
Pada akhirnya Kania menikmati lembur bersama Rangga. beberapa kali Rangga menegur perempuan itu agar jangan terlalu fokus pada pekerjaan, tetapi mengabaikan perut.
"Kamu bisa sakit nanti." Seperti seorang ayah, Rangga terus saja mengingatkan sang istri untuk menikmati cemilan yang sudah ada. "Apa harus aku suapin?"
sontak saja Kania menggelengkan kepala. "Nggak perlu, Mas. aku juga bisa makan sendiri karena. Lagian ini lagi tanggung sedikit lagi." tak mungkin juga Kania meminta Rangga untuk menyuapi. Mungkin mereka memang pasangan suami istri, tetapi sedikit canggung untuk melakukan adegan tersebut.
Waktu terus berjalan dan mengantarkan mereka ke waktunya salat magrib. Rangga meminta Kania mengakhiri pekerjaan dan membawa istrinya itu ke musala kantor.
Diheningnya gedung bertingkat empat tersebut, sepasang suami itu berjalan beriringan tanpa adanya kontak fisik sama sekali. Namun, keduanya terlibat pembicaraan yang menarik.
Rangga memberitahu Kania bahwa ia mungkin akan segera mengambil alih perusahaan ini sesuai kesepakatan. Sekalipun lubuk hati Rangga tidak menginginkan posisi tersebut, tetapi janji tetaplah harus ditepati. "Mungkin kita jadi jarang bertemu di kantor, tapi aku harap kamu bisa sesekali makan siang di ruangan atas."
Kania terkejut. secepat itukah Rangga mengambil alih perusahaan. Akan tetapi, ia tidak bisa melarang. sebab, itu sudah menjadi keputusan suaminya. " insya Allah, nanti aku sering main ke atas."
__ADS_1
Rangga melirik Kania sekilas, lalu sesegera mungkin memalingkan wajah ke depan. bagaimanapun ia tidak boleh larut dengan kesenangan semata. Hati Kania tetaplah milik si tampan yang jauh di sana.
Sampailah mereka di mushola. di sana ada beberapa karyawan perempuan dan laki-laki yang sama sedang berlembur dan akan melaksanakan salat. akhirnya mereka pun berjamaah bersama menikmati waktu menemui Yang Maha Kuasa.
salat selesai. Rangga dan Kania kembali ke ruangan. Satu dokumen yang harus diselesaikan Kania sudah bisa dilakukan dengan baik. itu artinya Kania dan Rangga sudah bisa pulang ke rumah dan menikmati waktu istirahat. mereka turun ke lantai bawah dan menuju parkiran.
"Oh, ya, aku mungkin bakal sering keluar kota. Kalau kamu kesepian, bisa menginap dulu di orang tuamu. bukannya aku mengusir, tapi takutnya kamu nggak ada teman di sana." dibandingkan mengusir, nada bicara Rangga seolah khawatir. Sebagai seorang pemimpin nanti, ia akan lebih disibukkan dengan berbagai macam meeting juga acara dinas ke luar kota.
Andaikan Ririn tidak bekerja, Mungkin bisa saja diajak untuk dinas ke luar kota. Namun, istrinya tersebut juga memiliki kewajiban pada perusahaan.
"Memang sebaiknya seperti itu." Rangga mulai menjalankan kendaraan ke arah luar parkiran, lalu bergerak ke arah gerbang dan bergabung dengan kendaraan lainnya.
berbeda dengan Rangga yang sibuk menyetir, Kania justru menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, lalu memperhatikan jalanan di malam hari. tiba-tiba ingatan masa lalu kembali menari-nari juga mengusik jiwa. ia Terlalu Lelah, sehingga halusinasi sedang pulang bersama Radit.
__ADS_1
Di tengah perjalanan Rangga teringat sesuatu. mungkin ini bisa dikatakan kabar baik bagi Kania, tetapi juga uji nyali untuk dirinya. hanya saja, Rangga paham Jika sesuatu yang akan menjadi miliknya tidak mungkin pergi begitu saja. "Oh, ya, Nia." Suara Rangga pelan penuh dengan kelembutan.
Kania terkejut. "Iya, Radit." spontan saja mengeluarkan nama yang ada di pikirannya saat ini. sampai akhirnya Kania menyadari sesuatu, jika sekarang bukanlah Radit yang ada di sampingnya. "Astagfirullah, maaf, Mas." Rasa malu di menggunung di wajah Kania. bisa-bisanya tidak menyadari kondisi yang sedang berlangsung.
Rangga tersenyum kecil. Tak mengapa jika saat ini mungkin Kania belum terbiasa dengan keberadaan dirinya, tetapi ia akan tetap berusaha sebaik mungkin menjadi seorang suami yang bisa diandalkan. " kamu kangen sama Radit ya?" Tanpa basa-basi sedikitpun Rangga langsung bertanya sesuai isi hati.
pertanyaan Rangga berhasil menarik semakin dalam rasa malukannya. ketahuan memikirkan lelaki lain ketika sedang berada dengan suaminya. jelas ini sangat fatal dan Salah sekali, tetapi ia sulit mengontrol pikiran sejak dari siang. "Maaf, Mas."
Rangga kembali mengulur senyum kecil. "Nggak apa-apa. Selama bukan melakukan hal Di Luar Batas, aku masih bisa memahami." senyum itu mungkin menandakan sebuah persembunyian dari rasa sakit yang dialami rongga. pria itu bisa bersandiwara semanis mungkin agar tetap terlihat tegar di depan sang Istri. memaksa Kania hanyalah sebuah keputusan yang tidak benar. namun, menemanikannya sampai bisa melepaskan masa lalunya adalah langkah yang terbaik.
"Oh, ya, tadi Mas mau apa?" Kania mengalihkan pembicaraan.
Rangga menelan ludah sambil kedua tangan berada di stir. sekalipun tidak dikatakan, pada akhirnya Kania akan tahu juga. Maka dari itu, Rangga memilih membicarakan lebih dulu dibandingkan tahu belakangan. "Jangan terlalu memikirkan Radit, karena bisa jadi dua minggu lagi dia ditarik lagi ke kantor pusat dengan jabatan yang sama. Kepala divisi."
__ADS_1
Rangga sama sekali tidak ragu dalam menyampaikan kabar baik ini. Sinar matanya pun berbina seperti biasa. Sungguh ... Lelaki yang mampu mengontrol emosi. "Kamu bisa ketemu dia lagi setiap hari. Semoga saja ini bisa menambah semangatmu."