Dua Lelaki

Dua Lelaki
nonton bersama


__ADS_3

Desi dan Kania sampai di sebuah mall. Keduanya langsung menuju ke bioskop yang ada di lantai atas gedung ini.


"Kamu mau beli popcron dulu nggak, Nia?" tanya Desi ketika melihat kedai makanan itu berada tak jauh dari loker pembelian tiket.


Kania melirik ke arah kedai. "Boleh, juga."


"Ya udah, tunggu di sini sebentar, ya." 


"Loh, biar aku aja yang beli."


"Nggak pa-pa. Kamu tunggu aja dulu."


Kania menurut. Ia berdiri, sedangkan Desi pergi ke arah kedai tersebut. Sambil menunggu, Kania mengeluarkan ponsel. Barangkali ada pesan ataupun berita terbaru hari ini.


Pikiran Kamila terbayang lagi tentang percakapan orang tuanya. Mungkin mereka mengkhawatirkan dirinya karena begitu sayang. Kania menghela napas berat, "Aku juga mau menikah, tapi Allah belum kasih jodoh."


Sebagai seorang wanita yang dewasa, tentu terbersit keinginan untuk menikah. Namun, perihal jodoh hanya Tuhan yang tahu. Manusia hanya bisa menebak-nebak saja.


Kania menyimpan ponsel di tas kecil lagi, berbalik ke belakang hendak melihat ke area bawah, tetapi matanya justru bertemu dengan sosok Rangga yang sedang berdiri di belakangnya.


Sama seperti halnya Kania, lelaki itu pun terkejut. Tak mengira bisa bertemu perempuan itu di waktu liburan seperti ini.


"Kamu sendirian?" tanya Rangga tanpa basa-basi.


Kania mendadak gugup. Kejadian di lift waktu itu membuatnya malu bukan main. Sentuhan sedikit saja, tetapi terbayang dalam otak.


"Nggak. Aku sama Desi," jawab Kania cepat.


"Oh." Rangga diam.


Tak berapa lama Desi pun datang. Perempuan itu juga terkejut melihat sosok Rangga ada bersama Kania. "Loh!" Tangannya menunjuk Rangga.


"Ah, saya sedang menonton film juga." Rangga seakan paham dengan keterkejutan Desi. "Tidak disangka bisa bertemu kalian."


Desi mengangguk sedikit hormat. Bagaimanapun kesamaan posisi kerja mereka, tetap saja Rangga adalah anak pemilik perusahaan yang suatu saat akan menjadi Direktur mereka juga.

__ADS_1


"Jangan sungkan. Saya juga manusia biasa," kata Rangga pada Desi.


"Ah, Iya," jawab Desi.


Mereka ternyata menunggu film yang sama. Yang lebih mengejutkannya lagi, jika posisi kursi Rangga berada di sebelah Kania. Jadi, urutannya di paling pojok Rangga, Kania, lalu Desi.


Ketoganya masuk bersamaan ke dalam. Rangga membiarkan kedua wanita itu berjalan lebih dulu, disusul olehnya dari belakang. Ketika sampai di tempat duduk, Rangga sangai saja. Namun, berbeda hal dengan Kania. Ia rasa gugup serta terbayang kejadian saat di lift.


Film dimulai. Suasana pun terasa hening. Semua mata tertuju pada layar lebar yang sedang memberikan adegan demi adegan Di tengah film terputar, Desi tiba-tiba ingin buang air kecil. Ia terpaksa pamit keluar lebih dulu. Rasanya tak mungkin ditahan sampai dua jam di sini.


Kania semakin canggung. Melirik sekilas pada Rangga yang menatap ke depan dengan lekat, lalu ia kembali fokus ke depan juga.


"Jangan pandangi saya terus. Santai saja," kata Rangga tiba-tiba di keheningan.


Kania tersentak.


"Saya minta maaf soal kejadian di lift kemarin. Tidak ada maksud untuk lebih dekat ke kamu," sambung Rangga.


Rupanya lelaki itu pun mengingat kejadian tersebut. Bukan hanya Kania saja.


Mereka tentu tidak ingin diprotes banyak orang di sini. Maka dari itu, mereka menghentikan pembicaraan.


Desi balik. Ia lega, selanjutnya meneruskan menonton film yang memang banyak pesan moral menurut yang sudah menyaksikan.


Film ini menceritakan tentang seorang wanita yang berjuang sendiri dari kecil. Dihina serta dikucilkan oleh keluarga karena memiliki paras yang jelek. Beberapa adegan menyayat hatimu terasa menusuk jantung. Desi hampir menangis ketika scane perempuan itu ingin bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban. Rasanya itu nyata padahal hanya sebuah fiksi yang dirangkai sempurna oleh penulis, lalu dibingkai dalam sebuah film.


Dua jam berlalu, film itu memberikan banyak pelajaran hidup termasuk bagaimana kita perlu berjuang untuk diri sendiri serta selalu libatkan Tuhan dalam setiap langkah.


Semua pengunjung bubar termasuk Kania, Desi, dan Rangga. Mereka berdiri di dekat area kasir. Mengingat Desi benar-benar menangis.


Kania memeluk Desi. "Jangan nangis, dong. Kamu itu selalu seperti ini kalau habis nonton."


Rangga menyaksikan betapa eratnya pertemanan kedua perempuan itu, hingga membuat ia iri. 


"Tapi, kasian pemeran wanitanya malah meninggal. Nyesek banget tau, Nia," jawab Desi. Tak peduli bahwa ada Rangga yang juga melihat tingkahnya saat ini.

__ADS_1


Kania memeluk semakin erat. Menepuk-nepuk pundak Desi agar sahabatnya itu merasa aman dan tenang. "Seperti kita, ia juga punya kehidupan yang ditulis oleh Penulis. Allah itu penulis bagi manusia nyata. Semua yang terjadi memang sesuai skenario Allah. Nggak ada yang bisa merubah, karena penulis punya hak untuk membawa jalan ceritanya ke arah mana."


Rangga sempat tersenyum kecil mendengar itu dari Kania. Bijak juga perempuan tersebut.


Desi masih menangis di pelukan Kania, membuang energi negatif agar tubuhnya segera terisi dengan energi positif saja. "Kamu bener, Nia. Semua udah sesuai skenario."


Kania melepaskan pelukan mereka. Mengusap lembut jejak kemalangan di pipi sang Teman sambil berkata, "Jangan takut ataupun sedih. Semua pasti ada hikmahnya. Udahan, ya, nangisnya. Aku lapar."


Di sela sisa tangis, Desi tertawa kecil. Begitu receh pertemanan mereka, sehingga perhatian kecil saja bisa membuat rasa nyaman di antara keduanya semakin membludak. 


"Ya, deh. Aku berhenti. Aku juga lapar," kata Desi sambil menghapus sisa air mata yang belum sepenuhnya pergi.


"Ya udah, kamu mau makan apa?"


Rangga merasa menjadi obat nyamuk di antara dua perempuan tersebut. Namun, pergi pun tak mau. Lelaki itu merasa ada secerca bahagia yang bisa dinikmati saat ini.


"Apa aja, boleh." Desi tidak bisa memilih saat ini.


Kania terpaksa berpikir. Sebab, jika sudah sampai tempat, ia akan semakin bingung dengan melihat banyaknya menu. Apalagi di pusat perbelanjaan ini terkenal dengan berbagai makanan. 


"Gimana kalau nasi goreng cumi. Aku udah lama juga nggak makan, terus kita pesan cake strobery juga. Jangan lupa minumnya es pelangi." Membayangkannya saja sudah membuat Kania menelan ludah. Anggap saja ini reward atas perjuanggan selama satu bulan bekerja.


Desi setuju. "Ok. Aku juga mau."


Rangga diam. Ingin ikut, tetapi segan. Menunggu diajak saja, lebih baik.


Kania sadar akan hadirnya Rangga. Ia berbalik badan dan menatap lelaki itu sambil berkata, "Maaf, Rangga. Kita mau makan. Kamu mau ikut?" 


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ini yang ditunggu Rangga. Jelas tidak boleh disia-siakan. "Boleh, kebetulan saya juga lapar. Saya yang traktir hari ini."


Desi girang, berbeda dengan Kania.


"Nggak perlu, Rangga. Aku dan Desi bisa bayar sendiri," tolak Kania. Desi tak berkomentar, ia paham karakter temannya.


"Sekali ini saja. Anggap kalau ini hadiah pertemuan kita di kantor," kata Rangga. Berharap Kania tidak keberatan dengan tawarannya.

__ADS_1


.


__ADS_2