
Dua hari berselang setelah itu Kania dan Rangga masih berkomunikasi layaknya seorang teman. Radit pun masih mengirimkan pesan, bertanya tentang kabar Kania dan ibunya.
Siang ini Pak Gani meminta Rangga membawa Kania ke toko perhiasaan langganan keluarganya.
"Kalian bisa minta libur setengah hari," kata Pak Gani.
Saat ini Rangga menghadap ayahnya sendirian. "Maaf, Yah, kalau seperti itu aku dan Kania nggak bisa."
"Alasannya?"
"Ini pekerjaan. Kami nggak bisa mengorbankan pekerjaan untuk masalah pribadi. Mungkin lebih baik dilakukan setelah pulang kerja. Tokonya pun tutup jam sembilan malam."
Keputusan Rangga ini didasari oleh rasa tidak enak pada yang lain, sebab semua karyawan itu memiliki kewajiban yanh sama.
Kali ini Pak Gani tak memaksa. Membiarkan Rangga memilih jalannya. "Terserah."
Hal ini mengejutkan Rangga. Perubahan sikap ayahnya memang terasa. Mungkin perlahan akan lebih baik. Ia hanya perlu menyiapkan mental untuk hal yang lebih jauh lagi.
Rangga pamit. Namun, sebelum lelaki itu berbalik badan. Pak Gani sempat memberinya peringatan.
"Jangan sampai mata pemberian kakakmu itu sia-sia. Kamu harus berkembang lebih baik setelah menikah. Bukan cuma memberi Ayah seorang cucu, tapi juga ubah pola pikirmu kalau berada di kursi ini suatu menakutkan!" pesan Pak Gani.
Rangga bergeming.
"Kamu anak lelaki dan tinggal satu-satunya. Sudah sepantasnya berbakti ke orang tua!" Pak Gani masih saja memberikan sedikit tekanan. "Anggap saja ini rasa terima kasih ke Kakakmu.'
Rangga masih saja diam. Bahkan di setiap kata-kata ayahnya tak tersirat sedikit pun memikirkan perasaannya seolah semua dilakukan hanya karena balas budi.
"Jadilah orang!" imbuh Pak Gani.
"Apa aku yang di depan Ayah ini bukan orang?" Rangga akhirnya berbicara. "Lalu, apa yang dimaksud orang itu menurut Ayah?"
Setiap kali bertemu pandangan dengan Rangga, Pak Gani susah bernapas. Sorot mata itu masih terasa menyesakkan untuknya. Pemilik bola mata itu sudah lama tiada, tetapi kepergiannya menyiratkan kesedihan paling dalam.
__ADS_1
"Jangan tatap ayahmu seperti itu." Pak Gani melempar pandangan ke arah lain. Lama-lama tidak kuat juga.
Rangga berusaha untuk tetap tenang. "Mata ini mungkin milik Kakak, jadi saat ini pun yang Ayah lihat bukan aku. Tapi, Kakak."
Suasana berubah hening. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Rangga sendiri sudah menebak saat sang Ayah menandatangi permintaan kakaknya tersebut. Inilah yang perlu ia lewati. Bukan kebahagiaan yang didapati, melainkan bertambahnya beban dalam diri.
"Aku senang bisa melihat, Yah. Tapi ...." Kali ini Rangga kesulitan mengatur sesak dalam dada. Emosinya bergejolak dalam jiwa, ingin keluar. Namun, tetap ditahan. "Aku justru lebih tersiksa setelah bisa melihat dunia. Kalau bisa memilih dan nggak ingat pesan Kakak, sebaiknya aku buta seumur hidup. Gelapnya menenangkan."
Pak Gani sontak terpancing amarah. Rangga ini tak tahu diuntung. Lelaki itu berdiri dan menatap Rangga tajam. Sebisa mungkin tidak terkecoh dengan dua pupil mata tersebut. "Kamu memang anak kurang bermanfaat!" Telunjuk tangannya menuding pada Rangga. "Seharusnya bersyukur karena kamu diberi kesempatan bisa melihat dunia. Bisa menikah juga. Zaman sekarang mana mungkin ada perempuan yang mau dengan lelaki buta? Menyusahkan!"
Hati Rangga teriris tipis. Seakan hina didepan ayahnya. Terlahir dengan kecacatan membuat dirinya harus ikhlas dengan perlakuan sang Ayah yang kecewa berat. Mungkin ini alasan bundanya pergi dari dunia karena tak sanggup melawan keegoisan ayahnya.
"Sekarang yang perlu kamu lakukan cuma satu. Nurut sama Ayah!" tekan Pak Gani.
Rangga lelah sekali meladeni ayahnya yang selalu ingin menang sendiri. Mungkin pergi dan mencari kopi adalah hal yang paling baik.
"Maaf, Yah, aku pamit. Masih banyak pekerjaan menanti." Rangga langsung pergi. Jika terus diladeni, ayahnya bisa semakin kuat dalam berdebat. Padahal garis finishnya tetap sama, ia akan mengalah demi kedamaian dalam diri.
Rangga keluar dari ruangan yang langsung disambut oleh tatapan Kinan.
"Seharusnya kamu menolak, Rangga!" Kinan marah.
Jiwa Rangga masih belum tenang setelah bertemu dengan ayahnya. Di sinu justru ia mendapati Kinan yang marah.
"Aku nggak setuju kalau kamu menikah sama dia!" Dengan tegas Kinan mengutarakan isi hatinya. "Dia itu nggak selevel sama kamu. Kita ini dari keluarga berada dengan status sosial yang nggak perlu diragukan lagi. Pendidikan pun lebih tinggi!"
Keketusan Kinan berhasil membuat Rangga geram. Ingin sekali merobek mulut perempuan tersebut. "Sebaiknya kamu nggak perlu ikut campur urusan orang lain!"
"Kamu itu bukan orang lain buat aku, tapi sudah jadi keluarga." Kinan tak terima.
"Keluarga yang kamu incar perusahaannya?' Rangga akhirnya buka suara setelah bertahun-tahun diam. "Kamu memang terlihat diam, tapi justru diammu itu menakutkan. Kamu bergerak di tengah malam saat orang lain sedang tertidur. Mencuri di keheningan."
Kinan tertegun. Sekalinya Rangga berbicara bisa membuat lawan bicaranya tak berkutik.
__ADS_1
"Jangan terlalu ingin tau masalah orang lain karena aku nggak suka mengusik masalah orang lain juga. Malas." Rangga melangkah sekali ke depan. Namun, aktivitasnya berhenti ketika Kinan berucap lain.
"Dia itu sudah dikabar menjalin hubungan dengan teman masa kecilnya. Aku rasa ini cinta bertepuk sebelah tangan." Sudut bibir kanan Kinan terangkat ke atas. "Pernikahan ini rupanya berjalan karena adanya ancaman."
Tangan kanan Rangga mengepal di bawah.
"Kalau seperti ini, kamu sama saja jahatnya denganku. Memaksa dia untuk bersama, padahal jelas jiwanya sudah pergi ke raga yang lain." Kinan tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu lebih licik dari kakakku bilang." Rangga muak. "Kamu seperti bunglon yang bisa berubah warna sesuai tempat. Mengerikan juga."
Kinan kesal. Semakin tertantang untuk lebih menguak apa yang tengah bergulir. Tak membiarkan sedikit pun Rangga bernapas lega. "Wajahmu menawan, hartamu juga banyak, butikmu di mana-mana. Jelas saja dia tergiur."
Rangga tak tahan. Berbalik badan dan menatap Kinan tajam. "Jaga kata-katamu. Kania itu calon istriku, jangan sampai mulut itu mengucap hal kotor untuk Kania!"
Sorot mata Rangga menakutkan. Kinan saja sampai merasa ketakutan.
"Sekali lagi aku mendengarnya. Jangan harap kedua kakimu masih bisa di lantai gedung paling atas ini!" Tekan Rangga dan segera pergi. Menyisakan Kinan yang kesalnya berada di ujung puncak.
Rangga turun ke lantai bawah, hendak membeli kopi. Ketika lift berhenti di lantai empat, tak sengaja Kania masuk.
"Mas Rangga," sapa Kania.
Lift tertutup lagi.
Rangga mengukir senyum. "Kamu mau ke mana?" Berpura-pura tidak terjadi apa pun. "Aku mau beli kopi. Mau?"
Kania terkejut. Tujuan mereka sama. "Aku juga mau ke sana, Mas."
Rangga tersenyum kecil lagi, lalu mengalihkan pandangan ke depan.
Kania merasa kejanggalan dari Rangga, tetapi tidak berani bertanya apa pun.
Lift pun berhenti di lantai dasar. Keduanya keluar bersama. Rangga berhenti tiba-tiba, hingga membuat Kania pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Nia, kalau di masa depan nanti aku memutuskan sesuatu yang lebih besar. Aku harap kamu tetap jadi Kania yang aku kenal. Tetap hiasi wajahmu dengan senyuman,' imbuh Rangga sambil berjalan kembali.