Dua Lelaki

Dua Lelaki
Dua paket ayam.


__ADS_3

Tak ada jawaban dari Kania, sehingga mulai membuat Rangga melepaskan pelukan di pinggang perempuan itu. "Maaf, aku lupa lepasin ini."


Kania masih diam. Beberapa detik yang gila telah menghancurkan jiwanya. Entah mengapa ia hanya diam, padahal bisa saja melawan.


Rangga bergeser ke kanan, melewati Ririn ke depan seraya berkata, "Kamu nggak usah sungkan. Kalau aku nggak ada, kamu bisa duduk di sopa. Tunggu dengan manis."


Rangga bergerak ke arah sopa. Rupanya di sana sudah ada dua kotak makan dari salah satu restauran ayam terkenal. "Aku beli makan siang. Maaf, nggak sempat ajak kamu makan di luar. Seharian aku sibuk." Lelaki itu akhirnya duduk di sopa panjang.


Kania berusaha menarik diri dari kenyataan. Mendekati Rangga dan duduk di sopa pendek. "Maaf, Mas, tadi aku ngerasa kurang sopan aja kalau duduk tanpa ada yang punya ruangan." Adab nomor satu, jelas.


Kini Rangga yang diam sambil menatap lekat Kania. Padahal ia sudah memberikan isyarat dengan duduk di sopa panjang.


Kania menatap balik Rangga, merasakan keanehan. Kemudian, memperhatikan diri. Tak ada yang salah. "Mas, kenapa?"


Rangga menghela napas kasar. Memang harus extra sabar. "Sopa di sini masih luas." Tangan kanannya menepuk sopa yang kosong.


Kening Kania berkerut kencang. "Memangnya kalau luas, kenapa, Mas?" Santai menanggapi perkataan Rangga.


Sekali lagi Rangga menghela napas kasar. Istrinya mungkin memiliki pendidikan tinggi, tentu diimbangi dengan kemampuan yang bahkan tidak perlu diragukan lagi. Namun, sayangnya Tuhan tidak memberikan rasa peka untuk perempuan satu ini. Nihil rasanya bisa bermanja-manja. "Mungkin ada yang mau menempati."


Alih-alih mengutarakan isi hati, Rangga memilih berdamai dengan diri. Istilahnya, sepasang suami istri itu memang diciptakan untuk saling melengkapi. Akan tetapi, Rangga ingin tahu sampai mana Kania bisa memahami dirinya. "Kamu belum makan, kan?" Lelaki itu membuka salah satu kotak makan dari kardus. Sengaja pesan dengan menu berbeda, barangkali Kania ingin memilih.


"Jadi, Mas, suruh aku ke sini buat makan siang?" Kania mengerti sekarang. Melihat ke arah makanan yang sepertinya cukup menggiurkan.


Rangga mengangguk cepat. Urusan makanan saja, istrinya langsung terkoneksi dengan cepat. Tuhan, ingin rasanya protes. Ah, sudahlah. "Iya." Rangga memperlihatkan isi dari dua kotak itu. "Ini ada ayam penyet cabai hijau sama ayam sambal pedas. Kamu boleh milih yang mana duluan."


Kania memperhatikan kedua ayam yang sama-sama berbentuk sayap. Besar dan menggoda, ingin rasanya melahap semua. Terlebih rasa pedas itu yang bisa menaikan nafsu makan Kania ketingkat paling tinggi. "Terserah, Mas aja."

__ADS_1


Rangga diam. Jawaban yang pastinya sulit untuk seorang lelaki. "Aku suruh milih, jadi pilih salah satu."


"Susah, Mas." Kania bimbang.


"Kenapa susah? Ini lebih gampang dari cuma melihatnya terus." Rangga heran. Padahal ini hanya sekadar makanan, tinggal pilih, kemudian makan. Selesai.


Semua yang ada di depan adalah favorit Kania, jelas saja susah untuk menentukan pilihan. Sambal hijau ataupun sambal pedas dari cabai merah, semuanya menggoda lidah.


Dua menit mereka hanya diam memandangi kedua ayam. Entah sampai kapan akan memulai makan. Andaikan bukan Rangga yang menjadi pemimpin perusahan, jelas saja mereka bisa kehabisan jam makan siang. Ya, walaupun seharusnya dihindari karena mereka tetaplah harus profesional.


"Bagi aku tuh ini susah, Mas. Kamu langsung sodorin gitu aja." Kania melipat kedua tangan di dada.


"Astagfirullah, aku benar-benar dibuat gila sama perempuan." Rangga menyandarkan punggung ke sopa. Mengusap wajah sekali. "Kalau tau seperti ini, aku pesan satu menu aja tadi." Sedikit menyesal.


Kania melirik sinis. "Siapa yang suruh Mas pesan dua menu berbeda?" Rasanya ia tak salah.


"Harusnya Mas samain aja menunya, jadi aku nggak perlu milih. Nah, kita juga nggak harus buang-buang waktu!" Kania kesal. Dua hari ini bahkan otaknya tidak bisa berpikir jernih dan baik, terlebih mood-nya pun bisa berubah dengan cepat.


Lagi-lagi Rangga mengucap kalimat istighfar. Rupanya wanita lebih rumit dibandingkan pria, benar juga apa kata Almarhum kakaknya dulu. "Jangan sampai buat wanitamu memilih, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan satu barang," katanya. Kini Rangga memahami betul kalimat itu.


Rangga lelah, perut pun sudah tak sabar meminta isi. Memang seharusnya diputuskan dengan cepat. "Kalau seperti itu, kita sharing saja. Kamu makan setengah yang ini, aku juga sama."


Kania bergeming.


"Ini lebih baik daripada kita cuma menghabiskan waktu untuk membuat keputusan. Aku juga masih banyak pekerjaan. Jadi, mari buat ini lebih gampang lagi," imbuh Rangga lagi.


Sedetik Kania mencoba memahami, hingga akhirnya setuju. Mungkin lebih baik seperti itu, jadi mereka bisa merasakan kedua rasanya yang berbeda. "Ide bagus, Mas."

__ADS_1


Rangga tersenyum. Keluar juga dari akar masalah, lega. "Nah, sekarang kita makan." Rangga menggeser ayam penyet cabai hijau ke depan Kania.


Kania mengangguk, baru saja selesai berdoa hendak mengambil makanan. Perempuan itu dikejutkan dengan perkataan Rangga.


"Tapi, aku nggak bisa makan pakai tangan sepertinya," kata Rangga dengan nada halus.


Kania diam, melirik Rangga lekat.


"Nggak ada sendok dan malas cuci tangan." Lelaki itu tak berani menatap Kania, hanya memperhatikan makanan dengan tatapan melas. "Mungkin aku tunda dulu aja makannya. Ke pantry dulu ambil sendok." Pria itu lekas berdiri. Ekor mata kanan melirik Kania, melihat reaksi wanita yang bahkan sampai detik ini belum disentuh selain dalam konteks darurat seperti tadi.


Rangga pura-pura berjalan melewati sopa, barangkali Kania paham. Baru saja akan meninggalkan sopa, ia mendengar sendiri Kania berbicara.


"Mas, kalau memang mau disuapin, nggak usah bilang seperti itu. Langsung aja!" kata Kania.


Rangga tersenyum kecil, mengerti juga. "Nggak. Aku memang terbiasa makan pakai sendok, jadi kurang nyaman."


Kania justru merasakan adanya penyendirian keras dari Rangga. Entah kenapa dengan lelaki ini. "Biar aku suapin aja, Mas. Nanti jam makan siang keburu habis. Nggak enak juga sama yang lain."


"Yakin? Makanku banyak."


"Ya." Kania sudah pasrah.


Rangga kembali tersenyum. Segera duduk lagi dan menatap Kania. "Aku nggak minta disuap, tapi kamu yang nawarin. Jadi, ini bukan pemaksaan bukan?"


Kania menghela napas kasar. Mengambil ayam dan nasi serta sambal hijau yang banyak dengan tangan, lalu menyodorkan ke Rangga. "Mas, aku pastikan ini bukan pemaksaan. Jadi, mari kita selesaikan acara makan siang yang banyak drama ini."


Ditatap seperti itu saja bisa membuat Rangga berbahagia. Adegan ini akan terekam kedua bola mat dan terus tersimpan di otak. Rasanya ingin terus berada di situasi seperti ini, tetapi tak mungkin. Sebab, manusia itu akan selalu ada perubahan kecil seiring waktu dan itu mempengaruhi pola pikir dan perilaku masing-masing. Baik menuju jalan yang lebih baik ataupun ke arah salah.

__ADS_1


Kania mendekatkan tangan ke mulut Rangga yang sudah siap menyantap, tetapi bersamaan dengan itu ketukan keras di pintu mengacaukan semuanya. Mengagetkan Kania, sehingga tanpa sadar langsung memasukan makanan ke mulut Rangga dengan cepat sampai lelaki itu hampir tersedak.


__ADS_2