Dua Lelaki

Dua Lelaki
Terciduk Pak Gani


__ADS_3

"Izinkan aku sekali saja datang ke rumahmu," kata Rangga.


Mereka seolah sedang berjual beli, padahal hanya sekadar menawarkan tumpangan saja. Memang terlihat sedikit rumit.


"Anggap saja itu sebagai bayaran untuk tumpangan pagi ini," sambung Rangga lagi.


Arloji di tangan kanan Kania kian bergerak. Waktunya tidak banyak lagi. Jika Rangga yang telat mungkin akan beda ceritanya karena memang anak dari pemilik perusahaan, sedangkan dirinya jelas bukan siapa-siapa.


"Baiklah. Aku izinkan," jawab Kania tak punya pilihan.


Rangga tersenyum penuh kemenangan. Ini bukan memanfaatkan keadaan, tetapi ia memang sedang ingin datang ke rumah Kania. Mengunjungi keluarganya, seperti ada ketertarikan yang kuat.


"Ya udah, sebaiknya kita langsung berangkat saja. Nanti keburu telat," ajak Rangga.


Kania setuju. Ia pun tak mungkin menunggu terlalu lama, jika tidak semuanya akan kacau. 


"Sebelumnya terima kasih," kata Kania.


"Bukan kamu yang seharusnya terima kasih, tapi aku," sahut Rangga. Tentu hal ini dikarenakan ketulusan perempuan itu mengizinkannya datang ke rumah.


Kania dan Rangga pun naik ke mobil. Jelas Kania akan duduk di bangku belakang dan Rangga pun tidak mempermasalahkannya. Semua orang berhak memilih.


Mobil Rangga beranjak pergi dari sana. Kania sendiri tidak khawatir dengan kendaraannya karena montir langganan itu sedang di perjalanan. Jaraknya pun tidak terlalu jauh sehingga hanya ditempuh tiga menit saja. Cukup dekat memang.


Selama di perjalanan Kania sama sekali tidak berbicara sampai akhirnya mereka tiba di parkiran kantor. Ketika mobil itu berhenti, Kania hendak keluar. Namun, Rangga dengan cepat keluar lebih dahulu dan membukakan pintu untuk teman perempuannya tersebut.


Kania tertegun atas sikap Rangga. Masih berpikir positif mungkin Rangga adalah sosok yang baik pada semua orang.


"Makasih." Kania keluar sambil tersenyum.


Tak disangka kejadian itu direkam dua bola mata Pak Gani yang juga baru sampai di parkiran. Lelaki paruh baya itu menatap mereka lekat.


Kania terkejut bukan main, sedangkan Rangga sendiri santai. 


"Selamat pagi, Pak Direktur," kata Kania sambil mengangguk hormat. Sedikit takut juga dengan pandangan Pak Gani yang seolah ingin menerkam mereka.


Rangga diam.


"Pagi." Pak Gani menjawab juga.


Kania salah tingkah. Tak tahu harus bersikap seperti apa. Mengingat ia datang dengan anaknya. Bisa saja ini menjadi masalah untuknya dan Rangga ke depannya.


"Ke ruangan saya setelah ini, Rangga," kata Pak Gani sambil berjalan lebih dahulu meninggalkan Kania dan Rangga.


Kania terkejut. Takut juga. Terlebih cara bicara Pak Gani tegas seolah kurang senang melihatnya dengan Rangga.


"Baik," jawab Rangga santai.


Kania mengangguk hormat untuk kedua kali.


Setelah memastikan Pak Gani pergi lebih jauh, Kania langsung menoleh ke samping kanan. "Kamu nggak pa-pa?" Ada kekhawatiran yang membuatnya ketakutan. "Pak Direktur langsung menyuruhmu ke ruangan. Aku takut beliau kurang suka karena kamu datang sama aku."

__ADS_1


Rangga tersenyum kecil. "Memangnya kenapa? Ayahku itu baik. Jangan khawatir."


Kania menelan ludah. "Tapi …." Kania kesulitan meneruskan kalimatnya.


"Jangan takut. Ayahku itu baik. Ayo, masuk." Rangga tak ingin memperpanjang masalah yang menurutnya hanya sepele. "Kamu nggak mau telat absen, kan? Bukannya kamu mempertaruhkan izin demi bisa masuk tepat waktu?"


Rangga berjalan lebih dahulu, Kania masih di tempat.


"Eh, iya." Kania langsung sadar. Menyusul Rangga yang sudah lumayan jauh di depan. Jalan lelaki itu memang cepat dengan langkah besar. Pantas saja Kania bisa tertinggal lama.


Keduanya masuk bersama ke gedung tinggi itu ditemani dengan tatapan kurang suka dari beberapa karyawan perempuan yang memang menganggap Kania murahan. Bisa dekat dengan siapa pun yang memang memiliki aura positif di sini.


"Dia itu sok baik aja."


"Halah, alimnya itu cuma formalitas aja. Kalau udah urusan yang ganteng mah, duluan. Siapa sih yang nggak tergiur sama Rangga. Udah anaknya Direktur, ganteng lagi."


"Lama-lama gue enek juga."


Sayup-sayup Kania mendengar bisikan tetangga dahsyat tersebut. Hanya saja ia bukan tipe orang yang peduli dengan pandangan orang lain. Sebab, sejauh apa pun ia berbuat, tentunya orang lain akan menilainya beragam.


Rangga dan Kania naik lift bersama ke lantai empat dengan karyawan lainnya. Mereka juga tak lupa menyapa beberapa teman satu divisi. 


Desi belum juga datang atau mungkin sudah ada di sana. Sesampainya di lantai empat Kania dan Rangga bergantian mengisi absen. Rupanya Desi sudah ada di tempatnya.


"Assalamualaikum," kata Kania.


Rangga duduk di tempat 


Kania menggerakkan kursi, duduk dan menyimpan tas di meja. "Maaf. Lagian kamu dandan di kantor. Kenapa nggak di rumah aja tadi? Biar nggak repot." 


Rangga langsung menyalakan laptop. Tidak ingin terlibat dengan urusan dua gadis di sampingnya. Memilih fokus pada pekerjaan memang pilihan paling baik untuk Rangga. Terlebih tidak dipungkiri jika perkataan ayahnya tadi berhasil mengacau pikiran. Entah ada kepentingan apa lagi. Semoga saja tebakan Kania tidak benar. Untung apa juga sampai mengurusi masalah pribadinya. Lelah juga.


"Ayo, fokus dulu," kata Rangga.


Terdengar Desi dan Kania terlibat percakapan. Keduanya masih saja memperdebatkan perihal dandan. Mungkin semua wanita seperti itu.


"Harusnya kamu itu di kost dandanya. Malu tau," tegur Kania karena beberapa orang memperhatikan Desi. Ia bukan malu karena memiliki teman seperti Desi, lebih tepatnya ia tak ingin temannya itu menjadi sasaran empuk gosip di kantor. Bisa sakit hati dirinya.


Desi tak peduli. "Biarin aja. Kalau ada yang nanya tinggal jawab aja 'di rumah tadi nggak sempat' beres." Seutas tawa ikut serta di kalimat Desi.


Kania hanya tertawa pelan. Selalu saja ada jawaban Desi. Tak masalah sebenarnya karena ini hanya ketakutan Kania saja.


Setengah jam mereka fokus dengan kegiatan masing-masing. Rangga tampak berdiri. Bergerak ke arah lift. Kania mengamati dan menebak ke mana tujuan Rangga saat ini.


Desi memperhatikan gerak-gerik Kania yang berbeda. "Kamu kenapa?" Menepuk pundak kiri Kania.


Kania otomatis berbalik badan. Memastikan keadaan sekitar aman. Ia bergerak mendekat dengan menggeserkan kursi ke dekat Desi. "Tadi aku ikut sama Rangga."


Kening Desi mengerut kencang. "Ikut ke mana?" Jelas wanita itu penasaran. Pernyataan Kania setengah-setengah.


"Mobilku mogok dan Rangga nawarin bareng."

__ADS_1


"Terus, masalahnya?" Desi belum paham.


Kania ragu. Berdiam sejenak, lalu memutusakan bercerita. "Tadi di parkiran aku sama Rangga ketemu Pak Gani."


"Apa! Kamu ketemu calon mertua." Desi berteriak.


"Siapa yang ketemu calon mertua?"


"Jangan berisik!"


Begitulah tanggapan beberapa teman satu divisi mereka.


Kania mencubit lengan kiri Desi sambil menunduk malu. "Kamu mau kebiasaan. Selalu aja teriak."


Desi masih belum percaya. Terlalu shock. "Ini beneran, Nia?" Sampai menanyakan secara detail.


Kania mengangguk cepat. "Serius. Aku sampai gemetaran tadi."


"Cie, keciduk camer."


"Astagfirullah, Des. Kamu ini ada-ada saja. Aku sama Rangga itu cuma teman sedivisi aja. Jangan berpikiran aneh-aneh."


"Gimana kalau dia ternyata suka sama kamu?" Tatapan Desi lekat. Tak sabar menunggu jawaban. "Kan, namanya juga manusia. Apalagi kalian ini sama-sama lajang. Wajar aja kan kalau dia suka sama kamu."


Kania diam. Tak pernah terpikirkan sampai ke sana. "Kalau suka sih wajar. Namanya juga manusia, tapi kita harus paham kalau mencintai orang lain itu nggak seharusnya berharap dapat timbal balik."


Desi memahami dari perkataan Kania yang dalam. Cintanya Kania pada sosok Radit ini menjadi referensi temannya tersebut untuk berbicara seperti demikian.


Kania menggeser kursi ke tempatnya semula. Melirik sekilas ke meja Rangga. Entah apa yang tengah dilakukan lelaki itu. Namun, apa pun yang terjadi. Kania berharap kejadian di parkiran tidak menjadi permasalahan yang panjang.


Sementara itu Rangga naik ke lantai delapan. Di mana sang Ayah bekerja. Pertama kali dalam hidupnya mengunjungi ruangan tersebut. 


Lift berhenti di lantai paling atas. Rangga keluar. Dadanya bergemuruh. Mulai merasakan udara panas yang sama ketika berada di rumah. Malas sekali datang, tetapi sebagai lelaki sejati tentu harus tetap menemui.


Rangga melangkah dengan pasti. Mendapati sekertaris ayahnya dan menyapa, "Selamat pagi."


Kinan, namanya. Seorang wanita muda yang banyak dibicarakan banyak karyawan lelaki di sini. Wanita yang punya bola mata berwarna coklat dan juga rambut semampai.


"Pagi," jawab Kinan tersenyum manis.


"Pak Direktur ada?" 


"Ada."


"Kalau gitu, saya masuk."


Rangga melangkah dua kali melewati meja sekertaris. Berbalik badan, dan hendak mendorong pintu yang terbuat dari kaca tersebut.


"Kamu sama sekali tidak mau mengenalku?" tanya Kinan yang saat itu sudah berdiri.


Rangga terdiam.

__ADS_1


"Aku senang kamu bergabung di perusahan ayahmu, tapi kenapa kamu malah mengacuhkanku. Padahal kita sudah saling kenal. Di parkiran tadi pun kamu justru datang dengan salah satu karyawan di sini," sambung Kinan lagi.


__ADS_2