
Kania berlarian keluar dengan paniknya. Tak lupa sebelumnya mengambil kunci mobil di kamar, membawa tas kecil yang berisi dompet juga ponsel. Kabar buruk itu datang lagi, tetapi kini berasal dari sang Suami.
Kalimat yang dibacanya melalui pesan singkat cukup mengandung kemarahan. "Suamimu berada di rumah sakit sekarang," baca Kania kala itu.
Kalimat itu sebenarnya sederhana dan singkat, tetapi penuh makna karena berasal dari seseorang yang cukup dihormati.
Dengan mobilnya, perempuan berhijab itu langsung meluncur ke sebuah rumah sakit swasta terkenal serta terbesar di kota. Rumah sakit yang memang cukup terbilang modern dengan fasilitas yang sangat lengkap.
Selama mengemudi, Kania terus saja beristighfar. Terlebih jalanan di siang ini lebih padat dari hari biasanya. Banyak pengendara yang turun ke jalanan untuk dan menimbulkan banyak kemacetan.
Kania terjebak kemacetan di pertigaan, ia sesekali menyembunyikan klakson. Berharap mobil di depannya bisa segera jalan. "Astagfirullah, kenapa macetnya la banget!" Mulai kesal bercampur dengan gelisah.
Setelah diingat semakin dalam, ia tak menemukan kejanggalan pada sikap Rangga pagi ini. Bahkan lelaki itu masih bisa sarapan, tetapi memang tidak terlalu banyak aktivitas. Hanya tiduran di sopa dengan alasan ingin banyak istirahat. Tak disangka suaminya ternyata sedang demam. "Aku sama sekali peka itu."
Penyesalan mungkin ada, tetapi kepergiannya pun atas ridho Rangga. Sebelumnya Kania tak pernah berpikir untuk berlari ke rumah sakit menemui Radit, walaupun jiwanya mengkhawatirkan. Namun, Rangga dengan senyum manisnya mendorong Kania untuk menjenguk teman masa kecilnya itu.
Lalu lintas kembali normal, mobil pun berjalan lagi. Kania langsung tancap gas menuju tempat tujuan yang sebentar lagi ada di depan mata. Tak berapa lama kendaraan berwarna hitam itu pun sampai di parkiran rumah sakit, bergegas mencari tempat dan menghentikan mesin.
Kania segera keluar dengan tas selempang kecil. Berlarian seolah sedang dikejar waktu dan ia tak punya lagi kesempatan. Masuk gedung berlantai enam itu dan terus berjalan mencari lift.
Seperti penjenguk pasien pada umumnya, Kania terpaksa mengantre di depan lift. Menunggu orang yang turun, barulah ia bisa naik ke lantai enam. Di mana suaminya dirawat, kamar VIP berkelas.
Lift datang, Kania naik dengan beberapa orang. Mereka terlihat sedih. Sepertinya sedang memiliki orang yang hendak dijenguk juga.
"Sabar. Istrimu pasti sehat." Salah satu wanita paruh baya mendekap lelaki muda yang diperkirakan Kania berkisar tiga puluh tahun. "Dia sudah berjuang melahirkan anak kalian. Kamu harus lebih kuat."
Lelaki itu lebih lemah dari penampilannya. Badan kekar dengan pakaian ala lelaki kantoran tidak bisa menyembunyikan rasa sakit dalam dada. "Aku takut kehilangan istriku, Bu."
__ADS_1
Rupanya mereka sepasang Ibu dan Anak. Kania mendengarkan dari belakang. Diam dengan tatapan sulit diartikan, melayangkan pikiran jauh terbang ke angkasa. Entah apa isi otaknya saat ini. Yang jelas cukup rumit untuk dijelaskan.
Lift terus berjalan. Kania menjadi saksi lelaki itu lemah hanya karena sang Istri. Cukup masuk di akal juga, karena sejatinya kelemahan pria itu ada di wanita juga. Namun, ini pun mengarah pada hal baik.
Ibu dan Anak itu turun di lantai lima, dan meninggalkan Kania berdua dengan salah seorang wanita. Tampaknya wanita itu juga akan pergi ke lantai paling atas. Benar saja, ketika lift berhenti di lantai atas. ia keluar lebih dulu, lalu disusul Kania.
Mereka sempat bertukar pandangan di depan lift. Kania bisa melihat dua kantong mata itu menggantung sempurna. Rupanya dia selesai menangis.
Mereka berpisah ketika si Wanita masuk ke salah satu ruangan yang ada di sana. Di lantai enam ini hanya ada empat ruangan saja, dan semuanya dengan fasilitas yang cukup mewah. Kania berjalan ke kamar paling ujung, kedua kakinya mendadak lemas. Susah sekali diayunkan.
Perlahan Kania terus sampai di depan pintu. Hendak masuk dengan menggeser pintu, tak disangka kalimat cukup mencengangkan keluar dari mulut lelaki yang pastinya ia kenali.
"Dia pergi karena aku yang menyuruhnya, Ayah. Jangan libatkan dia dalam masalah ini. Kalau memang Ayah mau cucu, aku carikan anak bayi di panti asuhan. Jangan tekan Kania!" Suara Rangga menggelegar seperti halnya petir. Lelaki itu selalu saja sedikit tinggi ketika berdebat dengan sang Ayah.
"Kamu gila?" Kini suara Pak Gani yang tak kalah tinggi. "Ayah, mau cucu kandung bukan angkat! Kalau tau kamu dan dia memang tidak ada kesepakatan memiliki anak, untuk apa Ayah menyetujui menyalurkan dana untuk ayahnya Kania. Buang-buang waktu saja!"
Rangga hampir kehabisan kata-kata. "Ayah, cukup!" Rangga menghela napas kasar. "Kania sudah mau menikah saja, itu sangat baik. Dia meninggalkan orang yang dicintainya untuk menyelamatkan perusahan keluarganya. Aku yang beberapa kali mendorong dia untuk kabur dari masalah ini pun justru dibencinya. Jadi, stop tekan mental Kania seperti Ayah menekan mentalku!"
Pak Gani bergeming dengan amarah yang memuncak. Jika bukan karena satpam rumah, ia bahkan tidak tahu jika anaknya ini sakit. "Lihat sekarang! Dia bahkan tidak peduli suaminya sakit. Dia lebih memilih pergi ke lelaki yang jelas-jelas tidak ada gunanya. Apa kamu yakin masih mau membelanya?"
"Ayah, dia istriku!" Rangga kehabisan stok sabar. Dadanya naik turun karena menahan lonjakan emosi sejak tadi. "Dia tanggung jawabku. Dia orang yang aku pilih menjadi istriku, jadi tolong jangan ikut campur masalah rumah tanggaku. Cukup Ayah mencampuri semua urusan pribadiku dulu, tapi sekarang tidak. Ada Kania yang harus aku jaga. Ada Kania yang harus aku lindungi bagaimanapun keadaan hatinya sekarang."
Amarah Pak Gani semakin menjadi-jadi, lelaki paruh baya itu pun bahkan mengungkit perihal kedua kornea mata yang dipakai Rangga sekarang. Sebuah pembahasan yang seharusnya tidak lagi diangkat karena sudah sepakat kedua belah pihak.
"Sekarang kita sedang di rumah sakit. Mari, lakukan operasi untuk pengangkatan kedua bola mata ini, Ayah!" Rangga berada di ambang kesabaran. Tak peduli akan kembali buta, yang jelas ia hanya ingin lepas dari belenggu ini. "Dokter yang memasangkan kedua bola mata ini pun masih ada, sebaiknya kita minta Beliau juga yang melakukannya."
Kania tersentak. Bergegas masuk, sehingga kedua orang yang sedang bersitegang itu menoleh ke arah pintu. "Assalamualaikum." Perlahan mengerjakan kedua kaki menghampiri Rangga dan ayahnya.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam." Hanya Rangga yang menjawab. Pria itu menatap lekat sang Istri. Sedikit terkejut juga dengan keberadaan Kania di sini. Seharusnya sosok itu ada di rumah sakit juga, tetapi bukan bersamanya. Mungkinkah sang Ayah yang memberitahu. Padahal tidak perlu, ia bisa menangani ini.
Kania berdiri di depan Pak Gani, tepatnya. Ia memberanikan diri menatap ayah mertuanya itu seraya berkata, "Jangan lakukan operasi pengangkatan mata pada Mas Rangga, Ayah." Suaranya penuh keyakinan. Melirik sekilas Rangga, melihat keterkejutan lelaki itu dengan dua bola mata yang dipunya. "Aku akan melahirkan cucu Ayah dari rahimku sendiri."
Rangga tersentak. Tak ada pembahasan sebelumnya tentang ini. Memang ia menghindari, karena tak mungkin memaksa Kania terlalu dalam. Wanita itu berada di lingkungan pernikahan saja karena terpaksa, bukan cinta. "Kania, kamu nggak perlu melakukan itu. Itu tubuhmu, kamu berhak atasnya."
Kania diam.
Pak Gani kini memfokuskan pandangan ke arah sang Menantu. Cukup berani juga wanita yang dinikahi anaknya ini. Sama seperti seseorang yang dulu datang juga bersama almarhum anaknya. "Benarkah?" Tanpa ekspresi apa pun.
Kania sudah memantapkan hati. Tak peduli bagaimanapun kehidupan setelah ini, yang jelas ia akan membalas kebaikan hati Rangga beberapa jam lalu. Kepala perempuan itu mengangguk dengan yakin. "Iya. Aku dan Rangga pasti memberikan cucu yang Ayah mau. Jangan khawatir."
"Saya pegang kata-katamu. Jangan mengecewakan, karena kamu membuat keputusan dengan sadar." Pak Gani cukup tersenyum kecil. Bergerak melewati Kania dan keluar kamar rawat. Hanya tinggal Rangga dan Kania saja yang masih diam.
Keduanya saling menatap satu sama lain, tak ada suara sedikit pun. Rangga sendiri masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. Sebab, apa yang Kania putuskan selalu saja menjadi patokan untuk perempuan tersebut. Ini sama halnya dengan keputusan Kania untuk menikah dulu, tidak bisa diganggu gugat.
Kania melangkah tiga kali ke depan. Jaraknya kini hanya setengah meter saja dengan Rangga. Pandangan perempuan itu lurus, lalu tanpa diduga membungkukkan badan seraya berkata, "Terima kasih karena sudah mengizinkan aku melihat Radit. Maaf, karena aku nggak tau kalau Mas sakit."
Rangga terkejut. Reaksi apa ini? Tidak baik.
Kania masih membungkuk, dan kali ini terdengar suara tangis lumayan kencang menyesakkan dada. "Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan untuk aku bisa mengutarakan isi hati ke Radit. Kita sepakat untuk saling melupakan."
Rangga lagi-lagi tersentak. Perlahan turun ke bawah, bergerak mendekati Kania. Meraih tubuh perempuan itu dan membantunya untuk berdiri tegak.
Air mata itu nyata, berlinang melintas kedua pipi sang Istri dengan lancar jaya. Mengisyaratkan isi hati Kania yang sesungguhnya. Rangga ragu, tetapi perlu dilakukan juga. Pada akhirnya ia menarik tubuh Kania masuk ke dalam dekapan bersamaan dengan semakin pecahnya tangis Kania.
"Maaf, Mas." Isak tangis itu memang tidak terlalu kencang. Namun, penuh kesesakan. Siapa pun yang mendengar akan ikut terluka. "Maaf."
__ADS_1
Rangga memeluk erat. Memberikan ketenangan yang mungkin tidak sebaik dari Radit, tetapi di rasa lumayan cukup. "Jangan menangis, Kania. Air matamu lebih berharga dibandingkan kedua mataku. Jadi, kalau pun operasi itu dilakukan, dan aku buta kembali. Aku harap kamu tetap tersenyum seperti biasa."