Dua Lelaki

Dua Lelaki
Rendang


__ADS_3

Adit dijemput Desi karena permintaan Kania. Anak lelaki itu menurut tanpa protes. Desi saja sampai bingung. Sempat bertanya, tetapi Adit sama sekali tidak membuka suara. Desi menyerah.


Malam ini setelah salat Magrib, Adit memakai sarung dan baju rumahan. Tenang duduk di teras memegang ponsel. Bermain game seperti biasa. Keheningan yang tercipta oleh malam membuatnya terasa damai sekali. Menimbulkan rasa tenang yang luar biasa.


Tak berapa lama mobil Kania masuk pekarangan rumah. Adit menoleh ke arah suara mesin. Kendaraan itu sampai di depannya. Mengeluarkan Kania dengan wajah lelah.


"Assalamualaikum," kata Kania.


"Wa'alaikum salam," jawab Adit. Ingin marah, tetapi tak tega ketika melihat wajah kakaknya yang lesu. Bekerja memang membutuhkan tenaga juga menguras pikiran.


Kania mengembangkan senyum seolah tidak terjadi apa-apa. Bersikap seperti biasanya. "Kamu masih di luar aja. Angin malam nggak baik untuk kesehatan."


Sudah Adit duga. Sekali pun lelah, sang Kakak akan tetap memberikan ceramah. Memang sudah wataknya sejak dulu.


Adit santai saja. Satu kakinya naik ke atas. Persis sekali seperti bapak-bapak yang tengah nongkrong setelah salat. "Di dalam gerah, Kak. Nggak enak."


Cuaca malam ini memang panas dirasa. Ada dingin sedikit, tetapi lebih cenderung panas. 


"Ya udah, jangan kelamaan." Hanya itu komentar Kania. Adit sampai perlu menoleh. Meyakinkan diri jika itu benar-benar sosok kakaknya.


Kania masuk sambil mengucap salam. Tak ingin melakukan keributan apa pun dengan adiknya. Sebab, ia sendiri sudah lelah dengan segala kejadian hari ini.


"Kamu baru pulang, Nak?" tanya Bu Lala yang baru saja keluar dari dapur.


Kania tersenyum manis. Tak baik membawa masalah ke dalam rumah. "Iya, Bunda." Mendekati bundanya dan mencium tangan seperti biasa. "Loh, Ayah belum pulang, ya?" Rumah terasa berkurang sedikit suasasannya.


"Iya. Katanya, sih, mau keluar kota selama dua hari," jawab Bu Lala sambil menjelaskan ke mana ayahnya pergi.


"Bukannya itu dekat sama tempat kerjanya Radit?" Kania baru saja ingat.


Bu Lala menganguk cepat. "Ya. Katanya, sih, ada keperluan ke daerah sana."


Tak ada lagi pertanyaan dari mulut Kania. Ia langsung pamit ke lantai atas, tepatnya kamar. Bergegas membersihkan diri, shalat, lalu tidur. Tak peduli akan terjadi selanjutnya. Bahkan jika perang dunia bergulir pun, ia hanya ingin tidur dan melupakan apa yang terjadi.


Semua urutan sudah selesai. Kania pun membaringkan badan di ranjang. Menyelimuti diri dari ujung kaki sampai kepala. Tak ada nafsu makan yang bangkit. Yang ada hanya ingin tidur agar bisa melupakan.


Suara ketukan di pintu beberapa detik selanjutnya mengganggu konsentrasi Kania menuju alam mimpi. Terpaksa gadis itu bangkit lagi dan bergerak ke arah pintu. Begitu dibuka, sosok bundanya langsung menyapa.


"Sayang, kamu nggak makan malam?" tanya sang Bunda dengan cemas.


Kania sama sekali tidak lapar. "Nggak, ah, Bun. Aku ngantuk."


Bu Lala diam. Mengamati anak perempuannya lekat. "Ya sudah. Bunda sama Adit saja yang makan. Nanti Bunda taruh di wadah makanan sisanya. Takut kamu lapar tengah malam."

__ADS_1


"Ya, Bun. Terima kasih."


Bu Lala mengangguk seraya tersenyum. Pamit dari hadapan Kania dan turun lagi. Sekali pun merasakan kejanggalan dari sikap anaknya. Ia tetap berusaha menghormati keputusan Kania. Sebab, di rumah ini bukan hanya dirinya saja yang harus didengar dan dihormati. Namun, anak-anak juga sama.


Kania menutup pintu. Berbaring lagi ke kasur. Melakukan hal yang sempat terjeda. Memejamkan mata. 


Dua menit kemudian, keadaan Kania masih sama. Ia kesulitan untuk tidur. Rasanya semua yang ada di kepala menjadi satu, bercampur aduk. 


"Astagfirullah. Aku harus tidur biar lupa. Anggap saja perkataan Pak Gani dan Rangga tadi itu omong kosong saja," gumam Kania.


Perlahan, tetapi pasti. Kania akhirnya terlelap dengan sendirinya. Dinginnya malam mengantarkan perempuan itu menuju dunia mimpi yang lebih indah dari kenyataan. Memberikan harapan, sekali pun tidak akan sesakit kenyataan.


Sementara itu Bu Lala dan Adit menyantap makan malam. Ibu dua anak itu tampak melamun. Sebagai Ibu, jelas memiliki naluri yang kuat. Ketika salah satu anaknya dirundung masalah, ia bisa merasakan dengan baik.


Adit mengamati bundanya. Mengerutkan kening kencang, lalu berkata, "Bunda," panggilnya.


Sekali, Bu Lala tak merespon. Adit melakukannya sekali lagi, masih saja sama. Begitu ketiga kalinya, barulah bundanya itu memberikan reaksi. Menoleh ke arahnya. "Bunda, sakit, ya?" Katanya lagi.


Bu Lala merenung. Baru sadar beberapa detik kemudian. "Nggak. Memangnya kenapa, Dek?" 


Adit tak percaya. "Bunda, dari tadi ngelamun aja. Lagi mikirin apa?" Adit menikmati makan malam kali ini. Terasa jauh lebih tenang karena tidak adanya Kania. Namun, tidak dipungkiri jika meja makan pun terasa sepi. Barangkali seperti ini yang akan dirasakan jika kakak perempuannya itu sudah menikah suatu saat nanti.


Bu Lala mencoba mencari alasan. Adit tak boleh sampai ikut kebingungan. "Itu, lho, Nak. Harga bahan pokok sekarang banyak yang naik. Bunda sampai bingung mau belanjanya."


Adit diam sejenak, lalu berkata, "Asyik dong, Bun."


Adit tertawa kecil. "Itu artinya uang jajanku juga naik, Bun. Kan, biasanya seperti itu."


Sudah Bu Lala duga. "Kamu ini. Cepat makan, tidur. Jangan begadang terus, besok harus sekolah."


Adit sedikit kecewa karena tidak mendapatkan tanggapan lebih baik. Padahal ia berharap bisa mengantongi keputusan yang tepat. Lumayan juga jika naik, setidaknya bisa menabung untuk membeli keinginan.


"Iya, Bun." Adit menurut saja.


Malam terus bergulir sampai berada di puncaknya. Kania masih saja terlelap, sekali pun bunyi alarm terdengar tetap pukul dua malam. Jiwa perempuan itu terlalu lelah, hingga mengakibatkan dirinya terlalu nikmat tidur. 


***


Di tempat lain Radit sampai di apartemen. Naik ke lantai empat dan segera masuk tempat tinggalnya saat ini. Ketika melihat ke dapur, ia menemukan sebuah bungkisan biru muda. Ah … lupa. Belum sempat memberikannya pada Gendis..


"Sebaiknya aku mandi dulu, baru kasihkan," kata Radit.


Lelaki dewasa itu ke arah kamar. Membuka baju dan bergegas ke kamar mandi. Di bawah guyuran air shower, lelaki dengan tubuh bagus itu pun merasakan kesegaran. Menghilangkan segala keringat yang lengket di tubuhnya.

__ADS_1


Mandi selesai. Masih dengan memakai handuk dililitkan pada pinggang, Radit berjalan bebas di kamar. Memilih pakaian, lalu membungkus tubuh dengan benda itu.


Tak lupa Radit juga salat Isya. Sesibuk apa pun dirinya, ia wajib melakukan shalat. Sebab, sebagai seorang muslim. Ia memang memiliki kewajiban yang tak bisa diganggu gugat.


Salat dilakukan dengan khusyu. Di akhir salat, tepat begitu selesai. Kedua tangan Radit langsung terangkat ke atas. Memohon pada Sang Maha Kuasa atas untuk apa pun yang terjadi.


"Ya Rabb, yang Maha Pengampun juga Maha Pengasih. Aku memohon petunjuk-Mu atas segala kebimbangan yang ada pada diriku. Sekiranya aku dan Kania berjodoh, maka mudahkanlah niatku. Persatukan kami pada hubungan yang Engkau Ridhoi," kata Radit.


Lelaki itu begitu khusu berdoa. Tak ada wajah bercanda sedikit pun. Ia serius. Dalam doanya nama Kania empat kali disebut. Rupanya rasa cinta itu memang sangat kuat dan nyata. Ia bahkan tampak tenggelam, terbawa arus dan susah diselamatkan. Semoga saja masih menepi agar tidak terlalu hanyut, hingga tak bisa ditemukan.


Shalat selesai. Radit membereskan sajadah dan tetap memakai sarung. Ia menyimpan di tempat semula dan bergegas ke arah dapur. Menyalakan kompor untuk menghangatkan makanan di kulkas. Setoples kecil rendang buatan sang Bunda masih ada. Cukup untuk lauk makan malam ini.


Sudut mata kanannya melihat ke arah bingkisan. Hampir saja lupa. Ia perlu ke apartemen Gendis untuk memberikan ini. Sudah janji juga. Oleh sebab itu, Radit mematikan kompor lagi. Tidak jadi menghangatkan makanan dulu.


Dengan menenteng bingkisan itu, ia keluar ruangan. Bergerak menuju lift untuk turun ke lantai dua. Di mana kamar Gendis berada. Setelah sampai di sana, ia memencet bel. Tak ada jawaban. Mungkin saja Gendis sedang istirahat.


"Mungkin dia tidur," kata Radit.


Tak ingin mengganggu. Radit memutuskan berbalik arah, tetapi suara pintu terbuka menghentikan niatnya.


"Pak Radit," kata Gendis. Saat itu rambutnya basah. Baru saja keluar kamar mandi. Untung sudah memakai baju tidur berlengan pendek dan celana panjang.


Radit menyodorkan bingkisan tersebut pada Gendis langsung. "Saya mau memberikan ini. Semoga saja kamu suka."


Gendis tersenyum kecil lebih dulu. "Jadi ngerepotin, Pak."


"Tidak. Ambil saja."


Dengan ragu Gendis mengulurkan tangannya. Mengambil oleh-oleh dari Radit. Merasa terharu karena dengan itu ia bisa dikatakan penting untuk Radit, walaupun dalam batas teman. "Terima kasih, Pak Radit."


Radit mengangguk cepat. Perutnya sudah lapar. Tidak bisa lama mengobrol. "Sama-sama. Saya ke kamar dulu. Kalau bisa panaskan lagi karena takutnya tidak enak. Selama ini rendang buatan bunda memang bisa tahan sekitar 2 hari di suhu ruang."


Gendis paham. Rasa laparnya bangkit. Ingin segera menyantap salah satu makanan yang menjadi kuliner di negaranya. "Iya, Pak Radit. Sampaikan juga rasa terima kasih saya ke bundanya Bapak."


"Baik. Nanti saya sampaikan. Kalau gitu, saya ke balik."


"Iya, Pak."


Radit bergegas pergi dari hadapan Gendis yang langsung masuk. Jantung perempuan itu berdentam tak karuan. Susah dikendalikan bahkan mungkin akan meledak. Padahal ia tahu jika ini salah karena Radit memiliki seseorang yang dicintai.


"Tuhan, boleh tidak kalau aku serakah?" Gendis merasa ingin lebih dari teman. Bukan sekadar interaksi antara atasan dan bawahan saja, melainkan juga sebagai pasangan hidup jika bisa. 


Gendis berpikir panjang lagi. Tembok di antara dirinya dan Radit memang tinggi. Tak mungkin bersatu. 

__ADS_1


Sementara itu Radit sudah berada di kamarnya. Memanaskan rendang agar perut segera terisi. Namun, ketika sedang proses memanaskan. Suara bel berbunyi. Ia menganggap itu Gendis. Barangkali ada keperluan mendesak. Sebab, hanya perempuan itu saja yang tahu dirinya ada di sana. 


"Sebentar!" teriak Radit sambil mematikan kompor. Berjalan cepat dan membuka pintu. "Ada apa, Gendis?" Perkataannya baru sampai lidah ketika sosok tinggi berdiri tegak di hadapan Radit. Ini bukan Gendis.


__ADS_2