Dua Lelaki

Dua Lelaki
Menginap


__ADS_3

Radit juga mendengar kabar tentang sakitnya Kania. Namun, lelaki itu mengurungkan niatnya ketika melihat sendiri Rangga berlarian dan masuk ke ruangan khusus karyawan yang sakit. Lelaki itu memilih pergi. Jangan sampai mengganggu.


Rangga keluar ruangan dengan jantung yang masih sulit dikendalikan. Berpacu dengan cepat seolah baru mendapatkan hadiah tahun baru paling indah. "Ayo, kerja. Ini masih jam kerja." Pria itu menyadarkan diri. Tak mungkin akan terus seperti ini. 


***


Seminggu sudah setelah hari itu, Rangga harus pergi keluar kota untuk dinas. Kania sendiri memilih menemui keluarga, anggap saja sebagai bentuk rasa rindu untuk berkumpul kembali.


Kedatangan Kania disambut baik oleh sang Ibu, tidak untuk Adit. Anak yang remaja yang sudah mengenal arti cinta itu selalu saja kurang suka dengan Kania. Sebab, perempuan yang sudah menikah itu selalu mengganggu waktu tenangnya.


Malam itu Kania makan malam dengan keluarga. Pak Kemal bersikap seperti biasa, belum ada lagi perbincangan di antara mereka. Sepertinya Ayah dari dua anak itu menghindari untuk bertemu dengan Kania hanya untuk menenangkan diri.


"Nak, suamimu ke luar kota berapa hari?" Bu Lala memulai percakapan di meja makan.


Menu makan malam kali ini adalah sayur sop dengan menu pelengkap lainnya seperti kerupuk udang dan sambal. 

__ADS_1


Kania menelan lebih dulu makanannya. "Kata Mas Rangga, sih, bilangnya sekitar empat hari aja." Telinga Kania tidak salah dengar. Suaminya tadi berkata demikian. "Kalau urusan sudah selesai, bisa tiga hari aja."


"Berarti selama itu juga, Kakak bakal ada di ini?" Adit itu andil dalam percakapan. Hanya Pak Kemal yang tak banyak bicara. Reaksi Kania hanya mengangguk cepat. Sontak anak lelaki itu menepuk kening kencang. "Bahaya! Ini nggak bisa dibiarkan."


Kania melirik Adit. "Ada masalah, Dek?" Rasanya ia tak berbuat kesalahan. Kedatangannya pun ke sini atas izin dari Rangga.


"Masalah buat aku." Adit menoleh ke arah Kania juga. "Kalau ada Kakak, hidup tenangku terganggu. Pasti aja ada hal yang selalu dibuat. Dek, minta itu lah! Dek, tolong ambilkan itu lah! Aku, kan, di sini juga anaknya Bunda sama Ayah, bukan pembantu."


Kania terkekeh geli. "Memangnya siapa yang bilang kalau kamu pembantu, Dek? Lagian Kakak minta tolong sebentar doang." Kania kembali fokus pada makanan.


Kania tertegun. Nada bicara sang Ayah memang pelan dan lembut, tetapi kali ini terasa sedikit berbeda. Bahkan hal ini pun bukan hanya dirasa oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh Adit dan Bu Lala. Kania mengangkat kepala. Menatap Pak Kemal lurus. "Ya, Ayah." Menelan ludah, perasaannya kurang enak. 


"Ayo, makan dulu. Nanti nggak enak." Bu Lala mencairkan suasana. 


"Iya, Bun." Adit dan Kania pun menjawab cepat.

__ADS_1


Makan malam kali ini lebih hangat dari sebelumnya, sebab Kania berada di lingkungan yang penuh dengan cinta. Tak ada kesepian, di sini keluarga yang akan selalu merangkulnya dalam keadaan apa pun.


Makan selesai. Sebelum berbicara dengan sang Ayah, Kania lebih dahulu membantu ibunya di dapur. Membersihkan piring kotor dan juga dapur. Di malam hari, area dapur harus bersih sebelum tidur. Hal ini sudah dilakukan Bu Lala sejak pertama menikah.


"Aku ke kamar sebentar, ya, Bun. Lupa belum cas HP. Ayah juga pasti nunggu," kata Kania pamit.


"Iya, Nak." Bu Lala sebenarnya kurang baik setelah sang Suami meminta bertemu empat mata saja dengan anaknya. 


Kania langsung naik ke lantai atas, tepatnya kamar dirinya sendiri. Tak lupa melakukan hal yang memang sudah direncanakan. Ketika hendak pergi lagi, tak sengaja kedua matanya melihat sosok Radit yang sedang termenung di balik jendela. Kala itu jendela Kania pun terbuka, sudah seperti kebiasaan agar udara malam masuk dan ia bisa menikmati bintang.


Lelaki itu tampak sedang gundah gulana. Wajahnya tidak seceria dahulu. Mungkin ada masalah besar yang sedang dihadapi. Namun, dibandingkan terus mengamati Radit. Kania sendiri langsung teringat ayahnya yang sudah menunggu di teras. Secepat mungkin keluar kamar dan turun kembali.


Kania bertemu Adit di lantai bawah, melirik lelaki itu yang kini sedang asyik bermain ponsel. Langsung berjalan ke arah pintu keluar, menemui sang Ayah yang sudah diam dengan pandangan terangkat ke atas. Malam ini indah, pada bintang pun hadir menemani bulan.


Kania bergerak ke arah kursi rotan yang hanya dua dengan satu meja rotan juga. Duduk di sana dan belum sempat berbicara, tetapi sudah disambut oleh pertanyaan sang Ayah.

__ADS_1


"Apa kamu ada berencana pisah dengan suamimu?" Pak Kemal sudah menyadari kedatangan sang Anak dari tadi, tetapi tidak sedikit pun berniat memalingkan pandangan. "Katakan saja yang sejujurnya."


__ADS_2