Dua Lelaki

Dua Lelaki
Kedatangan Radit


__ADS_3

"Kita lanjutkan pernikahan!" jawab Kania dengan lantang. Tak ada keraguan di sorot matanya. Tubuh tegap dan muda itu berdiri dengan penuh keyakinan. Tak ada yang perlu dirubah.


Rangga bergeming. Bukan salahnya lagi. Ia hanya perlu mengikuti keinginan Kania saja. "Baiklah. Ini pertanyaan terakhir. Yang artinya aku nggak akan merubah keputusanku juga untuk menikahimu. Mari, duduk dan diskusikan tema pernikahan kita."


Kania sempat menghela napas kasar. "Iya." Kembali duduk di tempat.


"Aku ada beberapa gaun pengantin yang bisa kamu coba. Barangkali ada yang disuka," imbuh Rangga.


Pikiran Kania berusaha untuk fokus. Semua keputusan memiliki risiko. Jadilah wanita dewasa yang tahu akan batasan juga bertanggung jawab.


"Aku terserah kamu saja, Rangga." Kania pasrah


Rangga menatap Kania lekat. "Nia, aku boleh minta sesuatu?"


Kalimat itu berhasil mempertemukan kedua bola mata Kania dengan netra milik Rangga. Gadis tersebut mengerutkan kening. "Minta apa?"


"Kita akan menikah kan?"


"Iya."


"Apa kamu nggak bisa manggil aku dengan sebutan Mas Rangga?"


Kania terkejut bukan main. Permintaan Rangga mungkin sepele, hanya saja sedikit berat untuk Kania.


Rangga menyadari reaksi tidak suka dari calon istrinya. "Ah, maaf." Rasanya tidak pantas saja meminta hal seperti itu. "Kalau kamu lebih nyaman dengan memanggil nama, nggak masalah." Lelaki tersebut mengambil pensil di meja. Ingin menggambar lagi.


Kania sempat diam beberapa menit sampai akhirnya menjawab. "Kenapa kamu mau aku panggil dengan sebutan itu?"


Rangga yang berdiri di samping meja pun tertegun.


"Bukan aku nggak mau, tapi rasanya sedikit canggung." Kania tak bisa menolak mentah-mentah. Bagaimanapun setelah menikah, ia akan tetap menjadi makmum untuk Rangga. "Aku cuma ingin tau alasanmu."


"Aku rasa nggak ada salahnya seorang istri memanggil suaminya seperti itu, tapi aku pikir lagi mungkin kamu keberatan karena belum terikat hubungan halal. Nggak masalah," jawab Rangga.

__ADS_1


Suasana berubah hening beberapa menit ke depan. Suasana canggung terasa di antara dua insan tersebut. Bersatu dalam ikatan sah memang perlu pertimbangan matang, terlebih keduanya tidak memiliki ikatan cinta. Lebih tepatnya hanya Rangga saja. Berjuang satu pihak itu terlalu melelahkan.


"Jangan terlalu terbebani. Kamu bisa memanggilku senyaman mungkin," tambah Rangga tak ingin sampai mengusik pikiran Kania.


"Apa itu bisa buat kamu senang? Bukannya kamu juga memaksakan diri menikahiku?" Kania bertanya balik.


Kania salah, bagi Rangga menikahi Kania adalah sebuah mimpi. Hanya saja semesta mewujudkan mimpi itu dengan cara yang sedikit sadis.


"Kamu salah besar." Rangga berbalik badan. Hanya melihat binar mata Kania saja, ia merasakan kesakitan. Mungkinkah akan berubah ketika ijab Qabul sudah terucap. "Aku senang bisa menikahimu. Bisa membuat janji dengan Allah untuk menjagamu adalah impian, tapi sesenang apa pun aku, tetap nggak bisa merubah isi hatimu."


Empat mata itu saling menatap tanpa ragu. Keduanya memiliki prinsip masing-masing. Anak perempuan yang perlu kuat agar bisa membahagiakan kedua orang tuanya, disatukan dengan anak kedua yang haus akan kasih sayang keluarga.


"Sebesar apa pun rasa cintaku ke kamu, nggak akan pernah bisa menggeser posisi Radit. Tapi ... aku nggak masalah. Bisa diberi kesempatan bersamamu saja, itu seperti kado paling indah dari Allah," sambung Rangga yang berhasil membuat Kania diam.


Tak berapa lama seorang karyawan perempuan masuk setelah dipersilakan. Meminta Rangga ke depan menemui tamu yang biasanya memesan gaun.


"Baik. Sebentar lagi saya keluar. Tolong, bantu calon istri saya mencoba gaun yang sudah disiapkan sekaligus mengukur badan."


Kania menurut saja. Berada di sini lebih menyesakkan. Mungkin karena ia belum terbiasa menerima kehadiran Rangga.


Setelah memastikan Kania keluar. Rangga memukul meja pelan. Bukan karena marah karena penolakan Kania, tetapi marah karena begitu keras kepalanya Kania akan pernikahan ini. Jika dilihat dari segi dirinya, jelas saja senang. Namun, bersenang-senang dalam sakit seseorang itu justru menyesakkan.


"Bukan salahku, Ya Rabb." Rangga menghela napas kasar. Mulai saat ini berjanji tak akan menanyakan lagi.


Rangga segera keluar. Bergerak ke arah ruangan yang dipakai untuk menemui tamu. Berdiri mematung ketika melihat sosok Radit.


"Selamat siang," kata Rangga.


Radit sontak berbalik badan. Ikut terkejut juga. "Selamat siang."


Rangga berusaha profesional. "Ada yang bisa saya bantu?"


Radit tak menyangka jika tempat bundanya memesan gaun adalah milik Rangga. "Saya ingin membawa gaun yang belum sempat dikirim kemarin. Kata Ibu saya karena belum jadi."

__ADS_1


Rangga mengingat wajah Radit bersama ibunya. Barulah menyadari. "Mohon maaf atas keterlambatan kami. Karyawan saya lupa mengirimnya. Mohon tunggu sebentar."


Rangga hendak berbalik badan, tetapi Radit mencegahnya.


"Kamu serius dengan Kania?" tanya Radit tiba-tiba.


Rangga mengurungkan niatnya. Sorot mata itu lekat pada sosok yang tingginya sama. "Saya yakin kamu bisa menebak dengan baik."


Tangan kanan Radit mengepal di bawah. Namun, bibirnya mengembangkan senyuman. "Sepintar apa pun kita menebak, tapi tetap saja tidak bisa tahu isi hati dan tujuan seseorang."


Rangga menanggapi dengan tenang. Ini sudah biasa bagi lelaki dengan tinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter tersebut. Bisa melewati perdebatan dengan Kania yang hakikatnya memiliki tingkat keras kepala di atas rata-rata saja, Rangga mampu. Apalagi hanya menghadapi Radit.


"Itu memang benar, tapi sebagai sesama lelaki. Kita punya namanya tolak ukur." Rangga tak kalah.


Radit bergeming dengan tatapan sulit diartikan. Kedatanganya ke sini bukan untuk menanyakan hal tersebut, tetapi mulutnya bergerak sendiri tanpa kendali.


"Sebelumnya saya minta maaf karena kamu mungkin merasa tersaingi, tapi kembali lagi ke keputusan Kania. Dia memilih saya." Rangga masih dengan posisi hati tenang.


Radit sendiri mulia merasakan sesak di dada karena amarah. Ingin mengeluarkan. Protes pada Tuhan dan meminta mengembalikan Kania. Namun, perasaan itu segera dihentikan karena tidak benar.


"Saya rasa tidak masalah, itu hak Kania. Tapi ... yang perlu saya tekankan di sini, jangan sampai ada setetes air mata yang keluar dari mata Kania setelah pernikahan!" tekan Radit.


"Kalau air mata yang kamu maksud adalah penderitaan karena saya, itu bisa dipastikan tidak akan terjadi."


Radit merasakan kekuatan cinta dari sinar mata Rangga. Berbeda saat ia bertemu pandangan dengan Kania, sepertinya biasa saja.


"Saya ingin tau alasanmu menikahi Kania? Apa ada motif di balik ini." Radit masih belum mempercayai lelaki di depannya.


Rangga menyunggingkan senyuman yang diiringi langkah kaki ke depan tiga langkah. Jaraknya dengan Radit hanya setengah meter saja. Suasana berubah menegangkan. "Satu hal yang harus kamu catat baik-baik kalau saya menikahinya karena ingin mendapat ridho-Nya. Mencintainya jelas menjadi alasan kedua setelah itu."


Sesak dalam dada Radit kian terasa. Dua lelaki memiliki rasa pada seorang wanita. Seakan pertarungan ini baru saja dimulai, entah di akhir perjalanan siapakah yang akan keluar menjadi pemenang.


"Mohon tunggu sebentar, saya akan mencarikan gaunnya." Rangga segera membalikkan badan dan pergi dari sana. Tak disangka kisah cintanya serumit ini, bahkan pernikahannya pun harus melewati banyak rintangan.

__ADS_1


__ADS_2