
"Ada wanita yang sedang aku tunggu," jawab Radit tanpa ragu.
Gendis mengulum senyum kecil. "Pasti perempuan itu hebat karena bisa mencuri perasaan Pak Radit." Tak dipungkiri sedikit sesak terasa. Padahal seharusnya tidak karena mereka baru bertemu. "Aku iri."
Tanpa ragu Gendis pun mengutarakan perasaannya.
Lalu lintas kembali normal. Waktu semakin mendekati Magrib. Radit memacu kendaraannya agar bisa sampai sebelum azan berkumandang.
Gendis diam. Tak ada lagi percakapan di antara mereka. Menutup semua akses obrolan yang awalnya terasa menyenangkan.
Mereka sampai lima menit sebelum azan. Gendis berterimakasih beberapa kali karena bisa selamat dari jebakan hujan berkat Radit.
"Bukan aku yang baik, tapi Allah yang merencanakan semuanya," kata Radit.
"Ah, iya, Pak. Tuhan itu baik."
Perbedaan di antara keduanya tidak menjadi penghalang untuk terus berbuat baik. Sebab, setiap kebaikan itu memang harus terus ditularkan sampai kapan pun.
"Kalau gitu aku pamit dulu, Pak." Gendis pergi lebih dulu dari parkiran apartemen. Menyisakam Radit sendiri dalam keheningan sisa hujan.
Mata Radit menatap punggung Gendis. Ia tahu, tetapi diam. Tak seharusnya menyakiti. Namun, langkah ini lebih baik dari sekadar memberi harapan palsu.
"Aku harus siap-siap. Besok waktunya pulang. Nggak sabar ketemu Bunda," ujar Radit sambil berjalan ke arah gedung tinggi yang memiliki banyak lantai tersebut.
Sementara itu Gendis sudah lebih dulu naik lift dan sampai di lantai empat. Masuk ke apartemen miliknya dan menutup pintu secepat mungkin. Gadis itu menyandarkan punggung ke pintu. Pengakuan Radit sedikit melukai hati.
"Padahal aku nggak seharusnya seperti ini. Pak Radit itu pasti sudah punya kisah asmara sendiri. Aku terlalu hanyut karena Pak Radit mirip dengannya." Tubuh Gendis perlahan merosot ke bawah. Bagaimana pun kehilangan itu menyakitkan.
Tak disangka semesta mempertemukannya dengan sosok yang luar biasa. Sungguh … ia kurang paham dengan jalan takdir yang tengah bergulir mengiringinya.
"Sebenarnya Tuhan itu mau aku seperti apa? Kenapa harus sama? Kenapa harus mirip?" Gendis menyembunyikan wajah di kedua paha. Menutupnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
###
Waktu kepulangan datang. Jumat malam Radit bersiap-siap setelah salat Magrib. Ia membawa tas laptop yang memang sangat diperlukan. Keluar apartment untuk turun ke bawah.
Kepulangannya kali ini pasti disambut hangat oleh sang Bunda. Selain karena rindu, wanita paruh baya itu memiliki pembahasan penting yang perlu diselesaikan oleh mereka berdua. Entah apa topiknya.
"Bismillah. Semoga selamat sampai tujuan." Radit mulai menyetir. Senang rasanya bisa pulang. Bertemu keluarga dan tentunya wanita pujaan.
Dari salah satu kamar di lantai empat Gendis memandangi mobil Radit berlalu meninggalkan gedung itu. Kepergian sang Atasan sekaligus teman baginya menyisakan kesedihan. Dua hari tanpa berinteraksi dengan lelaki itu pasti terasa sepi. Ingin melarang. Namun, tak punya hak. Ia hanya seorang bawahan yang berkesempatan memiliki hubungan lebih dekat dengan Radit.
"Aku iri pada wanita itu. Mata Pak Radit nggak bisa bohong. Cinta itu ada." Perlahan Gendis menutup gorden. Bergerak ke arah ranjang dan merebahkan diri lagi. Weekend inu akan lebih suram tanpa kehadiran Radit yang sering bertemu saat makan siang.
Sementara itu Radit sendiri tengah berada di suasana hati paling indah. Ia bahkan menyetir sambil melantunkan nyanyian dari salah satu band terkenal papan atas.
Saat melewati jalanan kota ini. Radit melihat penjual kue brownies yang memang menjadi salah satu ciri khas di sini. Tanpa pikir panjang lelaki itu bergegas menepikan mobil. Keluar sebentar untuk membeli beberapa variasi rasa. Bukan hanya untuk Kania, tetapi juga orang tua.
"Pasti Nia senang," kata Radit penuh keyakinan. Kembali mengemudi.
Sebagai seorang teman dari lahir, tentu Radit sudah paham makanan apa yang menjadi kesukaan perempuan berhijab tersebut. Bagaimana wanita yang bernama lengkap Kania Putri Cantika tersebut menyukai apa pun makanan manis. Bahkan Kania bisa menghabiskan satu kotak coklat jika tidak ada yang melarangnya.
Perjalanan itu ditempuh dengan waktu sekitar lima jam lebih. Radit sampai di rumah tepat pukul dua belas malam lewat lima menit. Lelah, pasti. Namun, tidak akan terasa jika diberi hadiah paling indah.
Mobil terpakir manja. Radit membawa beberapa bungkus kue ke dalam setelah memencet bel dan bundanya membukakan pintu.
"Assalamualaikum," kata Radit pelan. Ini tengah malam. Tentunya sang Ibu sudah seharusnya istirahat. Tidak enak juga.
Bu Irma menyambut senang dengan senyuman manis di bibir. "Wa'alaikum salam." Memeluk anaknya erat. Bersyukur pada Tuhan karena memberi keselamatan pada putra semata wayangnya tersebut. "Alhamdulillah, kamu pulang dengan selamat, Nak." Cinta seorang Ibu terasa lekat. Ini tidak main-main.
Radit senang. Di sini cintanya berada melebih cintanya pada Kania. Sang Bunda adalah titipan Yang Maha Kuasa untuk senantiasa dijaga pada masa tuanya. "Iya, Bun."
Radit menikmati kehangatan yang terjadi. Senang luar biasa. "Maaf, mengganggu waktu tidur Bunda." Kalimat sesal pun terlontar dari mulut Radit.
__ADS_1
Tak ada kata ganggu dalam kamus seorang Ibu. "Nggak, Nak. Bunda malah cemas karena takut kamu kenapa-napa di jalan."
Sehebat apa pun seorang anak, tetap saja Ibu akan mengkhawatirkannya. Menganggap mereka anak kecil yang masih butuh cinta kasih tanpa batasan usia.
Bu Irma melepaskan pelukan. Tersenyum manis dengan memandangi wajah anaknya. Lelah pasti. "Kamu sebaiknya istirahat. Bunda, siapin makan malam."
"Iya, Bun."
Bagi seorang anak bisa pulang ke rumah dan menikmati masakan orang tua adalah keberkahan. Impian serta kerinduan. Tak bisa lupa bagaimana rasa masakan yang bercampur dengan cinta itu dibuat serta dihidangkan. Itulah bentuk berhasilnya orang tua pada seorang anak.
"Bunda, ke dapur dulu, ya," ujar Bu Irma.
Radit menyodorkan dua bungkus brownis. "Ini oleh-oleh buat Bunda. Yang dua ini buat Kania sama keluarganya."
Cinta itu nyata. Dapat dilihat tanpa perlu memakai alat. Saat ini Bu Irma bisa melihat jelas cinta anaknya pada anak tetangga yang juga sudah dianggap anak kandungnya sendiri.
"Kamu selalu ingat Kania di mana pun, ya, Nak," goda Bu Irma.
Radit sedikit malu. Bundanya sendiri bisa melakukan itu. Mungkinkah ia ketahuan.
"Kan, dia teman dekat aku, Bun. Nggak ada lagi," jawab Radit berusaha menutupi kegugupannya.
Bu Irma mengambil alih kantong kresek yang diberikan Radit. "Makasih, ya, Nak. Ya sudah, kamu ganti pakaian dulu."
"Iya, Bun."
Bu Irma lebih dahulu masuk ke dalam rumah, sedangkan Radit diam sejenak. Orang asing pun mungkin akan bisa menebak dengan mudah jika Radit bersikap seperti itu.
Setelah merasa lebih baik, Radit pun segera pergi ke lantai dua. Kamarnya lama tak terhuni. Memang sangat bersih karena dirawat bundanya dengan baik. Wanginya pun masih sama.
"Selamat datang lagi di kamar paling nyaman," imbuh Radit sembari masuk ke area kamar paling dalam. Menutup pintu sebelumnya dan menyimpan tas.
__ADS_1
Radit membanting diri ke kasur. Lelah sekali. Menyetir sendiri selama empat jam tanpa istirahat itu memang melelahkan. Menguras tenaga sampai rasanya ingin cepat masuk ke alam mimpi. Namun, tidak enak juga jika harus menolak makan malam dari bundanya.
"Sayang banget kalau dilewati," gumam Radit bangkit dari tidur. Malam ini akan segera berakhir, tetapi perutnya minta diisi lebih dulu.