Dua Lelaki

Dua Lelaki
Pergi Bekerja


__ADS_3

Hari tanpa bersama itu terasa kosong untuk Kania. Entah mengapa, ia pun tak tahu. Perempuan itu masih menjalankan aktivitas seperti biasa, masuk kantor dan melakukan pekerjaan.


Seperti pagi ini, hari ketiga sang Suami dinas luar kota. Mereka memang berkomunikasi, tetapi tidak terlalu intens. Hal ini dikarenakan jadwal Rangga yang padat dan susah untuk mencari waktu luang. Kania tak masalah selama lelaki itu masih baik-baik saja. 


Pagi ini, Kania berangkat dari rumah orang tua menuju kantor melewati jalan yang sama dengan Radit. Bahkan, mobil lelaki itu berada di depannya saat di perjalanan. Mereka seperti dua orang yang saling membangun tembok agar bisa membatasi interaksi. Bukan memutus silaturahmi, hanya saja takut perasaan ini belum mati dan justru berkembang lagi.


Sepuluh menit kemudian, dua mobil yang sama-sama berwarna hitam itu sampai di parkiran. Kania sendiri menunggu Radit lebih dahulu jalan ke arah gedung. Beberapa detik kemudian, lelaki dengan setelan jas rapi itu keluar dari mobilnya. Sempat berdiri di depan mobil Kania dan tersenyum kecil, seakan menandakan lelaki itu cukup senang bertemu dengan Kania.


Setelah dirasa Radit cukup jauh, Kania pun keluar mobil dengan membawa tas ransel. Seperti akan ke sekolah, tetapi ini lebih nyaman. Berjalan terus keluar area parkir dan mendekati pintu utama. Tak disangka bertemu dengan Gendis di sini, wanita itu sempat melempar senyum kecil, kemudian berjalan lebih dahulu.


Kania terdiam, teringat kalimat terakhir Gendis. Gadis itu menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan-lahan. Setiap orang berhak berpendapat apa pun, hal itu yang ditanamkan Kania di hatinya.


"Hei, kamu, kok, melamun di sini?" Desi datang, menepuk pundak kanan Kania. 


Kania tersentak, hampir berteriak. Terlalu kaget. "Ayo, masuk!" Tanpa menunggu jawaban, Desi langsung merangkul lengan kanan temannya. Membawa pergi melewati pintu utama.


Ekor mata kanan Kania melihat sekilas Gendis sedang berbicara dengan Radit, mereka tampak semakin akrab. Biarkan saja.


"Kamu mau nonton malam ini nggak? Ada film baru di bioskop langganan kita?" Desi yakin Kania pasti setuju, terlebih tidak ada Rangga. 

__ADS_1


Kania fokus ke depan. Mereka menunggu lift bersama yang lainnya. "Film horor pastinya, kan?" Sudah diduga.


Desi terkekeh geli. "Nggak terlalu horor, kok."


"Buat kamu, tapi beda kalau buat aku?"


"Kalau menurutku, sih, lebih horor nonton film romantis dibandingkan film horor." Desi tak suka genre ini, entahlah.


Kania berdecak kesal. "Tetap saja, genre horor itu menakutkan."


Mereka berbeda pendapat, tetapi terus saja berbicara.


"Jadi, kamu mau atau nggak?" Desi memastikan. Lift terbuka, mereka pun masuk dengan lima orang lainnya. Berdiri di barisan paling depan.


Tangan Desi masih terpaut dengan lengan kanan Kania. "Aku jamin, pasti lebih seru dibandingkan film romantis." Desi berbisik.


Kania tidak terlalu percaya, terkadang perempuan di sampingnya ini punya seribu cara untuk menjahili. "Aku pikirkan dulu, nanti aku kabari."


"Ih, kamu, Nia!" Desi sedikit kesal. Tak ada teman lagi yang bisa diajak.

__ADS_1


Lift berjalan mengantarkan setiap orang ke lantai tujuan, begitu sampai di lantai empat. Desi dan Kania barulah keluar. Mereka masih saja membicarakan tentang menonton sampai di meja masing-masing. Kania melirik meja Gendis, rupanya gadis itu tidak naik lift sebelahnya tadi. Ah, mungkin masih ada perlu.


"Pokoknya, kamu harus ikut nonton sama aku malam ini! Nggak ada penolakan, karena aku ceweknya anti tolak menolak!" Desi memutuskan sendiri, sehingga membuat Kania menggelengkan kepala beberapa kali. Kelakuan tersembunyi Desi yang mungkin tidak banyak yang tahu.


Daripada terus berdebat, Kania memilih mengikuti arahan Desi. Mereka pun segera bekerja di tim yang bahkan bisa dikatakan sangat introvet satu dengan lainnya, bisa dibayangkan mereka akan sangat fokus ketika bekerja. Bahkan, suara kecil pun tidak terdengar.


Waktu terus berjalan, Kania melewati makan siang, salat Dzuhur sampai Asar dengan baik. Sampai datanglah sebuah tumpukan dokumen yang perlu ditangani hari ini juga dan itu menyebabkan rencana Desi gagal.


"Ya udah, kita nontonnya besok aja." Desi menerima hal ini. Tak mungkin juga menyusahkan perempuan itu.


"Nanti kita ganti pas ada waktu luang, ya." Kania cukup bersalah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Di sini, bukan hanya dirinya yang mendapatkan tugas banyak. Ada empat orang dan itu akan bergulir sesuai kemampuan masing-masing.


Setiap pekerjaan dilewati dengan baik, sampai saat waktunya pulang. Tinggal Kania dengan dua orang lainnya di sana. Mereka bekerja sampai siang pun pergi dan digantikan oleh malam. Mengingat yang muslim hanyalah Kania, maka perempuan itu turun ketika salat Magrib dan Isya.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Semua pekerjaan benar-benar tidak bersisa. Kania tampaknya sudah ditinggalkan oleh rekan kerja, tak masalah. "Suasana ruangan ini jadi lebih sepi dan tenang." Gadis itu melihat ke jendela, menatap langit malam. "Langitnya cantik."


Tanpa menunggu lama, Kania sesegera mungkin membereskan meja. Meraih kunci mobil dan memakai tas ransel. Keluar dari ruangan dan turun ke lantai bawah. 


Di sana, ia menemui satpam sif malam yang sedang berjaga. Menyapanya sebentar, dan akhirnya keluar. Baru saja dua langkah keluar, suara seseorang menyapa telinga Kania. Manis sekali.

__ADS_1


"Nia!" Orang itu ada di depan. Kania mengangkat kepala, memusatkan pandangannya. Tertegun sebentar. 


"Kenapa ada di sini?" Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut wanita yang masih gadis, tetapi berstatus istri orang.


__ADS_2