
Kania pulang dengan perasaan tidak karuan. Mengendarai mobil pun terasa seperti dikendarai orang lain. Keputusan gila sudah ia lakukan, tetapi mundur bukan sesuatu yang tepat dilakukan.
Ibaratnya, ia sudah menekan perjanjian dengan sebuah perusahaan. Jelas saja akan mengalami kerugian saat memutuskan kontrak sepihak. Tidak ada etikanya juga.
Sesampainya di rumah. Kania langsung masuk dan berkata, "Assalamualaikum" katanya.
Saat itu Adit yang berada di ruangan tamu langsung terperanjat. Jam pulang masih lama, tetapi kakaknya sudah ada di sini. Ia sendiri pulang tepat pukul satu siang karena guru akan rapat bersama.
"Wa'alaikum salam." Adit berdiri. Tak lupa mematikan ponsel karena saking kagetnya. Berdiri. "Ini beneran Kak Kania?" Lelaki itu berjalan ke depan. Mencubit pipi kanan kakaknya. "Eh, nyata juga."
Kania sama sekali tidak bereaksi apa pun. Marah pun, tidak. Ia hanya tersenyum singkat dan berkata, "Kamu sudah pulang, Dek?"
Jelas saja Adit tertegun. Ini bukan kakaknya secara sifat, tetapi lain hal jika dalam fisik.
"Kakak, ke kamar dulu, ya." Kania lebih memilih pergi melewati Adit tanpa berkata apa-apa lagi. Tanpa sadar ia memancing rasa penasaran adiknya dengan sikap seperti ini.
Adit diam di tempat. Berpikir lebih jauh dan kembali pada sofa yang tadi. Tak berapa lama Sang Bunda yang baru saja dari rumah tetangga pun masuk.
"Assalamualaikum," kata Bu Lala. Ia melihat jelas mobil anak sulungnya terparkir. Secepat kilat masuk, mengecek keadaan. Khawatir terjadi sesuatu.
"Wa'alaikum salam," jawab Adit.
Kini Bu Lala yang berdiri di depan Adit. "Nak, kakakmu pulang?" Barangkali anak keduanya ini tahu.
Adit mengangguk cepat. "Iya, Bun. Tapi, Kakak aneh." Mengutarakan isi hatinya.
Bu Lala mengerutkan kening. "Aneh bagaimana?" Ia mendekati anaknya. Duduk di sofa panjang bersama Adit. "Bunda sampai kaget lihat mobil Kak Kania di depan rumah."
Sebagai seorang Ibu, jelas saja Bu Lala cemas. Takut jika anak sulungnya itu tengah memiliki masalah ataupun sakit, sehingga menyebabkan pulang lebih cepat.
"Biasanya kalau dijahili, Kakak itu suka marah. Tapi, ini nggak sama sekali, Bun. Wajahnya juga murung," tutur Adit.
Bu Lala terdiam. Jika seperti ini sudah dipastikan jika Kania memang sedang mendapatkan masalah. Semoga saja tidak terlalu besar. "Ya udah, Bunda cek dulu aja, ya. Takutnya kakakmu sakit."
Adit mungkin memiliki firasat yang sama. Akan tetapi, anak itu berusaha menutupi. Sebab, dari cara bicaranya saja sudah tertebak.
Adit hanya mengangguk sambil membawa ponselnya lagi. Ada banyak praduga dalam pikiran anak lelaki itu. Mencoba berpikir lebih baik lagi agar hasilnya pun sama.
Bu Lala sendiri cepat naik ke lantai atas. Menaiki tangga dan berdiri di depan kamar Kania. Perasaannya tidak salah sebagai Ibu. Pasti terjadi sesuatu pada anaknya.
Bu Lala mengetuk pintu. Tetap harus sopan, sekali pun ini kamar anaknya sendiri. "Kania, Bunda boleh masuk?"
Beberapa detik suasana hening. Belum ada pergerakan dari anak sulungnya. Mungkin saja Kania tidur atau bahkan sedang melakukan kegiatan lainnya.
Rasa penasaran mendorong Bu Lala untuk mengeruk sekali lagi. Barangkali yang ini berhasil. Hanya berselang semenit akhirnya Kania membuka pintu.
"Maaf, Bun, tadi aku lagi di toilet," kata Kania.
Dugaan Bu Lala benar. Mana mungkin anaknya bisa mengabaikan sang Bunda yang sangat mereka hormati.
"Nggak pa-pa." Bu Lala tersenyum kecil. Berbicara lembut adalah jalan paling baik dalam menghadapi kedua anaknya. "Kamu sudah pulang, Nak? Tumben."
Kania membalas senyum dengan manis juga. "Iya, Bun. Aku lagi nggak enak badan." Jawaban yang paling cepat dan tidak terlalu mengkhawatirkan.
"Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat dulu. Nanti Bunda buatkan teh manis hangat, ya."
Kania tak enak hati. "Nggak usah, Bun. Nanti biar aku aja yang buat."
"Sayang, kasih Ibu itu sepanjang masa. Mana ada Ibu yang mau lihat anaknya sakit. Sebisa mungkin Ibu buat anak-anaknya nyaman."
Kania tiba-tiba memeluk sang Bunda dan berkata, "Bunda, kalau suatu saat Kania minta restu buat menikah dengan siapa pun itu. Apa Bunda akan langsung kasih izin?"
__ADS_1
Bu Lala terkejut. Tak ada angin ataupun hujan, tetapi anaknya bisa bertanya dengan topik demikian.
"Misal, ada seorang lelaki yang mau melamar Kania, tapi Bunda nggak kenal. Apa Bunda mau langsung kasih restu?" Kania terus memberikan pertanyaan.
Bu Lala terdiam sejenak. Tak bisa menjawab begitu saja karena perlu berpikir lebih jauh lagi. "Kenapa kamu bertanya seperti itu, Nak?"
Kania menghela napas kasar. "Aku cuma mau tau aja, Bun."
Bu Lala melepaskan pelukannya. Menatap wajah anaknya yang sangat berbeda dari saat berangkat bekerja tadi. "Nak, kalau memang lelaki itu baik. Mau menuntunmu ke jalan yang benar dan pastinya pilihan kamu sendiri. Bunda rasa nggak ada masalah."
Kania bergeming.
"Apa pun pilihan anak, selama itu baik dan bisa buat anak bahagia. Seorang Ibu pasti kasih restu," tambah Bu Lala cepat.
Kania bersyukur lahir di keluarga yang penuh kasih sayang. Setidaknya ia tidak terlalu tertekan. "Makasih, Bunda."
Di sinilah tingkat penasaran Bu Lala memuncak. Sudah pasti bukan karena tidak enak badan saja anaknya ini pulang. Ada alasan lain yang tersembunyi rapat di diri Kania. "Kamu lagi ada masalah, Nak?"
Kania paham bundanya tidak mungkin salah dalam berfirasat. Ikatan batin anak dan ibu itu kuat sampai kapan pun. Tidak ada yang menandingi bahkan dari sekadar seorang pasangan saja.
"Kania mau istirahat dulu aja, ya, Bun. Kalau sudah siap. In syaa Allah, nanti cerita," kata Kania.
Bu Lala tak memaksa. Anaknya berhak menentukan terbuka atau tertutup masalah kehidupan yang berhubungan dengan percintaan. Namun, ia tetap memantau sebisa mungkin agar mereka tidak salah jalan saja.
"Ya sudah, Bunda ke dapur dulu, ya.
Kania tersenyum kecil. "Iya, Bun."
Bu Lala akhirnya pergi dari sana. Membawa perasaan penasaran yang kian menumpuk dalam dada. Berharap masalah yang sedang dihadapi anaknya ini tidak terlalu besar dan berat, sehingga membuat mental anaknya itu tertekan hebat.
Kania langsung masuk kamar lagi. Merebahkan diri sambil menunggu waktu shalat Asyar tiba. Ia merogoh ponsel di tas. Ada pesan dari Rangga rupanya.
From Rangga
Kania sama sekali tidak berniat membalas pesan Rangga. Ia memilih menyelimuti diri dan tidur agar bisa lebih tenang seperti biasa.
Waktu terus berjalan sampai waktu Asyar dan Magrib datang. Kania sama sekali tidak keluar kamar dan hanya menikmati kesendirian. Bu Lala hanya datang mengantarkan teh manis hangat juga beberapa cemilan agar anaknya itu tetap memiliki tenaga.
Ketika makan malam tiba Pak Kemal meminta Adit melihat Kania. Barangkali anak sulungnya itu sudah membaik dan bisa makan bersama. Namun, jawabannya tetap sama. Kania masih belum ingin makan.
"Nanti biar Ayah saja yang ke kamar Kakak," kata Pak Kemal.
Biasanya anak perempuan suka terbuka pada seorang Ayah. Mereka menganggap ayahnya adalah cinta pertama. Jelas saja tidak semuanya karena itu tergantung pada perlakuan ayah pada anak perempuannya.
Makan malam pun dimulai. Bu Lala melayani sang Suami dengan baik dan Adit sendiri mengambil sesuai keinginan. Ada yang hilang di makan malam kali ini. Absennya Kania membuat suasana terasa berbeda.
Biasanya meja makan akan dipenuhi dengan kejahilan Adit pada kakaknya. Kali ini tak ada pemandangan seperti itu. Suasananya damai dan lebih cenderung sepi.
Makan selesai. Adit sebagai adik juga merasa cemas akan sikap kakaknya. Beberapa kali menengok dan masih saja perempuan yang lebih tua darinya itu terbaring di atas ranjang. Ia kehilangan, padahal sosok Kania masih bisa melihatnya dengan jelas. Ternyata inilah yang dinamakan kerinduan.
Pak Kemal duduk di sofa setelah makan. Bu Lala menghampirinya. Duduk di samping ayah dari dua anak itu dan berkata, "Ayah, mungkin Kania bukan sakit badan."
Pak Kemal menoleh. "Maksud, Bunda?"
Bu Lala menceritakan apa yang Kania katakan kepadanya tadi sore dan reaksi suaminya tetap tenang.
"Bunda ngerasa mungkin Kania ini lagi bimbang," ujar Bu Lala.
Pak kemal mencerna lebih dahulu laporan istrinya supaya mendapatkan jawaban yang baik dan tidak salah tangkap.
"Bunda yakin kalau Kania ini pasti punya seseorang yang mau dikenalin ke kita, tapi bingung cara menyampaikannya," lanjut Bu Lala.
__ADS_1
Pak Kemal berpikir hal yang sama. "Kita tunggu saja sampai dia siap cerita. Kalau dipaksa takutnya malah semakin menjauh. Nanti Ayah ke sana buat tanya keadaannya saja."
Bu Lala setuju. Mereka perlu bersikap lebih tenang, tetapi tegas pada setiap anaknya. Apa pun yang terjadi, menjadi orang tua memang diperlukan kesabaran dan tingkat peka yang tinggi.
Setelah puas mengobrol, Pak Kemal langsung naik ke lantai atas. Tepatnya pada kamar Kania. Menemui putrinya yang selalu berusaha kuat sebagai anak pertama.
"Nak, Ayah boleh bicara?" tanya Pak Kemal setelah mengetuk pintu.
Kania keluar. "Ada apa, Yah?" Wajahnya berbeda dari biasanya.
"Boleh Ayah bicara?" Sekali lagi Pak Kenal bertanya. Barangkali Kania keberatan. "Kalau bisa di kamar saja."
Kania mengangguk paham. "Boleh, Yah. Ayo, masuk." Memberi jalan agar sang Ayah masuk.
Begitu kedua kaki Pak Kemal berada di lantai dalam kamar. Barulah lelaki paruh baya itu duduk di tepi ranjang bagian kanan. Kamar ini dulunya penuh dengan mainan boneka, tetapi kini sudah berganti dengan banyak pernak-pernik serta lafadz tulisan al-quran.
Kania duduk di samping ayahnya dengan lesu.
"Nak, kamu sakit apa? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Pak Kemal dengan nada penuh kekhawatiran.
Kania tersenyum kecil, sekali pun hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia yakini jika saat ini perasaan ayahnya pun bisa menebak dengan baik, tetapi masih saja menghormati dirinya sebagai anak.
"Cuma sakit kepala aja, Yah. Sama badan kurang enak, mungkin efek banyak lembur Minggu kemarin. Sekarang keadaannya udah baikan," jawab Kania dengan cepat.
Terlihat jelas jika Pak Kemal bahagia setelah itu. "Syukurlah, Nak. Ayah sama Bunda tadinya mau panggil dokter aja."
"Nggak perlu, Yah." Kania jelas bukan karena sakit fisik. "Aku udah sembuh."
Kania diam. Merenung.
Di sinilah peran Pak Kemal harus lebih banyak lagi. Di mana ia perlu memposisikan diri bukan sebagai orang tua saja, tetapi bisa jadi bahu untuk bersandar anaknya.
"Nak, kamu mau jujur sama Ayah?" tanya Pak Kemal memancing Kania. Biasanya anak perempuannya itu bisa lebih terbuka. "Ayah sama Bunda mungkin punya pikiran masing-masing tentang kamu, tapi kami menghormatimu yang sudah dewasa. Jadi, memilih menunggu kamu terbuka."
Kania tak terkejut. Sudah pasti ia ketahuan. Di rumah ini jarang sekali ada rahasia. Biasanya para penghuni berusaha jujur dalam hal apa pun. Ya, sekali pun tidak semuanya.
Kania berpikir lebih dahulu. Tepatnya menimbang apa yang terbaik menurut diri sendiri.
"Ayah nggak akan paksa kamu buat terbuka, tapi kalau memang ada masalah yang berat. Ada baiknya kamu cari solusi dengan cerita ke orang terpercaya. Nggak perlu ke Ayah atau Bunda, bisa ke teman juga. Tapi … pesan Ayah cuma satu. Hati-hati dalam memilih teman cerita," lanjut Pak Kemal.
Kania tersenyum tipis. Selama ini ia memang hanya bercerita pada Desi, itu pun tidak semuanya. Sebab, pasti ada saja celah yang hanya untuk dirinya saja. Tidak bisa dibagikan ke orang lain.
"Ayah, aku boleh tanya?" tanya Kania.
"Silakan. Kamu mau tanya apa, Nak?" sahut Pak Kemal.
Kania menelan ludah. Sulit rasanya meneruskan kalimat selanjutnya. Berat sekali.
"Jangan ragu. Kalau memang ada yang perlu ditanyakan, silakan," kata Pak Kemal.
Kania meyakinkan hati jika semuanya akan baik-baik saja. "Ayah, apa benar perusahaan Ayah sedang butuh suntikan dana besar? Benarkah Ayah meminta bantuan perusahan tempat Kania bekerja?"
Pak Kemal terkejut bukan main. Dari mana anak ini bisa tahu.
"Jika iya, Kania pastikan Ayah bisa dapat suntikan itu," sambung Kania tanpa menunggu ayahnya membuka mulut.
"Nak, kamu tau dari mana?" Pak Kemal penasaran.
Kania berpikir sekali lagi. Tak mungkin menceritakan kepahitan yang dialaminya. Lebih baik bungkam. "Sebenarnya anak dari perusahan tempat aku bekerja itu teman aku, Yah."
Kening Pak Kemal berkerut kencang. Kurang paham dengan penjelasan anaknya. "Lalu?" Berharap sang Anak bisa menjelaskan dengan sangat detail.
__ADS_1
Kania menatap lekat ayahnya. Ini mungkin yang terbaik. Kepastian akan perusahaan sang Ayah pun sudah didapati. Lantas, apa yang membuat Kania ragu. "Dia orang yang akan menjadi calon suami Kania, Yah. Namanya Rangga. Lelaki yang punya sifat baik sama seperti Radit."