
Di tempat lain Radit memberikan oleh-oleh pada Gendis. perempuan tersebut tampak senang mendapatkan kotak makanan yang sudah disiapkan oleh Radit.
"Terima kasih, Pak," kata Gendis.
Radit mengangguk cepat. "Sama-sama." lelaki itu langsung pergi ke ruangannya dan segera bekerja seperti biasa.
kejadian pernikahan Kania dengan Rangga memang menguras emosi, mengingat perasaan cinta itu masih ada dan sulit dikendalikan sampai saat ini. padahal Ia sudah berusaha keras untuk menjaga Kania dari kecil.
Radit menghela napas kasar. "Mungkin aku sama dia memang nggak berjodoh." Rasanya memang sangat sulit untuk melepaskan orang yang paling dicintai pada orang lain. Namun, kehidupan bukanlah tentang bagaimana kita memiliki orang yang dicintai, Tetapi bagaimana kita bisa ikut bahagia ketika orang yang dicintai merasa bahagia. "Aku sebaiknya fokus kerja biar bisa lupain tentang Kania."
__ADS_1
dengan cepat Radit membuka beberapa dokumen yang sudah menumpuk di atas meja. hari ini akan banyak sekali pekerjaan yang harus segera selesai, termasuk satu dokumen yang harus disiapkan untuk meeting siang ini pemimpun perusahaan cabang di sini. " Astagfirullah, aku nggak seharusnya mikirin perempuan yang sudah jadi milik orang lain. ini jelas nggak baik." Radit menyadari kesalahannya yang bisa saja menjerumuskan ia ke sebuah Lembah paling dalam dan menyeretnya ke kesalahan yang sangat fatal.
Oleh sebab itu, Radit terus memusatkan pikiran pada pekerjaan dan bertekad lebih menyibukkan diri dari sebelumnya. Minggu ini, Ia dan bagian penjualan akan mengadakan refreshing ke sebuah tempat wisata di kota tersebut. hal ini akan dijadikan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada alam juga pada Tuhan, serta berusaha untuk melupakan apapun potongan masa lalu dengan Kania.
waktu terus berlalu, arloji di tangan lelaki itu menunjukkan pukul sepuluh pagi. rasakan tuk mulai mendera, begitupun dengan rasa haus yang datang bersamaan. maka dari itu, Radit segera memutuskan untuk pergi ke lantai bawah membeli satu cup kopi yang biasanya menjadi teman bekerja.
bersamaan dengan kalimat itu, suara langkah kaki seseorang pun mendekati dari belakang. Radit sendiri masih berada di tempatnya tanpa menoleh sedikitpun. pada akhirnya, Gendis pun berada di samping Radit dengan membawa dua cup kopi di tangan. " Saya mau ke ruangan bapak tadinya. Tapi, ternyata kita bertemu di sini." perempuan itu terlihat bahagia.
Radit menoleh ke kiri, lalu berkata, "Ada apa kamu mau ke ruangan saya?" memperhatikan penampilan Gendis yang sangat sopan dari karyawan lainnya. Perempuan tersebut memakai blazer panjang berwarna hitam yang dipadukan dengan celana panjang hitam, juga rambutnya yang dikuncir. " Apa ada yang bisa saya bantu?" takutnya Gendis memiliki masalah yang sangat besar.
__ADS_1
dengan cepat Gendis menggelengkan kepala tanda ia tidak memiliki masalah apa pun, tetapi ia mempunyai niat baik. " Saya cuma mau memberikan kopi ini ke bapak." Tangan kanan Gendis mengulur ke depan, memberikan satu cup kopi. "Anggap saja ini perhatian dari seorang bawahan ke atasan."
Radit terdiam. memahami apa yang dikatakan Gendis, tetapi berusaha untuk tidak larut dalam keadaan. "Kalau perhatian yang kamu maksud itu ke lawan jenis, saya tidak bisa menerima. tapi, kalau perhatian yang kamu maksud itu kepada sesama manusia dan atas dasar saling menolong juga menghargai, saya terima dengan baik."
Gendis menelan ludah. Iya memang sudah kalah dari awal. akan tetapi, perhatiannya yang dimaksud sekarang itu memang atas dasar kemanusiaan. Bukankah berbuat baik pada pada sesama Itu adalah sebuah perbuatan yang sangat disukai Tuhan? itulah yang selalu menjadi tolak ukur Gendis sampai saat ini. "Saya tidak berperan sebagai lawan jenis di sini, tapi saya berperan sebagai sesama manusia. artinya, saya menyampingkan perasaan pribadi."
dengan cepat Radit mengambil alih cup kopi tersebut. "Terima kasih atas perhatianmu."
Gendis tersenyum kecil, lalu berkata, "Kalau begitu, saya naik duluan, Pak. Masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan." Tanpa berkata apa pun lagi, Gendis langsung berbalik badan dan masuk lift, walaupun perasaannya sedikit terluka. "Aku nggak boleh terbawa suasana. semua perhatian Pak Radit itu murni karena sesama manusia." Memang sedikit menyesakkan.
__ADS_1