Dua Lelaki

Dua Lelaki
Makan bersama dengan tim


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah semua kejadian berlangsung. Kania sedikit canggung pada Rangga. Setiap bertemu, wanita itu berusaha menghindar. Sekali pun memang tidak bisa selamanya.


Siang ini tim keuangan menjadwalkan makan bersama sebagai bentuk menjalin erat kekerabatan antar karyawannya. Tentu Pak Ganjar sebagai pimpinan bertindak dengan baik. 


"Silakan diskusikan di mana tempatnya. Saya ikut saja," kata Pak Ganjar dengan adil.


Semua karyawan akhirnya mendiskusikan tempat yang memang sangat ingin mereka datangi.


"Kita ke tempat makan yang lagi hits aja di kalangan anak muda."


"Kita makan di mall."


"Atau kalau nggak, kita makan di tempat yang kemarin."


Berbagai pendapat keluar dari sekitar sepuluh karyawan termasuk Kania, Desi dan Rangga.


Mungkin di sini hanya Kania dan Rangga saja yang diam. Menunggu kepastian dan bisa menyesuaikan diri dengan yang lainnya. 


Rangga sesekali melirik Kania. Barangkali perempuan itu canggung karena kejadian kemarin. Padahal ia hanya ingin mengutarakan perasaanya. Akan tetapi, bagi Kania mungkin merasa berbeda.


"Ya udah, kita ke tempat yang lagi viral aja," kata Desi.


Perdebatan itu terus saja terjadi, hingga menghasilkan sebuah keputusan bahwa mereka akan pergi ke sebuah kedai makanan yang tengah viral akhir-akhir ini.


Waktu makan siang akan tiba sekitar dua jam lagi. Kania mulai merasakan lapar karena tidak sempat sarapan tadi pagi. Mengingat semalam baru mendapatkan haid, ia ketiduran sampai jam enam pagi. Sungguh … pengalaman yang belum pernah dilewati.


Kania berdiri. Berniat membeli roti di kedai sebelah berdekatan dengan gedung ini. Tentu saja akan lebih nikmat memakannya dengan kopi hangat. Sepertinya begitu.


"Nia, ke mana?" tanya Desi begitu melihat Kania berdiri.


Kania menoleh ke samping. "Ke toko roti. Kenapa? Kamu mau nitip?"


Desi berpikir kencang. "Boleh. Yang rasa biasa, ya. Jangan lupa kopinya." Perempuan manis itu tersenyum kecil.


Rangga bisa mendengar dengan jelas. Lelaki itu memiliki tujuan yang sama, tetapi memilih diam dahulu. Takutnya Kania merasa dibuntuti.


"Ya udah. Aku ke bawah dulu," kata Kania.


Desi mengangguk pelan. "Ok."


Kania bergegas pergi dari sana. Turun ke lantai bawah dengan perasaan campur aduk. Sedikit risih juga karena tidak berbicara sama sekali dengan teman kerja yang paling dekat. Ternyata begini..


"Aku ngerasa sesak napas," gumam Kania.


Lift sampai di lantai bawah. Kania bergerak terus ke arah luar. Berjalan dengan cepat sampai ada di mana hak sepatunya tidak berpihak dengan baik di lantai. Ia oleng dan hendak terjatuh ke bawah, tetapi Rangga seketika menangkap dengan cepat.


"Astagfirullah," kata Kania. Untung saja ada orang yang menolongnya. Orang itu membantu Kania berdiri.

__ADS_1


"Terima kasih." Kania berbalik arah. Terkejut bukan main melihat siapa yang ada di depannya. "Ka-kamu."


Rangga berdiri tegak. 


"Makasih." Kania menunduk, malu.


Rangga bimbang harus bersikap seperti apa. Sepertinya Kania ini sedikit memberi jarak lebih dengannya. Padahal ia sudah nyaman bisa berbicara bebas dengan perempuan tersebut. 


"Hati-hati kalau jalan. Perhatikan langkahmu juga arah jalannya," kata Rangga yang bergerak lagi. Melangkah ke depan melewati Kania. Ia kesulitan menentukan sikap seperti apa pada Kania, sehingga mungkin dengan seperti ini lebih baik.


Kania diam. Wangi parfum Rangga tercium menyengat di hidung. Rasanya menenangkan. Entah merek apa yang digunakan lelaki itu.


Kania menghela napas kasar. Berharap mereka bisa seperti lagi, bukan Kania ingin dekat. Hanya saja, tidak enak juga bersikap seolah bukan saling mengenal.


Kania sadar. Ia bergegas menuju tujuan. Rupanya di sana pun Rangga berada. Mereka mengantri dengan baik, lalu kembali ke ruangan.


Waktu terus bergulir sampai jam makan siang pun tiba. Beberapa karyawan termasuk Rangga dan Desi melakukan shalat Dzuhur lebih dahulu. Bekerja memang boleh, tetapi kewajiban pada Tuhan haruslah yang utama.


Setelah semuanya selesai dan lengkap bersama dengan Pak Ganjar, mereka segera meluncur ke tempat yang sebelumnya sudah direservasi oleh salah satu dari mereka.


Ada empat mobil yang mengangkut mereka. Salah satunya adalah mobil Rangga yang membawa Desi, Kania, Rangga dan salah satu karyawan lelaki yang dikenal paling sering memiliki pacar. Bisa dikatakan playboy.


Hari, namanya. Lelaki dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh sentimeter dengan kulit putih dan hidung mancung. Cukup baik untuk bisa menggaet perempuan, tetapi sayang ia hanya suka bermain-main. Umurnya sudah sekitar menginjak dua puluh lima tahun. Bisa dibilang sedang masa-masanya suka bermain segala hal.


"Rangga, kamu punya pacar nggak? Kok, aku nggak pernah lihat kamu bawa pacar," tanya Hari memulai percakapan di antara mereka.


Rangga menyetir dengan baik. Kendaraannya berhenti di lampu merah. Sama seperti yang lain. "Tidak."


Heri melongo. "Zaman sekarang nggak punya pacar?" Tak percaya dengan jawaban Rangga. "Wah, ketinggalan zaman nanti. Kamu harus coba pacaran. Enak itu."


Desi tertarik dengan percakapan mereka. Memilih bergabung. "Kamu ngomong gitu karena suka mainin perempuan. Dasar, Playboy!" Wanita itu kesal. Mengingat Heri ini paling berbahaya.


Heri menoleh ke belakang. Tertawa kecil tanpa merasa bersalah. "Kata siapa? Mereka yang mau sendiri pacaran sama aku?"


Desi mencibirkan bibir. "Hei, mana ada yang mau disakitin? Kamu ini, ya!"


Kania hanya menyimak. 


Rangga pun mengamati.


Tawa Heri kian kencang. Desi ini memang selalu terlibat percekcokan dengannya. "Mereka itu asalkan punya pacar tampan, perhatian, udah cukup. Nggak perlu setia."


Desi kesal. "Kamu itu memang susah disadarkan, ya. Nanti kalau udah kena karma, baru tau rasa!" Sedikit mengutuk Heri karena saking kesalnya. Berharap tidak bertemu lelaki seperti model Heri supaya hidupnya tentram dan aman. "Seharusnya kamu bisa mikir kalau misal kamu yang dipermainkan, gimana perasaanmu?"


Heri mengangkat kedua bahu seraya berkata, "Aku, sih, santai aja. Toh, bermain itu memang punya resiko tinggi. Aku sama mereka punya prinsip yang sama."


Desi menggelengkan kepala seraya berdecak penuh keheranan. Ternyata ada lelaki dengan pemikiran seperti Heri. Memang gila ternyata.

__ADS_1


Heri mengalihkan pandangan pada Rangga yang berdiam diri. Ingin tahu alasan teman lelaki itu. "Rangga, alasan kamu belum pacaran atau mungkin nggak mau pacaran itu apa?" 


Telinga Kania dipasang dengan baik. Entah mengapa perempuan berhijab itu juga penasaran. Barang kali jawaban Rangga menarik hati.


Rangga diam sejenak. Jika ditanya seperti itu, ia sendiri saja tidak bisa memastikan. Mengingat lingkaran pergaulannya pun baru dimulai sekitar lima tahun lalu. Di mana ia bisa melihat dunia dengan sempurna. 


Jika wanita mendapati diri Rangga di masa lalu, sudah dipastikan akan mundur satu per satu. Ia yang banyak kekurangan akan menjadi penghalang dalam mendapatkan cinta. Tentu berbeda dengan dirinya yang sekarang, bisa dikatakan Rangga cukup sempurna dengan tunjangan fisik dan harta benda juga silsilah keluarga. Wanita mana yang menolak? 


"Aku yang nggak pacaran selama sebulan aja rasanya itu hampa banget. Nggak ada yang ngingetin makan, nggak ada yang diajak jalan atau mungkin buat hal lain," kata Heri sama sekali tidak canggung.


Desi semakin kesal. "Lelaki playboy mana mungkin bisa betah sendiri!" Terus saja mendesak Heri.


Kania sama sekali tidak berbicara sedikit pun, memilih sunyi dan mendengarkan mereka saja. Akan sangat melelahkan jika terlibat dengan lelaki seperti Heri. Sikapnya tidak ingin mengalah.


"Mungkin pertama karena kekuranganku." Rangga tak malu mengakui itu. Bagaimanapun semua karyawan sudah tahu sekarang. "Sulit pastinya menemukan wanita yang mau menerima lelaki buta. Ya, pasti ada, tapi sedikit susah."


Kania tertegun. Dibalik kalimat itu ada getaran kepasrahan Rangga yang tertangkap nuraninya. Entah seperti apa kelamnya masa lalu Rangga, mungkin dipenuhi banyak keputusasaan dengan keadaannya. Namun, hebatnya lelaki itu bisa berdamai dengan diri sendiri. 


Desi dan Heri diam juga. 


Rangga tersenyum kecil. Tak disengaja pandangannya bertemu dengan kedua mata Kania lewat spion depan. Seakan senyuman itu ditujukan untuk Kania.


"Yang kedua karena prinsip," lanjut Rangga.


Heri mengerutkan kening. "Memang apa prinsipmu?" Penasaran juga.


Sebelum menjawab, Rangga lebih dulu tersenyum ke spion lagi. Tentunya Kania bisa melihat jelas.


Entah ini sengaja atau tidak. Kania merasa ada yang aneh. Perempuan itu secepat mungkin mengalihkan pandangan keluar. Akan semakin risih jika terus seperti ini. 


"Pacaran itu nggak menjamin kita bisa menemukan pasangan ideal, apalagi kita ini punya pandangan menurut keyakinan. Lelaki sejati itu bukan dilihat dari seberapa sering pacarannya, tapi bagaimana ia bisa menghormati perempuan," jawab Rangga.


"Nah, benar itu." Desi langsung setuju. "Lagian, ya, perempuan itu nggak suka sama cowok yang kayak Heri. Ok lah, kalau soal penampilan dia itu menang banyak. Tapi … buat apa penampilan bagus kalau cuma bisa nyakitin."


Heri merasa terpojokkan. "Aku juga bisa setia sama satu perempuan, tapi nanti." Membela dirinya sendiri.


"Idih, nanti kapan? Nunggu gajah naik pohon?" Desi geram.


Kendaraan mulai berjalan. Rangga kembali menyetir dengan baik dan pelan. Mendengarkan perdebatan di antara Heri dan Desi yang mungkin akan terjadi sepanjang perjalanan.


"Ya, nggak gitu juga konsepnya. Kamu bilang kalau cewek itu mudah ditaklukan? Sebenarnya kita itu bisa lebih hebat dari laki-laki, buktinya kita bisa bikin kaum Adam hancur dengan satu kedipan saja," kata Desi.


Heri tertawa kecil. Perkataan Desi tidak salah. Lelaki memang memiliki kelemahan pada perempuan. Bahkan orang yang banyak ilmu pun bisa goyah.


"Sebaiknya kita harus lebih menjaga diri. Baik itu wanita atau laki-laki," imbuh Rangga lagi.


Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Rangga memarkirkan mobil di tempat yang tersedia, selanjutnya keempatnya keluar bersama. 

__ADS_1


__ADS_2