
Rangga kembali ke ruangannya yang kini sudah berubah di lantai atas. Ia didampingi sang istri juga Ayah Kandung.
"Kamu bisa bekerja sebagai Direktur hari ini." pak Gani menyerahkan kedudukannya untuk sang anak. Ia akan menikmati masa tua dan menjalani hari tanpa beban apapun. " Jangan lupakan perihal anak. Ayah menunggu kabar baik."
Baru saja mereka sampai, rasanya tidak etis jika sang ayah harus membahas tentang keturunan. Sebaiknya memang hal itu tidak diikut campurkan dengan permasalahan perusahaan. jelas saja Rangga tidak terima, "Kita bicarakan itu nanti, Yah."
Pak Gani akhirnya pergi dan membiarkan sepasang suami istri itu di ruangan yang dulu ia tempati.
Kania merasa bersalah. Suaminya terlihat terlalu kasar terhadap seorang tua. "Mas, kamu kalau ngomong sama ayah itu jangan terlalu berlebihan. Bagaimanapun dia ayahmu dan ayahku juga sekarang, Mas."
"Astagfirullah." Rangga mengusap dada. "Maaf, Kania, aku nggak bermaksud melawan Ayah. Tapi, aku di sini juga harus membelamu sebagai suami. Aku nggak mau kalau sampai kamu kurang nyaman lagi."
Kania paham. Hanya saja tetap tidak baik dan ia berhak menegur sang Suami. "Aku cuma mengingatkan, Mas."
__ADS_1
Rangga cukup senang dengan perhatian Kania. Yakin jika suatu saat perempuan itu bisa perlahan menerima kehadirannya. maka dari itu, Rangga terus bersabar dengan apapun yang Tuhan tentukan. "Kamu mau kembali kerja, kan?" jika mengikuti kata hati, jelas lelaki itu menginginkan Kania tetap berada di ruangan ini. Akan tetapi, pekerjaan yang harus dilakukan istrinya tidaklah mudah. "Nanti pulang, aku tunggu kamu di parkiran."
Kania mengangguk cepat. "Iya, Mas. Aku mau turun ke lantai empat lagi. Permisi." Kania Membalikan badan dan hendak melangkahkan kaki ke depan. Namun, perempuan itu berhenti lagi Ketika Rangga mengatakan sesuatu.
"Hari ini mungkin dia datang," kata Rangga. Ekspresi lelaki itu tidak dibuat-buat dan memang sedikit sedih.
Kania terdiam. Mengerti dengan kata "dia" yang dikeluarkan suaminya.
Rangga memahami jika ikatan pertemanan yang sudah terjalin sejak kecil adalah sesuatu yang sulit dilupakan. Orang baru sepertinya tidak terlalu memiliki hak bebas untuk memutus tali silaturahmi antar dua teman, selama tidak melebihi batas. "Aku tunggu kamu di parkiran nanti, tapi kalau ada keperluan dulu. Kamu bisa selesaikan."
Kania belum mengutarakan satu patah kata pun. Perempuan itu masih tidak percaya akan satu gedung lagi dengan Radit. Namun, mereka sudah berbeda. "Iya, Mas." Kania akhirnya berhasil keluar dari ruangan Rangga. Ia bertemu dengan sosok perempuan yang sama sekali tidak menyukai Kania.
Kania terus berjalan ke arah lift. bergerak masuk dan turun ke lantai empat. Jantungnya masih belum bisa bekerja dengan normal, karena terlalu gugup. "Astagfirullah, aku harus beli kopi dulu ke bawah."
__ADS_1
Alih-alih pergi ke lantai 4, Kania justru turun ke lantai bawah. Ia akan membeli segelas kopi di sebuah kedai yang berada di samping kanan gedung ini. Langkahnya terus bergerak maju ke arah pintu luar, tetapi pendengarannya jelas menangkap dua suara yang saling berbicara tak jauh dari sana. "Pak, saya baru pertama kali datang ke kantor pusat. Apa benar saya dipindah tugaskan ke sini?" Suara wanita begitu nyaring di telinga Kania. Lalu, sebuah suara lelaki pun ikut menyapa telinga Kania.
"Benar. Kamu dan saya dipindahkan ke sini. Kamu berada di tim keuangan, dan saya berada di tim penjualan," jawab lelaki tersebut.
Kania tertegun. Suara derap langkah kaki pun semakin mendekatinya. Penasaran, tetapi tak sanggup untuk membalikan badan.
"Kalau begitu, apa saya akan satu tim dengan Kania? Wanita yang dicintai Pak Radit?" Perempuan itu bertanya lagi. Sepertinya mereka juga tidak sadar akan kehadiran Kania yang berada di dekat pintu, sementara keduanya berjalan dari kanan menuju ke kiri.
Pertanyaan inilah yang semakin membuat tubuh Kania tertegun dan sulit pergerakan. Siapakah dia? dari suara dan percakapan yang ditangkap oleh telinga, perempuan itu memiliki sedikit kedekatan dengan Radit.
"Saya ingin kenal dengan Kania, Pak Radit. Ingin belajar bagaimana jadi perempuan yang dicintai orang dengan tulus."
Lagi-lagi Kania tersentak. Tak mungkin mereka hanya sebatas rekan kerja, jika wanita itu saja bisa tahu tentangnya. Radit bukan orang yang bisa begitu saja terbuka pada yang belum dikenal. Luar biasa.
__ADS_1