
"Memangnya apa yang terjadi lagi, Mas?" Kania semakin penasaran. Pasti ada hal mengejutkan di luar dugaan. "Aku nggak tau seberapa berat masa lalu Mas, tapi mungkin Mas bisa ceritakan secara detail agar aku nggak menerka-nerka.
Sejenak Rangga terdiam. Sorot kedua mata Kania menunjukkan hal yang sama dengan ucapannya. "Malam itu, aku ada di sana juga." Rangga sengaja menjeda ucapannya. Terlihat sekali kedua bola mata Kania membulat sempurna. "Kami datang ke ruangan itu karena kakakku yang mengajak. Dia bilang ada hal penting yang perlu dibicarakan. Kami keluar tanpa sepengetahuan Ayah di tengah malam."
Mulut Kania tak bisa lagi berkata-kata. Terlalu tragis untuk dijadikan satu cerita dalam bentuk tulisan. Mungkin yang membaca bisa merasakan perihnya juga. Jurang itu dalam, dan ironisnya Rangga terjun bebas ke sana.
Rangga sudah yakin dengan keputusan untuk lebih terbuka. Kania berhak tau. "Beberapa menit sebelum kejadian, kakakku membisikkan satu kalimat yang sampai sekarang masih membuatku merinding. Tidak percaya."
Kania tak lagi menyela, biarkan saja Rangga berbicara sesukanya agar semua misteri ini segera terbuka dengan lebar.
Helaan napas Rangga berat. Ada beban di dadanya. "Kakak menitipkan matanya untuk dijaga. Aku sempat bertanya alasannya, kenapa berbicara seperti itu? Tapi, jawabannya sama gilanya juga. Kakak ingin mata itu terus berguna dan bisa melihatnya kekasihnya sepanjang akhir hayatku. Setelah itu, Kakak mengucapkan selamat tinggal dan akhirnya mengakhiri hidup. Aku mengetahui itu karena Ayah datang di waktu tubuh Kakak meluncur ke bawah."
Otak Kania sulit menerima. Ini sebuah drama bukan? Rasanya terlalu rumit dan menyakitkan. "Lalu, reaksi ayah seperti apa, Mas?" Inilah momen paling membuat penasaran. Kania ingin lebih tau.
Dua sudut bibir Rangga terangkat ke atas membentuk senyuman kecil, reaksi yang menurut Ririn cukup mengerikan. "Dia marah, kecewa dan menyalahkanku."
"Lho, kenapa? Mas, kan, nggak tau kalau dia mau bunuh diri?" Kania sedikit kesal. Dipikir berapa kali pun, Rangga tak ada andil dalam keputusan pengakhiran hidup anak pertama dari mertuanya tersebut. "Aku bingung."
"Karena Ayah merasa aku pembawa sial keluarga. Terlebih, Kakak rupanya sudah menyiapkan wasiat untuk melakukan pendonoran kedua kornea mata untuk aku. Itulah kemarahan Ayah." Mimik wajah Rangga terlihat kecewa. Menyayangkan wasiat sang Kakak. "Aku beberapa kali menolak, lebih baik buta. Tapi, bisikan terakhir Kakak selalu menghantui sepanjang hari. Aku hampir gila, dan akhirnya meyakinkan diri untuk menerima."
__ADS_1
Cerita Rangga tak sampai selesai di sana. Masih ada kelanjutan yang paling menarik, lelaki itu memberikan beberapa menit untuk jeda. Dan, Kania pun memahami itu. Setelah dirasa cukup tenang, barulah melanjutkan. "Ayah akhirnya juga menyetujui dengan catatan aku harus mau menjadi penerus perusahaan. Sama sekali tidak ada pembahasan mengenai cucu. Sampai kedua mata itu terpasang, barulah Ayah meminta cucu. Aku marah, pernah nekad meminta operasi pasang kornea mata. Aku tidak mungkin melibatkan orang lain, karena cuma dengan pernikahan sajalah bisa memberikannya cucu kandung."
Sarapan pagi itu terasa berbeda dengan suasana yang mengharu biru. Kania bisa merasakan aura kesakitan di bahasa tubuh suaminya. Kasihan juga.
"Aku beberapa kali memintamu untuk mundur, tapi kamu keras kepala. Sudah usaha untuk menarikmu dari lembah menyakitkan ini, tapi lagi-lagi kamu sulit mendengarkan. Aku bukan memanfaatkan situasi. Ini jelas salah. Tapi, kalau yang bersangkutan sudah susah disadarkan, lantas aku harus apa?" Rangga meneruskan kalimatnya.
Kania diam lagi. Benar juga apa yang dikatakan sang suami. Ini adalah hasil dari keputusannya di masa lalu, tentu ada risiko yang harus dihadapi.
"Seperti kemarin, aku rasa kamu nggak perlu melahirkan anakku. Ikuti saja arahan jiwamu sendiri. Tubuhmu, milikmu, aku tidak seharusnya memaksa," lanjut Rangga.
"Aku udah janji, Mas." Kania tidak terbiasa berbohong.
"Jangan dengarkan Ayah. Kamu bisa melakukan apa yang menurutmu terbaik. Biarkan aku yang menghadapi Ayah. Kamu cukup buat diri nyaman sekarang."
Rangga terkejut.
"Mungkin sudah waktunya kita saling berjuang. Aku mungkin belum sepenuhnya menerima, tapi usaha untuk bisa ke titik itu. Pasti aku lakukan." Tekad Kania kuat. Tak suka bermain-main dengan satu keputusan, walaupun dalam menjalaninya terkadang menghasilkan banyak kesesakan.
"Kita bicarakan ini nanti, ya. Sepertinya bakal terlambat bekerja." Rangga memilih menghindar. Perasaannya sedang tidak enak, bisa saja mengeluarkan kalimat menyakitkan.
__ADS_1
Kania cukup menurut. Tak masalah. Waktu pun terus berjalan dan mereka tidak bisa hanya membahas ini sebentar. Pastinya perlu mendiskusikan lebih lanjut dengan tempo yang cukup menguras waktu.
Setelah makan, Kania mencuci piring. Membiarkan Rangga untuk bersiap di kamar. Semuanya selesai, Rangga pun sudah ke lantai bawah dengan membawa serta tas berwarna hitam milik istrinya.
"Hari ini aku ada meeting sama klien. Kalau kamu mau, ikutlah makan siang." Rangga memberikan tas pada Kania. "Waktunya juga di jam makan siang, tenang aja."
Kania langsung mengambil tas, berjalan lebih dulu dan berkata, "Aku lihat nanti dulu, ya, Mas. Takutnya banyak pekerjaan." Bukan menolak. Namun, dirinya sadar sebagai seorang karyawan biasa.
Rangga tak masalah. Mereka sama-sama memiliki kepentingan sendiri. Dengan cepat menyusul sang Istri, keluar rumah, tak lupa mengunci pintu mengingat hari ini tidak ada pembersih rumah yang datang.
Kania masuk lebih dulu, kemudian disusul Rangga. Tak berapa lama mobil melaju meninggalkan depan rumah, melewati pagar dan bergabung dengan kendaraan lainnya. Selama di perjalanan, ada yang janggal di perkataan Rangga tadi. Sepanjang itu pula Kania memikirkan keras.
Sepuluh menit kemudian, mobil Rangga sampai di parkiran kantor. Lelaki itu sudah membuka sabuk pengaman, menoleh ke samping dan mendapati Kania terbengong. "Ada apa?" tanyanya.
Kania menoleh juga. Menatap Rangga lekat. "Aku ingat tadi Mas bilang kalau Kakak nitipin mata itu biar bisa melihat kekasihnya. Nah, yang jadi pertanyaan kekasihnya itu siapa?" Memilih mengutarakan daripada pertanyaan itu berperang di otak, yang ada hanya pusing dan penasaran.
Rangga menelan ludah.
"Kalau seperti itu, Mas sering ketemu kekasihnya itu?" Kania melanjutkan pertanyaan. Sebab, ada pembahasan yang menjurus ke sini juga. "Kalau Mas diamanatkan seperti itu, artinya Mas mengunjungi kekasihnya biar mata itu bisa menangkap sosoknya?"
__ADS_1
Rangga sempat terdiam. Ekor mata kanan melirik ke depan. Sudah saatnya mengungkapkan fakta. "Aku beberapa kali menemuinya tanpa sepengetahuan. Kalau diingat, mungkin setahun sekali selama empat tahun. Dia sendiri tidak tau."
Kerutan di kening Kania jelas terlihat. "Jadi, siapa kekasihnya itu?" Ini momen paling ditunggu juga. "Apa Mas pernah juga punya rasa ke dia? Kan, itu bisa aja terjadi, karena biasanya cinta itu mulai dari mata dan akhirnya turun ke hati. Sama seperti Mas ke aku dulu."