Dua Lelaki

Dua Lelaki
Jangan mundur


__ADS_3

Kania melamun sejak pulang membeli kopi. Rangga pun tutup mulut setiap kali ditanya ada apa. Perilaku Kania ini mengundang rasa penasaran Desi.


"Nia, kamu kenapa?" Suara perempuan itu tidak bisa dikondisikan. Kencang. Alhasil semua karyawan menoleh ke arah Kania, tidak termasuk Rangga.


Heri melirik tajam ke meja Desi. "Jangan dijawab, Nia! Dia itu kadang kepo!"


Desi mencibirkan bibir. "Diam!"


Heri sontak terdiam. Kania sendiri lebih fokus menatap Rangga yang sama sekali tidak terusik karena keramaian ini.


"Jadi, kamu kenapa?" Desi masih penasaran.


Kania tersentak, lalu mengalihkan pandangan ke samping kiri. "Ah, nggak apa-apa. Aku cuma ngantuk aja. Mana jam dua nanti ada meeting sama ...." Kania menggantungkan kalimatnya. Hampir saja keceplosan.


"Hayoh, main rahasiaan, ya." Desi menggoda.


"Ayo, kerja. Nanti nggak dapat bonus akhir tahun." Alih-alih menjawab Kania memilih bekerja lagi. Mungkin akan bertanya ketika bertemu di tempat yang sempat mereka bicarakan.


Malam ini Rangga meminta bertemu di salah satu mall. Mengizinkan Kania boleh membawa Adit agar mereka tidak berduaan saja. Tentunya tujuan kedua untuk memilih cincin pernikahan.


Rangga kesulitan mencari konsentrasi. Perkataan ayahnya serta Kinan bergantian memutar di kepala. Rasanya lelah. Jiwanya ingin istirahat dan berlari ke tempat yang damai. Akan tetapi, kali ini bebannya bertambah. Setelah menikah nanti, ia bukan hanya menjaga diri, tetapi juga Kania.


Waktu terus berjalan sampai waktu pulang tiba. Rangga sama sekali tak bersuara dari tadi. Kania semakin penasaran, bahkan ingin segera bertanya.


Ruangan ini mulai sepi. Hanya tinggal Rangga dan Kania yang masih berkemas. Desi langsung pulang karena sakit perut mendera.


Setelah memastikan semuanya aman, Kania menoleh ke samping kanan. Melihat Rangga selesai dan bersiap pulang. "Mas Rangga, baik-baik aja, kan?"


Mendengar namanya disebut lelaki itu menoleh dan melempar senyum kecil. "Memangnya aku kenapa?" Lagi-lagi ia pintar berakting. Kalau ada agency yang sedang mencari bakat, tentu Rangga akan masuk menjadi salah satu artisnya. "Aku pulang lebih dulu. Jangan lupa nanti malam. Kamu siap-siap."

__ADS_1


Langkah kaki Rangga baru saja mengayun ke depan.


"Mas, lagi punya masalah?" Mendadak Kania mengajukan pertanyaan yang berhasil membuat Rangga berhenti. "Dari ketemu di lift tadi, Mas sepertinya kurang baik."


Rangga menyunggingkan senyum. Tertebak juga, padahal ia sudah berusaha meracik ekspresi senatural mungkin.


"Kata-kata Mas di lantai bawah itu, apa maksudnya?" Sebenarnya Kania bukan khawatir karena cinta, melainkan sebagai bentuk rasa sodaliratis dari dua orang asing yang akan segera menikah. "Keputusan besar apa yang bakal Mas lakukan?"


Rangga bergeming.


Kania mendominasi saat ini. Wanita berubah cerewet. Tak seperti biasanya. "Apa Mas berubah pikiran soal pernikahan? Apa Mas mau perusaahan ayahku berhenti? Apa itu yang Mas mau?"


Rangga menghela napas kasar. Pikiran Kania terlalu sempit. Wajar, sebab perempuan itu hanya fokus pada satu masalah saja. Sebenarnya dua dengan perasaan perempuan itu pada Radit, tetapi yang lebih mengkhawatirkan saat ini adalah perihal perusahan Pak Kemal.


"Kita udah melangkah sejauh ini, Mas! Nggak bisa mundur gitu aja!" Kania masih berpikiran sesuai dengan dugaannya. "Mas, kamu sendiri yang bilang kalau hari itu kita terakhir bahas soal keputusan kita. Kalau sekarang Mas malah mundur, aku rasa itu nggak dewasa!"


Rangga mencoba lebih dewasa di sini. Wanita memang seringkali memakai hati nuraninya dibanding logika. Sebab, itulah mereka sangat cepat bisa jatuh cinta ataupun terluka.


Kania menghela napas kasar. Masih saja belum sepenuhnya percaya. Sorot mata lelaki itu tidak biasa. Tak ada ketenangan yang selalu ia rasakan.


"Aku yakin ada yang aneh!" Kania tetap pada pendiriannya. Mengingat nanti sore harus pergi ke mall, ia pun segera menyusul Rangga ke lift. Mereka berpisah dan berjalan masing-masing.


***


"Bun, Adit mau diajak ke mana, sih? Kok, Kakak udah kirim pesan suruh jangan ke mana-mana." Adit mengadu pada Bu Lala ketika sampai di rumah pukul empat sore.


Hari ini anak remaja itu baru saja melaksanakan les bahasa Inggris. Sesuai keinginannya. "Kayaknya penting, ya?"


Bu Lala sedang membuat kue di dapur. "Katanya Kakak mau pilih cincin buat pernikahan."

__ADS_1


"Kenapa ngajak aku?" Adit duduk di kursi meja. Lelahnya hari ini membuat kesal bukan main. Ia ingin langsung rebahan dan main game. Namun, begitu buka ponsel, langsung dikejutkan dengan pesan dari sang Kakak. "Kan, bisa berdua aja!"


Bu Lala berbalik badan. Mendekati anak bungsunya dan berdiri di depan. "Dek, mereka itu kan masih belum sepenuhnya sah. Jadi ... memang nggak baik kalau berduaan. Kalau di kantor kan susah dihindarinya karena pekerjaan."


Adit mengambil segelas air. Meneguk perlahan setelah mengucap basmallah. Tenggorokan yang menjerit karena kehausan tersebut langsung reda dan bisa didiamkan. "Kenapa nggak ngajak Bunda aja?" Menyimpan gelas kembali. "Kan, lebih aman jagainnya."


Bu Lala hanya tersenyum kecil lagi. "Sudah, sebaiknya kamu mandi dan istirahat. Katanya, Kak Rangga mau ajak kalian makan juga."


Adit tak bisa menolak jika sudah seperti ini. Memang ia ditakdirkan untuk menjadi penjaga sang Kakak selama masih belum menemukan tempat berlabuh. Adit berdiri, malas juga. "Ya, Bun."


Bu Lala mengusap pelan pundak kanan Adit dan berkata, "Nak, kalau suatu saat kamu dewasa dan mau menikah. Semoga kamu bisa memperlakukan calonmu dengan baik. Jangan terlalu keras apalagi memaksakan kehendak."


Adit bergeming sejenak. Tatapan bundanya memiliki arti yang dalam.


"Bun, aku mau nanya sesuatu?" Ide gila anak itu keluar. Ia tak suka mengubur rasa penasaran sendiri.


"Soal apa, Dek?" tanya Bu Lala.


"Bunda, tau soal Kak Kania yang suka sama Kak Radit, kan?"


Bu Lala sekilas terdiam. "Memangnya kenapa?"


"Apa Bunda sebenarnya lebih setuju ke Kak Radit?"


Jika ditanya seperti itu, rasanya tidak adil sebagai orang tua. Bagaimanapun peran Bu Lala hanya mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang lebih baik. Perihal keputusan menikah dengan siapa, itu sudah bukan jalurnya lagi. Sebab, setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya.


"Nggak juga, Nak." Selembut mungkin Bu Lala menjelaskan pada anak remaja yang tengah mencari jati diri tersebut. "Kamu ataupun Kania, berhak menentukan pilihan selama itu yang menurut kalian baik. Bunda dan Ayah nggak bisa maksa karena kalian yang mau menjalani. Sepanjang itu baik, restu Bunda sama Ayah pasti selalu ada."


Adit bisa menebak. Mengenal betul sosok kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Sekali pun suatu saat pilihan kita salah?" Adit menatap lekat sang Bunda.


"Nggak ada yang salah, semua sudah diatur Allah. Bahkan daun yang gugur pun sudah izin sama Allah. Kenapa kita merasa kalau itu salah? Itu nggak baik. Daripada salah, lebih tepatnya mungkin kita diberi pelajaran agar bisa lebih waspada lagi." Bu Lala mengembangkan senyuman manis.


__ADS_2