Dua Lelaki

Dua Lelaki
Mengulang Masa Lalu


__ADS_3

"Ayah, mau punya cucu karena ingin menebus dosa masa lalu." Pak Gani berbicara dengan sangat tulus. Kania bisa melihat jelas. "Kalian pasti membenci Ayah bukan?" 


Rangga tertegun, Kania melirik suaminya.


Pak Gani beberapa kali menghela napas kasar, tetapi tak menurunkan kepala. Tetap tegak lurus melihat ke arah anaknya. "Maaf, Nak."


Rangga seketika berbalik badan, pertama kali dalam hidupnya mendengar kata itu dari sang Ayah. Menatap lekat wajah Pak Gani, seorang Ayah yang tidak pernah menganggapnya ada. 


Pak Gani melebarkan senyum. "Mungkin cara Ayah salah, tapi sebelum Ayah menarikmu ke perusahaan. Ayah sudah lebih dulu mencari tahu sosok calon istri yang baik untukmu. Dan, istrimu ini kandidat paling baik. Wanita yang bisa menjaga diri juga marwahnya terhadap lawan jenis."


Kania tersentak. Apa mungkin selama ini dirinya diawasi? Bisa saja.

__ADS_1


"Maksud Ayah?" Rangga sedikit tersentak.


Pak Gani dengan berdiri tetap tegak menatap sang Anak, melangkah ke depan sekali. Kini benar-benar hanya setengah meter saja jaraknya dengan Rangga. Memegang kedua bahu Rangga seraya berkata, "Di dunia ini, semua Ayah mau anak-anaknya bahagia. Mau yang terbaik bagi mereka. Tapi, mungkin Ayah berada di jalan yang salah. Ayah lebih menjurus ke arah memaksa kalian berdua. Tapi, melihat tatapan kalian datang ke sini hari ini, Ayah rasa kesalahan itu bisa juga menjadi manis."


"Ayah, senang melihat Kania tersiksa?" tanya Rangga.


Pak Gani terdiam. Kemudian, berujar, "Maaf, karena ini istrimu terluka."


Pak Gani beralih menatap menantunya. "Maaf, Naik." Kali ini permintaan maaf itu tertuju untuk sang Menantu. "Terima kasih sudah berkenan hadir di keluarga kami."


Kania tersenyum kecil.

__ADS_1


Suasana begitu hening, bahkan tidak ada suara lagi di antara mereka. Namun, perlahan suasananya pun tidak terlalu menegangkan. Ada kalanya perselisihan itu berubah menjadi manis ketika kedua belah pihak memilih untuk terus berdamai.


"Nak, Ayah minta maaf atas semua perlakuan dari pertama kamu lahir sampai sekarang. Maaf, karena mungkin kamu menjadi sasaran kemarahan juga kekecewaan Ayah terhadap kakakmu yang memilih mengakhiri hidup." Pak Gani menyesal.


Rangga diam. Kalimat itu baru didengarnya sekarang, tetapi terasa tidak menyentuh hati. Mungkin karena terlalu terbiasa dengan namanya paksaan dan bisa berdamai dengan diri tanpa sentuhan kasih sayang.


Tangan Pak Gani masih ada di kedua bahu sang Anak. Mengelus pelan sambil berkata, "Kalau suatu saat kamu punya anak, Ayah pastikan akan menebus semua kesalahan. Ayah, akan ikut mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Dia mungkin tidak tau apa-apa, tapi setidaknya Ayah bisa mengulang lagi masa kecil kamu dan kakakmu waktu dulu."


Kania menunggu reaksi suaminya. Entah akan seperti apa. Sebab, dari sorot mata Rangga memang menyiratkan banyak kemarahan juga kekecewaan terhadap sang Ayah. Hanya saja, setiap manusia itu memiliki hak yang sama untuk berubah di masa depan.


"Ayah." Akhirnya Rangga buka suara. Memejamkan mata sejenak, seakan sulit mengucapkan kata-kata. 

__ADS_1


Pak Gani menunggu dengan pikiran tak karuan. Apa pun yang dikatakan Rangga adalah keputusan anaknya itu. Ia hanya perlu menghormati mulai sekarang. "Bicaralah, Nak. Kalau kamu marah, itu hakmu. Kalau kamu menolak, itu pun hakmu. Ayah sudah tua dan baru menyesal sekarang. Maaf."


__ADS_2