
Malam pun datang menyapa. Kania dan Rangga berada di kamar hotel yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Di hotel yang sama pun keluarga mereka menginap. Akan pulang saat esok tiba.
"Aku mau ke lantai bawah dulu. Ada perlu sama Ayah. Kamu bisa tidur lebih awal. Jangan begadang, nggak baik untuk kesehatan," kata Rangga sambil berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan Kania sendiri yang kini sudah memakai pakaian tidur setelan panjang lengkap dengan hijabnya.
"Iya, Mas." kania langsung menyahut. Setelah memastikan suaminya keluar. Lelah sekali hari ini. Rasanya semua badan Kania remuk tak karuan. "Astagfirullah, badanku sakit semua." Perempuan itu meregangkan kedua tangan sambil berdiri. "Acaranya sampai mau magrib. Tamu dari pihak Rangga itu banyak banget sampai rasanya nggak habis-habis."
Kania bergerak ke arah ranjang. Duduk di tepi bagian kanan dan akhirnya berdiam diri. Pikiran perempuan itu terbang menuju angkasa, mengingat lagi kejadian di pelaminan beberapa jam lalu.
Menurut penuturan Rangga setelah acara selesai. Wanita berkemeja itu adalah tante dari ayahnya yang memang tidak suka pada sang Ibu sejak menikah. Terlebih ketika Rangga lahir dengan keadaan cacat, tentu saja kebencian itu bertambah-tambah.
"Aneh banget. Padahal setiap anak itu unik, tapi masih ada orang yang berpikiran pendek." Kania menghela napas kasar. Rasanya tadi ia pun ingin angkat bicara, tetapi ditahan karena posisinya masih di pesta. "Hal sesensitif ini harusnya dibicarakan secara pribadi. Mungkin benar kata Mas Rangga, Tante itu memang nggak suka dari awal."
__ADS_1
Badannya yang remuk direbahkan pada ranjang empuk. Suasana kamar hotel suit itu memang megah, terlebih dihias khusus pengantin. "Empuk banget. Kalau ranjang orang kaya memang seperti ini, ya. Enak banget." Perlahan mata Kania terpejam dengan posisi tidur melintang dan terlentang. Tak ingat jika saat ini dirinya bukan sendiri.
Sementara itu Rangga turun ke lantai bawah sesuai keinginan sang Ayah. Mereka bertemu di lobi hotel.
"Istrimu sudah tidur?" tanya Pak Gani sambil duduk di salah satu kursi sambil menikmati segelas kopi.
Rangga menarik kursi di depan sang Ayah, duduk dengan tenang sambil mengangguk. Andaikan bukan ayahnya yang memanggil, mungkin ia akan lebih memilih tidur di kasur empuh. Ah, lupa, mungkin saja sofa.
Kopi itu tidaklah panas lagi. Sepertinya sudah lama juga Pak Gani tidak bersantai seperti ini. Terlihat jelas dari raut wajah yang terlalu banyak beban itu. "Ayah ingin istirahat, teruskan perusahaan dan pastikan istrimu melahirkan anak laki-laki."
Tangan kanan Pak Gani mengepal di bawah. Menahan amarah yang ingin meledak seketika. Mereka berbicara sekitar lima menit, lalu Rangga pamit. Lelaki itu pamit dan segera naik lift menuju kamarnya.
__ADS_1
Sesampai di depan kamar. Rangga diam, menghela napas kasar dan meyakinkan diri jika ia sanggup menjadi imam bagi Kania mulai sekarang sampai seterusnya. "Bismillah, mudahkan urusanku, Ya Rabb." Debaran jantung Rangga seakan menjadi pertanda memang cinta itu begitu dalam dan tulus. Berharap Kania bisa menerimanya perlahan-lahan, walaupun tidak sepenuhnya.
Pintu dibuka, Rangga masuk. Terkejut melihat Kania sudah tidur melintang. Bergerak mendekati, melihat wajah perempuan yang kini raganya sudah bersama, tetapi hatinya tetap terbang di tempat lain. "Apa dia tidur memang seperti ini, ya, di rumah?" Rangga biasa disiplin sejak kecil, bahkan jam tidur serta posisi dan tempat pun akan selalu sama.
Maka dari itu, Rangga berniat menggeserkan posisi istrinya dengan cara membangunkan. Nihil, perempuan itu tidak bangun. Ia lama berdiri sambil memikirkan cara dan satu-satunya hanya dengan memboyong tubuh perempuan. Kemudian, merebahkannya di sisi kanan. "Nggak ada lagi cara."
Dengan sangat terpaksa dan tanpa izin, Rangga mulai mengangkat secara bersamaan tubuh Kania. Wajah perempuan itu semakin dekat, Rangga menelan ludah. Secepat kilat menyadarkan diri, lalu bergerak ke arah kanan.
Ketika akan merebahkan kembali Kania, mendadak perempuan itu terbangun. Mata Kania indah dengan hidung manis. Perempuan itu tersenyum dan berkata, "Dit, kita menikah, ya?" Ia belum sadar sepenuhnya.
Hati Rangga tertegun. Saat tidur pun yang diingat Radit. Ia diam sejenak dengan posisi kepala Kania sudah direbahkan.
__ADS_1
"Aku berharap ini bukan mimpi." Mata Kania perlahan terpejam lagi bersamaan dengan remuknya perasaan Rangga. Lelaki itu pun menjauh. Merebahkan diri di samping kiri dan menatap langit-langit kamar. "Kania, semoga mimpimu indah." Dengan cepat menggerakan badan ke samping.
Sekitar dua menit dari itu terdengar pergerakan Kania dari belakang. Dan, sebuah kejutan terjadi. Tangan kiri wanita itu memeluk erat tubuh Rangga seakan saat ini yang Kania peluk adalah Radit. Rangga sendiri diam, ingin bergerak pun percuma. Biarkan saja.