Dua Lelaki

Dua Lelaki
Selamat bergabung


__ADS_3

Rangga sempat diam beberapa saat. "Selamat pagi. Silakan duduk." Dengan sangat sopan, menyambut Radit dan Gendis yang memang ditarik oleh dirinya sendiri atas pertimbangan matang.


Gendis mengangguk pelan, berjalan mengikuti Radit ke sopa. Dan, duduk di samping lelaki itu. Sementara Rangga sendiri duduk di sopa kecil. Mereka tampak diam sejenak, sebelum akhirnya memulai percakapan.


Melihat keberadaan Radit di sini hampir membuat Rangga cemas luar biasa. Namun, ia perlu menenangkan diri dan terus mengatakan jika ini akan baik-baik saja. Rangga menatap bergantian Radit dan Gendis seraya berkata, "Seperti yang sudah kalian baca di email, kalau saya menarik kalian ke sini karena kinerja bagus. Saya yakin kalau kalian akan memberikan yang terbaik untuk perusahan ini."


Radit belum berkata-kata selain mengangguk pelan tadi. Entah seperti apa perasaannya sekarang, yang jelas terasa tidak beraturan. Layaknya sebuah tempat yang tersapu tsunami, hancur tak bersisa. Ini salah! Radit perlu mengasingkan perasaan pribadi dengan pekerjaan.


Pandangan Rangga berfokus pada Radit. Lelaki itu sepertinya kurang nyaman berada di samping Rangga. Tak masalah, semua orang akan melakukan hal yang sama ketika dihadapkan dengan masalah hati. Bagaikan musuh, mungkin saja Radit menganggapnya begitu. "Saya sangat berterima kasih karena kalian berdua menerima tawaran ini. Saya harap akan mendapatkan banyak kejutan yang luar biasa."


Jiwa kepemimpinan Rangga keluar setelah dinobatkan menjadi Direktur Utama, tetapi tak ada rasa sombong. Pria itu perlu fokus membangun kepercayaan dari para karyawan dan hal ini akan menjadikannya nama baik. Ya, sekali pun tidak akan semuanya menganggap seperti itu.


Setiap kata yang keluar dari mulut Rangga berhasil menarik jiwa Gendis ke bagian potongan yang bahkan masih tersimpan. Perempuan itu berjibaku dengan dirinya yang memang musuh terbesar.


Radit mengangkat kepala. Menoleh ke samping kanan, menatap lekat Rangga. Lelaki yang berhasil membawa Kania ke pelaminan itu kini menjadi atasannya. Tak bisa dipungkiri ada rasa kesal yang sulit dikendalikan, tetapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. "Saya berterima kasih juga karena Pak Rangga bersedia memberikan kepercayaan pada saya untuk mengisi jabatan ini. Dan, serta merta menarik Gendis yang memang sangat handal di bidangnya."


Rangga merasakan aura kemarahan yang keluar dari binar mata Radit. Hanya saja, lelaki itu berusaha untuk tetap tenang. Rangga melipat kedua tangan di dada, menyandarkan punggung ke sopa dan berkata, "Saya yakin dengan kemampuan kalian berdua. Selamat bekerja dan semoga betah."


Sebuah lengkungan senyuman ramah penuh arti diberikan Rangga pada Radit, hanya saja Gendis tidak berani menatap kedua bola mata Rangga. Setelah percakapan sekitar setengah jam, ketiganya pun memutuskan mengakhiri perbincangan.


Radit dan Gendis bisa bekerja mulai hari ini. Dan, Radit pun berjanji akan mencarikan tempat sewa yang nyaman dan dekat dengan kantor untuk Gendis. Hal ini dilakukan atas dasar kemanusiaan serta tanggung jawab, karena Gendis dibawa ke sini dengan Radit.

__ADS_1


Rangga terdiam di sopa kecil. Merenung sebentar, mengingat apa yang telah terjadi. "Sebaiknya aku lebih fokus kerja mulai sekarang. Jangan terlalu dipikirkan."


***


Kania kembali dengan membawa satu cup kopi. Hanya satu, karena Rangga kurang suka dengan kopi yang tanpa rasa. Padahal rasanya menurut Kania cukup segar. Ya, walaupun pahitnya memang tidak ketulungan.


Kania terus berjalan ke arah lift. Banyak orang yang juga menuju ke arah sana sambil bergosip.


"Radit sekarang udah jadi kepala tim. Bawa teman perempuan lagi." Salah seorang wanita dengan blazer hitam berbicara tepat di belakang Kania.


Kania diam. Menunggu lift turun.


Wanita satunya lagi yang memakai kemeja putih tersentak. "Iya, aku juga baru denger tadi. Katanya sih baru datang tadi, ditarik langsung sama Pak Rangga."


lift belum juga turun. Mereka harus menunggu lebih lama. Biasa, namanya juga fasilitas umum.


"Perempuannya cantik juga. Cukup cocok buat jadi pasangan," kata wanita berkemeja.


"Benar. Mereka juga tampan sama manis. Bisa mengimbangi satu sama lain." Temannya menambahkan. Keduanya tak sadar akan wanita yang ada di depan lift juga.


Lift akhirnya datang. Kania dan kedua karyawan perempuan tadi masuk. Perbincangan itu terus berlanjut sampai akhirnya Kania mendengar satu kalimat dari percakapan itu yang membuat terdiam.

__ADS_1


"Pada dasarnya jodoh itu suka mirip. Radit ada kemiripan sendiri di bagian mata sama perempuan itu. Kamu sendiri paham, kan?" tanya wanita memakai blazer merah.


Wanita yang memakai kemeja hanya bisa mengangguk sebentar tanda paham. keduanya terdiam sambil menunggu lift menuju lantai tiga, setelah waktunya keluar. Tinggallah Kania sendiri. Sesekali Kania menghela napas kasar, sedikit penasaran dengan perempuan yang sedang dibicarakan tadi. "Aku penasaran."


Lift terus berjalan sampai akhirnya lantai empat. Kania turun. Berjalan perlahan dengan sesekali memperhatikan sekitar, begitu sampai di sana. Semua teman menatap Kania lekat, terutama Desi. Di depan mereka ada seorang wanita berdiri tegap dengan kepala tim keuangan.


Kania berjalan mendekati mereka. Berdiri di tempatnya dan menatap dua bola mata yang baru pertama kali dilihat.


"Nah, ini Kania. Kamu duduk di samping Kania, tempat bekas Pak Rangga bekerja." Kepala tim keuangan memperjelas pada sosok Gendis yang kini berhadapan langsung dengan Kania.


Desi melirik Kania, entah apa yang ada di pikiran perempuan itu sekarang. Semoga saja bukan hal yang menyakitkan.


"Selamat pagi, perkenalkan saya Gendis. Tim keuangan di kantor cabang yang ditarik langsung oleh Pak Rangga bersama Pak Radit," kata Gendis dengan senyuman lebar. Tak luput perempuan itu pun mengulurkan tangan kanan, pertanda mengajak berkenalan pada Kania.


Sejenak Kania bergeming, memperhatikan Gendis. Tinggi mereka hampir sama, tidak beda jauh. Gendis tampak manis dan malu-malu, sangat jauh berbeda dengan dirinya yang selalu menyapa banyak orang. Setiap manusia memang memiliki kepribadian masing-masing.


Desi menyenggol lengan kanan Kania, berharap perempuan itu sadar. Benar saja, Kania langsung terkejut dan menerima uluran tangan Gendis. "Ah, salam kenal. Saya Kania, tim keuangan di sini," katanya dengan pelan.


Kania dan Gendis saling bersalaman. Pertama kali bertemu dan akan segera menjadi rekan bekerja. Dengan kata lain, mereka pun setidaknya melewati delapan jam di ruangan yang sama dan menghirup atmosfer yang sama juga. Berbagi satu sama lain.


Senyum merekah di bibir Gendis, senang bisa bertemu wanita pujaan Radit. Kekagumannya terhadap Kania meningkat tajam, terlebih perempuan itu sangat sopan dengan balutan pakaian yang menutup aurat. Pantas saja Radit sangat mengagumi dan sulit melupakan. "Mohon bantuannya nanti."

__ADS_1


Kania menyambut baik dengan balasan senyum juga. Ini bukan pertarungan, karena ia sudah memiliki lebel istri Rangga. Namun, semesta entah memiliki rencana apa dengan menarik Gendis ke ruang lingkupnya. Barangkali ada kejutan yang tak bisa terbayangkan. "Iya. Selamat datang dan selamat bergabung."


__ADS_2