Dua Lelaki

Dua Lelaki
Adit mengkhawatirkan Kania


__ADS_3

Hari berlalu dengan begitu saja. Sehari sebelum pernikahan Kania izin tak masuk kerja. Di kantor pun sudah menyebar berita tentang pernikahan mereka. Jelas saja ada orang dalam yang membocorkan.


"Aku kira dia bakal sama Radit."


"Padahal mereka nggak keliatan kayak yang mau nikah."


"Mungkin udah jodoh."


Masih banyak lagi tanggapan orang lain perihal pernikahan yang akan dilangsungkan besok di sebuah gedung megah.


Saat ini Kania berada di rumah untuk dipinang. Banyak tetangga yang tak menyangka karena gadis manis itu sama sekali tidak memperlihatkan ciri-ciri untuk menikah. Seperti halnya berpacaran layaknya anak muda lainnya.


Kania memilih diam di kamar. Menikmati waktu yang ada untuk memanjakan diri dengan berbagai kegiatan. Contohnya, main game, memperbanyak ibadah dan mengemas beberapa barang untuk dibawa ke rumah baru.


Sesuai kesepakatan dengan Rangga, mereka akan langsung pindah setelah akad dan acara selesai. Menginap semalam di hotel yang sudah dibooking.


Adit datang mengetuk pintu. Kania awalnya malas, tetapi keadaan lelaki itu bisa saja menghiburnya. Pada akhirnya perempuan dengan rambut panjang itu pun membukakan pintu.


Adit masuk dan menemukan dua koper besar di atas ranjang. Terkejut bukan main. "Astagfirullah, Kak. Mau kabur, ya? Jangan gini caranya, Kak! Aku bisa bantuin Kakak kalau nggak mau."


Kania baru saja menutup pintu dengan lembut. Melewati adiknya yang selalu saja mengambil kesimpulan sendiri. "Siapa, sih, yang mau kabur?" Kania berdiri di tepi ranjang bagian kanan. Mengecek lagi apa yang kurang.


Adit mengambil langkah cepat menghampiri kakaknya. Melihat apa yang tengah dilakukan Kania dan berkata, "Terus ini apaan? Koper dua biji segede gaban gini?"


Kania santai. Lebih fokus mengecek satu per satu dan akhirnya selesai. Menutup koper kedua, barulah menjawab. "Kakak ini packing karena mau langsung pindah rumah sama Kak Rangga." Rasa lelah baru terasa. Kania duduk di tepi ranjang.


Adit bergeming. Hanya menatap sang Kakak dan menebak perasaan wanita itu dari bahasa tubuh serta sorot matanya.


"Kak." Adit ikut duduk di samping Kania. Otomatis kakaknya menoleh. "Yakin mau menikah?"


Kania menelan ludah.

__ADS_1


"Gini, lho ...." Adit mencari kalimat yang simple, tetapi bisa dimengerti Kania. "Kakak, itu nggak cinta sama Kak Rangga, kan, sebenarnya? Kakak, mungkin punya alasan sendiri yang aku dan orang lain nggak tau."


Kania kian tertegun. Untuk ukuran anak belasan tahun, pemikiran Adit terlalu dewasa. Akan tetapi, hal ini bisa saja terjadi, mengingat Adit pun bisa mengamati dengan mata kepalanya apa yang terjadi di sekitar.


Pandangan Adit fokus ke arah mata kakaknya. Tak sedikit pun berpaling apalagi berpikiran untuk mundur. Ini waktu yang tepat untuk bisa saling mengeluarkan unek-unek.


"Aku bukannya nggak setuju sama Kak Rangga. Apa pun keputusan Kakak, aku hormati. Tapi ... kalau akhirnya malah bikin Kakak nggak bahagia. Buat apa diteruskan? Ibaratnya Kakak menjual kebahagiaan sendiri." Adit terus menjelaskan sesuai dengan kalimat yang menurutnya lebih sederhana.


"Kak Rangga itu baik, menurutku. Sejauh yang aku perhatikan sampai sekarang, tapi aku lebih suka Kakak menimbang kebahagiaan sendiri juga," tambah Adit.


Kania mulai tenang. Sebuah senyum manis tanpa paksaan pun dipersembahkan untuk adiknya. Mengelus punggung Adit lembut seraya berkata, "Dek, Kakak bangga banget punya Adik yang perhatian. Bisa punya pemikiran yang luas. Tapi, Dek, kamu akan paham kalau sudah masuk fase dewasa nanti."


Adit sama sekali tidak menyela pada biasanya. Merasakan elusan lembut di punggung.


"Fase dewasa itu bukan berarti kita harus terus memprioritaskan diri sendiri. Itu juga penting, tapi ada kalanya kita mengalah saat keadaan tidak sesuai keinginan. Yang terpenting itu, apa-apa yang Allah takdir, itu yang terbaik," sambung Kania.


Suatu saat ketika sang Adik menginjak fase ini, lelaki muda itu pasti paham. Memahami dengan kepala dingin tanpa harus mengajak berdebat.


Kening Kania mengerut kencang. "Maksudmu, Dek?"


"Kata Bunda, pernikahan itu bukan permainan. Jadi ... kita harus benar-benar matang memikirkan."


"Lalu?"


"Apa Kakak bakal bertahan dengan situasi yang mungkin nggak sesuai hati."


Kania lagi-lagi terpesona dengan kalimat yang dilontarkan sang Adik. Cukup dalam dan penuh makna.


"Sebenarnya nggak masalah mau itu Kak Radit atau Kak Rangga, asalkan itu memang menjadi kadar kebahagiaan Kakak." Adit menjelaskan sebaik mungkin.


"Kalau sama yang lain, misalnya?" Kania sedikit menguji Adit. "Misal, Bapak tua."

__ADS_1


"Dih." Adit melepaskan tangan Kania dan punggung. "Aku ajak gelut! Enak aja mau ambil Kakak. Dia itu pantasnya jadi Bapak, bukan suami!"


Sebenarnya niat Radit ini baik. Melindungi Kania dari berbagai ancaman, tetapi caranya yang memang sedikit salah.


"Nggak baik, Dek. Kalau jodohnya, nggak bisa nolak." Kania memberikan pengertian agar adiknya tidak memandang orang dari segi fisik ataupun kedudukan. "Bagi mereka yang berjodoh dengan yang lebih tua, apalagi bisa dikatakan lebih cocok jadi bapaknya. Itu nggak ada salah. Kembali ke selera dan takdir Allah."


Adit memahami itu. "Ya, deh, Bu Ustadzah. Aku tuh bukan meremehkan, tapi kan nanti bingung manggilnya. Kakak atau Bapak." Adit memperlihatkan reaksi bimbang.


Kania terkekeh kecil. "Udah, ah. Kakak, mau turun ke bawah. Lapar juga." Kania berdiri. Berbincang dengan Adit ternyata bisa menetralkan rasa gugup akan pernikahan esok hari.


"Kak!" seru Radit.


Kania berbalik badan. "Apa? Mau minta dibeliin voucher game lagi? Baru juga beberapa hari lalu."


"Ih, suuudzon aja!" Adit ikut berdiri. "Selamat atas penikahannya. Semoga Allah selalu memberikan Kakak kebahagiaan."


Kania diam, mengambil selangkah ke depan. Menyentuh kening Adit. Adem. "Nggak panas."


Adit langsung menghempaskan tangan Kania. "Aku sehat, Kak. Astagfirullah. Gini amet punya Kakak satu-satunya. Udah bawel, ngeselin!" Adit segera mengambil langkah melewati Kania yang terdengar mengeluarkan tawa kecil.


Adit segera keluar kamar. Tak lupa menutup pintu dan berdiri di sana dengan perubahan ekspresi cepat. Dari bahagia menjadi termenung.


"Kakak, itu terlalu baik." Adit menghela napas kasar.


Secepat mungkin Adit meninggalkan lantai dua menuju lantai dasar, sedangkan Kania sendiri masih diam mematung sesaat setelah Adit keluar rumah. Anak remaja itu punya sisi manis dan perhatian yang hanya ditunjukkan padanya. Semoga saja wanita yang akan menjadi pendamping Adit pun mendapatkan hal tersebut.


"Jangan khawatir, Dek. Semua keputusan ini sudah dipikirkan matang-matang. Nggak mungkin Kakak salah langkah. Sekali pun iya, setidaknya Kakak punya suami yang siap membela," gumam Kania.


Perlahan bayangan Rangga mengusik pikiran. Sampai detik ini belum ada satu pun benih cinta yang hadir, apalagi tumbuh di sanubari Kania. Namun, ia akan tetap berusaha sebaik mungkin.


"Mendingan aku makan. Kalau dipikirin terus, kepala bisa botak. Besok hari harus bangun lebih pagi." Kania keluar kamar menyusul adiknya.

__ADS_1


__ADS_2