Dua Lelaki

Dua Lelaki
wanita baru


__ADS_3

Radit keluar ruangan untuk makan siang. Ia yang senang menyendiri tentu akan memilih tempat yang paling tenang di kantin perusahaan. 


Di sini jelas tidak sama dengan di perusahaan lamanya. Di sini, karyawan mendapatkan jatah makan di kantin dengan menu yang sudah ditentukan. Hal ini ada bagusnya juga, setidaknya bisa menghemat pengeluaran.


Menu hari ini adalah nasi putih, telur balado, cah kangkung, kerupuk putih, dan puding. Cukup nikmat disantap di siang hari bolong.


Tentu tidak semua karyawan menyukai menunya. Adapula yang memilih membeli makan di luar. Itu hak setiap orang. Namun, bagi Raihan, makanan apa pun tetaplah menggiurkan.


Jatah makan didapat. Tempat paling pojok pun ditempatinya sendiri. Memandangi keluar dari jendela yang semuanya terbuat dari kaca terasa berbeda. Ia teringat ketika makan bersama Kania dahulu.


"Selamat siang, maaf." Tiba-tiba suara seorang wanita dari divisi lain menyapanya. Ia berdiri di dekat meja Radit dengan membawa nampan berisi makanannya sendiri. 


Radit seketika menegakkan kepala. Melihat ke atas, ke wajah sang Wanita tanpa berkata-kata.


"Maaf, apa saya boleh bergabung?" tanya si Wanita itu.


Sebelum menjawab, ujung mata kanan Radit melihat sekeliling. Semua bangku terisi, pantas saja. "Ya."


"Terima kasih." Si Wanita tersebut langsung menyimpan nampan di meja, menarik kursi, dan duduk di kursi. "Semua bangkunya penuh."


Radit mengangguk pelan. "Ya." Ia kembali menyantap makanan. Sekali pun kurang nyaman, tetapi ia tetap saja mengizinkan. Sebab, tak enak hati juga membiarkan seorang wanita mencari tempat.


Duduk berdua dengan orang asing memang terasa canggung. Namun, begitulah dunia. Terkadang kita perlu menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Tidak bisa selalu menyendiri ataupun hanya berjalan sendiri. Sebab, setiap manusia pada hakikatnya memang saling membutuhkan..


Wanita itu makan dengan sangat lahap. Radit bisa melihat dari caranya menikmati setiap suapan. Rambut hitam panjang itu tergerai indah dengan pakaian rapi khas wanita kantoran.


Mendadak wanita tersebut tersedak. Ia lupa mengambil minum. Maka dari itu, ia hendak berdiri untuk mengambilnya. 


"Minum punya saya saja," kata Radit cepat. Wanita tersebut mengurungkan niatnya. "Belum saya minum."


Dengan mengangguk cepat sambil tangannya mengambil gelas berisi es jeruk, si Wanita mengisyaratkan terima kasih. Mungkin karena terlalu diburu waktu bekerja, hingga ia perlu menyelesaikan setiap agenda dengan cepat. 


Wanita itu selesai minum, menyimpan kembali gelas di meja, lalu berkata, "Terima kasih."


"Sama-sama," kata Radit.

__ADS_1


Mereka kembali makan. Suasana hening untuk keduanya. Entah karena tidak kenal atau memang Radit yang tidak terlalu suka berbasi-basi, sehingga menciptakan suasana demikian.


Lagi-lagi wanita itu tersedak, dan kedua kalinya pun minuman Radit disedotnya. 


Radit mengamati gerakan wanita di depannya. Rasanya ada yang aneh. "Tidak perlu terburu-buru. Tidak baik juga."


Si Wanita itu menatap Radit. Tersenyum manis, hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas. Manis sekali. "Maaf, saya sedang banyak pekerjaan. Sekali lagi maaf kalau kamu merasa terganggu."


Radit jelas perlu menggelengkan kepala. Sebab, bukan hal itu yang dimaksudnya. "Saya menegur bukan karena terganggu, tapi karena kasian. Ini jam istirahat, sebaiknya dimanfaatkan untuk rehat. Pekerjaan setumpuk apa pun, biarkan saja dulu."


Entah mengapa si Wanita hanya mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Ia seperti seorang murid yang tengah menyimak penjelasan sang Guru.


Kening Radit mengerut. Melihat wanita tersebut tanpa ekspresi. "Apa ada yang salah?"


Kali ini si Wanita itu yang menggeleng cepat. "Tidak."


"Kenapa kamu cuma diam?"


"Karena …." Ada keraguan dalam diri si Wanita. Namun, tidak baik juga membuat orang menunggu."Kamu mirip seseorang."


Tatapan mereka bertemu. Menyusup mata lawan dan saling mencari apa yang diinginkan.


"Astaga, apa yang aku katakan?" Si Wanita tersadar. Ia malu. "Maaf, mungkin ini efek kurang tidur. Saya bicara sembarangan."


Radit masih saja diam, walaupun si wanita kali ini sudah menunduk. "Tidak masalah. Semua orang berhak berkata apa pun." Hanya itu yang bisa menjadi jawaban Radit. Ia kembali makan dengan ribuan tanda tanya di benaknya. Mungkinkah?


***


Suasana kantor sibuk seperti biasa. Radit yang langsung bekerja di hari pertama pun rasanya lumayan kelelahan. Akan tetapi, mengingat jabatan barunya sebagai ketua divisi di sini membuatnya memiliki tanggung jawab yang sangat berat.


Embusan napas kasar terdengar dari mulut Radit. Lelaki itu menyandarkan punggung ke kursi. Memeriksa ponsel yang tersimpan di laci. Tak ada pesan lagi dari Kania. Ia rindu juga.


"Dia lagi apa, ya?" tanya Radit pada diri sendiri. Setelah berpikir sejenak, ia pun memutuskan mengirimkan pesan pada Kania. Barangkali perempuan itu sedang tidak sibuk.


To Kania

__ADS_1


Assalamualaikum, Na. Kamu sibuk? Udah makan siang tadi?


Pesan itu dikirim secepat mungkin. Radit memegang ponsel, berharap ada balasan cepat dari Nina.


Satu, dua, tiga, empat menit sudah terlewati. Tak ada bunyi sekali pun yang menandakan pesan masuk. Bisa saja Kania sedang sibuk. 


Kepala Radit terasa sakit. Arloji di tangannya pun sudah menunjukkan pukul tiga sore. Waktunya minum kopi. Ya, benar.


Maka dari itu, Radit pun berdiri. Menyimpan ponsel di laci kembali, dan segera keluar ruangan. Di kantor ini, tersedia kopi di lantai bawah. Kedai kopi yang banyak dan bervariasi. Tentu hal ini menunjang para karyawan yang terkadang merasakan kantuk saat bekerja.


Ruangan Radit berada di lantai empat. Ia perlu turun tiga lantai, dan baru bisa sampai di lantai bawah. Lelaki itu menuju lift, masuk, dan hanya sendirian saja.


Lift bergerak turun ke lantai satu. Mengirimkan Radit ke tempat yang diinginkan. Begitu lift terbuka, Radit segera keluar. Pemandangan di lantai bawah memang menyegarkan. Banyak sekali kedai makanan dan kopi yang bisa dijadikan pengganjal perut.


Kali ini pilihan Radit jatuh pada kedai kopi yang sangat ramai. Mungkin rasanya enak, pikirnya. Kedua kaki lelaki itu melangkah ke arah kanan. Berjalan teratur tanpa melihat ke mana pun selain lurus ke depan. 


Tanpa diduga, tubuhnya tertabrak seseorang. 


"Aduh!" Suara orang itu tidak asing di telinga Radit. "Maaf," kata orang tersebut. 


Radit berhenti, menoleh ke samping dan mendapati wanita yang ditemuinya tadi di kantin. "Kamu!"


Sontak si Wanita mengangkat kepala. "Kamu!" Matanya membulat. Kedua tangannya memegang setumpuk dokumen yang entah akan dibawa ke mana. "Maaf, saya tidak sengaja."


Radit diam. Mata wanita itu seperti merah dan lelah. Terlihat sayu dan kurang energi. "Kamu kerja di sini?" 


"Ya."


"Di divisi apa?" 


"Keuangan."


Radit memperhatikan lagi. "Kamu sepertinya kelelahan. Apa kamu begadang sepanjang malam?"


Bukannya menjawab, si Wanita itu justru diam dengan tatapan semakin sayu, lalu terjatuh bersama tumpukan dokumen tadi.

__ADS_1


__ADS_2