
"Aku dan Kakak memaafkan Ayah, tapi maaf." Rangga berbicara begitu lembut. Paham bagaimana seharusnya berbicara dengan orang tua. "Untuk masalah pengasuhan cucu, aku tidak bisa terima. Kalaupun nanti Allah titipkan kami anak, biarkan kami yang mengatur semuanya. Ayah cukup memperhatikan."
Pak Gani terdiam, sedangkan Kania sendiri mendengarkan dengan baik.
Rangga mendekat, mengikis jarak dengan ayahnya. "Semua Ayah pasti sayang anaknya. Aku meyakini itu." Memeluk sang Ayah tanpa ragu. Tidak peduli bagaimana reaksi ayahnya setelah ini, itu akan menjadi urusan belakangan.
Tidak terduga Pak Gani memeluk erat. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya Rangga hidup, tetapi ini kali pertamanya mereka berpelukan sebagai Ayah dan Anak. Menjelaskan bagaimana perasaan masing-masing agar tidak selamanya terkukung dalam tekanan masa lalu.
"Maafkan Ayah, Nak. Ternyata kamu tidak bahagia selama ini." Pak Gani menangis pelan. Ini membuat Rangga terkejut. "Maaf."
Rangga hanya bereaksi dengan semakin merekatkan pelukan pada sang Ayah. Suasana berubah mengharu biru, terasa lebih kental rasa kekeluargaannya. Dua manusia yang sering bertolak belakang itu, kini bisa satu jalur. Dan, berjalan dengan saling bergandengan tangan.
***
__ADS_1
Kania dan Rangga akhirnya bisa menikmati masa rumah tangga yang damai. Keduanya menjalani dengan rasa bahagia. Radit sendiri lebih senang dengan kesendirian yang lebih baik dibandingkan dengan bersama seorang pasangan, sedangkan Gendis sudah berdamai dengan diri menerima kenyataan. Belajar banyak hal dan terus berusaha memperbaiki diri.
Satu tahun lamanya usia pernikahan Rangga dan Kania, kedua pasangan itu belum dikarunia buah hati tercinta. Namun, baik Rangga atau Kania lebih menjalaninya dengan tenang. Ada kadang kala rasa khawatir dalam diri Kania, tetapi ia meyakini semua yang terjadi adalah kehendak Yang Maha Kuasa.
Siang ini, tepatnya saat jam makan siang. Rangga mengajak istrinya untuk makan di ruangan kantor saja. Memesan makanan online dan dinikmati bersama, cukup menyenangkan.
"Mas, aku mau ngomong sesuatu." Kania terlihat ragu.
Rangga yang ada di satu sopa itu pun menatap lekat. "Ada apa?" Rasanya sang Istri jarang sekali berekspresi demikian. "Kamu mau kita pulang atau apa?"
"Lalu?" Rangga semakin mendekat, meraih tangan kanan istrinya. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Pasti hal ini. Rangga sudah menebak.
Kania tertunduk, sulit sekali menjelaskan.
__ADS_1
"Nia, aku ini bukan malaikat yang bisa mendengar apa isi hatimu. Jadi, jangan menunggu aku menebak. Jujur, aku bukan lelaki yang begitu peka. Kamu paham benar, kan?" Rangga terus terang daripada membuat Kania kecewa.
Kania paham soal itu. Hanya saja sedang menyiapkan diri untuk berkata-kata. Sekarang, kepalanya diangkat ke atas. Menatap lekat suaminya, siap mengutarakan isi hati. "Mas, sebaiknya kita pergi ke Dokter." Kalimat yang sudah diolah dari pikiran dan dirangkai lama akhirnya keluar dari mulut. "Kamu selalu menghindari untuk datang ke sana, sekarang sebaiknya kita lakukan itu."
Rangga terdiam, tangannya terlepas dari tangan sang Istri. Memalingkan wajah ke sembarang arah.
Kania sudah menduga. "Mas." Suaranya begitu lembut dan pelan. Bagaimanapun harus bisa membujuk suaminya. "Mas, takut aku kecewa, kan?"
Rangga bergeming.
Kini Kania yang meraih tangan kanan suaminya, mengelus erat dan berkata, "Kita sudah melewati banyak cobaan dari sebelum menikah, Mas. Jangan ragukan mentalku yang sudah lebih tebal daripada dinding pemisah kita dulu."
Rangga masih saja terdiam. Menimbang perkataan Kania agar bisa menghasilkan keputusan paling baik.
__ADS_1
"Mas Rangga Tampan." Kania membuat suara begitu lucu, hendak menggoda suaminya. Memegang pipi kanan Rangga, lalu menggerakan kepala suaminya itu agar menghadap ke arahnya. Kedua pasang mata itu saling bertemu. "Mas, percaya sama aku, kan?"