
Di tempat lain Radit bersiap pulang juga. Membereskan meja dan segera keluar ruangan. Menaiki lift untuk bisa sampai lantai dasar. Ketika kedua kakinya baru melangkah keluar dari lift, ia menemukan sosok Gendis sedang diam memandangi semesta yang menangis.
Ya, hujan. Kota ini diguyur hujan dari siang. Banyak aktifitas yang terpaksa berhenti. Membiarkan bumi ini beristirahat dari padatnya aktifitas penghuninya.
Gendis menghela napas kasar. Lupa membawa payung adalah penyesalan paling besar saat ini. "Padahal kemarin aku bawa, tapi nggak hujan. Sekarang giliran lupa, malah hujan."
Radit bergerak mendekati Gendis. Berdiri di samping perempuan yang memandangi curah hujan dari jendela kaca besar. "Suasananya jadi sejuk."
Gendis tersentak. Memberanikan diri menoleh ke samping. "Pak Radit mau pulang juga?"
Radit mengangguk pelan dengan pandangan lurus ke depan. Rinai hujan itu mengingatkannya pada sosok Kania. "Dia tidak suka hujan." Tanpa sadar Radit berbicara sendiri.
Kening Gendis mengerut. Tidak mengerti siapa yang dimaksud Radit. "Dia siapa, Pak?" Mulut itu bergerak mencari tahu.
Radit menoleh. Sadar. "Ah, tidak. Itu temanku. Dia tidak suka hujan."
Mata Gendis mendapati gelagat aneh dari atasan beda divisi tersebut.
"Kamu tidak bawa payung?" tanya Radit. Memgamati sekitar. Banyak karyawan yang sama terjebak juga. Adapula yang bisa terbebas karena antisipasi membawa payung.
"Tidak, Pak. Aku lupa."
Hening. Hanya suara hujan deras berada di antara keduanya.
Arloji di tangan Radit sudah menunjukkan pukul lima sore lewat sepuluh menit. Jika tidak melesat setengah jam lagi akan segera datang waktu salat Magrib.
"Sebentar lagi Magrib. Jalanan pastj macet," imbuh Radit. Netra kanannya melirik ke samping. Wajah Gendis penuh kecemasan. Pasti perempuan itu bimbang. "Kamu mau pulang bersama?" Tak tega juga meninggalkan perempuan itu di sini.
Gendis langsung menoleh. Hatinya berkata ya, tetapi mulutnya ragu. "Nanti merepotkan Pak Radit. Tidak perlu, Pak."
Penolakan itu tidaklah jujur. Ada sedikit getaran di intonasi perkataan Gendis. Tentu saja perempuan itu sungkan.
"Hujannya tambah lebat. Entah kapan bisa reda. Kamu mau menunggu di sini?" tanya Radit.
Lelaki itu tidak salah. Langit sore ini belum juga cerah. Curah hujan pun bukan berkurang, justru bertambah banyak. Akan memakan waktu yang lama untuk bisa sampai titik akhir. Entah berapa menit atau mungkin jam. Gendis tidak bisa memprediksi.
__ADS_1
"Kita satu gedung ini. Jadi, aku tidak terlalu direpotkan," sambung Radit. Bukan memaksa, tetapi mencoba memberikan penawaran terbaik pada Gendis. Barangkali perempuan itu merasa butuh bantuan, tetapi terlalu sungkan. "Kalau kamu berkenan."
Gendis berpikir lebih matang. Kapan lagi bisa mendapatkan kesempatan ini. Terjebak terlalu lama pun tidak baik. "Kalau Pak Radit tidak keberatan, aku boleh ikut?"
"Aku sudah bilang tidak. Ayo, cepat keluar. Lari sebentar ke arah parkiran." Radit tak lagi menghabiskan waktu dengan berbicara. Lelaki itu bergerak secepat mungkin agar bisa segera sampai rumah.
Gendis menurut. Mengikuti jejak Radit keluar gedung dan berlarian dengan tas menutupi kepala. Mereka sampai di parkiran. Mendekati mobil Radit dan masuk.
"Kita sebaiknya cepat pergi. Jalanan pasti macet kalau waktunya pulang kerja " kata Radit dengan tangan memasang sabuk pengaman.
Gendis mengangguk pelan. "Ya, Pak. Sebelumnya terima kasih karena sudah mau mengajak pulang."
Radit membalas dengan senyuman kecil. Mulai menyetir perlahan keluar parkiran. Hujan pun menyapa kendaraan yang belum sempat dicuci karena pemiliknya terlalu sibuk bekerja.
Begitu keluar gerbang. Mobil Radit melaju di jalanan yang masih saja padat, walaupun sedang hujan deras. Cukup membuat macet sebentar di dekat halte bus.
Gendis menatap luar dari jendala. Hujan itu menenangkan. Menarik pikirannya ke masa lalu yang pernah terlewati dengan indah. Membujuk perempuan berambut panjang itu agar mengenang fase paling berkesan di hidupnya.
Radit fokus menyetir, sampai akhirnya lampu merah di depan menghentikan kendaraan itu. Kemacetan tetap saja terjadi. Memang sudah makanan sehari-hari. Tak bisa dipungkiri.
Radit melirik.
"Hujan itu menenangkan. Pak Radit pernah dengar tidak kalau ada beberapa orang yang lebih senang bertemu hujan daripada cerahnya mentari?" tanya Gendis.
Suasana yang tenang dengan berada di mobil Radit rasanya sebuah mimpi yang sulit dijabarkan.
"Memangnya ada orang seperti itu?" Radit bertanya balik. Bukankah jika cerah setiap manusia bisa melakukan aktivitasnya dengan baik. Sebalikanya jika hujan, beberapa kegiatan harus berhenti. "Apa tidak salah?"
Kepala Gendis menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Memang ada orang yang seperti itu. Mereka lebih senang hujan karena air dari langit itu seperti membawa ketenangan jiwa. Menyuguhkan kedamaian yang sudah lama terbakar panasnya mentari.
Radit menyimak. Tak ada niatan untuk menyela sedikit pun. Membiarkan Gendis berceloteh sesukanya.
Lengkungan senyum kecil dilempar Gendis ke arah luar. Jika keadaannya sedang di desa dengan pemandangan kebun yang penuh bunga dan pepohonan rindang. Sudah pasti semakin kuat rasa damai yang bisa dirasakannya. Sayangnya ia sedang berada di kota metropolitan yang bahkan sulit sekali terdapat rerimbunan seperti itu.
"Orang seperti itu banyak di sekitar kita. Mereka penyuka ketenangan. Tidak terlalu suka berkumpul dengan banyak orang," kata Gendis.
__ADS_1
Jika itu jelas saja Radit paham karena ia sendiri adalah bagian dari kelompok tersebut.
"Tau tidak Pak kalau orang seperti itu punya pemikiran yang lebih dalam karena dia tidak suka banyak bicara, tapi banyak mengamati." Kali ini pandangan Gendis beralih pada Radit. Mata mereka bertemu. Jantungnya berdentam seolah akan meledak.
Radit bergeming.
"Aku mungkin salan satu orang itu. Aku suka hujan, lebih tepatnya suka dengan ketenangan hujan daripada hangatnya mentari," ungkap Gendis tanpa ragu. Ada tarikan kuat yang membuatnya terbuka dan dengan lelaki yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari tersebut. "Bapak sendiri tipe orang seperti apa?"
Belum sempat menjawab. Radit harus segera menyetir. Lampu hijau menyala. Sudah waktunya berjalan lagi. Gendis perlu menunggu untuk bisa mendapatkan jawaban.
Mobil Radit lurus ke depan. Meluncur dengan bebas bersama kendaraan lainnya. Kali ini waktu menuju salat Magrib hanya berjeda sekitar dua puluh menit lagi. Semoga saja tak ada kemacetan yang akan menghadang di depan. Harapan semua orang.
Gendis masih menunggu. Berharap Radit segera membuka mulut supaya rasa penasarannya bisa tertutup rapat.
"Sebelum aku jawab. Aku perlu bertanya dulu." Akhirnya Radit membuka mulut. Berhasil mengejutkan Gendis.
"Soal apa, Pak?" tanya Gendis cepat.
Mobil Radit kembali mengalami kemacetan. Daerah padat yang sudah menjadi langganan setiap hari. Ingin menghindar, tetapi sulit. Sebab, hanya lewat sinilah jalan yang bisa menghubungkan antara kantor dan tempat tinggal mereka.
"Kenapa kamu ingin tau seperti apa aku?" tanya Radit.
Gendis tertegun. Menelan ludah. Salah tingkah. Lebih tepatnya bingung menjawab.
Tanpa ingin menoleh ke samping, Radit lagi-lagi mengajukan pertanyaan. "Apa yang membuatmu penasaran tentang aku?"
Gendis semakin terdesak. Susah berkata-kata. Entah jawaban seperti apa yang bisa memuaskan Radit.
"Sebenarnya aku bukan orang yang bisa akrab dengan orang lain apalagi perempuan. Cuma satu perempuan saja yang dekat, itu pun karena kami sudah berteman lama dari bayi," sambung Radit.
Dari kalimat itu Gendis menangkap sebuah firasat jika Radit punya kisah asmara yang sama sekali tidak terekspos ke publik. Wajar saja karena setiap manusia berhak menentukan arah kehidupannya termasuk membuka atau menutup perihal hubungan asmara.
"Kalau niatmu ingin tau karena untuk mendekatiku dalam artian lebih dari atasan dan bawah, aku rasa kamu akan kecewa akhirnya," tambah Radit. Tidak berniat merusak suasana manis yang tengah Gendis ciptakan.
"Alasannya, Pak?" Gendis memberanikan diri terus bertanya dengan sisa keberanian. Tak peduli jawaban semenakutkan apa yang akan diterimanya. "Aku yakin Pak Radit punya alasan tersendiri."
__ADS_1