Dua Lelaki

Dua Lelaki
UKS


__ADS_3

Rangga seketika langsung berlarian ke arah lift. Tidak peduli berapa banyak tumpukan pekerjaannya sekarang, yang paling penting adalah turun ke lantai bawah untuk menemui sang Istri. 


Sementara itu, Desi melirik Gendis yang lebih berani dari siapa pun di sini. "Kamu bicara seperti itu tanpa mikir apa pun?" Desi memang tidak terlalu suka.


Gendis menoleh ke samping kanan. "Justru karena saya sudah mikir beberapa kali. Kita tidak mungkin menutupinya bukan? Pak Rangga tetaplah suaminya Kania, yang harus tau kondisi istrinya sendiri. Apa saya salah?"


Desi tak bisa menyalahkan Gendis atas pemikirannya seperti itu. Namun, ada beberapa hal yang mungkin menjadi pertimbangannya. "Bukan itu yang aku debatkan, tapi kamu tau sendiri kalau tadi Kania bilang ke UKS itu cuma sakit perut aja. Dia kebanyakan makan sambal di kantin."


"Yang saya tau, sesakit apa pun seorang istri. Suaminya harus tau." Gendis kembali fokus pada pekerjaan. Berhasil membungkam mulut Desi. Masih teringat jelas percakapan terakhir dirinya dengan Kania sebelum mendarat di ruangan ini. Mungkin perempuan itu terpikirkan juga.


***


Kania berbaring di ruangan UKS yang memang jarang sekali disentuh orang, selain petugas dan juga karyawan yang sakit. Mengingat perusahaan Rangga selalu mewajibkan karyawannya untuk cek kesehatan setiap bulan sekali, hampir tidak banyak yang terkena sakit di gedung dan harus dilarikan ke ruangan ini.


Kania miring ke kanan, membelakangi pintu masuk yang tertutup juga oleh gorden berwarna merah muda. Perempuan itu ingin tidur, rasa sakit di perutnya mulai kabur. Ya, walaupun sesekali masih sangat terasa. 

__ADS_1


"Sepertinya aku nggak bisa kerja lagi. Sebaiknya di sini aja dulu sampai perut enakan." Kania berusaha memejamkan mata. Melupakan beberapa beban yang harus ditanggung di pundaknya sekarang. Sedikit mengganggu pikiran juga, dan pastinya berdampak juga ke kesehatan mental. 


Beberapa menit mencoba, tetapi hasilnya tetap susah. Kania tidak bisa tidur dan memilih mengambil ponsel di meja kecil. Melihat postingan teman-temannya di media sosial sambil sesekali merasakan kram di perut. Biasanya, jika sudah seperti ini, perempuan itu akan segera kedatangan tamu bulanan. Memang cukup menyiksa, tetapi itulah kodrat sebagai perempuan.


Jari jemari kanannya terus men-scroll layar ponsel. Beberapa postingan teman perempuannya yang sudah lebih dulu menikah cukup menarik perhatian. Ada yang berbagi kebahagiaan dengan pasangan, ada pula yang meng-upload momentum ketika bersama keluarga kecil. "Mereka terlihat bahagia." Kania menghela napas kasar. 


Setelah direnungkan dalam, menikah itu tidaklah menyeramkan. Ya, mungkin karena ia mendapatkan sosok lelaki yang cukup baik sebagai seorang kepala keluarga. Jelas akan berbeda ceritanya, jika ia mendapatkan hal yang terbalik. Entah seperti apa nasibnya nanti? 


Beberapa postingan pasangan suami istri pun terpampang jelas di layar ponsel. Kania bisa melihat mereka tersenyum dengan berbagai gaya yang menandakan kebahagiaan sedang melanda keduanya. Cukup membuat mata siapa pun yang melihat menjadi iri. Ah, jangan sampai larut.


Sedang asyik menikmati media sosial, suara kencang pintu terbuka langsung mengagetkan Kania. Ia bahkan tersungkur ke bawah dengan ponsel yang ikut jatuh juga. "Astagfirullah." Kejadian yang sama sekali tidak pernah terbayangkan.


Kania yang berada di bawah saja sudah kenal siapa pemilik suara itu. Derap langkah kaki penuh kepanikan terlihat mendekati ranjang, dan mengelilinginya sampai dua pasang mata itu bertemu di titik yang seharusnya.


 "Astagfirullah, Nia, kamu kenapa tidur di bawah?" Rupanya Rangga yang datang dan bertanya. Pria itu langsung saja meraih tubuh Kania tanpa meminta izin. Membantu sang Istri untuk naik ke atas ranjang dan merebahkan dengan perlahan. "Kamu bukannya sakit? Kenapa harus tidur di bawah kalah di kasur aja nggak ada yang nempatin?" 

__ADS_1


Saat ini di otak Kania hanya dua pilihan, antara memikul Rangga atau memarahinya dengan nada tinggi. Namun, dua hal itu tidak jadi dilakukan begitu melihat sorot mata lelaki tersebut yang tampak penuh dengan kecemasan. "Aku cari kamu ke ruangan, karena merasa cemas seharian. Kamu di-chat, nggak dibalas. Tapi, pas sampai sana, ternyata kamu nggak ada."


Kania tertegun. Tubuh lelaki itu dekat dengannya, posisi Kania yang terlentang. Sementara itu, Rangga berdiri di samping.


"Kata Gendis, kamu sakit dan pergi ke UKS. Makanya, aku langsung ke sini." Napas Rangga tak beraturan, lelaki itu pasti berlarian setengah gila ke arah sini. "Kamu sakit apa? Kita ke rumah sakit aja, ya, sekarang? Mau aku panggilkan ambulan atau pakai mobil aja?" 


Rangga mengeluarkan ponsel, hendak menghubungi ambulance. Pikirannya lebih kacau tatkala mendengar Kania sakit. Dengan gerakan cepat tangan Kania menahan, sontak saja membuat pergerakan tangan Rangga terhenti juga kedua mata lelaki itu berfokus lagi pada dua netra Kania. "Aku nggak perlu ke rumah sakit, Mas. Aku sehat. Perutku sakit karena kebanyakan makan sambal tadi siang."


Untuk pertama kalinya, Rangga merasakan debaran paling kencang di jantung. Sulit sekali dikendalikan. "Kamu yakin?" Suaranya pelan. Berharap tidak akan terjadi apa pun pada sang Istri.


Kania tersenyum sambil mengangguk pelan. "In Syaa Allah, Mas."


"Kalau seperti itu, aku temani kamu di sini." 


"Jangan. Kamu harus kerja. Kita masih dalam jam kerja." Kania melarang cepat. Jangan sampai hanya perkara kecil bisa membuat nilai baik Rangga menurun sebagai pemimpin yang tak membawa masalah pribadi ke pekerjaan.

__ADS_1


"Ta-." Baru saja Rangga akan berucap, tanpa diduga Kania melakukan hal yang di luar pikiran. Membungkam mulut pria itu dengan sesuatu yang bahkan tidak pernah diharapkan lebih. Ini nyatakah? Ia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi? 


Ingin rasanya mencubit pipi, tetapi kedua tangan Rangga saja susah bergerak. Ia mematung. Ini gila.


__ADS_2