Dua Lelaki

Dua Lelaki
Kania dipanggil Pak Gani


__ADS_3

Kania duduk lemas di kursinya. Sikap ini berhasil menarik rasa penasaran Desi. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Kamu kenapa?" tanya Desi penasaran.


Kania diam. Ia menyimpan teh manis hangat serta beberapa makanan di meja. Kejadian tadi di luar dugaan.


Desi mendekati Kania dengan menggeser sedikit kursi ke arah perempuan itu. "Hei, kamu kenapa, Nia?"


Kania bergeming. Hanya pandangan kosong yang diberikan perempuan tersebut. 


Jelas saja Desi khawatir luar biasa. "Nia, kamu kesambet, ya?" Menggoyangkan pundak kiri Kania. Berharap temannya itu bisa sadar secepat mungkin. "Istigfar, Nia."


Kania baru sadar. "Astagfirullah." Mengelus dada dua kali. Terlalu shock mendapati kabar berita tersebut. "Maaf, Des. Aku lupa pembalutnya."


Desi tak masalah. Ia justru cemas dengan keadaan Kania yang tiba-tiba berdiam diri setelah dari kantin. "Kamu kenapa?"


Mulut Kania hendak terbuka, tetapi melihat Rangga datang. Tidak enak juga. "Aku cuma ngantuk aja. Lupa beli kopi lagi."


Desi berdecak kesal. Terkadang Kania ini bertingkah random. Sama halnya dengan Adit. Akan tetapi, selalu saja ada sesuatu dibalik sikapnya tersebut. Entah itu sedang menyembunyikan kesedihan ataupun masalah.


"Oh, ya, kajian jadi, kan?" Desi lebih suka mengalihkan topik. Yakin Kania sedang tidak baik-baik saja.


Kania mengangguk cepat. "Jelas dong."


"Ok." 


"Tapi, jemput dulu Adit, ya."


Kening Desi mengerut kencang. "Kenapa? Dia, kan, biasanya pulang sendiri?" 


"Nggak tau. Katanya pengen dijemput."


Desi mengambil segelas teh manis di meja Kania. "Adikmu itu kadang ngeselin, tapi kasihan juga."


Kania setuju untuk itu. Ia saja sampai dibuat gila oleh anak remaja tersebut. "Dia emang kayak gitu."


Rangga melirik sekilas Kania. Yakin jika saat ini perempuan itu menyembunyikan hal fantastis tadi dari Desi. Padahal lambat laun pun teman perempuannya itu akan tahu juga.


Waktu kerja kembali datang. Semua karyawan meneruskan apa yang tejeda saat makan siang. Kania merasakan kesulitan lagi saat menyelesaikan pekerjaannya. Namun, ia terus berusaha sampai akhirnya bisa.


Tak berapa lama Pak Ganjar datang. "Kania, kamu dipanggil Pak Gani ke ruangannya."


Kania tersentak, termasuk Rangga. Pikiran lelaki itu sudah bercabang ke mana saja. Ayahnya ternyata lebih cepat bergerak.


Kania tak bisa menolak. "Baik, Pak."

__ADS_1


Desi ikut khawatir. "Nia, kamu nggak pa-pa, kan?"


Kania mengangguk cepat. "Ya, tenang aja."


Rangga tak banyak bicara. Mengambil ponsel dan mengetik pesan. Ternyata hal itu dilakukan untuk Kania. Sebab, begitu Kania berdiri, ponsel wanita tersebut berbunyi. Sebuah pesan masuk.


Kania membuka pesan. Melirik pada Rangga. Pesan berisikan kalimat jangan takut tersebut diberikan Rangga padanya. 


Kania segera pergi menemui Pak Gani. Apa pun yang akan terjadi, ia tetap menghadap.


Rangga cemas. Yakin jika berita tadi pasti sudah menyebar ke berbagai penjuru gedung termasuk pada ruangan ayahnya. Semoga saja tidak ditanggapi dengan pikiran gila.


***


Waktu pulang pun datang. Kania sempat terlihat banyak diam sepulangnya dari ruangan Pak Gani. Desi saja sampai khawatir, tetapi Kania hanya tersenyum manis.


Rangga cemas. Setelah semua karyawan pulang dan hanya tersisa Kania juga dirinya di ruangan. Ia pun mendekat. "Ayahku tidak bicara yang aneh-ane bukan?'


Kania tersentak. Perempuan itu terpaksa harus membatalkan rencana ke kajian karena ternyata pekerjaan belum juga selesai. Ia juga meminta Desi untuk menjemput Adit. Menyampaikan permintaan maafnya pada adik satu-satunya itu.


Kania menoleh. Tersenyum kecil dan berkata, "Nggak. Memangnya kenapa?" Kania bertanya balik.


Rangga tak percaya. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi dan disembunyikan Kania. "Jangan takut jujur."


Kania tertegun. Mengalihkan pandangan ke depan laptop dan fokus bekerja lagi. "Jangan bahas itu sekarang. Aku masih banyak kerjaan. Nanti, ya." Sedikit tawa kecil keluar dari mulut Kania. Itulah yang membuat Rangga tak percaya. "Kamu belum pulang?"


"Aku belum bisa pulang karena mengkhawatirkan kamu," jawab Rangga jujur. Tak perlu ditutupi rasanya.


Kania diam. Hanya jari jemarinya saja yang terus bekerja dari tadi. Telinganya pun dipasang sebaik mungkin agar bisa menangkap setiap kalimat yang dikeluarkan mulut Rangga. Barangkali ada yang penting dibahas.


"Kamu bisa pulang. Aku nggak masalah sendiri," kata Kania. Bukan berniat mengusir. Hanya saja, saat ini perasaanya tidak baik-baik saja. Menutupi diri dengan sibuk bekerja memang hal yang paling baik.


Rangga menghormati keinginan Kania. Ia berdiri, mengambil tas dan berkata, "Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Setidaknya aku tau harus bersikap seperti apa."


Kania mengangguk pelan. 


"Aku pulang duluan, Assalamualaikum," lanjut Rangga.


"Wa'alaikum salam," jawab Kania cepat.


Rangga melangkah pergi dari samping Kania. Meninggalkan perempuan itu yang sepertinya tidak ingin diganggu.


Setelah memastikan Rangga tak ada. Kania menyembunyikan wajah di meja. Rasanya gila permintaan Pak Gani. Mana mungkin? Bahkan ia sama sekali tidak terpikirkan sampai serakus itu. 


"Astagfirullah, aku harus kuat. Anggap saja ini godaan," kata Kania.

__ADS_1


Tidak berselang lama suara ponsel Kania berdering. Rupanya Radit menghubungi wanita itu secara video call. Dengan cepat Kania mengecek wajah yang hampir akan menangis. Ini tidak benar. Jangan sampai Radit salah paham ataupun khawatir.


Biasanya Radit akan melakukan itu jika ponsel bundanya tidak bisa dihubungi. Sebab, lelaki itu tak akan berani segila tersebut pada Kania.


"Assalamualaikum," kata Kania setelah mengangkat sambungan telepon. 


Radit langsung ada di layar ponsel. Wajahnya lelah. Sama seperti Kania. Namanya juga pekerja. Tentu akan bergelut dengan segudang masalah dan pekerjaan. Belum lagi jika harus mengejar target atau mendapatkan tekanan dari atasan. Perlu mental yang kuat.


"Wa'alaikum salam," jawab Radit.


Kania tersenyum kecil. "Ada apa?"


"Kamu masih di kantor, ya?"


"Heem." Kania menggerakkan kepalanya.


Radit diam..


"Ponsel Tante nggak aktif, ya?" Kania bertanya lagi.


Radit mengangguk cepat. "Ya. Dari semalam. Aku cemas aja."


Sudah diduga. Radit ini pasti hanya ingin menanyakan bundanya. "Aku masih di kantor. Coba nanti kalau sudah pulang, aku lihat ke rumah.'


Radit memperhatikan wajah Kania. Ada yang berbeda seolah sedang menahan tangis. "Nia, kamu baik-baik aja, kan?" 


Kania tertawa kecil. "Aku baik, kok. Kan, kemarin kamu lihat sendiri."


Radit bergeming. Sepertinya tidak percaya. Ia hanya menghormati perkataan Kania saja. "Ya sudah, nanti coba lihatin bunda, ya. Kalau kamu senggang itu juga."


Kania memberikan jempol ke layar. "Sip. Aku masih lembur."


Sudah Radit duga. " Ya sudah, aku juga masih ada kerjaan. Jangan lupa makan. Assalamualaikum."


"Iya. Wa'alaikum salam.'


Sambungan telepon video call itu berakhir. Kania terdiam dengan ponsel masih di tangan kanan. Dulu saat masih kecil bahkan saat sekolah menengah atas, jika ada masalah selalu saja Radit yang ada di sampingnya. Kania merasa kehilangan setelah sosok itu pindah tugas.


Tak terasa air mata Kania melintas membasahi pipi. Ada sesak yang ia rasakan, tetapi perlu ditahan agar semuanya berjalan dengan lancar. Ketenangannya bekerja terusik. 


Suara derap langkah kaki mendekati Kania. Rangga datang dan menyodorkan sebuah tisu berwarna putih seraya berkata, "Aku minta maaf atas perkataan yang tidak menyenangkan dari Ayah. Kamu pasti dapat tekanan."


Kania mengangkat kepala. Linangan air mata itu dibiarkan mengalir. Tak peduli bagaimana pun tanggapan Rangga saat ini, ia merasa tertekan.


"Jangan hiraukan. Kamu bisa menolak. Aku sudah bilang jangan usik kamu, tapi sepertinya penguasa di sini tidak mendengar!" geram Rangga. Tangan kirinya mengepal pertanda menahan emosi yang melonjak tajam.

__ADS_1


Kania diam seribu bahasa. Hanya sorot matanya saja yang sendu dan sulit diartikan. Kedatangan Rangga bukan hanya menjadi penambah teman baginya, tetapi sekaligus bertambahnya tekanan.


"Dua mata itu milik siapa?" tanya Kania mendadak.


__ADS_2