Dua Lelaki

Dua Lelaki
Kenapa tidak resign?


__ADS_3

Radit menempati ruangan kepala tim ketika kembali ke kantor pusat. Lelaki itu duduk diam di kursi yang dulunya diisi oleh mantan kepala tim yang dulunya. Terdiam menatap lurus ke depan, mengingat Kania yang belum berani ia temui sampai saat ini.


Radit menghela napas kasar. "Astagfirullah, aku datang ke sini lagi karena pekerjaan. Jangan sampai kebawa suasana yang akhirnya menghancurkan kebahagiaan orang lain." Pria itu sebisa mungkin menyingkirkan berbagai macam perasaan yang seharusnya tidak ada.


Radit memeriksa berkas yang sudah diserahkan oleh mantan ketua tim terdahulu. Banyak pekerjaan yang harus segera selesai. Datang ke kampung halaman justru langsung disambut oleh padatnya pekerjaan.


***


Waktu terus berjalan dan tibalah jam pulang. Kania sendiri masih berada di ruangannya bersama Desi. Gendis sudah pulang karena perlu mencari tempat tinggal yang lebih nyaman dari yang sekarang. Mengingat ia belum mempersiapkan banyak hal begitu diminta pindah ke kantor pusat.


"Kamu yakin mau ngerjain ini semua, Nia?" tanya Desi ketika melihat tiga tumpuk dokumen keuangan yang benar-benar harus diperiksa oleh temannya itu.

__ADS_1


Kania sambil menatap layar ponsel itu pun mengangguk cepat. "Benar banget. Kalau nggak mau Pak Joni marah."


Desi menghela napas. "Benar juga." Gadis manis itu mengambil tas di meja. Pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak. Itulah alasan Desi bisa pulang dengan cepat. "Padahal kamu ini istrinya Direktur Utama, harusnya kamu jadi nyonya di sana." Berdiri dengan menyelipkan tali tas di ketiak. "Kamu kenapa nggak resign aja, sih?"


Pertanyaan Desi ini menggelitik jiwa Kania, sehingga perempuan itu dengan cepat menoleh ke samping. Sebuah senyuman manis pun diberikan Kania sebelum akhirnya memberikan jawaban. "Des, aku bukan nggak mau resign. Mungkin itu hal mudah buat aku sama Mas Rangga, tapi kamu udah sepakat sebelum memulai menikah kalau antara perempuan dan lelaki itu nggak ada bedanya "


Desi diam.


"Ah, itu, ya." Desi mulai bisa mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Kania. Rupanya baik Kania ataupun Rangga memiliki prinsip yang sama, syukurlah. Setidaknya mereka berada di jalan yang sama. "Kalau begitu, kamu bakal resign kalau udah punya anak?"


Pertanyaan ini berhasil membungkam mulut Kania. Jika dipikirkan lagi, jelas saja pernikahan itu selalu menginginkan adanya seorang anak. Buah hati yang akan menjadi penguat satu sama lain, tetapi mereka sama sekali belum membahas itu terlalu jauh. Rencana pasti ada. Namun, semua tetaplah pada takdir Tuhan. Memberikan atau tidak, mengizinkan atau tidak. Semua rahasia Ilahi Rabbi.

__ADS_1


Ponsel Desi berbunyi, sebuah panggilan telepon dari orang tuanya pun datang. "Aku pulang dulu, ya. Kamu hati-hati." Dengan cepat perempuan itu meninggalkan Kania sendiri di ruangan yang biasanya padat.


Kania segera bekerja juga. Jika terus memikirkan hal yang kurang penting, pekerjannya akan terhambat dan ini bisa membuat semakin menumpuk juga dokumen di meja.


Waktu berjalan dengan cepat sekali. Kania melaksanakan salat Magrib lebih dulu ketika waktunya tiba. Ia dengan beberapa karyawan yang sedang lembur pun saling menyapa dan kembali ke ruangan masing-masing.


Kania bisa dibilang sangat cekatan dalam bekerja. Ini terbukti dengan selesainya tiga dokumen di atas meja tadi. Perempuan itu meregangkan kedua tangan ke samping sambil berkata, "Ya Allah, badanku remuk semua." Melirik arloji di tangan dan mendapati sudah pukul setengah tujuh malam. Sudah waktunya pulang.


Tanpa memikirkan apa pun, perempuan manis itu pun segera pergi dari ruangan lantai empat sambil menenteng tas. Sebelum lembur, ia sudah izin pada Rangga dan lelaki itu pun izin untuk pulang duluan. Ini menandakan jika Kania harus pulang menaiki taksi. "Nggak pa-pa, harus jadi wanita kuat."


Kania turun ke lantai bawah. Bergerak terus ke depan dan melewati pintu utama. Perempuan manis itu pun merogoh tas sambil menuruni tangga kecil tanpa melihat ke depan. Ketika tangga terakhir selesai dituruni, telinganya mendengar suara lembut dari dua arah berbeda.

__ADS_1


"Kania." Namanya dipanggil secara bersamaan. Berhasil menghentikan kedua kaki Kania dan membuat tubuh perempuan tersebut terpaku di tempat. Entah ke sumber suara yang mana ia akan melangkah. Yang pasti keduanya cukup penting juga.


__ADS_2