
Di rumah lain pun Rangga bersiap. Setelah mandi dan sarapan, ia pergi ke butik. Janji dengan Kania dan Desi sekitar pukul satu siang. Namun, lelaki itu berangkat dari pukul delapan pagi karena ada yang harus diurus, termasuk ide untuk gaun pengantin yang akan dikenakan Kania.
Sepanjang jalan ke arah butik lelaki itu banyak melamun. Sudah beberapa kali pun bertanya pada Kania, mencoba memberinya ruang untuk pergi, tetapi wanita itu tetap pada pendirian.
Jika dikatakan tidak menolong, jelas Rangga melakukannya. Ia bahkan sempat berdebat dengan sang Ayah begitu hebat, tetapi lagi-lagi balas budi menjadi pemberat Rangga.
Andaikan fisiknya lahir dengan sempurna. Mungkin tak perlu merepotkan sang Ayah sampai rela mengorbankan mata anak kesayangannya ini. Kenyataan memang tak selamanya indah. Rangga memahami itu.
"Sebaiknya aku fokus ke persiapan pernikahan." Rangga menambah kecepatan mobil agar segera sampai.
Hanya butuh sepuluh menit sampai akhirnya mobil lelaki itu tiba di parkiran butik. Ia segera keluar, masuk butik miliknya sambil mengucap salam.
Rangga disambut dua karyawan perempuan yang akan membantu mempersiapkan gaun pernikahan. Di butik ini, ada empat karyawan untuk melayani pelanggan, sedangkan di bagian produksi beda lagi.
"Selamat pagi, Pak." Dua karyawan tersebut menyapa Rangga di pintu masuk.
"Pagi." Rangga menjawab cepat. Mengamati keadaan butik yang rapi dan bersih. "Tolong, siapkan beberapa gaun pengantin yang pernah kita buat untuk referensi. Saya ingin buat yang lebih fresh."
"Baik, Pak," sahut karyawan berbaju merah sambil berjalan ke dalam. Mengecek beberapa gaun pengantin yang paling cantik.
"Kamu." Rangga memutar badan ke arah karyawan dengan baju hijau. "Nanti temani calon istri saya untuk mengukur badan."
"Baik, Pak," jawab si Karyawan tersebut.
Rangga segera masuk. Di otaknya ada beberapa rancangan yang menari-nari dan butuh dituangkan dalam kertas putih. Hal ini dilakukan sambil menunggu kedatangan Kania dan Desi. Setidaknya saat kedua perempuan itu datang, ia sudah memiliki beberapa contoh. Tentunya semua akan kembali ke selera Kania sebagai pengantin perempuan.
Rangga duduk di kursi. Terdiam sambil memikirkan Kania. Saat ini, ia bukan merancang gaun untuk orang lain, melainkan bagi calon istrinya sendiri. Berharap gaun itu akan selesai tepat pada waktunya.
"Bismillah." Rangga menarik laci kecil di meja. Mengeluarkan sebuah foto lelaki yang tengah memegang gaun berwarna putih polos penuh dengan permata. "Kak, gaun itu masih aku simpan baik-baik. Kalau memang dia datang, aku mau berikan. Doakan aku kuat, Kak, karena Ayah lebih banyak menekanku sekarang."
Rangga memejamkan mata. Masih terasa perpisahan yang cepat itu di jiwanya. Merelakan seseorang yang selalu peduli dan memberikannya motivasi. Rasanya memang sulit dan bahkan hampir gila.
"Dulu Kakak mau menikah dan pakai gaun rancanganku. Sayang semuanya tinggal mimpi, jadi aku akan buat gaun paling indah untuk Kania, Kak." Tak terasa sudut mata kanan Rangga berembun. Ingin menangis, tetapi ingat diri. Lelaki itu harus selalu kuat, pesan sang Kakak setiap saat.
"Semoga Allah mengampuni dosa Kakak. Aku belum sempat ke makam bulan ini. Sibuk dengan kerjaan yang rasanya buat gila. Butik, kerjaan kantor, semuanya sama-sama banyak," kata Rangga seolah sedang berbicara dengan orang hidup.
Beberapa potong kenangan di masa lalu berputar di otak. Di mana ia masih bisa merasakan kasih sayang sang Kakak yang tulus. Mengajaknya ke mana pun pergi, bahkan saat ziarah ke makam ibu mereka.
__ADS_1
"Jangan katakan kalau beban yang Kakak tanggung lebih besar dari ini, Kak. Aku mau menyerah, tapi selalu ingat pesan Kakak." Rangga lemah saat ini. Perasaanya bercampur aduk. Pada hakikatnya semua orang itu berjuang dengan cobaan masing-masing, bukan hanya kita.
Rangga segera menyimpan kembali foto di laci. Menarik napas panjang. Mengembuskannya perlahan-lahan. "Ayo, kerja!" Menyemangati diri karena sadar tak ada bahu untuk bersandar untuknya sejak sang Kakak meninggal.
Rangga bermain-main dengan pensil dan kertas. Sesekali terdiam memikirkan bentuk gaun yang pas bagi Kania.
Waktu terus bergulir sampai waktu Dzuhur pun tiba. Ia hanya bangkit untuk melaksanakan shalat Dzuhur saja. Selebihnya kembali ke meja dan menyelesaikan satu rancangan. Barangkali Kania suka.
Arloji di tangan Rangga menunjukkan pukul satu siang. Sebentar lagi Kania pun tiba. Perempuan itu mengirimkan pesan, mungkin sebagai pertanda agar Rangga siap-siap.
Tak berselang lam Kania dan Desi datang diantar karyawan berbaju merah ke ruangan Rangga. Desi takjub tatkala ruangan yang sering dipakai Rangga itu memiliki desain yang unik dan cantik. Banyak pernak-pernik antik yang sudah ia temui.
"Assalamualaikum," kata Kania lebih sopan.
Rangga menyambut mereka dengan berdiri. "Wa'alaikum salam. Silakan duduk." Tangannya mengisyaratkan agar dua gadis itu ke arah sofa.
Kania mengangguk, sedangkan Desi bersuara. "Makasih, Rangga," katanya.
Desi dan Kania duduk di sofa panjang, sementara Rangga segera bergerak ke sofa kecil. Ketiganya saling menatap satu sama lain.
"Tolong, ambilkan minum untuk tamu saya," perintah Rangga pada karyawan yang masih ada.
"Masya Allah, ruangannya bagus banget. Aku sampai nggak percaya kalau kamu desainer juga." Desi takjub dengan beberapa gaun yang dipajang. Sepertinya masih dalam tahap penyelesaian. "Kamu beneran Rangga teman sekantorku, kan?" Lagi-lagi kalimat yang menandakan kurang percayanya Desi keluar.
Rangga tersenyum kecil. "Seperti yang kamu lihat, aku Rangga."
Kania lebih banyak diamnya. Ujung netra kanan Rangga memergoki Kedua mata ania yang tampak sembab. Mungkin selesai menangis. Tak tega juga.
Karyawan datang membawa minuman. Menyimpan di meja dan kembali pergi.
"Silakan dinikmati." Rangga menjamu keduanya dengan baik.
Kania cukup diam saja. Di sini lebih aktif Desi dalam bertanya pada Rangga.
"Maaf, aku boleh ke toilet?" tanya Desi. Serangan sakit itu melanda perut. Tak bisa ditahan.
"Boleh. Mau pakai toilet sini atau karyawan di luar?" Rangga bertanya balik.
__ADS_1
Desi rasa lebih nyaman toilet karyawan. Setidaknya ia bisa keluar dan mencuci mata dengan rancangan Rangga. "Di luar saja. Aku boleh lihat-lihat. Kalian santai aja, diskusi."
Desi berdiri. "Titip Kania, ya. Jangan diapa-apain."
Rangga mengangguk cepat. "Tenang saja. Tolong, jangan tutup pintunya."
Desi paham. Secepat mungkin keluar dan melakukan apa yang diinginkan Rangga.
Suasana menjadi hening. Kania lebih diam dari biasanya.
Rangga sendiri berdiri dan bergerak ke arah meja. Mengambil kertas yang ada hasil coretan nya tadi. "Kamu bisa setuju atau nggak." Kembali pada tempat sambil menyimpan hasil karyanya.
Barulah Kania mengangkat kepala. Menatap rancangan gaun yang mampu membulatkan kedua bola matanya. "Masya Allah, gaun punya siapa ini?"
Rangga cukup lega. Akhirnya Kania bisa berbicara. "Ini untukmu."
"Untuk pernikahan kita?"
Rangga sejenak diam dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gaun ini untukmu, tapi tidak tau dipakai di pernikahanmu dengan siapa."
Kania mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Rangga menghela napas kasar. "Belum terlambat untuk membatalkan pernikahan ini. Biar aku yang tanggung risikonya."
Kania tersenyum tipis. "Kenapa?"
Rangga kembali diam.
"Kamu melakukannya karena aku dan Radit?" Tanpa menunggu lama Kania langsung menyerang Rangga. "Kamu memang berniat baik, tapi aku sudah katakan kalau sekarang bukan saatnya untuk bermain-main. Jangan terlalu baik, kita menikah juga bukan karena adanya cinta."
"Aku cinta kamu karena Allah. Aku baik pun karena mengharapkan ridho-Nya."
Kania mengurai senyum kecil. Terpaksa sepertinya. "Jangan bahas apa yang sudah diputuskan."
"Ini masih bisa ubah."
Kania berdiri. Lagi-lagi Rangga ikut campur. "Aku tau yang terbaik, Rangga! Aku bukan anak kecil. Tolong, hargai keputusanku. Kali ini saja."
__ADS_1
Rangga menengadah. Menatap lekat Kania. "Aku bertanya sekali lagi. Setelah ini, kita lupakan. Sebaiknya aku juga mulai belajar egois setelah menikahimu. Apa kamu yakin mau melanjutkan pernikahan ini?"