Dua Lelaki

Dua Lelaki
Tendangan maut


__ADS_3

Perlahan, tetapi pasti. Dua bola mata Kania terbuka. Merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh jiwa dari seseorang. Hembusan napas yang lain selain darinya terdengar jelas. Siapa dia?


Kania terkejut bukan main, sampai menggerakkan kedua kaki menendang Rangga. Menerjunkan lelaki itu ke bawah kasur dengan menjerit sekencang mungkin. "Aaaaa!" Ia beranjak turun. Tak bisa membayangkan apa yang sudah terjadi. Melihat diri, aman.


Rangga terkejut juga. Badannya remuk karena tendangan maut sang Istri. "Astagfirullah." Terdengar kalimat Istighfar dari Kania bersamaan dengan berdirinya Rangga sambil memegang pinggang sakit.


"M-Mas." Wajah Kania cemas. Kesalahan teknis sepagi ini sudah dilakukan. Diri seseorang memang benar-Benar tidak terkontrol dengan baik, jika sudah berada di situasi panik. "Ma-maaf, Mas."


"Kamu kenapa, sih?" Rangga masih merasakan sakit di punggung. Bukan main tendangan istrinya seperti seorang pesepakbola yang telah terlatih dengan baik dan menghasilkan gol paling cantik. "Ini masih pagi, jangan main tendang-tendang!" Sedikit kesal juga.


Kania menunduk, malu sekaligus kasihan juga. "Maaf, Mas, aku kaget." Perempuan itu kini bisa berbicara dengan baik. "Kenapa kita jadi berpelukan? Memangnya ada yang terjadi semalam?"

__ADS_1


Rangga duduk di tepi ranjang kanan. Mengusap pelan punggung. Badan terasa remuk, malam pertama terlewati dengan kenyataan pahit. Lalu, hari kedua pun sial datang menyapa. Ingin protes, tetapi kehidupan sudah diatur Tuhan sedemikian cantik. Tidak baik juga. "Banyak yang terjadi semalam, mungkin kamu nggak ingat aja."


Mendengar hal ini membuat Kania mengangkat kepala. Menatap punggung lelaki yang kini sudah sah menjadi imam. Waktu baru saja pukul empat pagi dan waktu salat Subuh masih ada setengah jam lagi. Mereka sudah bangun serta membuat keributan. "Banyak yang terjadi?" Mulut Kania mengulang perkataan Rangga diiringi dengan anggukan pelan dari lelaki itu. "Sebentar, Mas. Aku kurang ngerti."


Rangga menghela napas kasar. Mata masih ingin terpejam. Namun, keadaan tidak memungkinkan. Sebentar lagi waktu salat. "Kamu nggak perlu ngerti, anggap saja kenangan." Rangga tersenyum kecil.


Inilah titik di mana Kania semakin penasaran. Bergerak mendekati Rangga, berdiri di hadapan lelaki itu dan berkata, "Apa, sih, yang udah terjadi antara kita?" Rasa penasaran itu mengobrak-abrik jiwa perempuan manis yang masih saja memakai hijab di depan suami sendiri.


Kening Kania mengerut kencang. Melirik tangan kanan Rangga yang masih saja mengelus punggung. Entah pikiran dari mana yang berhasil menarik diri Kania untuk bergerak duduk di samping Rangga dan memberikan elusan lembut juga di punggung sang Suami yang berada dibalik kemeja putih. "Aku minta maaf soal tadi. Jujur, aku kaget."


Rangga tertegun. Ia yang berusaha menjaga tangan agar tidak menyentuh Kania tanpa izin itu hanya bisa merasakan elusan lembut sang Istri dalam keheningan fajar.

__ADS_1


"Mungkin akan susah untuk aku beradaptasi dengan keadaan kita, tapi aku akan usahakan sebaik mungkin." Kania sama sekali tidak menatap mata Rangga. Ia memilih memandangi dinding kamar hotel berwarna putih polos tersebut. "Kamu juga mungkin akan merasa teracuhkan, karena aku belum bisa sepenuhnya menarik diri ke gerbang pernikahan ini. Maaf."


Rangga bergeming. Otak lelaki itu mencerna setiap kata yang keluar mulut Kania. Merasakan ada usaha yang ada di sela keterpaksaan. "Sebenarnya aku nggak perlu kamu beradaptasi, karena pernikahan ini tidak akan mengubah apa pun isi hatimu." Rangga menoleh ke samping bersamaan dengan Kania juga. Pandangan mata mereka bertemu. Lelaki itu merekahkan senyuman seperti mawar, cantik. "Tetaplah jadi dirimu, jangan pernah berubah karena manusia. Cukup pernikahan ini yang membuatmu mengikhlaskan Radit, tapi jangan sampai memaksa kamu membawa namaku ke tempat yang seharusnya milik Radit."


Kania terdiam sejenak, lalu berkata, "Kenapa? Kamu tidak mau aku mencintai pernikahan ini?"


Jelas saja Rangga menggelengkan kepala.


"Lalu?" Kania tak mengerti.


Tangan kanan Rangga mengulur ke depan. Menyentuh pipi kanan Kania pertama kali dan berkata, "Biarkan takdir yang merubahmu atau tentang pernikahan ini. Kalau memang kita ditakdirkan saling cinta, nantinya. Allah pasti berikan jalan paling baik untuk bersatu. Bukan cuma raga, tapi juga jiwa di antara kita. Selama itu, aku bebaskan kamu mencintai Radit."

__ADS_1


__ADS_2