Dua Lelaki

Dua Lelaki
Satu ruangan


__ADS_3

Kania mengerjakan pekerjaannya dengan baik sampai waktu makan siang pun datang bersamaan dengan waktunya shalat Dzuhur.


Setelah menunaikan kewajiban pada Tuhan. Kania tak ada mood untuk makan. Hanya membeli sebungkus roti rasa coklat sebagai jaga-jaga jika ingin makan. Perempuan itu kembali ke lantai empat. Suasana ruangan ini sepi. Jelas saja, semua orang sedang memadati kantin saat ini atau mungkin keluar gedung untuk menikmati makan siang yang berbeda.


"Aku nggak ada selera makan sama sekali." Kania duduk lemas di kursi dengan menempelkan pipi kanan di meja. "Pengennya tiduran, tapi harus kerja."


Suasana hening ini lebih disukai perempuan berhijab itu daripada keramaian, mungkin karena keadaan inilah yang bisa membuatnya lebih tenang. Menepi dari keramaian dan duduk tenang seolah menjadi salah satu cara untuk bisa memikirkan hal yang telah terjadi.


Kania memejamkan mata. Hanya hitungan hari lagi statusnya akan berubah menjadi seorang Istri dari laki-laki yang dikenalnya sebagai teman seprofesi. Semesta susah ditebak. Akan tetapi, bercandanya melebihi anak kecil. Tak main-main.


"Pengen rasanya ke bulan sekarang juga. Apa di sana lebih enak, ya?" Kania bergumam sendiri.


Tak berapa lama dari sana suara derap kaki mendekati. Kania malas mengangkat kepala. Sudah pasti teman satu ruangannya yang telah selesai makan.


"Kamu bisa sakit kalau cuma diam."


Suara seseorang menyapa telinga Kania. Berhasil menggetarkan kepala perempuan itu untuk tegak lagi.


"Makanlah." Rangga rupanya yang datang. Menyimpan sekotak makanan yang sepertinya hasil dari delivery. Lelaki itu duduk di kursi. Menyimpan pula makanan yang sama. "Bekerja itu perlu energi. Kalau kamu nggak makan, lalu dari mana energi bisa datang?"


Kania mengerutkan kening. Sikap Rangga memang tak tampak manis, bahkan cenderung seperti biasa saja. Namun, kepekaan dari setiap sikapnya memang luar biasa.


Rangga membuka makanan miliknya. Wangi sekali. Ternyata satu paket ayam geprek dengan nasi serta air juga. "Kamu bisa sakit kalau nggak makan. Serumit apa pun masalah, tetaplah makan. Jangan buat aku khawatir."


Kania masih mempertahankan posisinya. Terdiam tanpa kata.

__ADS_1


"Kalau kamu kurang senang makan bersama di sini. Aku bisa pindah." Rangga menutup lagi kotak ayam geprek tersebut. Hendak berdiri untuk pindah ke meja yang lebih jauh.


"Nggak perlu!" Kania sadar. Lebih tepatnya tidak enak hati. "Kamu bisa makan saja." Sejenak diam. "Maaf, maksud aku Mas Rangga bisa diam di sini."


Rangga tertegun. Kania sedang baik-baik saja bukan?


"Mas, bisa makan. Aku nggak masalah." Kania mengukir senyum. Membedakan satu masalah dengan masalah yang lain adalah sebuah bentuk kedewasaan. "Kita sama-sama karyawan yang punyak hak sama juga."


Rangga melirik Kania sedikit. Wanita di sampingnya tampak menatap lurus ke depan kali ini. Diam seribu bahasa lagi dengan mengunci mulut setelah berkicau.


"Kenapa kamu bersedia memanggil aku seperti itu?" Rangga sedikit senang, tetapi penasaran juga.


Kania kalah dengan aroma ayam goreng yang dipadukan bersama sambal pedas. Nafsu makannya meningkat, tak masalah juga. Dengan cepat membuka kotak makan itu sambil menjawab. "Aku rasa juga nggak masalah. Setelah dipikirkan beberapa kali, mungkin sudah seharusnya seperti itu. Menyesali apa yang sudah diputuskan dan menangisinya justru membuat keadaan menjadi rumit."


Rangga acungi jempol dengan kalimat Kania.


Suasana berubah hening. Kania mengamati dengan jelas makanan di depannya. Begitu harus banyak bersyukur dirinya akan apa pun yang terjadi, bahkan untuk sekadar paket makan nasi ayam tersebut.


Kania terlalu larut dalam perasaan. Mendalami perannya sampai tak terasa kedua matanya berembun. Namun, wanita itu tetap saja memperlihatkan ukiran senyum paling manis. "Sebaik-baiknya skenario di muka bumi ini tetaplah tidak bisa melawan skenario yang Allah tentukan. Aku bukan pasrah, aku bukan tidak berusaha, tapi setelah apa yang aku lewati. Aku lakukan dan akhirnya garis finish itu harus tetap sama. Memang saatnya mensyukuri sekaligus menjalaninya dengan ikhlas."


Rangga menatap Kania lekat. Tangannya hendak mengulur ke depan, tetapi ditahan karena paham keadaan. "Kalau aku boleh milih, sebaiknya kamu jangan menangis di depanku sekarang."


Kania sontak menoleh ke samping. Membalas tatapan Rangga, sama lekatnya. "Alasannya?"


"Karena tanganku sama sekali nggak bisa hapus air mata di pipimu." Rangga berusaha untuk tetap pada pendirian. "Karena dengan cara itu aku bisa tunjukan rasa hormatku padamu sebagai wanita. Menyentuhmu bukan ranahku sekarang, sekali pun itu seujung kuku. Aku mungkin lelaki akhir zaman yang banyak kesalahan, tapi aku sadar kalau tembok di antara kita belum terbongkar semuanya."

__ADS_1


Kania cukup tersenyum kecil. Kali ini Rangga merasakan ketulusan yang dalam dari perempuan tersebut.


"Aku nggak tau siapa kamu. Aku juga nggak paham sifatmu seperti apa, tapi Allah lebih tau mana yang terbaik. Cara kita mungkin terpaksa. Pertemuan kita singkat. Aku harap nggak berakhir tragis. Kalau pun selesai, tentu dengan cara terbaik," imbuh Kania.


Hati Rangga tersentak. Ini sebagai peringatan untuknya bahwa, Kania bisa kapan pun pergi dan mengakhiri pernikahan ini. Barangkali setelah semuanya lebih tenang.


"Kamu paham nggak soal konsep menenangkan bayi sebelum kita tinggal pergi itu lebih baik daripada ditinggal dengan keadaan menangis histeris?" Tiba-tiba Kania mengajukan pertanyaan seperti itu.


Dahi Rangga berkerut kencang. "Memangnya kenapa?"


"Karena kita akan lebih tenang saat melangkah keluar. Itu cuma kalimat saja."


Ini bukan sekadar kalimat untuk Rangga, ada makna yang ingin Kania sampaikan. Tak masalah.


"Makasih makanannya. In syaa Allah, aku balas semua kebaikanmu setelah jadi istri nanti." Kania segera mengucap basmalah dan makan. Rangga benar, tak seharusnya ia membiarkan tubuh tanpa energi karena itu bisa menjadi ciri-ciri kedzaliman pada diri sendiri.


Rangga memperhatikan Kania yang makan dengan lahap, rasanya kenyang sekali dengan hanya seperti itu.


Tak berapa lama suara Desi dan Heri berdebat sambil masuk ke ruangan setelah keluar dari lift. Entah topik hangat apalagi yang mereka bicarakan.


"Kalau kamu kebanyakan mempermainkan wanita, kamu bisa kena karma tau!" Desi geram


Heri santai saja. "Mereka yang mau. Jadi ... aku nggak salah dong?" Mengangkat kedua pundak secara bersamaan. "Bilang aja kalau kamu mau jadi pacarku yang ke sepuluh."


"Astagfirullah, mana mungkin!" Desi mencibir. "Kamu mau kasih aku sejuta dollar pun, nggak bakal aku mau! Hati itu bukan buat dipermainkan. Paham!"

__ADS_1


Heri tertawa kencang dan berjalan ke mejanya. "Zaman sekarang nggak ada yang nggak mungkin! Yang benci pun bisa jadi cinta."


__ADS_2