Dua Lelaki

Dua Lelaki
Ada yang janggal dari Rangga


__ADS_3

Kania beberapa kali memijat kening. Pusing sekali. Rangga melirik ke arahnya dua kali.


"Ini kenapa selisih banyak." Kania mulai menyerah. 


Rangga melirik lagi. "Kenapa?" tanyanya.


Kania menoleh. "Dari tadi aku nggak nemu salahnya di mana, tapi hasilnya tetap minus."


Rangg bergeming sebentar. Mungkin ia bisa membantu. Menggeser kursi ke dekat Kania. "Coba kubantu." Dengan senang hati membantu Kania.


Kursi Kania bergeser ke samping kiri. Risih juga jika terlalu dekat.


 Rangga sempat menahan tangan kanannya ketika akan mengulur ke depan. "Maaf, aku ambil alih dulu tempatmu."


Kania mengangguk paham.


Jari jemari Rangga bermain di laptop Kania. Mencari celah yang salah dan hanya butuh waktu sekitar dua menit sampai akhirnya selesai.


"Ketemu," kata Rangga.


Kemampuan Rangga tidak bisa diragukan. Kania mengakui itu. "Masya Allah, kamu mudah banget nemuinnya. Padahal aku dari tadi nggak nemu. Terima kasih." Seutas senyum dilemparkan pada Rangga.


Senyum itu manis. Berhasil membuat Rangga terbang ke angkasa. Untung saja lelaki cepat sadar. Jika tidak, bisa saja terjatuh dari ketinggian ribuan kaki. "Sama-sama. Tolong, jangan banyak senyum." Rangga menggeser lagi kursinya.


Kania mengerutkan kening. "Maksudnya?" Kurang paham.


Rangga fokus bekerja lagi. Pura-pura tidak mendengar.


Kania termenung sebentar, lalu meneruskan pekerjaan. Laporan keuangan ini harus segera diberikan pada kepala Divisi. Jika tidak, jelas akan kena marah.


Suara azan Dzuhur berkumandang. Kania bergeges ke mushola di lantai bawah. Kali ini Desi ikut. Sudah bisa salat.


"Nia, nanti sore kamu mau ke panti asuhan nggak?" tanya Desi.


Sudah lama juga keduanya belum datang ke tempat penitipan anak terlantar tersebut. Tempat itu memang milik salah satu teman semasa kuliah mereka dahulu.


"Boleh. Udah lama juga nggak ke sana," jawab Kania belum sadar akan pesan sang Bunda.


Keduanya berjalan menuju tempat ibadah yang ada. 

__ADS_1


Sesampainya di sana, mereka pun segera mengambil air wudhu dan shalat bersama yang lainnya.


Suara imam salat siang ini tidak terasa asing. Rupanya Rangga. Kania bisa menyadari karena memang duduk di sebelah lelaki itu.


Desi sudah lebih dahulu keluar setelah salat selesai, sedangkan Kania sendiri masih mengungsikan kalimat dzikir beberapa kali.


Dirasa cukup, Kania keluar. Ia berpapasan dengan Rangga di ambang pintu keluar. Begitu melihat wajah Kania, lelaki tersebut berpaling dan cepat-cepat pergi. Aneh.


Kania keluar dengan pikiran bercabang. Menebak apa yang terjadi pada teman barunya itu.


"Kenapa, sih?" tanya Desi melihat Kania merenung sambil berdiri di depannya. 


Kania tersadar. "Nggak. Aku ngerasa aneh aja." Mengehela napas kasar. Memakai sepatu lagi. "Rangga itu kadang aneh."


Desi melirik ke arah Rangga yang sudah berada di depan. "Aneh gimana? Perasaan dia biasa aja."


Kania meraih lengan kanan Desi dan berkata, "Mungkin cuma perasaan aku aja."


"Bisa jadi." 


Akhirnya kedua perempuan itu pun berjalan meninggalkan mushola untuk ke kantin kantor. Mengisi perut agar bisa bekerja lagi dengan tenang.


Waktu terus berjalan, ketika jam pulang datang pun semua karyawan bersiap-siap. Kania mengemas beberapa barang ke tas termasuk ponsel. Memeriksa benda itu dan menemukan sebuah pesan yang dikirim Radit.


Assalamualaikum, Na. Minggu ini sepertinya aku bisa pulang. Semoga saja, ya.


Kania tersenyum lebar. Tertangkap basah kedua bola mata Rangga yang juga tengah bersiap pulang.


"Kamu sepertinya senang tersenyum," ujar Rangga.


Kania menoleh ke samping. Hal ini menganggu. Sejak tadi Rangga terus saja membahas perihal senyum. "Tunggu." Kania mengurungkan niat membalas pesan. "Kamu dari tadi sepertinya bahas senyum terus. Memangnya kenapa kalau aku senyum? Ada yang salah?"


Rangga berdiri. "Nggak."


"Terus?" Kania mulai bisa menstabilkan diri. Tak lagi canggung seperti awal bertemu. Ia pun berdiri juga. "Masalahnya di mana?" 


Tatapan mata Kania lembut, walaupun sedang kesal. Menyentuh sanubari Rangga dan menenangkan. "Kalau kamu terlalu sering tersenyum ke lawan jenis, pasti bakal ada salah paham."


"Salah paham?" Kania bertanya balik.

__ADS_1


Rangga melangkah ke depan melewati Kania. Berhenti tak jauh dari tempat perempuan itu dan berkata, "Memang bukan salahmu tersenyum, karena kamu tidak punya tanggung jawab untuk setiap hati yang tersentuh."


Setelah itu Rangga pun pergi tanpa menjelaskan sikapnya yang aneh. Berhasil membuat pikiran Kania melayang. 


Rangga sendiri secepat kilat ke arah lift. Masuk dan turun ke lantai bawah. Ini pertama kali, tetapi menggilakan. "Astagfirullah, aku bisa dicap laki-laki aneh." 


Sementara itu Kania sadar setelah Desi menepuk pundaknya dua kali. "Kamu melamun terus. Ayo, pulang." Desi baru keluar dari toilet.


Kania mengangguk. Menyambar tas dan pergi bersama. Setelah berada di lantai bawah dan hendak keluar gedung. Perempuan itu baru ingat tentang pesan bundanya. Terpaksa membatalkan jadwal ke panti asuhan dan membiarkan Desi sendiri.


"Sampaikan permintaan maaf aku ke anak-anak, ya," pesan Kania pada Desi.


"Ya, tenang aja. Lagian kamu bisa datang kapan saja," jawab Desi.


Kania tersenyum. Tak dipungkiri ada rasa bersalah pada Desi. Namun, ia pun tak berkutik. "Maaf, ya." Lagi-lagi kata maaf yang keluar.


"Ya, nggak pa-pa." Desi memahami. "Aku pamit duluan, ya. Mau beli makanan juga. Assalamualaikum."


"Iya, Des. Wa'alaikum salam."


Desi melangkah pergi keluar lebih dulu, sedangkan Kania masih berdiri memeriksa tas untuk mengeluarkan ponsel. Cukup sekitar lima menit ia seperti itu sampai akhirnya memutuskan untuk keluar.


Awan hitam menggantung di langit. Rupanya hujan akan datang beberapa saat lagi. Sebaiknya Kania secepat mungkin berlarian ke arah halte bus karena bisa saja terjebak di sini.


Dengan langkah cepat Kania terus berlarian dikejar waktu. Belum sempat sampai di halte bus, hujan sudah turun. Otomatis tubuh Kania terguyur air.


"Aduh, basah!" Kania berlarian sebaik mungkin. Akhirnya sampai. Pasmina dan bajunya basah kuyup. Hujan datang dengan deras tanpa jeda. "Yah, basah semuanya."


Wajah menyedihkan tampak jelas di raut muka Kania. Ia terduduk lesu di halte sendirian. Tidak seperti biasanya.


"Ini gimana, ya?" Kania bimbang sendiri. Tak mungkin juga berbelanja dengan pakaian basah. Setidaknya ia perlu pulang dulu. "Mungkin besok bawa mobil aja."


Kania menghela napas kasar. Angin menemani hujan mengguyur semesta. Memberikan terpaan rasa takut pada beberapa orang. Termasuk Kania. 


Angin berseok ke kanan ke kiri, mengerikan. Kania membaca doa. Semoga saja semuanya selamat.


"Ya Allah, busnya nggak datang-datang." Wanita yang takut hujan angin itu mulai cemas. Terlebih hanya sendirian seperti ini.


Beberapa detik kemudian mobil Rangga datang. Berhenti di depan halte. Lelaki itu menurunkan kaca jendela dan berteriak, "Kamu mau pulang?" tanyanya lantang. 

__ADS_1


Kania mengangkat kepala. Di antara badai hujan sosok itu terlihat dominan.


"Ayo, naik. Aku antar pulang," ajak Rangga.


__ADS_2