
Kania menyelesaikan pekerjaannya tepat pukul tujuh malam. Ia sampai harus salat Magrib di mushola. Jelas semua karena tanggung jawab yang diemban perempuan itu.
Kania berdiri. Meregangkan kedua otot. Remuk rasanya. Mencari uang memang tidak mudah, semua butuh proses yang panjang dan melelahkan.
Ruangan terasa menakutkan. Gelap gulita, hanya sedikit cahaya yang menerangi. Ruangan Kania jelas masih terang benderang. Gadis itu sesegera mungkin keluar dari suasana mencengkram tersebut. Turun menggunakan lift ke lantai bawah.
Begitu kedua kaki keluar dari gedung. Sebuah pemandangan paling mengejutkan didapati. Rangga masih setia menunggu seperti janjinya.
"Kamu," kata Kania melihat Rangga duduk di dekat pintu masuk. Lelaki itu segera berdiri dan menoleh ke arahnya. "Kenapa masih ada di sini?"
Kania tak berani melangkah. Ini di luar dugaan.
Rangga melengkungkan senyuman kecil. "Aku mau menjelaskan ke kamu. Sesuai janjiku tadi."
Kania tertegun. Padahal ia hanya bertanya dalam keadaan bimbang saja. "Nggak perlu. Anggap aja aku nggak pernah nanya."
"Tidak bisa." Nada bicara Rangga naik satu oktaf. Bergerak mendekati Kania. Menatap lekat mata perempuan tersebut. "Kamu pasti penasaran bukan?"
Kalau untuk hal ini jelas saja, iya. Kania ingin sekali tahu. Hanya saja, ia perlu menempatkan diri dengan baik.
"Mau di sini atau sambil aku antar pulang?" tanya Rangga.
"Nggak perlu, Rangga. Aku cuma terbawa suasana. Lagian sekali pun kamu jelaskan, aku nggak ada hubungannya." Kania tidak ingin memperpanjang. Langkahnya diambil ke depan, melewati Rangga begitu saja.
"Ayahku pasti tetap memaksamu," kata Rangga.
Kania berhenti. Satu langkah di belakang Rangga.
"Dia tipe yang harus sesuai keinginan," sambung Rangga.
__ADS_1
Dari sini saja Kania bisa merasakan aura kemarahan yang terpendam dari diri Rangga. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Mata ini milik kakakmu. Tepatnya Almarhum kakakku," beber Rangga yang berhasil membuat Kania terkejut bukan main.
Telinga Kania tidak salah. Ia memang masuk perusahaan ini belum lama. Wajar saja jika tak tahu silsilah keluarga Rangga yang sebenarnya. Yang jelas, ia hanya tahu jika Pak Gani memiliki satu anak saja.
"Kakak. Jadi … kamu?" tanya Kania mulai tertarik dengan percakapan.
"Aku anak kedua." Rangga menegaskan. Lelaki itu memantapkan hati untuk membuka sedikit takbir kehidupan. "Terlahir dengan cacat menjadi alasan ayah tidak mau mengakui. Aku bisa melihat ketika Ayah ikhlas mendonorkan kedua mata kakakku agar aku bisa sempurna."
Kania paham. "Semua orang tua pasti ingin yang terbaik. Termasuk Pak Gani. Jujur … aku awalnya bimbang pas Radit terkejut karena mendengar namamu sebagai anak Pak Gani. Aku kira kamu cuma mengaku, tapi ternyata benar."
Radit tersenyum kecil. "Aku bukan anak kebanggaannya, jadi harap maklum saja."
Kania merasa kurang setuju. Sebab, Rangga seolah meremehkan kasih sayang orang tua. "Kamu sepertinya kurang hormat sama orang tuamu. Padahal dia ayah kandungmu. Berkatnya kamu lahir, walaupun memang ibumu lebih banyak berkorban."
Rangga berbalik badan. Hanya punggung Kania saja yang kini bisa ia nikmati secara jelas. Sudah pasti orang akan beranggapan seperti itu padanya. "Kamu percaya tidak ada orang tua yang memang mendonorkan mata anak kesayangan pada anak paling dibencinya demi bisa meneruskan perusahaan?"
Rangga menghela napas kasar. "Ayahku mempersiapkan anak kurang bermanfaatnya ini agar bisa berguna di masa depan. Bagi Ayah, aku adalah penerus Kakak yang harus menurut bagaimanapun situasinya. Istilahnya, aku perlu membalas budi atas kedua bola mata yang aku pakai melihat."
Kania terkejut. Tak mungkin ada orang tua sejahat itu. Sebab, selama ini ia memang tinggal di lingkungan yang penuh kasih sayang.
"Bagi orang yang tinggal di rumah penuh cinta, tentunya tidak akan percaya. Lain hal bagi orang yang rumahnya itu lebih menakutkan daripada jalanan. Karena mereka sudah kenyang dengan berbagai tekanan mental dan fisik," sambung Rangga.
Dari sekian orang yang ia temui setelah lima tahun melihat. Baru kali ini Rangga bisa bebas bercerita. Daya tarik Kania benar-benar hebat, sehingga bisa membuka mulut Rangga yang sejak lahir memilih membungkam.
Kania berbalik badan cepat. Ingin tahu bagaimana kondisi Rangga sekarang. Ternyata di mata lelaki itu banyak sekali kesedihan. Ini nyata.
"Aku bukan orang yang mau terbuka, tapi sama kamu. Aku bisa jadi diri sendiri. Mungkin benar kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu," ungkap Rangga tanpa ragu.
__ADS_1
Kedua pupil mata Kania membesar. Sepanjang hari beberapa kali kejutan yang menghampiri diri. Ingin rasanya pingsan karena terlalu banyak terpaan mendatang.
Rangga diam sejenak. Ekspresi mata Kania saja sudah mewakili betapa terkejutnya perempuan itu. Namun, hal ini tidak menghalangi Rangga untuk tetap jujur.
"Aku yakin kamu terkejut. Aku juga sama karena paham kalau ini terlalu cepat. Tapi … setiap manusia itu berhak jatuh cinta selama tidak sampai berlebihan," tambah Rangga.
Kania tidak mempermasalahkan perihal jatuh cinta. Sebab, ia pun merasakan hal yang sama saat ini. Namun, pada Radit. Yang membuatnya terkejut adalah betapa cepatnya proses jatuh cinta Rangga. Padahal ia sendiri butuh bertahun-tahun dalam meyakinkan diri bahwa dirinya memang mencintai Radit.
"Cuma, aku sendiri paham kalau jatuh cinta pada wanita yang belum halal jelas banyak godaan. Di mana kita bakal terus diuji dengan perasaan ingin memiliki." Rangga terus bercerita tanpa memberi jeda pada Kania. Ia seolah mengusai waktu saat ini. Tidak ingin membaginya dengan yang lain.
Kania diam. Bimbang harus berkata apa lagi. Pikirannya ingin segera pulang, tidur dan mendamaikan hati. Terlalu banyak hal yang terjadi di hari ini.
"Rangga, aku ucapkan terima kasih sebelumnya karena kamu mau jatuh cinta sama wanita sepertiku. Tapi … aku harap kamu bisa mengasuh rasa itu dengan baik. Jangan sampai dari rasa cinta berubah menjadi ego," sahut Kania.
Rangga mengangguk pelan.
Kania menarik napas pelan. Mengembuskannya perlahan-lahan. Mungkin ini adalah cara penolakan yang paling halus karena dilakukan dengan sangat hati-hati. Penuh pertimbangan, walau tidak banyak waktu. Kania tidak ingin mengulur waktu dan menyia-nyiakan Rangga dal menunggu. Memberikan jawaban pasti adalah sikap yang baik.
"Tapi, maaf. Aku mungkin memilih menolak karena …." Kania menelan ludah. Hampir saja mengatakan tentang perasaannya.
"Karena kamu menyukai Radit." Rangga langsung paham.
Kania tertegun. Rangga ini peka dan bisa membaca pikiran, sepertinya. "Kamu tau?"
Senyuman kecil itu diberikan Rangga pada Kania. Manis sekali. Ia bahkan hampir dibuat oleng.
"Sekali lihat juga pasti tau. Mata kamu itu susah berbohong," jawab Rangga.
Kania malu. Sudah berusaha keras menutupi dengan dalih teman masa kecil. Ternyata ada yang menyadari begitu cepatnya.
__ADS_1
"Tapi, sekali pun begitu. Aku tidak menyerah. Selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan," imbuh Rangga.