
Gendis menatap punggung Kania yang lebih dulu pergi, lalu berkata, "Saya pernah ke sini sebelumnya." Tanpa rasa ragu, perempuan tersebut mengatakannya. "Kamu benar, orang baru mana mungkin akan tahu soal ruangan tersembunyi."
Kini langkah Kania yang tertahan. Berdiam diri dengan perasaan berbeda.
Gendis mengambil langkah dua kali. Berdiri di belakang Kania, lebih tepatnya. "Seharusnya suamimu sudah memberitahu siapa aku. Apa dia tidak jujur?" Gendis tak lagi menyembunyikan jati diri. Mungkin hanya Radit yang tidak tahu detailnya.
Suasana sekitar tak begitu ramai, karena memang masih jam kerja. Di depan gedung perusahaan, keduanya terlibat percakapan yang cukup serius. Untung saja tak banyak saksi mata. Setidaknya tidak banyak pula yang menyaksikan.
Kania menghela napas kasar. "Aku turut berduka cita atas meninggalnya kekasihmu." Hanya itu yang diucapkan Kania. Rangga memberitahu semuanya termasuk tentang penarikan Gendis ke sini atas rekomendasi perusahaan, bukan lelaki itu. "Aku berharap, kamu nggak menyalahkan Mas Rangga atas meninggalnya kekasihmu."
Gendis terdiam.
"Kamu mungkin cuma tau ceritanya dari pihak Ayah saja, bukan dari Mas Rangga, kan?" Kania terus bertanya, walaupun Gendis belum bereaksi.
Tanpa diduga Gendis mengambil langkah sekali lagi ke depan, kini satu jajar dengan Kania. "Cerita itu tetaplah cerita. Saya dan aku tentu tidak tau bagaimana kenyataannya, jadi tetaplah pada pendirian masing-masing." Gendis menoleh ke samping kanan, tersenyum manis. "Ayo, kita ke beli kopi."
Sekarang Gendis yang lebih dulu berjalan, kemudian disusul Kania yang berusaha untuk lebih bersabar dalam menghadapi semua keruwetan hidup ini. Tidak perlu banyak mengeluh, jalani saja apa yang ada.
***
__ADS_1
Rangga bekerja sebaik mungkin di ruangannya. Meeting akan diadakan siang ini dan tentunya, ia akan menunggu keputusan Kania untuk ikut atau tidak. Beberapa dokumen pun diperiksa dengan baik. Waktu gajian tiba, perlu banyak mengecek mengenai perincian pengeluaran agar tetap stabil. Sebab, sebuah perusahaan seharusnya menguntungkan supaya tetap bisa mensejahterakan karyawan.
Waktu terus berjalan dan tibalah salat Dzuhur. Ia sesegera mungkin ke mushola yang ada di bawah. Tak lupa mengirimkan pesan pada sang Istri tentang rencananya. Namun, tak ada balasan apa pun. "Apa dia marah, ya?" Beribu pertanyaan keluar dari otak Rangga. Barangkali Kania kesal atas pengakuannya.
Rangga berjalan bersama beberapa karyawan lainnya. Melihat mereka berjalan dengan beberapa teman yang lain cukup membuat Rangga terdiam. Sepanjang hidup, ia memang tak memiliki banyak teman selain sang Kakak. Namun, justru kakaknya memberikan amanat berat yang akhirnya menarik dia ke lembah menyakitkan. "Aku memang terbiasa sendiri." Rangga tak perlu meratapi hidup. Semua sudah diatur Yang Maha Kuasa.
Sesampainya di mushola, ia pun tak mendapati sosok Kania. Sepertinya perempuan itu bersembunyi di sudut bumi, sampai sulit sekali ditemukan. "Dia mungkin lebih senang makan dengan temannya." Tak masalah, Rangga pun harus fokus pada pekerjaan.
Setelah salat selesai, Rangga bergegas pergi dari kantor dan menemui seorang client. Setelah hari ini, mungkin ia pun harus terbang ke luar kota untuk menyelesaikan bisnis lainnya. Lumayan menguras tenaga, tetapi ini semua demi keberlangsungan hidup.
Rangga ternyata bertemu dengan client-nya di sebuah cafe cukup ternama. Di sana, pria itu mencoba lebih fokus lagi, walaupun otaknya terus saja terpikirkan perihal Kania. Ini ada apa? Sepanjang hari nama itu mengusik pikirannya. Apa harus menemui gadis itu? Lantas, atas dasar alasan apa? Ah, bimbang.
"Pak Rangga sepertinya sedang banyak pikiran," kata client yang hendak membuat banyak gaun di butiknya.
Lelaki dengan jas hitam yang cukup paruh baya itu datang ke Rangga untuk membuat sebuah gaun dan jas pengantin, bukan untuk orang lain. Namun, untuk dirinya yang sendiri yang akan menikah kedua kali di usia hampir menginjak kepala lima. Dari sini kita bisa menyimpulkan jika seseorang itu perlu pasangan hidup dalam usia berapa pun.
Akhirnya semua terputuskan dengan baik. Rangga memberikan saran tema seperti apa yang baik. Setelah semua terselesaikan dengan sempurna, Rangga pun segera kembali ke kantor.
Alih-alih bisa langsung menemui Kania di ruangannya, ia justru lupa akan meeting dengan tim penjualan. Maka dengan itu, tepat pukul satu siang lewat dua puluh lima menit, ia pun mengisi meeting lebih dulu.
__ADS_1
Sebagai kepala tim penjualan, tentunya Radit ada di sana. Bertemu dengan Rangga dan terlibat interaksi sebagai atasan dan bawahan.
"Saya meminta tim penjualan lebih bekerja keras lagi untuk pemasaran agar bisa mencapai target. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, kalian pun akan menerima bonus di luar gaji," kata Rangga.
Cukup menggiurkan sekaligus berat. Akan tetapi, Radit dengan tegas akan melakukan segala cara untuk mencapai target. Tentunya bukan hal yang melanggar norma sosial dan agama.
Meeting berakhir. Rangga lebih dulu keluar disaksikan banyak mata termasuk Radit. Lelaki itu tampak terburu-buru, mungkin ada hal penting yang harus diselesaikan.
Rangga sudah ingin bertemu Kania, entah mengapa hatinya sedikit resah. Padahal di sini, ia seharusnya melibatkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Itu dua hal yang berbeda. Ia turun ke lantai empat dengan lift, keluar dan melihat ke ruangan untuk bagian tim keuangan.
Dua bola mata itu mengamati sekitar, tak ada sosok Kania di sana. Hanya ada teman-temannya termasuk Desi dan Gendis.
Desi menyadari kehadiran pimpinan perusahaan, lalu berdiri dan berkata, "Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Biasanya, Desi bisa berbicara santai, tetapi ini harus formal. Melihat tegangnya wajah Rangga, ada rasa penasaran dalam dada.
"Siang." Rangga masih mencari sosok Kania dengan kedua ujung mata. Nihil, ternyata tidak ada di sudut mana pun. "Boleh saya tau ke mana Kania pergi? Saya tidak melihat dari tadi."
Semua orang diam dengan saling melempar pandangan. Desi sendiri menelan ludah, aura yang diberikan Rangga cukup menyeramkan juga.
"Kenapa kalian diam?" Kembali Rangga bertanya. Kali ini pandangannya terfokus pada Desi. "Kamu sahabatnya bukan? Kamu pasti tau di mana dia?"
__ADS_1
Desi sudah pasti jadi sasaran. Ia lebih dekat dengan Kania dibandingkan siapa pun. Namun, gadis itu seakan lebih suka membungkam mulut.
"Kania pergi ke UKS karena sakit, Pak." Gendis berdiri, tak tega juga melihat Rangga yang mungkin tidak tahu soal ini. Matanya menatap tajam dua bola mata Rangga. Ah, lebih tepatnya milik Almarhum sang Kekasih dulu. "Dia sakit, Pak!" Kali ini Gendis sengaja memberikan penekanan di kalimat terakhirnya..