkata, "Ada perlu apa?" Nadanya pun ketus.
Kania berusaha sabar. Memang rasanya tidak enak diperlakukan seperti ini. Akan tetapi, dunia kerja itu keras. Siapa yang kuat, dia yang bertahan.
"Saya dipanggil Beliau," jawab Kania.
Kinan tak langsung menjawab.
"Kalau memang ada, saya langsung masuk saja," tambah Kania. Tak ingin terlalu lama bersama Kania yang menurutnya menakutkan juga.
"Beliau ada. Masuk saja!" ketua Kinan
Kania menguntai senyum. "Terima kasih."
Kinan tidak menjawab. Lebih memilih melihat layar ponsel untuk menyelesaikan pekerjaan. Tak peduli bagaimanapun tanggapan Kania padanya.
Kania juga acuh. Tidak perlu mengurusi orang lain. Ia punya masalahnya sendiri. Dengan perasaan kurang baik, ia masuk ke ruangan sambil berkata, "Assalamualaikum."
Kania mendorong pintu yang terbuat dari kaca. Disambut langsung oleh tatapan Pak Gani yang tajam padanya.
"Wa'alaikum salam. Masuk." Suara Pak Gani tegas.
Kania mengerti. Melangkahkan kedua kaki di ruangannya yang tidak terlalu asing. Berdiri di depan Pak Gani dengan tegak.
"Kamu lebih cepat dari yang saya duga," kata Pak Gani dengan tersenyum kecil.
Kania hanya melempar senyum kecil.
Mereka hening selama dua menit. Tak saling bicara dan bergelut dengan jiwa masing-masing.
Pak Gani memperlihatkan sebuah proposal. Menyimpan di meja dan berkata, "Ini adalah pengajuan dari perusahaan yang saya katakan kemarin. Pas sekali bukan?"
__ADS_1
Dada Kania mengembung menahan sedikit marah.
"Saya bisa saja menerima. Ini kecil bagi kami, tapi …." Sengaja Pak Gani menggantung kalimatnya.
"Bapak mau memaksa saya dengan ini?" Kania langsung bertanya tanpa basa-basi.
Pak Gani menyunggingkan senyuman di bibir. "Terserah kamu mau menganggapnya seperti apa. Yang jelas saya sudah membuktikannya." Kedua bahu Pak Gani terangkat ke atas. Ia memang tidak suka bermain-main. "Kamu sekarang percaya bukan?"
Kania hanya diam.
Pak Gani melipat kedua tangan di dada. Menyandarkan punggung ke kursi dan berkata, "Sekarang pilihan ada di kamu. Silakan pikirkan matang-matang. Tidak banyak waktu yang saya berikan."
Tangan kiri Kania mengepal. Mengapa harus perusahaan ini yang menjadi pertolongan? Padahal masih banyak, tetapi memang perusahaan Pak Ganilah yang paling besar. Tidak bisa dipungkiri.
"Pak, saya rasa ini salah. Bapak terlalu memaksa seseorang untuk terjun ke permainan yang Pak Gani buat. Padahal orang itu sama sekali tidak punya skil," kata Kania dengan berani.
Pak Gani tertawa kencang. Cukup menarik berdebat dengan Kania. Pantas saja anaknya suka. "Jangan terlalu memikirkan ke sana. Semua orang di dunia ini tidak ada yang sepenuhnya baik. Mereka yang terlihat baik pun, punya sisi gelap."
Dada Kania naik turun. Rasanya sukar sekali menarik napas dan engap. Atmosfer di ruangan ini pun terasa panas dan mencengkram. Tidak enak memang ada di situasi seperti ini. Ingin kabur, tetapi tidak mungkin. Harus tetap dihadapi.
"Kamu bisa mengecek sendiri dengan kedua matamu. Tanyakan langsung ke sumbernya, karena saya sendiri bisa dengan mudah mengabulkan permintaan sekecil ini," kata Pak Gani yang seakan berada di atas awan. Saat ini ia memiliki kunci yang bisa dipakai untuk membuka brangkas seseorang. Mudah sekali.
Kania sama sekali tidak menjawab. Beberapa detik kemudian pintu kaca itu terbuka. Sosok Rangga masuk dengan wajah menahan amarah. Bahkan terdengar Kinan mencegahnya.
"Kamu tidak bisa masuk sembarangan," kata Kinan.
Rangga memaksa. Ia berjalan menghampiri Kania dengan menatap lurus ke depan.
Pak Gani memberi isyarat pada Kinan agar segera pergi dari ruangan. Ini terlalu privasi untuk didengar orang lain.
Wajah Rangga jelas sekali menahan amarah. Bisa-bisanya sang Ayah berpikiran gila. Ini memang baru tebakan, tetapi sepertinya akan menjadi kenyataan.
"Kenapa anakku?" tanya Pak Gani dengan santai.
"Aku sudah bilang, Ayah!" Rangga marah. Suaranya menggelegar penuh amarah. Ruangan ini saja tidak cukup menampung ketinggian nada dari kalimat Rangga. "Jangan ganggu Kania."
Kania diam.
Pak Gani tersenyum miring. "Lalu?"
Dada Rangga naik turun. Pikirannya susah untuk berjalan baik. Hal ini jelas didasari oleh kemarahan yang memuncak. Kemukakan yang terpendam sejak lama, lalu meledak tanpa arah.
"Aku bersedia menggantikan Ayah, tapi jangan sentuh Kania. Dia berhak bekerja di mana pun!" tegas Rangga yang sudah memikirkan matang-matang.
Sudut bibir kanan Pak Gani menyeringai. Tujuannya sudah tercapai. Namun, sayangnya tujuan itu bukan hal yang utama lagi. Ada yang lebih menarik daripada itu. "Tapi … keinginan Ayah bukan cuma itu."
"Apa maksud, Ayah?" Rangga geram. "Apa tidak cukup dengan aku saja? Apa harus sampai melibatkan orang luar? Kakak saja tersiksa, lalu apa Ayah masih mau mengorbankan sasaran lain?"
Kania menoleh ke samping. Memperhatikan wajah Rangga yang benar-benar diliputi amarah. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat sosok Rangga dalam versi marah.
"Kakak meninggal bukan karena aku, tapi karena Ayah!" Telunjuk tangan Rangga menuding ke depan. "Ayah yang ingin Kakak sempurna. Yang menuntut Kakak semaunya, sampai akhirnya Kakak menyerah dan berakhir tragis!"
"Cukup!" Pak Gani berdiri dan menggebrak meja kencang. "Ini perbincangan Ayah dengan Kania. Dia yang berhak menentukan keputusan akhirnya."
"Ayah!" Rangga tak kalah tinggi dalam berbicara.
Kania pusing. Suara teriakan dua orang itu memenuhi gendang telinga. Ingin kabur, tetapi kedua kaki bahkan sulit digerakkan. Ini mengerikan.
"Kania itu bukan wanita sembarangan yang bisa Ayah jadikan sasaran berikutnya. Dia punya hak untuk berkembang. Dia punya hak memilih jalan hidupnya. Jangan gunakan kekuasaan Ayah di perusahaan ini untuk mengusik ketentraman hidup orang lain!" Rangga masih membela Kania sekuat tenaga. Bukan karena ia memang mencintai gadis itu saja, melainkan merasa geram atas sifat semana-mena ayahnya.
Kania mulai tak bisa berpikir. Terlalu bising dan membuatnya gila. Dengan tatapan sulit diartikan gadis itu pun berkata, "Datanglah ke rumah dan temui orang tua saya, Pak Direktur."
Rangga tersentak. Menoleh ke samping, susah mempercayai kalimat yang baru saja didengarnya dari Kania. "Jangan libatkan dirimu, Nia!"
"Saat ini saya milik orang tua saya, jadi … bawa sekalian anak Bapak ini ke sana," sambung Kania dengan yakin.
Pak Gani tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya bisa berada di titik yang diharapkan. "Tunggu saya datang. Kamu sudah dewasa, tentu tau konsekuensinya?"
__ADS_1
Kania cepat mengangguk. "Iya, Pak. Kalau seperti itu saya pamit undur diri." Kania keluar dari ruangan tanpa berkata apa pun lagi.