
Senin pun datang. Setiap orang kembali ke rutinitasnya masing-masing. Para karyawan bekerja seperti biasa.
Berita pernikahan Kania dan Radit belum menyebar di kantor. Kedua insan itu pun masih bekerja semana mestinya.
Begitu pun dengan Radit. Ia kembali ke kota tempatnya mencari rezeki, walaupun dengan perasaan yang berbeda. Berangkat hari Minggu malam membuat sang Bunda merasa cemas. Namun, Radit berusaha meyakinkan jika tak akan terjadi apa pun.
Sesampainya di apartemen. Radit sendiri langsung mengurung diri sampai Senin pun datang.
Pagi ini tak ada aktivitas yang spesial. Radit bersiap berangkat kerja. Cuaca di kota ini memang sangat rawan hujan angin dan badai. Maka dari itu, ia pun membawa payung ke kantor. Barangkali dibutuhkan.
Mobil Radit meluncur di jalan raya. Bergabung dengan kendaraan lainnya, mengikuti kemacetan yang tidak separah kota kelahirannya.
"Semoga saja aku nggak telat," gumam Radit.
Mengingat pagi ini dirinya bangun terlambat. Bahkan sarapan pun tidak. Tak masalah, masih bisa memesan roti dan kopi nanti.
Radit berhasil melewati kemacetan dengan cepat. Roda empat itu meluncur bebas ke arah tujuan dan akhirnya sampai. Sepagi ini awan gelap sudah mengelilingi kota. Pasti akan hujan. Memang sudah musimnya.
Radit absen kantor sekitar pukul tujuh pagi lewat empat puluh delapan menit. Masih ada dua belas menit untuk membeli kopi dan roti di minimarket sebelah kantor.
Sebelum masuk ruangan, ia kembali keluar. Minimaket itu tidak jauh, samping kedai kopi. Radit bergegas ke sana dan melihat antrian panjang. "Nanti aja. Nggak mungkin sebentar."
Akhirnya lelaki dengan tinggi badan seratus tujuh puluh lima sentimeter itu pun mengurungkan niat. Biar nanti membeli lewat aplikasi online saja. Harga bisa terbilang sedikit mahal belum termasuk ongkos kirim. Akan tetapi, ia bisa menghemat waktu.
Radit kembali ke kantor. Baru sampai pintu utama, satpam yang berjaga memanggilnya sopan. "Pak Radit," panggilnya.
Radit berhenti. Menoleh ke samping kanan. "Ya, Pak."
Satpam itu membawa bingkisan berwarna hitam. Berdiri di depan Radit dan berkata, "Ini ada titipan dari Neng Gendis bagian keuangan."
Radit mengerutkan kening. "Titipan apa, Pak?"
__ADS_1
"Saya kurang tau, Pak." Dengan sangat sopan Satpam tersebut memberikannya pada Radit. "
Radit mengambil alih. "Baik. Terima kasih, Pak." Tanpa ingin tahu isinya sekarang, Radit segera masuk kantor sambil menenteng bingkisan tersebut.
"Sama-sama, Pak Radit." Satpam kembali bertugas. Sepuluh menit sebelum Radit sampai, Gendis datang dan meminta tolong. Mungkinkah mereka memiliki hubungan. Bisa saja. "Pak Radit itu tampan, pasti banyak fans-nya."
Radit sampai di ruangan setelah menyapa para bawahan. Hal yang selalu rutin dilakukan setiap pagi. Wajar namanya sangat baik karena adabnya pun dijaga dengan sebaik mungkin.
Radit duduk di meja. Di sinilah rasa penasaran mulai terasa. Ia membuka bingkisan berwarna hitam itu dan menemukan satu kotak bekal dan satu wadah minum.
Ketika dikeluarkan, ternyata isinya adalah sandwich isi telur dengan kopi capuccino kesukaan Radit. Sejenak lelaki itu diam, padahal tak sedikit pun terpikirkan Gendis akan memberikan perhatian sejauh ini.
Di bingkisan itu pun ada secarik kertas dengan tulisan indah 'Saya harap Pak Radit bisa makan dengan baik' sesuatu yang membuat lelaki yang tengah kurang bersemangat itu pun tersenyum kecil.
"Aku harus ucapkan terima kasih nanti kalau ketemu," imbuh Radit.
Pemberian Gendis diterima baik oleh Radit. Pas sekali. "Bismillah." Tanpa canggung Radit mulai memakan satu sandwich tersebut. Rasanya pas dan enak. "Dia jago juga masaknya."
Sementara itu di ruangan berbeda. Gendis cemas akan titipannya pada satpam, akankah diberikan pada Radit? Sepertinya tidak mungkin sampai lupa.
"Kamu kenapa?" Teman di sebelah kanan memperhatikan Gendis. "Lagi dapat, ya?"
Gendis menggeleng cepat. "Nggak, Mbak."
Orang yang lebih tua ini sudah dianggap Gendis sebagai Kakak perempuan. Mungkin karena ia selalu hidup sendiri saja.
"Atau lagi ada masalah? Coba cerita ke Mbak," tanyanya lagi
Gendis diam sejenak. Memperhatikan laptop dan menutup sebuah aplikasi. Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Barangkali kakak perempuannya ini punya solusi.
"Jangan ragu. Kamu bisa cerita apa saja."
__ADS_1
Selalu saja kalimat ini yang menjadi perayu Gendis agar bisa lebih terbuka. Gendis menoleh ke samping kanan. Menatap lekat-lekat wanita yang bernama Jeni tersebut. "Mbak, pernah jatuh cinta nggak?"
Jeni terkekeh geli. "Pertanyaan kamu ini lucu. Mana mungkin Mbak nggak pernah jatuh cinta. Udah sampai tahap menikah juga."
Gendis tersenyum malu, lupa. "Maaf, Mbak." Menundukkan kepala.
Jeni menggeserkan kursinya ke arah meja Gendis dan berkata, "Kamu lagi jatuh cinta, ya?"
Gendis mengangguk pelan. "Bisa dikatakan begitu, Mbak. Tapi ..." Perempuan itu kembali bungkam. Jika ingat penolakan Radit minggu kemarin memang sedih, tetapi lelaki itu berhak memilih.
Jeni menyentuh tangan kanan Gendis seolah bisa menebak cerita selanjutnya. "Kamu bisa cerita apa pun. Apa lelaki itu ada di sini?"
Suasana kantor sedang tidak diburu-buru. Dengan seperti itu mereka bisa berbincang sebentar saja.
"Dia karyawan di sini juga?" Jeni penasaran. Lima tahun lebih Gendis menutupi diri. Begitu mendengar kabar jatuh cinta, jelas saja Jeni senang bukan main.
Keraguan tersirat di sorot mata Gendis. Takutnya ada orang yang mendengar, lalu menyebar luaskan. Pastinya malu.
"Kamu bisa diam kalau belum siap." Jeni mengelus tangan Gendis. Memberikan support adalah hal yang paling penting saat ini. Memastikan jiwa adiknya itu tenang dan siap juga perlu. "Tapi, jangan terlalu lama dipendam. Nanti banyak jerawat, lho."
Jeni tertawa kecil dan berhasil menarik suara tawa juga dari bibir Gendis. Kecil memang. "Nah, lebih baik ketawa daripada cemberut. Mbak, jadi senang."
Satu hal yang membuat Gendis nyaman di sini adalah keberadaan Jeni. Tak peduli tanggapan orang seperti apa pun tentangnya, bahkan ketika terpuruk pun. Ia masih bisa sedikit tenang karena kehadiran Jeni.
"Mbak, orang itu ada di sini. Mungkin lebih tinggi dari kita kedudukannya. Aku belum bisa ungkap identitasnya, tapi dia sudah menolakku minggu kemarin," ungkap Gendis perlahan bisa terbuka.
Pupil mata Jeni membesar. Kaget. Hanya saja perempuan itu tidak bisa berbuat banyak karena tidak baik juga terlalu ikut campur.
"Dia punya wanita pilihan di kota lain. Katanya, wanita itu cinta pertama sekaligus teman masa kecilnya. Aku sempat iri. Bayangkan saja bagaimana beruntungnya si Wanita karena bisa mendapatkan lelaki sehebat dia." Seukir senyum tipis menghiasi bibir Gendis.
Jeni dengan cepat merangkul Gendis. Bukan nasihat yang dibutuhkan wanita itu, tetapi pelukan hangat agar bisa menguatkan hati. "Jangan sedih. Kalau sudah jodoh, pasti nggak akan ke mana. Tuhan itu adil dan baik."
__ADS_1