Dua Lelaki

Dua Lelaki
Mendapatkan izin


__ADS_3

"Maaf, Mas, saya tidak sengaja," kata Pak Kemal yang memang merasa bersalah.


Adit segera keluar. Menghampiri ayahnya juga lelaki dengan fostur tinggi tersebut. "Ini Kak Rangga bukan? Temannya Kak Kania di kantor."


Merasa namanya dipanggil Rangga pun mengangguk cepat. "Benar. Kamu adiknya Kania?" Pernah melihat sekali saat wanita itu memperlihatkan foto keluarganya. "Kamu kenal saya?"


Adit jelas menganggukkan kepala. "Kenal, Kak. Soalnya Kakak pernah nganterin Kak Kania ke rumah pas hujan. Kakak juga ngasih pakaian baru, kan? Terus Kak Kania lihatin foto temannya di kantor. Kasih tau aku sama Ibu nama-nama temannya."


Penjelasan Adit cukup menggambarkan dari bagaimana hubungan Kania dengan keluarga. Tentu sangat harmonis dan dekat. Pastinya penuh cinta. Hal yang tidak pernah Rangga dapatkan selama ini. Beruntung sekali sepertinya jika bisa masuk.


Pak Kemal memperhatikan Rangga. Keningnya berkerut kencang, berpikir keras sampai akhirnya menemukan sebuah kenyataan yang ia ketahui. "Mas, ini anak dari Pak Gani, ya?" Seingatnya begitu.


Rangga tak bisa memungkiri akan hal ini. Setelah bisa melihat, tentu ayahnya menceritakan siapa dirinya. Jelas berbeda ketika dunia ini belum bisa ia lihat.


Rangga tersenyum ramah. "Benar, Pak. Perkenalkan saya Rangga, teman kantornya Kania." Tatapan mata Rangga penuh hormat. Lelaki tinggi ia menjabat tangan Pak Kemal. "Saya minta maaf karena melakukan rem mendadak. Mobil di depan sepertinya mogok."


Pak Kemal mengerti. Saling menyadari sesama pengendara memang diperlukan, sebab di jalanan semua bisa terjadi.


"Tidak apa-apa, Mas," kata Pak Rangga. Sesekali melirik Rangga yang lebih memiliki aura positif daripada ayahnya.


Rangga tak enak hati. "Bapak bisa panggil saya Rangga saja. Kebetulan saya juga temannya Kania."


Adit memperhatikan bahasa tubuh Rangga. Setiap kali lelaki itu mengatakan nama kakak perempuannya selalu saja penuh makna. Mencurigakan.


"Baiklah." Pak Kemal tidak suka berdebat. "Begini, Nak, karena saya buru-buru mau ke kantor. Apa saya boleh minta nomor ponsel atau nomor rekeningnya, Nak Rangga? Untuk biaya perbaikan biar saya ganti."


"Tidak perlu, Pak. Ini cuma lecet sedikit. In syaa Allah, nanti saya bawa ke bengkel keluarga," kata Rangga.


Adit melongo. Sebenarnya seberapa kaya keluarga Rangga? Hebat juga.


"Jangan, Nak. Kalau seperti itu saya malah merasa tidak enak." Pak Kemal tentu saja tidak ingin memiliki kesalahan yang tidak dipertanggung jawabkan. "Biar saya ganti atau nanti saya titip ke Kania saja."

__ADS_1


Suasana jalanan ramai lancar. Untung saja mereka ada di sisi kanan. Tidak sedang berada di tengah, sehingga tak sampai mengganggu lajurnya lalu lintas.


Rangga diam sejenak. Berpikir lebih keras lagi sampai akhirnya mendapatkan sebuah penengah. "Kalau seperti itu, bagaimana kalau sebagai gantinya saya minta izin untuk main ke rumah, Pak?"


Pak Kemal tak langsung menjawab. Ada kejanggalan tercium sangat tajam. Rangga ini mungkin memiliki sebuah tujuan. Entah apa itu.


"Saya cuma ingin bersilaturahmi saja." Melihat kebingungan ayah dari wanita yang dicintainya, Rangga berusaha menjelaskan. Tentu sebelum kesalahpahaman terjadi. "Itu pun kalau Bapak berkenan." Pada hakikatnya Rangga tidak memaksa.


Belum sempat Pak Kemal menjawab. Mendadak sebuah mobil berhenti di belakang mobilnya. Ternyata Kania yang datang.


"Ayah." Suaranya lantang. Dari plat nomor saja ia sudah bisa menebak siapa pemilik kendaraan roda empat ini. Dua bola mata Kania membesar tatkala melihat lelaki tinggi yang tengah berbicara dengan ayahnya. "Rangga!"


Sontak Pak Kemal, Rangga, dan Adit pun menoleh ke belakang. Kania berjalan cepat ke arah sana, lalu berkata, "Ada apa ini?" Sorot matanya lebih tajam ke Rangga. Takutnya lelaki itu melakukan hal di luar pikiran.


Rangga diam, berbeda dengan Pak Kemal yang langsung menjelaskan duduk permasalahannya. Kania langsung paham.


"Dia temanmu katanya, Nak!" Entah mengapa Pak Kemal berusaha untuk meyakinkan diri tentang ini.


Adit mengamati wajah Kania. Sama halnya dengan Rangga tadi, ia merasakan aura berbeda. Dua orang ini memiliki sesuatu yang disembunyikan dalam benak masing-masing. Sayangnya bahasa tubuh keduanya susah menutupi perihal itu.


"Iya, Ayah. Dia Rangga, karyawan baru yang pernah Kania ceritakan dulu," balas Kania dengan senyuman.


Mendengar jawaban itu semakin menggebu-gebu semangat Rangga untuk bisa masuk ke keluarga ini. Namun, itu pun terjadi karena Kania memberinya masuk setelah kesepakatan mereka.


"Dia tidak mau Ayah ganti rugi, tapi malah minta izin main ke rumah." Pak Kemal sepertinya tidak marah. Hanya heran saja. Di zaman yang memang sudah gila dan sebagian orang bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, justru Rangga menolaknya. Mungkin karena lelaki itu anak dari seorang pembisnis terkenal, sehingga uang bukanlah sesuatu yang menggiurkan. Masuk akal pula.


Kania terkejut. Terlihat sekali ekspresinya.


Rangga menatap Kania lekat seolah meminta bantuan pada perempuan itu untuk melancarkan aksinya kali ini.


"Ayah rasa tidak masalah selama itu temanmu," imbuh Pak Kemal yang berhasil memberikan angin segar untuk Rangga.

__ADS_1


Kania masih terpaku. Terlebih jawaban ayahnya tersebut sangat jelas sekali, tetapi penuh makna bahwa, siapa pun boleh datang ke rumah selama memang ada kaitan dengan dirinya. Ya ... setidaknya pikiran Kania menangkap seperti itu.


Pak Kemal tak bisa berbicara panjang kali lebar lagi. Jam masuk sekolah Adit sudah sangat mepet sekali. "Nak Rangga, silakan datang ke rumah kalau memang mau. Pintu rumah kami terbuka bagi siapa pun asalkan punya niat baik."


Di sini Rangga sedikit ambigu dengan kata niat baik. Akan tetapi, tertutupi dengan perasaan senang yang terlalu membuncah.


"Iya, Kak. Ayo, main. Nanti aku kasih tau lebih banyak soal Kak Kania," sela Adit dengan cengengesan.


Kania menginjak kaki kanan adiknya ini. Selalu saja membuat runyem keadaan.


"Aduh, Kak. Sakit." Lelaki dengan seragam sekolah itu meringis kesakitan. "Ini nih alasan Kakak jomblo sampai sekarang. Galak!" Adit mengangkat kaki kanan, mengelusnya pelan.


Pak Kemal menggelengkan kepala. Sudah tidak aneh. "Kalau gitu, saya pamit dulu, Nak Rangga. Assalamualaikum."


"Iya, Pak. Terima kasih sebelumnya. Wa'alaikum salam."


Hanya senyuman kecil dari bibir Pak Kemal saja sebagai bentuk balasan. Adit pun segera ikut masuk mobil dengan mulut masih saja mendumel, kesal.


Kendaraan Pak Kemal segera pergi dari sana. Meninggalkan Rangga dan Kania yang sama-sama membawa mobil sendiri.


Rangga mengukir senyum. Izin sudah dikantongi. Hanya tinggal menunggu waktu saja. "Aku tidak sabar datang ke rumahmu."


Kania mengangkat kepala. Pandangannya bertemu.


"Tunggu aku lusa. Jangan melarikan diri," tambah Rangga.


Kania menelan ludah. Kalimat Rangga bermakna jika ia sekarang berada di sebuah labirin yang susah dipecahkan. Salah sendiri karena masuk. Setiap keputusan pasti ada risiko yang perlu ditanggung.


"Sebaiknya kita berangkat. Sudah mepet." Rangga melirik arloji di tangan. Jarum jam paling panjang mengarah pada angka sepuluh. "Aku tunggu kamu di pintu utama. Assalamualaikum."


Rangga berbalik badan, kembali ke mobil. Berbeda dengan dirinya, Kania masih saja diam seakan terhipnotis, padahal suara bising kendaraan menganggu gendang telinga semua pengguna jalanan.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." Akhirnya Kania sadar ketika mobil Rangga bergerak ke depan. Dengan cepat ia juga masuk mobil. Ini tanggal gajian, tak boleh telat..


__ADS_2