Dua Lelaki

Dua Lelaki
Malam sebelum lamaran


__ADS_3

"Ayah, aku boleh bicara?" tanya Kania ketika mereka baru saja selesai shalat Magrib berjamaah.


Di luar hujan deras dengan angin yang sangat kencang. Jarak masjid pun lumayan, sehingga Pak Kemal dan Adit memutuskan untuk salat di rumah saja.


"Bicara saja, Nak," jawab Pak Kemal.


Keadaan mendukung untuk berbicara empat pasang mata saja. Mengingat Adit asyik di kamar, sedangkan Bu Lala sendiri berada di dapur sedang menggoreng tempe. Bukan Kania tidak ingin membantu, tetapi bundanya sedang malas melihat dapur obrak-abrik.


Kania menatap lekat ayahnya. Dengan penuh keyakinan perempuan dengan rambut panjang tergerai itu mulai berkata, "Ayah, tadi sudah ketemu Rangga, kan?"


Pak Kemal mengangguk cepat. "Ya." Membalas tatapan lebih lekat dari anak sulungnya. "Memangnya kenapa?" Menunggu jawaban sang Anak penuh rasa penasaran.


Kania menelan ludah. Yakin ini yang terbaik. Mengingat Rangga berniat datang besok. "Begini, Yah." Terbersit sedikit ragu dalam pikiran Kania. Namun, dengan cepat ditepis. "Dia bukan cuma teman kerja Kania saja."


Dari sini Pak Kemal semakin memperhatikan wajah anaknya. Pasti ada hal yang tak pernah ia pikirkan. "Apa kalian punya hubungan lebih dari itu?"


Dari sorot mata Kania saja, Pak Kemal sudah bisa menebak. Mungkin sudah siap anaknya itu untuk terbuka. "Jangan ragu. Kamu bisa cerita apa pun ke Ayah," sambungnya.


Kania merasa damai. Sosok Ayah melekat kuat di diri Pak Kemal dengan perannya yang tidak pernah absen pada kedua anak. Tidak ada perbedaaan yang signifikan perlakuan ayahnya untuk Kania ataupun Adit. Semuanya sama rata, hanya saja Kania lebih ketat karena seorang perempuan.


Rasa nyaman itu menggiring Kania untuk lebih terbuka lagi. "Dia mungkin akan jadi calon suami Kania."


Pak Kemal tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Barangkali sudah mencium tentang ini, tetapi memilih diam.


Wajah Kania menunduk. Merasa bersalah karena menentukan pilihan secara sepihak tanpa rundingan dengan keluarga. Namun, segan rasanya untuk mengutarakan alasan dibalik keputusan itu.


"Maaf karena Kania membawa calon sendiri, bukan pilihan Bunda atau Ayah." Suara perempuan itu lirih. Rendah sangat sekali. "Mungkin Ayah atau Bunda sudah punya calon, tapi maaf Kania punya pilihan."


Sebagai anak perempuan pertama ada banyak pertimbangan yang perlu Kania lakukan. Sebuah pengorbanan yang tidak sebanding dengan rasa cinta orang tuanya.

__ADS_1


Suasana hening. Suara hujan masih terdengar kencang. Semoga saja tidak ada bencana karena akhir-akhir ini curah hujan begitu tinggi.


Pak Kemal berdiam diri sejenak, lalu berkata, "Nak, bisa kasih Ayah satu alasan kenapa kamu memilih dia?" Satu pertanyaan ini sanggup membuat anaknya membungkam.


Kedua bola mata Kania memutar bersamaan dengan otaknya juga yang harus mencari jawaban.


"Ayah, nggak akan mungkin melarang kalau memang alasannya kuat." Pak Kemal tersenyum kecil. Menarik hati Kania dengan lembut. "Katakan alasanmu."


Kania menelan ludah. Pandangannya bahkan belum terfokus pada sang Ayah. Masih menunduk. "Sebenarnya kalau ditanya apa alasan untuk itu, aku juga kurang tau. Tapi ... seperti yang Ayah selalu katakan kalau memang sudah jodoh, pasti ada cara untuk bersama. Apa saja, walau diawali dengan luka."


Pak Kemal tidak bisa menyalahkan jawaban anaknya. Itu benar. Semua yang sudah Tuhan jodohkan itu akan bersama pada waktunya. Jadi ... jangan takut.


"Ayah, pernah bilang juga kalau sesuatu itu tidak mungkin terjadi tanpa izin Allah. Sepertinya sama dengan keputusan Kania memilih Rangga. Kami dipertemukan untuk bisa bersama," lanjut Kania. Mulutnya sedikit ragu mengatakan ini, tetapi jawaban tersebutlah paling baik.


Pak Kemal merangkul anaknya. Memeluk penuh kasih sayang. Anak kecil yang dulu sering meminta mainan, kini bisa berbicara dengan sangat baik. Tuhan itu Maha Baik. "Nak, Ayah dan Bunda berharap kamu tidak salah langkah. Jangan sampai terpaksa dan akhirnya berdampak buruk pada keadaan rumah tangga."


Jiwa Kania tertampar, tetapi tetap tenang dan mengukir senyum. Bagaimanapun ia sudah dewasa, tahu apa yang perlu dilakukan.


"Besok?" Kali ini Pak Kemal terkejut. Kedua bola matanya saja membesar. "Kamu yakin?"


Kania mengangguk cepat. "Ya, Ayah."


Sekali pun sedang dalam keadaan terkejut, Pak Kemal tetap saja memperlihatkan sosok Ayah yang bijak. "Baiklah. Kasih tau Bunda untuk siap-siap menjamu tamu."


"Baik, Ayah. Sebelumnya terima kasih karena mau menerima keputusanku, dan mohon maaf kalau memang mengecewakan." Kania memeluk Pak Kemal penuh cinta. Ucapan maaf kali ini begitu dalam sebelum akhirnya perstujuan dua keluarga terjadi untuk pernikahan. "Kania bersyukur punya Ayah dan Bunda yang selalu dukung apa pun keputusan Kania."


Mereka melebur dalam suasana malam yang syahdu. Tidak disangka Adit mendengarkan di dekat tangga. Perbincangan ini cukup mengejutkan. Akan tetapi, anak itu sudah menduga dari awal bertemu dengan Rangga.


"Ternyata memang mereka punya hubungan," gumam Adit yang kembali ke lantai atas.

__ADS_1


***


Di tempat lain Rangga gusar tak karuan sambil merebahkan diri di kasur. Setelah salat Magrib tadi, perasaanya bercampur aduk. Bukan karena akibat terlalu gugup untuk acara besok, tetapi ia pun memikirkan Kania yang takutnya semakin tertekan.


Pintu kamar diketok seseorang. Terpaksa Rangga bangun dan bergerak ke arah sana. Membukanya perlahan.


Dibalik pintu rupanya Mbok Ijah membawa nampan yang terdapat segelas susu hangat juga buah-buahan. Rangga tidak turun sejak tadi, wanita paruh baya itu khawatir.


"Mbok, ada apa?" tanya Rangga.


"Maaf, kalau Mbok ganggu. Den Rangga, dari tadi nggak keluar kamar. Mbok, cemas." Perempuan paruh baya itu memasang wajah cemas. "Ini Mbok bawakan makanan."


Dari kecil sampai sedewasa ini, Mbok Ijah tetap menganggapnya orang yang perlu dijaga. Rangga cukup bahagia dengan itu. "Makasih, Mbok." Rangga mengambil alih nampan di tangan pembantu rumah bagi ayahnya, tetapi baginya adalah seorang malaikat. "Aku lagi kurang enak badan, jadi belum ingin ke bawah untuk makan."


Mbok Ijah sudah menduga. Maka dari itu, ia pun memilih mengantarkan makanan ke kamar anak majikannya. Sorot mata itu menatap lekat pada Rangga. Bahasa tubuh lelaki muda di depannya menjelaskan bagaimana situasi hati Rangga saat ini. "Aden," panggilnya lembut. Tidak berubah sama sekali dari dulu.


Rangga mengulum senyum kecil. "Iya, Mbok."


Mbok Ijah membalas senyum lebih manis. "Mbok, sudah merawat Aden dari bayi. Dari pertama ditinggalkan oleh Nyonya. Jadi ... buat Mbok, Aden itu seperti anak kandung."


Rangga diam. Daripada ayahnya, ia lebih senang diceramahi oleh Mbok Ijah. Rasanya tenang dan bisa membuka sedikit mata yang hampir buta karena keadaan.


"Mbok, tau kalau saat ini Aden punya masalah. Tapi ... seberat apa pun masalahnya, jangan pernah berpikir untuk menyerah. Mbok, harap Aden mengambil langkah yang tepat. Ikuti kata hati Aden, jangan terus mengalah karena minder punya kekurangan," lanjut Mbok Ijah.


Hati Rangga tersentuh. Susah mengendalikan perasaan jiwa jika sudah seperti ini. Namun, semampu mungkin untuk tidak terlalu larut agar sisi lemahnya tak menonjol juga.


"Usia Aden sudah matang untuk menikah, Mbok dengar dari Tuan kalau Aden mau melamar perempuan besok hari. Mbok, senang sekali. Semoga suatu saat bisa bertemu sosok gadis itu." Mbok Ijah terus berbicara. Rangga pun tidak menyela. "Semoga dengan adanya pernikahan ini, Aden bisa bertemu sepenggal kebahagiaan yang selama ini hilang. Cinta dari orang terdekat."


Seutas senyum terukir di bibir Rangga. "Mbok, apa mungkin ada kebahagiaan di sebuah pernikahan yang bahkan satu pihaknya melakukan karena ingin menolong keluarganya sendiri? Apa bisa bertahan dengan satu perasaan saja tanpa perlu mendapatkan feedback dari pasangan?"

__ADS_1


Mbok Ijah diam sejenak. Tangannya terulur ke depan, mengelus lengan kanan Rangga seraya berkata, "Den, menikahi orang yang dicintai itu memang impian, tapi mencintai orang yang kita nikahi itu kewajiban. Apa pun alasannya menikah, kalau sudah terjadi. Kita punya kewajiban mencintai pasangan. Yang perlu kita ingat kalau Allah itu lebih tahu mana yang kita butuhkan dibanding apa yang kita inginkan."


__ADS_2